Rose 2 : Two


Two Years Ago

“Is this seat empty?”

Wira menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita tengah menatap dirinya. Ternyata sedang bertanya padanya. Wira mengangguk lalu melanjutkan aktivitasnya menikmati segelas Gordon’s Gin. Ralat. Terlihat dari isi botol yang dipesannya sudah setengah. Berarti ia sudah meneguk beberapa gelas sebelumnya.

“Manhattan please, thank you,” wanita tersebut tersenyum pada barista kemudian ia duduk tepat disebelah Wira.

“You seem new here, right?” tanya sang wanita pada Wira.

Wira kembali mengangguk kemudian menatap orang yang mengajaknya berbicara. Matanya memindai sang wanita dari bawah hingga atas. “And you look like been here for a while, right?”

Wanita tersebut terkekeh pelan, “Do I?”

Tak lama sang barista menaruh sebuah minuman cocktail dan sepiring tepat dihadapan sang wanita, “Your Manhattan and this your free snack, Chips with Caviar Layer, our new menu, enjoy.”

“Aw really? Thank you Dane! I’ll try… ummm! It’s very good, you want some?” tawarnya pada Wira.

“No, thank you,” tolak Wira.

“Huh padahal enak banget ini, gratis pula,” gumam sang wanita.

“Orang Indonesia ternyata,” ucap Wira.

“Ih kamu orang Indo? Kenapa nggak bilang! Oh iya lupa aku Maulia Kielan, asli Jakarta,” Maulia mengasongkan tangannya.

“Kenapa juga harus bilang, Wira Muljadi,” Wira menjabat tangan Maulia tak lama.

“Seriously?! Wira Muljadi anaknya om Marcel Muljadi?!” tanya Maulia sedikit histeris.

“Tau dari mana nama bokap?” Wira menaikan alis kanannya sembari menatap heran pada Maulia.

“Oh my God, ternyata bener, gila cakepnya kaya om Marcel,” Maulia masih terpana setelah mengetahui wanita yang ia ajak bicara adalah anak dari salah satu orang terkaya di Indonesia. Tanah kelahirannya.

“Heh! Malah bengong! Tau dari mana nama bokap?” Wira menjentikan jarinya didepan wajah Maulia.

“Eh? Tau lah om Marcel temennya mama hehe,” jawab Maulia.

“Siapa nama nyokap lo?” tanya Wira penasaran.

“Jessica Kielan,” jawab Maulia.

“Oh, oh ya gue turut berduka ya buat bokap,” ucap Wira.

“Haha, iya nggak apa-apa, btw kamu kesini ngapain? Bukannya kamu kuliah di Jakarta?” tanya Maulia.

“Ya ada lah problem kecil terus disuruh bokap pindah kesini, lo sendiri disini kuliah?” Wira menatap wajah Maulia.

“Hum,” Maulia mengangguk.