Rose 2 : Twenty One


“Kellin?”

“Hum?”

“Maafin aku ya,” ucap Wira.

“Buat?” Kellin menatapnya bingung.

“Semuanya,” ucap Wira.

Kellin pun mengusap perlahan pipinya lalu tersenyum, “Mungkin udah jalannya seperti ini, jadi nggak perlu minta maaf lagi, udah aku maafin kok.”

“Tapi–” Kellin mencubit bibir Wira agar berhenti berbicara.

“Berisik, sini bobo sebelah aku, kasian kamu dari kemarin tidur di sofa,” ucap Kellin sembari menggeser tubuhnya.

“Boleh?” tanya Wira dengan ragu.

“Nggak mau?”

“Mau!” Wira segera pindah untuk rebahan di sebelah Kellin.

Perlahan ia menarik tubuh Kellin mendekat padanya agar tidak terjatuh. Wajah mereka bertatapan sangat dekat sampai keduanya dapat mendengar deruan napas mereka sedikit tersengal akibat rasa deg-degan. Kellin mengusap lembut wajah Wira mulai dari dahi, mata, hidung, lalu berakhir pada bibir. Semua yang ia sentuh sangat ia rindukan. Begitu pun dengan Wira. Ia juga merindukan senyuman indah yang tergurat di wajah Kellin berserta lesung pipi yang membuatnya terlihat sangat manis.

“I miss you,” ucap Kellin sedikit berbisik.

“I miss you too…,” ucapnya Wira.

“…Babe,” lanjutnya.

“Please kali ini jangan pergi lagi,” lirih Kellin.

“Nggak akan, aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi,” Wira mengusap kepala Kellin penuh kasih sayang.

Keduanya tersenyum lalu saling menatap satu sama lain cukup lama. Sudah tidak tahan, Kellin memajukan wajahnya untuk mencium bibir Wira. Keduanya terpejam. Wira membalas ciumannya dengan lembut. Kellin mengemut bibir bawah Wira lalu mengigitnya perlahan. Kemudian Kellin melepaskan tautan bibirnya.

“Umm, kamu abis makan bakso ya tadi?” tanya Kellin.

“Kenapa? Kecium ya? Haha,” Wira terkekeh.

“Iyaaa, ih makan bakso nggak ngajak aku,” Kellin memanyunkan bibirnya.

“Besok kan udah pulang, besok kita makan bakso,” ucap Wira.

“Serius?!”

“Iya sayang,” Wira mencolek hidung Kellin gemas.

“Tapi aku maunya bakso bening yang di SMA hehe, boleh kan?” tanya Kellin.

“Iya boleh sayang,” Wira mengangguk.

“Asik!” Kellin memeluk erat tubuh Wira lalu mendusalkan wajah pada dadanya.

“Kellin,” panggil Wira.

Kellin pun mendengakan kepalanya menata Wira, “Hum?”

“Kita pindah yuk?”

“Pindah?”

“Pindah negara, kita besarin anak kamu, di luar negri, kamu mau?”

“Aku sih mau, tapi kan harus butuh uang banyak, aku belom siap untuk itu,” ucap Kellin.

“Kamu nggak usah pikirin itu, aku ada kok cukup sampe anak kamu sekolah nanti, enaknya kita tinggal dimana?” Wira mengusap wajah Kellin.

“Kamu beneran?” tanya Kellin memastikan dan dijawab anggukan oleh Wira.

“Paris boleh?” tanya Kellin dengan mata berbinar.

“Kenapa milih Paris?” tanya Wira.

“Karena bagus aja bangunan-bangunan disana aku suka, terus kan emang Gina sama Naomi juga bakal netap disana katanya, dan juga disana banyak kelas model ternama siapa tau anak aku nanti jadi model hehehe,” jelas Kellin sembari mengusap perutnya yang masih rata.

“Umm, yaudah kita menetap di Paris,” ucap Wira.

“Kamu serius?!” mendadak Kellin bangun lalu menatap Wira tak percaya. Segampang itu kah. Pikirnya.

“Serius sayang,” ucap Wira.