Rose : Eleven
“Kellin,” panggil seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar. Jerico.
Kellin yang asik dengan ponselnya terpaksa menoleh ke arah Jerico. Lalu menyapanya. “Oh hi Coco, good morning!” ia tersenyum. Jerico hanya membalas senyuman tipis. Perlahan ia menghampiri Kellin lalu duduk tepat disebelah Kellin.
“Rumah gue sempit ya hehe, sorry ya,” ucap Kellin.
“Enggak kok, gue nyaman, adem,” ucap Jerico.
“Oh iya lo liat Wira nggak? Dia pulang jam berapa?” tanya Kellin. Jerico menarik napas panjang. Kemudian ia mengeluarkan sebuah surat putih dan memberikannya pada Kellin. “Dari Wira semoga lo ngerti.”
Kellin mengernyitkan dahinya. Perasaannya tidak enak. Perlahan ia mengambilnya lalu menatap kosong pada surat tersebut. Kenapa Wira memberikan surat padanya? Cukup di chat kan bisa. Pikirnya. Dengan ragu-ragu ia perlahan membuka surat tersebut. Mengeluarkan secarik kertas putih dengan penuh tulisan tangan dari Wira.
Dear Kellin Setiaatmadja,
Selamat ulang tahun wanita kesayanganku, semoga doa yang kamu ucapkan pada tahun ini terkabul, maaf kalau aku hanya bisa ngasih sedikit ke kamu, tapi setelah aku melihat reaksi kamu begitu sangat senang aku sangat bersyukur bisa memberikan senyuman kebahagian pada hari penting mu.
Kellin, maafkan aku jika hari ini adalah hari terakhir kita bertemu, kamu bisa mengatakan aku bajingan, brengsek, atau apa pun itu aku bisa menerimanya, malam ini aku harus pergi cukup jauh dan mungkin tidak akan kembali ke Indonesia. Aku pergi demi kebaikan mu, demi masa depan mu. Aku tidak mau masa depan mu hancur hanya karena aku. Maafkan aku harus pergi.
Sebenarnya ini bukanlah mau ku, tapi aku terpaksa. Semoga kamu mengerti. Temui seseorang yang lebih dariku, yang dapat bersama dengan mu setiap saat. Aku berharap kamu dapat bahagia dengan orang tersebut. Ketika kamu sudah lulus nanti dan sudah menemukan orang yang tepat. Temui aku, katakan kamu sudah bahagia dengan orang lain, agar aku dapat berhenti menunggu mu disini. Jika tidak, temui aku, dan kita memulainya kembali dari awal.
Aku akan menunggu mu disini. Sampai jumpa di lain waktu Kellin Setiaatmadja. Aku mencintai mu. Sangat.
Sincerely, Wira Muljadi.
Kellin terkekeh ketika selesai membaca surat dari Wira. “Pasti lo bercanda kan Co, iya kan? Hm?” Kellin menatap Jerico dengan penuh harapan kalau ini hanya lelucon.
“Maafin gue Lin,” jawab Jerico membuat hatinya sangat hancur.
Kellin segera beranjak. Jerico menahannya. “Lo mau kemana?”
“Gue mau ke bandara!” Kellin menepis tangan Jerico. Namun Jerico tetap menahannya.
“Lepasin gue!” berontak Kellin.
“Percuma Lin,” ucap Jerico.
“Lo jangan halangin gue! Gue mau ketemu Wira!” bentak Kellin.
“Wira udah pergi dari semalem!! Pesawatnya take off semalem!!” dengan terpaksa Jerico meningkatkan intonasinya agar Kellin berhenti untuk mengejar Wira.
Kellin terjatuh lemas. Dadanya begitu sesak. Entah salah apa yang ia lakukan sampai Wira tega meninggalkan dirinya hanya dengan penjelasan yang sangat minim di secarik kertas. Pandangannya buram. Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Sudah tak terbendung. Tangisnya pun pecah.
Jerico yang melihat Kellin menangis ikut merasakan rasa pilu yang dalam. Tak hanya Kellin yang kehilangan seorang Wira, ia pun kehilangan sosok sahabat yang selama ini menemaninya kemana pun dan kapan pun.