Rose 2 : One


Seorang wanita tengah menatap sebuah pintu apartement bernomor 202. Sudah lima belas menit ia hanya diam dan ragu untuk menekan tombol bel. Sesekali ia memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Sekuat tenaga ia kumpulkan untuk menekan tombol bel.

Ting! Ting! Ting!

Tidak ada jawaban. Wanita tersebut bernapas lega. “Mungkin lagi pergi,” gumamnya.

“Besok aja kali ya,” wanita tersebut berbalik badan untuk segera pergi. Namun rasa penasarannya kembali naik. Alhasil ia mengurungkan niat untuk pergi lalu kembali menekan tombol bel unit 202. Tetap tidak ada jawaban. Dengan rasa penasaran yang semakin meningkat. Wanita tersebut mencoba menekan password pintu dengan asal.

Ceklek!

Matanya membelalak terkejut. Pintu berhasil terbuka. Panik melanda, sang wanita segera masuk ke dalam apartemen kemudian menutup rapat pintu. “Gila, kok bisa?!”

Beberapa detik kemudian ia baru tersadar kalau ia sudah masuk ke dalam apartemen. Ia terdiam. Matanya menelusuri setiap benda yang berada di dalam. Tanpa sadar kakinya melangkah semakin dalam sampai ia berhenti tepat di ruang tengah apartemen tersebut. Tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Sedang. Cukup untuk di tinggali satu atau dua orang.

“Seleranya masih sama kaya dulu,” wanita tersebut tersenyum.

Tet-tet-tet-tet

Ceklek!

Pintu apartemen terbuka. Sang pemilik telah pulang. Mereka terkejut ketika mata mereka bertemu. Hening. Keduanya terdiam lama.

“K-Kellin.”

“Wira.”

Entah yang dirasakan oleh Kellin saat melihat Wira untuk pertama kalinya setelah kepergiannya dua tahun lalu. Senang, sedih, marah, tercampur aduk. Mereka masih diam saling menatap satu sama lain. Yang Wira rasakan tentunya terkejut dan senang karena Kellin mewujudkan permintaanya pada dua tahun lalu.

“Wiraaa kayanya ponsel aku ketinggalan di mobil deh,” ucap seorang wanita yang muncul dari belakang Wira. Wanita tersebut sama terkejutnya ketika melihat Kellin berada di dalam apartemen.

“Eh? Who are you?” tanya wanita tersebut. Sesekali melirik Wira yang masih saja diam.

“I-I’m sorry, I seem to have entered the wrong apartment, I’m sorry,” Kellin bergegas keluar dari apartemen Wira. Tentunya ia harus melewati sang pemilik apartemen dan wanitanya.

“Ih aneh banget, jangan-jangan maling ya,” ucap wanita disebelah Wira.

Wira menghela napas panjang. Mengapa melihat Kellin pergi begitu saja membuat hatinya terasa sesak. Dua tahun lamanya ia menunggu dan pada saatnya ia datang dengan waktu yang tidak tepat. Apakah ini hukuman dari tuhan? Karena ia telah melukai hati Kellin pada saat itu.

“Wira? Wira? Hey!” wanita tersebut menepuk pelan pipinya membuat kesadaran Wira kembali.

“Oh? Ya kenapa Maul?” tanya Wira.

“Kamu kenapa? Siapa dia? Kok dia bisa masuk?” tanya Maulia.

“Aku nggak apa-apa kok, nggak tau juga, mungkin emang salah masuk, oh ya katanya ponsel kamu ketinggalan di mobil, aku ambilin dulu ya, kamu langsung masak aja,” jelas Wira yang segera meninggalkan Maulia di ambang pintu.

Maulia menatap kepergian Wira dengan curiga, “Tapi kaya nggak asing muka cewenya, siapa ya, kok bisa masuk sih, berarti tau password pintunya dong? Apa jangan-jangan emang maling?! Ish bahaya banget, gue ganti baru deh nanti.”