Rose 2 : Sixteen


Ting Tong! Ting Tong!

Ceklek!

“Sorry lama gue tadi lagi di kamar mandi, ayo masuk,” Wira membuka lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan Jerico untuk masuk.

Setelah Jerico sudah masuk Wira menutup pintu lalu berlari kecil menuju dapur, “Lo mau minum apa? Oh iya lo udah makan belom? Gue baru aja beres masak,” tutur Wira sembari mengambil gelas untuk Jerico.

“Nggak usah gue cuma bentar aja disini,” ucap Jerico yang tengah menatap Wira yang membelakangi dirinya dari kejauhan.

Wira menoleh sebentar padanya lalu kembali menyiapkan minuman hangat, “Sibuk banget emang lo? Mau ngomong–”

“Kellin hamil.”

Hening. Wira terdiam. Senyumnya seketika pudar. Rasanya seperti tertusuk pisau tepat di hatinya. Begitu sakit. “Lo jauh-jauh kesini buat ngasih tau itu doang?” Ia masih membelakangi Jerico. Ia belum siap menatap wajah Jerico. Rasanya harapan ia sirna untuk selamanya. Sudah tidak ada kesempatan baginya untuk kembali pada Kellin.

“Maafin gue Wir, gue gagal ngejaga dia,” Jerico sudah tidak kuat. Kakinya lemas. Ia berlutut. Tidak hanya Wira yang merasakan rasa sakit itu. Jerico pun. Bagaimana pun ia tetap menyukai Wira dibandingkan Kellin. Bahkan ia sangat mencintainya.

Wira menarik napas sangat dalam, “Lo ngapain minta maaf segala, kan Kellin tunangan lo, gue udah bukan siapa-siapanya Co, dan sekarang lo bakal jadi calon bapak dari anak dia.”

“Gue nggak pernah tunangan sama dia, semua itu cuma sandiwara, yang lo maksud tunangan itu Ginata sama Naomi, bukan gue sama Kellin,” jelas Jerico.

Sontak Wira berbalik badan lalu menatap Jerico penuh tanda tanya, “Maksud lo apa?”

“Kellin waktu itu datang ke sini buat ngobrol sama lo, selama ini dia masih cinta sama lo, dia nungguin lo, tapi dia liat lo udah sama yang lain, Maulia,” jelas Jerico.

“Jangan bercanda Co,” ucap Wira.

“Gue serius, dia masih sayang sama lo sampai saat ini, dan sekarang–”

Wira menghampiri Jerico. Ia menarik kerah bajunya lalu meninju berkali-kali wajah Jerico sampai ujung bibirnya terluka. “KENAPA LO BARU KASIH TAU GUE SEKARANG?!!” teriak Wira.

“Maafin gue Wir,” matanya kini sudah dipenuhi air mata, begitu juga dengan Wira. Wira sudah tidak dapat menahan emosinya. Air matanya mengalir begitu saja. Dadanya terasa sesak.

“Gue datang kesini untuk meluruskan semuanya, gue udah nggak sanggup bersandiwara lagi, Kellin nggak mau gue nikahin, dia memilih buat lahirin anak gue sendiri,” jelas Jerico.

“Dia tau kalau gue nggak suka sama dia, dia tau gue suka sama lo,” lanjutnya membuat Wira semakin terkejut. Ia tidak dapat berkomentar.

“M-Maksud lo apa?” Wira menatap wajah Jerico.

“Gue suka sama lo, gue suka sama lo dari SMA, selama gue jadi pacar kontrak lo itu gue ngejalaninnya tulus dari hati gue tanpa adanya sandiwara, gue tau resiko gue suka sama lo, dengan kepergian lo saat itu hati gue hancur Wir, lo nyuruh gue cari yang lain, tapi nggak bisa, cuma lo yang gue suka, cuma lo yang gue sayang, gue nggak bisa nahan lo saat itu, karena gue tau itu yang terbaik buat lo dan Kellin juga, dan saat itu gue bertekad buat ngejagain Kellin demi lo, gue berpikir semua ini akan berakhir kalau lo saat itu nggak sama Maulia, mungkin saat ini Kellin baik-baik aja, Kellin bisa jadi milik lo lagi, tapi lo ngacauin semuanya dan juga pacar lo yang sekarang udah bikin Kellin hamil,” jelas Jerico.

“Maulia naro obat ke minuman gue sama Kellin waktu reuni di Bali dan lo bisa bayangin setelah gue dan Kellin balik ke kamar, kalo lo nggak percaya gue punya buktinya dari CCTV,” lanjutnya.