Rose : Five


Semakin malam. Deru ombak saling bersahutan. Hembusan angin yang kuat. Menerpa kulit Kellin yang duduk berdiam diri di tengah pantai memandang kosong laut lepas. Bergetar badannya menahan rasa dingin. Seketika sebuah jaket memeluk tubuhnya memecahkan lamunannya disusul dengan kemunculan seorang wanita yang sudah mendaratkan bokongnya tepat disebelahnya. Ia pun menatap wanita tersebut dengan heran.

“Nanti masuk angin,” ucap seorang wanita yaitu Wira.

“Tinggal minum tolak angin,” sahut Kellin yang kembali menatap laut.

“Ngeyel banget,” ucap Wira.

“Masalah?” terlihat wajah Kellin begitu menahan kesal.

“Marah kah?” tanya Wira yang mengalihkan topik.

“Kenapa harus? Bukan siapa-siapa kok,” Kellin terkekeh pelan namun terdengar menyindir.

Wira sadar jika Kellin sedang dilanda cemburu akibat postingannya di twitter. Perlahan ia menarik tangan Kellin lalu menggenggamnya dengan erat. Tangan Kellin terasa sangat dingin. Ia gosokan perlahan tangannya agar tidak kedinginan terus menerus. Sang pemilik tangan hanya tertegun menatap aksi yang dilakukan Wira. Seketika pipinya terasa panas. Mungkin sudah terlihat merah. Badannya pun merinding. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ketika Wira beralih menatapnya. Tidak ingin tertangkap basah namun sudah terlihat jelas oleh Wira.

“Maaf ya,” ucap Wira.

“B-buat apa?” ucap Kellin terbata-bata.

“Udah bikin cemburu,” jawab Wira.

“Apaan sih,” Kellin mencoba menarik tangannya namun sangat sulit karena Wira menggenggamnya dengan erat. “Di bilang gue bukan siapa-siapa lo ngapain cemburu!”

“Kalo nggak cemburu, coba sini liat gue,” ledek Wira.

“Ogah!” Kellin masih saja tidak mau menatap Wira.

“Okay,” Kellin bernapas lega ketika Wira melepaskan tangannya.

Sempat hening beberapa detik. Mendadak pandangannya tergeser membuatnya menatap wajah Wira begitu sangat dekat. Wira menangkup kedua pipinya. Menguncinya agar Kellin tak mudah terlepas.

“M-mmau ngapain lo?” Kellin panik.

Wira menatap kedua matanya sembari mengusap lembut pipinya, “Mau memastikan kalau orang yang ada di hadapan gue ini adalah milik gue, dan gue bakal pastiin gue juga milik orang tersebut, gue dan Jerico bener-bener nggak ada rasa, semuanya hanya sandiwara yang gue buat untuk menutupi siapa gue sebenarnya dari orang-orang termasuk keluarga, gue mengatakan ini buat ngeyakinin lo kalau gue sungguh-sungguh, sungguh-sungguh ingin jadiin lo milik gue sepenuhnya.”

Kellin terdiam. Ia tidak dapat berkata-kata. Begitu banyak pertanyaan bertebaran di kepalanya. Sampai ia bingung harus menanggapi perkataan Wira.

“Tapi,” ucap Kellin terputus. Ia menjauhkan kedua tangan Wira dari wajahnya.

“Kenapa harus gue? Kenapa lo bisa suka gue? Gue bukan levelan lo, Jerico, Ginata, bahkan Naomi, gue yatim piatu yang hidup dari tunjangan bokap yang dikasih dari perusahaan bokap lo, gue bukan siapa-siapa, gue cuma si kutu buku yang nggak terkenal kaya lo dan yang lain, bahkan motor gue aja beat lama, apa yang lo harapkan dari gue? Gue memang suka sama lo, siapa sih yang nggak suka sama lo secara fans lo banyak, bahkan banyak yang lebih cakep dan tajir, dari sekian banyaknya orang yang suka sama lo kenapa harus gue? Udah bener lo sama Jerico, yang bakal didukung dari berbagai pihak termasuk keluarga lo, gue nggak mau ngerusak citra lo sebagai anak komisaris perusahaan gede, lo gerak dikit aja bakalan jadi sorotan publik, apa kata orang kalo mereka tau lo lesbi dan pacaran sama gue? Gue nggak punya power dan udah pasti gue bakal kalah telak,” lanjutnya.

“Udah? Udah insecurenya?” Wira menaikkan alis kanannya. Kellin hanya diam tak menjawabnya.

Wira menghela napas panjang, “Semuanya bener, nggak ada yang salah, yang salah memang perasaan gue ke lo, memang seharusnya gue sama Jerico atau laki-laki lain, tapi apa lo bakal nyaman kalau hati lo aja nggak sepenuhnya buat mereka? Apa hidup lo bakal tentram? Apa lo bakal senang dengan segala atas pujian dari berbagai pihak kalau hati lo bukan disana? Gue nggak peduli apa kata orang, mereka nggak akan tau apa yang membuat gue nyaman, membuat gue sepenuhnya hidup, apa lo pikir selama gue pacaran sama Jerico gue nyaman? Sama sekali nggak, Jerico pun tau, bahkan gue jadi kasian sama dia karena udah berkorban demi menutupi siapa gue sebenarnya, gue pengen jalanin hidup sebagai Wira yang asli, bukan Wira dengan penuh sandiwara, gue rasa lo pun sama, lo pengen menjadi Kellin yang asli bukan Kellin yang lo bentuk untuk nyenengin orang sekitar, apa salahnya buat nggak munafik sama diri sendiri, orang lain nggak akan peduli saat lo sedih, terpuruk, mereka hanya peduli disaat mereka butuh,” jelas Wira.

“Gue juga nggak peduli harta lo, gue nggak peduli lo yatim piatu, gue nggak mandang itu, gue suka lo karena pribadi lo, otak lo, senyum lo, dan bahkan gue aja nggak tau kenapa bisa suka sama lo, emang ada aturannya kalo suka sama orang harus ada alasannya? Kalo ada berarti yang main bukan hati tapi logika dan akan hilang begitu aja kalo alasannya udah nggak ada di orang itu,” lanjutnya.

Kellin menunduk menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca. Wira menarik tubuhnya lalu mendekapnya dalam pelukan erat. Tangisnya pun pecah. Wira mengusap perlahan kepala Kellin untuk menenangkannya.

“Stop insecure, gue mau lo jadi manusia egois tanpa memikirkan orang lain, nggak usah mikirin kedepannya bagaimana, cukup pikirin bagaimana lo jalanin hidup senyaman-nyamannya hari ini, ayo kenal satu sama lain lebih jauh, lo mau kan?” tanya Wira. Kellin pun mengangguk kecil kemudian memeluk tubuh Wira dengan erat.