Rose : Six
Kini Wira dan Kellin sudah berada di kampus. Tidak ada pembicaraan yang muncul selama perjalanan. Kellin merasa kesal dengan keras kepalanya Wira. Bagaimana tidak kesal, Wira memaksa Kellin untuk pergi bersama menggunakan mobilnya. Kellin sempat menolak karena takut tanggapan orang lain melihat dirinya turun dari mobil Wira. Namun Wira tetap bersikukuh agar Kellin tidak menggunakan motornya. Mereka pun berdebat sengit sampai akhirnya Kellin menyerah karena kepalanya sudah terasa pening.
Benar saja dugaan Kellin. Ketika mereka turun dari mobil, orang-orang yang berada di sekitar menatap ke arah mereka, terutama pada Kellin. Ia pun berjalan cepat meninggalkan Wira yang berjalan santai di belakangnya. Keduanya menuju kelas mereka. Tanpa disadari mereka masuk dalam kelas yang sama. Sontak Kellin dan Wira salin menatap satu sama lain dengan penuh tanda tanya.
‘Apaan nih? Kok gue sekelas sama Wira?’
‘Gue nggak salah kelas kan? Kok bisa gue sekelas sama Kellin? Bodo amat ah yang penting bisa liat ayang dikelas hehe.’
Begitulah kira-kira isi dalam kepala mereka. Kellin dan Wira memutuskan untuk duduk berjauhan. Ya bukan tidak mau. Tapi seluruh mahasiswa di kelas menatap mereka bingung. Demi keselamatan bersama.
“Ayang!” pekikan seorang pria membuat semua orang menatap ke arahnya. Jerico dengan wajah cerianya baru saja masuk ke dalam kelas. Ia memilih kursi tepat disebelah Wira.
“Ayang kok cakep banget hari ini? Ganti perfume juga nih mau ketemu siapa sih?” ledek Jerico.
“Apaan sih orang pengen aja ganti perfume,” ucap Wira ketus.
Jerico memicingkan matanya memandang Wira dengan jail. Namun ia menemukan sosok yang menarik perhatiannya. “Loh ayang ku yang satunya kok ada disini? Sini ayang sini duduk sebelah aku,” ucap Jerico dengan semangat.
Merasa terpanggil oleh Jerico, Kellin menoleh ke arahnya. Ia hanya diam. Kemudian mengacuhkannya. Ia memilih untuk mendengarkan lagu menggunakan earphone.
“Wah ayang kedua marah, aku ke ayang kedua dulu ya ayang pertama,” Jerico bangkit dari kursi namun Wira menarik kerah bajunya membuat Jerico kembali duduk.
“Nggak usah macem-macem!” ucap Wira penuh penekanan. Alhasil Jerico hanya mengangguk patuh mengurungkan niatnya untuk pindah di sebelah Kellin.