Rose 2 : Nineteen


Few Days Later

“Kenapa makanannya nggak dimakan?” tanya Wira yang baru saja datang sehabis membeli minuman dingin untuk dirinya dan Kellin.

“Nggak napsu,” ucap Kellin.

“Nggak napsu apa nggak enak? Mau aku beliin apa? Ini minum dulu air kelapa, udah di kasih es biar seger,” Wira memberikan kantung pelastik air kelapa pada Kellin.

Kellin menerimanya tanpa menatap wajah Wira. Sebenarnya ia masih marah namun tidak ada orang lain yang bisa menjaga dirinya selain Wira. “Dibilang nggak napsu!” ucapnya ketus lalu ia minum air kelapa pemberian dari Wira.

“Okay, kalau mau makan bilang aku ya,” Wira menghela napas. Ia tidak ingin menganggu Kellin yang masih sensitif padanya dan memilih untuk merebahkan dirinya pada sofa. Seluruh badannya terasa pegal akibat beberapa hari ia tidur di sofa.

“Aku mau nasi padang.”

Baru saja Wira menutup matanya. Kellin mengatakan ia ingin makan nasi pada. Sudah jelas ia harus keluar membelinya. Perlahan ia bangun lalu menatap ke arah bumil.

“Mau apa lauknya?” tanya Wira.

“Rendang dua, nggak pake sayur,” ucap Kellin.

“Yaudah aku beli dulu,” Wira bangkit dari sofa kemudian ia bergegas pergi untuk membeli pesanan Kellin.

Dua puluh menit lamanya Kellin menunggu. Akhirnya Wira datang membawa pesanannya. “Ngapain kesini?!” tanya Kellin ketus.

“Ya kan kamu mesen nasi padang, ini aku udah beliin, ayo makan,” ucap Wira.

“Keluar!” bentak Kellin.

Sontak Wira terkejut dan bingung ada apa dengan Kellin, “Kamu kenapa deh?”

“Aku nggak mau makan kalo kamu nggak pake jaket abang gojek,” ucap Kellin.

“Kellin yang bener aja dong? Masa aku harus pake jaket abang gojek?” protes Wira.

“Yaudah aku nggak akan makan,” Kellin menarik selimut lalu menutupi wajahnya.

“Astaga… yaudah iya aku cari dulu abangnya,” ucap Wira pasrah.

Wira keluar kembali untuk mencari abang gojek yang berada disekitaran rumah sakit. Saat keluar lobby ia melihat abang gojek hendak pergi sehabis menurunkan penumpang. Ia pun berlari menghampirinya.

“BANG! BANG! STOP!”

Sang abang gojek pun berhenti lalu melirik Wira kebingungan, “Iya kenapa neng?”

“Bang boleh minjem dulu gak jaketnya?” tanya Wira.

“Hah? Buat apaan neng?”

“Ada bumil yang nyuruh saya nganterin pesenannya pake jaket gojek bang, please bang belom makan nih bumil satu,” mohon Wira.

“Waduh neng, saya udah dapet orderan lagi ini, nggak bisa neng,” ucap abang gojek.

Segera Wira mengeluarkan dompetnya lalu memberikan selembar uang pecahan seratus ribu pada abang gojek, “Cancel bang, terus saya minjem dulu bang bentaran doang, ya?”

“Waduh banyak banget ini mah neng, yaudah bentar neng,” akhirnya abang gojek melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Wira.

“Nih neng, maap ya neng agak bau, panas soalnya,” ucap abang gojek.

“Iya bang nggak apa-apa, minjem bentaran ya bang, tunggu sini,” tanpa berpikir panjang Wira kembali masuk sembari memakai jaket gojek. Banyak mata yang melihat Wira sepanjang perjalanan. Namun Wira sudah bodo amat. Yang terpenting Kellin mau makan.

Sampai di dalam ruangan. Wira memberikan kantung nasi padang pada Kellin yang tengah asik bermain ponsel. Kellin menatapnya tanpa eskpresi.

“Nggak mau,” ucapnya.

“Aku udah pake jaket gojek loh ini Lin,” ucap Wira frustasi.

“Helmnya nggak ada,” ucap Kellin santai.

Wira menahan emosinya. Ia menghela napas. Ia tidak bisa emosi pada seorang bumil. Ia harus sabar. Akhirnya Wira keluar kembali untuk meminjam helm pada abang gojek.

Tak lama Wira datang kembali dengan pakaian lengkap ala abang gojek, “Ini udah makan ya Kellin cantik,” ucap Wira.

Kellin menggelengkan kepalanya, “Nggak mau, helmnya nggak ada tulisan gojeknya.”

Ingin sekali Wira berteriak tapi ia tidak bisa. Tanpa berkomentar Wira kembali lagi untuk menukar helm penumpang. Ternyata helm tersebut lebih kecil dari milik abang gojek. Dan terlalu sempit dipakai pada kepala Wira.

“Sampe nggak mau makan gue beli juga perusahaan gojek anjing,” dumalnya sebelum ia masuk ke dalam ruangan.

“Done! Ayo makan!” ucap Wira.

Kellin pun tersenyum. Kemudian ia mengambil pesanan miliknya dari tangan Wira. “Makasih Wira sayang.”

Seperti sebuah petir menyambar hatinya. Wira tertegun ketika Kellin memanggil dirinya ‘Sayang’. Akhirnya Kellin makan dengan lahap. “Ngapain kamu diem disitu?”

“Hah?” Wira tersadar dari lamunannya lalu menatapnya bingung.

“Sana balikin punya abang gojek,” ucap Kellin yang terkekeh pelan melihat penampilan Wira begitu aneh.