Rose : Nine


“Duduk sini,” ucap Kellin.

Wira diam menuruti kekasihnya sembari menatap dengan tatapan polosnya. “Masih marah?”

“Nggak,” jawab Kellin singkat. Ia tengah sibuk melipat sebuah kain menjadi lipatan kecil.

Wira menatapnya bingung. Tak berani mengusik ketenangan kekasihnya yang terlihat sangat tidak bersahabat kali ini. Diam sembari mengayun-ayunkan kaki adalah jalan terbaik untuk tidak menyulut emosi Kellin.

“Buka mulutnya,” ucap Kellin.

“Buat?” tanya Wira dengan bingung.

“Buka aja! Banyak nanya!” bentaknya. Wira ciut seketika kemudian membuka mulutnya agak ragu. Dengan cepat Kellin memasukkan kain yang ia lipat ke dalam mulut Wira.

“Jangan dilepas,” ucap Kellin. Wira mengangguk pasrah.

Kellin mengambil obat merah yang sudah ia beli tadi. Membukanya lalu menuangkan pada selembar kapas. “Bissmillah,” Kellin perlahan mengobati luka pada ujung bibir Wira.

Saat kapas yang berisikan obat merah menempel pada luka. Wira mengerang kesakitan. “RRRGGGGHHHHHHH!!” Untung saja Kellin sudah menyumpal mulut Wira. Kalau tidak ia dapat di grebek warga karena mendengar teriakan Wira.

Karena belum sepenuhnya terkena obat merah Kellin menahan kepala Wira yang bergerak tidak karuan lalu menempelkan kembali obat merah pada lukanya. “RRGGGHHHHHH AKKIITTTT RRRRGHHHHHH!!” Wira memberontak agar Kellin melepaskan kapas pada lukanya. Nihil. Kellin tetap menahannya sembari tersenyum padanya. Alhasil air matanya tak terbendung. Wira menangis. “RRGGHHH MPUUUNNNN!! MMPUUUNNN!!” Kakinya terhentak-hentak pada lantai.

Kellin pun melepaskannya. “Kalo pacarnya kasih tau jangan batu ya sayang,” ia tersenyum menang. Wira mengangguk cepat dengan terisak karena masih merasakan sakit akibat obat merah yang diberikan Kellin.