Rose : Seven


Keesokan harinya. Seperti di jam yang sama Wira, Jerico, dan Kellin datang bersamaan ke dalam kelas. Terlihat di dalam kelas susunan duduknya sudah berubah menjadi per kelompok. Tentunya Wira mengambil tempat duduk di paling belakang. Jerico dan Kellin mengikutinya. Wira melirik kanan kiri mencari sisa anggota kelompoknya. Ternyata belum datang.

Wira mengeluarkan laptop miliknya kemudian dinyalakan. Dalih dalih agar tidak ribet ketika di panggil dosen untuk maju persentasi. Karena mereka kelompok pertama. Kalau sesuai dengan urutan sudah pasti mereka yang pertama maju.

5 menit sebelum jam kuliah dimulai dosen sudah masuk terlebih dahulu. Kemudian menyuruh Wira mempersiapkan kelompoknya untuk persentasi. “Maaf pak tapi yang lain ada yang belum datang,” ucap Wira.

“Maju aja dulu, lo test laptop lo bisa ke connect gak sambil nunggu temen lo,” ucap sang dosen.

Wira hanya melirik Kellin dan Jerico. Mereka hanya bisa pasrah. Kemudian bertiga maju ke depan lalu mempersiapkan layar proyektor. Berselang 7 menit Cecil, Hellen, dan Ajeng baru saja datang berikut dengan mahasiswa lainnya. Mereka minta maaf pada dosen karena mereka telat 2 menit. Namun sang dosen menyuruh mereka untuk segera duduk. Dengan cepat Cecil dan yang lain menaruh tasnya di kursi lalu berlari menghampiri Wira yang sudah berdiri didepan.

“Power pointnya kirim ke email gue,” ucap Wira dengan wajah terfokus pada layar laptop.

“Ih!” reaksi Cecil membuat Wira berpaling ke arahnya lalu menatap penuh tanda tanya.

“Sumpah gue lupa bikin Wir, semalem gue ketiduran,” ucap Cecil.

Mendengar penjelasan Cecil membuat Wira, Kellin, dan Jerico terdiam. Terutama dengan Wira. Perlahan ia maju menghampiri Cecil agar menatapnya dari dekat. “Jadi lo nggak bikin sama sekali? Lo dan lo juga nggak ada yang bikin?” tanya Wira sembari menunjuk Cecil, Hellen dan Ajeng bergantian. Mereka hanya mengangguk pelan sembari menunduk malu melihat Wira.

Wira menghela napas panjang. “Keluar lo bertiga dari kelompok gue,” ucapnya.

“Tapi Wir sumpah gue lupa, kita suruh kelompok lain aja buat maju ya, kita bikin cepet deh,” mohon Hellen dan Ajeng pada Wira.

“Ya gak–”

“Siapa suruh juga si Kellin kirimnya malem,” dumalan Cecil memotong pembicaraan Wira. Ia menatap tajam ke arah Cecil. Dengan cepat ia melepaskan kabel HDMI yang tercolok pada laptopnya kemudian ia melemparkan ke arah tembok di dekat pintu masuk dengan keras. Menyebabkan seluruh kelas hening seketika termasuk sang dosen.

“Beraninya lo nyalahin Kellin? Hah!!” teriak Wira menggema sampai terdengar keluar kelas.

“Lo bertiga nggak ngerjain tugas lo dengan benar, udah di kasih yang gampang masih aja lo alesan ini itu dan nyalahin Kellin?! Tolol apa goblok lo bertiga?!! Jawab anjing!!!” teriaknya kembali. Kellin mencoba untuk menahan Wira. Namun di tepis karena Wira sudah tidak tahan.

“Lo bertiga kalo nggak mau kuliah mending lo keluar aja bangsat!! Manusia kek lo bertiga cuma bisa nyusahin orang!! Kalo aja lo cowo udah gue hajar abis sekarang juga!!” napas Wira tersengal-sengal. Perlahan ia mencoba untuk menenangkan diri. Kemudian ia menghampiri dosen kelas yang duduk di kursi mahasiswa paling belakang.

“Kelompok saya siap kena sanksi, bapak bisa kasih tugas lebih ke kita buat persentasi ulang di ruangan bapak, tapi tidak untuk hari ini karena laptop saya rusak, mohon pengertiannya,” ucap Wira kemudian ia mengambil tas dan berlalu keluar kelas tak lupa ia mengambil laptop miliknya yang tergeletak di lantai lalu membuangnya ke tong sampah. Terlihat mahasiswa diluar kelas mengintip ke dalam kelas untuk melihat apa yang terjadi. Kellin dan Jerico panik melihat Wira begitu sangat emosi. Mereka izin untuk tidak masuk lalu mengejar kemana Wira pergi.