Rose 2 : Ten


Sinar matahari di pagi hari masuk ke dalam kamar Kellin melalui sela-sela gorden kamar yang sedikit terbuka. Tentunya mengusik tidur nyenyak. Kellin terbangun dengan nyeri kepala luar biasa dan badannya terasa sangat pegal.

Tangannya mencari benda pipih miliknya yang entah ia lupa menaruhnya. Terpaksa ia membuka kedua matanya. Ia melihat lampu kamar masih menyala. Apakah ia lupa mematikannya?

Saat meregangkan badannya, ia melihat seseorang laki-laki terbaring disebelahnya dengan keadaan tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Sontak ia berteriak lalu menendang laki-laki tersebut hingga terjatuh dari ranjang.

“Siapa lo?!!” teriaknya.

Laki-laki tersebut meringis kesakitan. Kemudian bangkit lalu duduk di lantai. Laki-laki tersebut masih menormalkan panadangannya sembari menatap ke arah Keliin.

“Coco!”

“Huh?” Jerico masih belum tersadar penuh, kepalanya terasa sangat nyeri, “Kenapa hm?” tanya Jerico.

“LO NGAPAIN NGGAK PAKE BAJU?!” tanya Kellin.

“Hah?” Jerico kebingungan. Kemudian ia menunduk. Tak lama ia sadar kalau dirinya bertelanjang bulat.

“KELLIN LO APAIN GUE?!!” dengan cepat Jerico bersembunyi di sebelah ranjang lalu menatap Kellin. Namun ia segera menutup matanya. “BAJU LO KEMANA ANJIR!!”

Kellin pun bingung. Lalu ia melihat tubuhnya pun sama seperti Jerico. Telanjang bulat. “YAAAAAAAKKKK!!” Kellin berteriak lalu menutupi tubuhnya menggunakan selimut.

Mendengar teriakan Kellin, Jerico segera sesuatu untuk menutupi tubuhnya. Untung saja baju milik dirinya yang semalam tergeletak di lantai tak jauh darinya saat ini. Secepatnya ia memakai pakaiannya.

“Lo semalem apain gue?!”

“Yang ada gue yang nanya, kenapa gue sama lo bisa telanjang!” setelah selesai Jerico segera berdiri.

Keduanya sangat kebingungan dan mencoba mengingat kejadian semalam. Mata Jerico menangkap sesuatu yang berada di seprai ranjang. Sebuah bercak darah yang sudah berwarna coklat. Jerico terdiam. Kellin pun mengikuti arah kemana mata Jerico melihat. Matanya membulat terkejut. Ia tidak dapat berkata apapun.


“Co aku gerah banget, ke kamar yuk,” ucap Kellin sembari mengipasi wajahnya mengunakan tangan.

“Sama aku juga, ayo, eh kita pamit ke kamar ya,” Jerico dan Kellin segera pamit pada Bagas, Wira, dan Maulia. Sebelum itu mereka menghabiskan minuman mereka karena merasa sangat haus.

Ketika sudah didalam kamar keduanya secara bersamaan melepas atasan mereka. Entah apa yang sudah merasuki mereka. Kellin mendorong tubuh Jerico pada tembok lalu mencubu bibirnya begitu liar. Jerico pun sudah tidak dapat menahan nafsunya. Ia membalasnya tak kalah liar sehingga decakan dari bibir mereka terdengar nyaring.