Rose 2 : Seventeen
Setelah mengetahui semuanya Wira dan Jerico pulang ke Indonesia. Jerico meminjamkan motornya pada Wira selama di Indonesia. Tujuan Wira ke Indonesia adalah untuk menemui Kellin. Ia ingin meluruskan ini semua. Wira tersadar kalau semala ini hanya kesalah pahaman dirinya dengan Kellin.
Belum sempat mencari penginapan, ia memilih menitipkan kopernya di rumah Jerico. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Kellin hari ini juga. Lantas Wira bergegas menuju rumah Kellin.
Kellin yang tengah bersantai mendengar suara motor Jerico datang. Ia bingung. Tumben sekali Jerico datang ke rumahnya tanpa memberi tahu. Lantas ia membuka pintu. Ia melihat motor Jerico terparkir didepan rumahnya. Namun ia sadar orang yang berada di atas motor bukan lah Jerico. Ketika helm terlepas matanya membulat.
“W-Wira.”
Wira tersenyum. Ia turun dari motor lalu membuka pagar rumah Kellin. “Hi,” sapa Wira.
“M-Mmau ngapain kesini?” tanya Kellin terbata-bata.
“Bisa ngobrol sebentar? Di dalem?” Wira menarik napas dalam. Ia sangat gugup.
“Mau ngobrol apa? Disini aja,” ucap Kellin.
“Nggak bisa, di dalem, please,” mohon Wira.
Sial. Kenapa dengan situasi seperti ini Kellin masih saja luluh dengan pesonanya Wira. Akhirnya Kellin me-iyakan lalu mempersilahkan Wira untuk masuk.
Ketika sudah di dalam Kellin menatap Wira tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia menunggu penjelasan Wira.
“Bagaimana kabar kamu?” tanya Wira.
“Nggak usah basa-basi, aku lagi capek, mau ngomong apa?” tanya Kellin dengan tegas.
Wira mencoba untuk mengatur napasnya, “Maafin aku.”
“Maafin buat apa?”
“Buat semuanya, aku udah tau semuanya dari Jerico,” jawab Wira.
Kellin terkekeh pelan, “Terus kenapa kalau udah tau semua?”
“Gara-gara aku semuanya jadi begini, seharusnya aku jujur sama kamu waktu aku ninggalin kamu waktu itu–”
“Nggak usah di bahas, aku udah tau,” potong Kellin.
“Maafin aku,” ucap Wira.
“Nggak usah minta maaf, aku tau niat kamu baik ninggalin aku karena papi kamu, aku masih bisa tolerir, tapi aku kira selama dua tahun kamu bakal nunggu aku, tapi nyatanya kamu udah sama yang lain, lucu juga ya aku bisa-bisanya nungguin orang brengsek kaya kamu,” Kellin tertawa.
“Aku nggak pernah pacaran sama Maulia,” ucap Wira.
“Bullshit.”
“Aku mulai dekat semenjak kamu posting foto di Paris, aku mengira kamu udah bertunangan sama Jerico, aku hancur saat itu, aku berpikir kalau aku udah nggak ada kesempatan kembali, jadi aku mencoba untuk melepas kamu, lalu kamu datang tanpa menjelaskan apapun dan pergi begitu aja,” jelas Wira.
“Terus sekarang kamu maunya giamana?”
“Aku mau balik seperti dulu,” ucap Wira.
Kellin tertawa keras, “Hahahaha ya ampun, lucu ya kisah cinta kita, aku datang ke kamu buat mulai kembali, tapi kamu udah sama yang lain, sekarang aku udah hamil anak Jerico, kamu datang untuk kembali seperti dulu, hahaha.”
“Aku ser–”
Plak!
Wira mendapat tamparan keras dari Kellin, “Kamu tau betapa sulitnya aku saat kamu ninggalin aku dua tahun yang lalu? Kamu tau aku setiap malam nangis karena mikir kesalahan apa yang aku buat sampai kamu ninggalin aku? Apa kamu tau aku sampai keluar masuk rumah sakit karena mikirin kamu? APA KAMU TAU SEMUANYA?!!!”
Kellin hendak menampar Wira kembali namun ia mengurung niatnya. Ia meremas baju Wira. Bukan karena marah. Karena ia merasakan sakit pada perutnya. “Aaahhhh,” Kellin memegangi perutnya.
“Kellin? Kamu kenapa?” Wira memegangin tubuh Kellin.
“Perut aku sakit,” tak lama Kellin tidak sadarkan diri.
Dengan sigap Wira memeluk tubuh Kellin agar tidak terjatuh. Ia panik. “Kellin? Bangun Lin,” Wira menepuk-nepuk pipinya namun Kellin tak kunjung sadar.