Rose : Three


Sepanjang jalan suasana di dalam mobil sangatlah hening hanya ada suara dari luar dan alunan musik. Merasa bosan dan sedikit mengantuk, Kellin menghela napas panjang sembari sedikit mengubah posisi duduknya agar kembali nyaman.

“Ngantuk?” tanya Wira yang memecah keheningan yang hampir berangsur satu jam lamanya.

“Hm?” Kellin menoleh menatap Wira seperti tidak mendengar pertanyaannya namun sebenarnya ia dengar. Hanya memastikan saja.

“Kalau ngantuk tidur aja,” Wira melirik sebentar sebelum ia kembali fokus melihat jalanan.

“Dikit, nggak apa-apa kok takutnya lo ngantuk jadi gue temenin,” senyuman tipis tergurat di wajahnya meskipun gelap namun Wira dapat melihatnya dari ujung mata.

“Kalau gitu nyanyi,” ucapan Wira membuat Kellin menatapnya penuh tanda tanya.

“Nyanyi?”

Wira tak kuasa menahan tawanya melihat wajah panik Kellin, “Haha bercanda.”

“Ih apaan sih gak jelas,” Kellin memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah Wira. Bukannya malu namun ia sangat gugup melihat Wira tersenyum.

“Jadi lo suka sama Jerico?” tanya Wira tiba-tiba.

Kellin terkejut lalu segera menatap Wira sembari membenarkan posisi duduknya, “Enggak kok, kapan gue suka sama Jerico, nggak pernah, jangan salah paham ya Wira, gue, gue cuma di ajak main doang sama Naomi.”

Sempat terdiam. Wira melirik wajah Kellin. Terlihat dari raut wajahnya jika Kellin mengatakan sebenarnya. Wira pun tersenyum. “Thanks.”

“Huh? Thanks for what?” Kellin menaikan alis kanannya.

“Thanks for not falling in love with him,” ucap Wira.

“Nggak perlu terima kasih nggak sih, emang udah sewajarnya, kan lo pacarnya, gue bukan siapa-siapa,” jelas Kellin.

“Kalau bukan Jerico yang lo suka, berarti lo suka sama gue?” tanya Wira.

Kellin pun tersedak oleh liurnya sendiri. Panik menyerbu. Ia segera mengambil botol minum miliknya. Meneguknya hingga kandas. Wira tersenyum. Perlahan ia menepikan mobilnya tepat di bahu jalan. Kemudian menyalakan lampu hazard.

Kini Wira dapat menatap Kellin dengan lama, “Jadi bener lo suka sama gue? Sejak kapan?” tanyanya kembali.

“Nggak kok, yang bener aja, gue bukan lesbi,” ucap Kellin.

“Nggak usah bohong sama gue Lin, gue tanya lagi sejak kapan lo suka sama gue?”

Kellin terkekeh pelan kemudian memberanikan diri untuk menatap wajah Wira, “Kalau gue bohong atau jujur apa untungnya buat lo?”

“Penting buat gue,” ujar Wira.

“Kalau gue suka lo dari SMA, lo bakal ngapain?” tanya Kellin membuat Wira terdiam.

“Lo yakin?” Wira menatap lekat kedua mata Kellin.

“Terserah lo deh yang penting gue nggak akan rebut Jerico dari lo, iya gue lesbi, suka sama cewe, puas lo?!”

Sekejap Wira menarik kedua pipi Kellin. Ia mencium bibirnya tanpa aba-aba. Kellin tertegun. Dengan cepat kesadaran Kellin muncul, ia mendorong tubuh Wira lalu menampar keras pipinya.

“Udah gila lo?!” teriak Kellin.


2018

“Wira!” panggil Jerico yang tengah berlari menghampirinya. Terlihat Wira sedang bermalas-malasan di atas mejanya.

“Hm?” sahut Wira dengan malas.

“Ayo main basket!” ajak Jerico.

“Ogah panas,” Wira menutupi wajahnya dengan buku pelajaran.

“Ada si itu,” bisik Jerico.

Sekejap Wira menegakan tubuhnya membuat mulut Jerico terhantam bahunya dengan keras, “Bangsat!” Jerico menutupi mulutnya menahan rasa sakit.

“Ngapain lo?” tanya Wira dengan heran melihat Jerico kesakitan.

“Mulut gue kena bahu lo njing, berdarah nih,” Jerico memperlihatkan bibirnya yang berdarah akibat benturan tadi.

“Mana sini liat?” Wira bangkit dari kursi lalu melihat dengan dekat mulut Jerico. Satu pukulan sedikit keras mendarat di bibirnya. “Bedarah dikit doang, ayo!” Wira segera keluar kelas.

Ketika menuruni anak tangga, ia dapat melihat sosok perempuan tengah membaca buku di bawah pohon rimbun yang tak jauh dari lapangan olahraga dimana teman-teman Wira sedang bermain basket. Perempuan tersebut merupakan Kellin. Sudah menjadi rutinitas Wira bermain basket atau futsal jika Kellin berada di tempat favoritnya. Apabila Kellin tidak terlihat maka Wira memilih untuk tidur dikelas sehabis makan siang. Seperti pepatah mengatakan, menyelam sembari minum air. Sama seperti Wira lakukan, bermain basket dan futsal sembari memperhatikan Kellin dari kejauhan. Namun sayangnya Wira hanya dapat mengagumi Kellin secara diam sampai mereka lulus SMA.


Wira menghela napas, “Sorry, gue udah gila karena lo, kali ini gue nggak mau diam aja, izinin gue buat kenal lo lebih dari sekedar nama dan jurusan kuliah.”

“Lo mabok? Lo udah punya Jerico jangan mainin perasaan orang, Jerico juga punya hati!” ucap Kellin.

“Jerico hanya sekedar pacar kontrak, nothing special,” jelas Wira.