Rose : Thirteen
Few Days Later
Seorang wanita tengah menatap sebuah pintu apartement bernomor 202. Sudah lima belas menit hanya diam. Ia sangat ragu untuk menekan tombol bel. Sesekali ia memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Sekuat tenaga ia kumpulkan untuk menekan tombol bel.
Ting! Tong! Ting! Tong!
Tidak ada jawaban. Wanita tersebut bernapas lega. “Mungkin lagi pergi,” gumamnya.
“Besok aja kali ya,” wanita tersebut berbalik badan untuk seger pergi. Namun rasa penasarannya kembali naik. Alhasil ia mengurungkan niat untuk pergi lalu kembali menekan tombol bel unit 202. Tetap tidak ada jawaban. Dengan rasa penasaran yang semakin meningkat. Wanita tersebut mencoba menekan password pintu dengan asal.
Ceklek!
Matanya membelalak terkejut. Pintu berhasil terbuka. Panik melanda, sang wanita segera masuk ke dalam apartemen kemudian menutup rapat pintu. “Gila, kok bisa?!”
Beberapa detik kemudian ia baru tersadar kalau ia sudah masuk ke dalam apartemen. Ia terdiam. Matanya menelusuri setiap benda yang berada di dalam. Tanpa sadar kakinya melangkah semakin dalam sampai ia berhenti tepat di ruang tengah apartemen tersebut. Tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Sedang. Cukup untuk di tinggali satu atau dua orang.
“Seleranya masih sama kaya dulu,” wanita tersebut tersenyum.
Tet-tet-tet-tet
Ceklek!
Pintu apartemen terbuka. Sang pemilik telah pulang. Mereka terkejut ketika mata mereka bertemu. Hening. Keduanya terdiam lama.
“K-Kellin.”
“Wira.”