Rose 2 : Six


Delapan belas jam lamanya Wira dan Maulia berada di pesawat, kini mereka sudah sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Wira terlebih dahulu. Untuk beristirahat sejenak dan mengambil mobil miliknya.

Selama perjalanan Wira banyak terdiam. Ia hanya berbicara untuk menjawab pertanyaan dari Maulia. Maulia pun memahaminya dan membiarkan Wira hanyut dalam pikirannya. Karena ia tidak mau semakin merusak moodnya.

Satu jam setengah kemudian mereka sudah sampai didepan rumah Wira yang begitu sangat besar. Seharusnya ia dapat turun di halaman rumahnya namun ia tidak memberi kabar pada orang rumah jika ia pulang hari ini. Menyadari Wira turun dari mobil, security yang menjaga rumah segera membukakan pintu lalu membantu menurni koper milik Wira dan Maulia. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.

“Istirahat dulu ya, kamu keliatan capek gitu,” ucap Maulia.

“Nggak usah udah siang ini, takut jam besuk habis, kita nggak tidur disini, di hotel aja,” ucap Wira. Maulia hanya mengangguk nurut dengan apa yang dikatakan Wira.

“Non ini mau dibawa ke kamar?” ucap sang security.

“Masukin ke mobil crv pak, saya ambil kuncinya dulu, kamu tunggu disini aja,” ucap Wira lalu segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.


Kini Wira dan Maulia sudah sampai di parkiran rumah sakit. Wira menatap kosong pada orang yang berlalu lalang di depan mobilnya.

“Sayang?”

“Um?” Wira tersadar dari lamunannya.

“Kapan mau turun hm?” Maulia mengusap perlahan lengan Wira seraya untuk menenangkannya.

“Sekarang, jangan terlalu nempel ya, ini Indonesia bukan London, banyak yang kenal aku,” Wira mematikan mesin mobil lalu segera turun. Kemudian disusul dengan Maulia.

Mereka segera menuju ke bangsal VIP berada. Selama di lorong rumah sakit banyak mata yang melirik ke arah mereka. Atau lebih tepatnya ke arah Wira. Sedangkan Maulia hanya mengekori dirinya di belakang.

Akhirnya mereka sampai didepan pintu bangsal VIP. Wira kembali terdiam. Ia melihat dari kaca pintu didalam hanya ada ayahnya yang terbaring lemas. Ia menghela napas. Perlahan tangannya menarik kenop pintu lalu menggesernya. Suara pintu membuat ayahnya membuka mata lalu menatap dirinya yang masih berdiri di ambang pintu. Marcel terdiam. Kemudian ia membuang wajahnya ke arah lain seperti tidak ingin melihat anak bungsunya.

“Masuk dulu, sapa papi kamu,” bisik Maulia dari belakang.

Wira memberanikan diri untuk masuk diikuti dengan Maulia. Belum sampai mendekati sang ayah langkahnya terhenti. “Mau ngapain lu kesini? Tau dari mana?”

“Tante Jessica,” jawab Wira.

“Udah dibilang jangan balik lagi kesini, kenapa ngeyel?!” ucap Marcel.

Wira menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia kira ayahnya akan memaafkan dirinya. Ternyata memang ia sudah tidak di inginkan. Ia menghela napas. “Emang salah anak pulang buat ngejenguk papinya yang sakit?”

“Gua nggak butuh jengukan dari lu, lu bukan anak gua,” Marcel tidak menatap Wira sedari tadi.

“Cepet sembuh, semoga nggak cepet mati,” ucap Wira kemudian ia segera pergi menuju parkiran.