Rose : Twelve
Last Night
“Naomi sama Gina mana Co?” tanya Wira yang baru saja keluar dari kamar Kellin. Ia melihat Jerico tengah asik menonton bola di televisi.
“Udah tepar dikamarnya,” jawab Jerico.
Wira menghampiri Jerico lalu duduk disebelahnya, “Co.”
“Hm?” Jerico menatap Wira.
“Lo masih suka kan sama Kellin?” pertanya Wira membuat Jerico terkejut.
“Kenapa emang?” tanya Jerico heran.
“Kalo lo masih suka sama dia tolong jagain dia ya,” ucap Wira sembari tersenyum.
“Apaan sih anjing, kenapa jadi gue yang jagain dia, lo mau kemana emang?”
“Gue mau pergi dan nggak akan balik lagi Co,” jawabnya.
“Jangan bercanda coba, serius anjing mau kemana? Ngapain?” tanya Jerico lagi untuk memastikan apakah Wira bercanda atau tidak.
“Gue serius, tolong jagain Kellin, at least sampe dia nemu yang baru, ya kalo bisa sih itu lo Co, ya?” Wira tersenyum.
Few Days Ago
Knock! Knock!
Tak ada jawaban. Terpaksa ia masuk ke dalam ruangan dimana ayahnya bekerja. Marcel Muljadi. “Pih?” Wira melihat ke arah meja kerja sang ayah. Kosong. Mungkin sedang ke toilet atau ada urusan di lantai berapa entah lah itu. Ia memutuskan untuk menunggu di sofa sembari memainkan ponselnya.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Muncul sosok yang ia cari. Namun sepertinya sedang tidak bersahabat suasananya. “Wira Muljadi! Bangun!” ucap Marcel. Sontak Wira bangkit dengan wajah terkejut. Marcel menghampiri anak bungsunya.
PLAK!
Marcel menampar keras pipi Wira. “Anak setan!!” bentaknya. Wira terkejut bukan main. Ia menahan rasa sakit tamparan dari ayahnya lalu menatap wajahnya penuh dengan tanda tanya. Marcel kembali menampar wajah Wira hingga meninggalkan luka kecil di ujung bibirnya.
“Lu jelasin sama gua ini apa?!” Marcel melemparkan setumpuk foto tepat pada wajah Wira.
Wira menunduk. Ia melihat begitu banyak foto dirinya berasama Kellin. Ternyata ia tertangkap basah oleh ayahnya. Wira tak bisa mengelak karena ia melihat juga foto dimana ia mencium Kellin pada saat merayakan hari jadi bulan pertama. Di mobilnya.
“Gua kasih lo kebebasan lo malah kelewatan! Udah gila lo hah?!” bentak Marcel. Wira masih saja diam. ia tidak tahu harus mengatakan apa. Karena memang ini salah. Tidak seharusnya terjadi.
“Lo urusin hubungan tolol lo sama dia, gua bakalan stop tunjangan bokapnya!” Wira menatap Marcel terkejut.
Dengan cepat ia bersujud di kaki ayahnya, “Pih please jangan cabut tunjangan dia pih! Ini salah Wira! Wira yang suka sama dia, Wira yang maksa dia buat pacaran! Dia nggak salah pih! Gimana pun itu udah hak dia pih! Please jangan cabut tunjangannya, W-Wira bakal nurutuin kemauan papi, asal papi jangan hukum Kellin, aku mohon pih…,” Wira menangis semabri memeluk kaki Marcel memohon agar Kellin tidak di hukum.
Marcel mengusap wajahnya kasar. Wira benar. Bagaimana pun itu sudah hak yang di terima Kellin sebagai rasa terima kasih dari perusahaan atas kinerja mendiang ayahnya.
“Gua kasih waktu lo seminggu buat ngurusin dia sama perpindahan kampus, lo bakal pindah ke London,” ucap Marcel. Wira menenggakan kepalanya menatap Marcel dengan mata sembabnya, “Y-yaa yaa, W-Wira bakal pindah, asal Kellin jangan di hukum.”
“Satu lagi,” Marcel menatap lekat wajah Wira.
“Lo jangan balik lagi ke Indonesia.”
“Lo gila! Tega banget lo ninggalin gue sama yang lain, terutama Kellin!” ucap Jerico.
“Semuanya demi Kellin, lagi pula kan lo sama yang lain bisa ke tempat gue kapan pun,” jelas Wira.
“Bener sih,” gumam Jerico.
Wira memberikan surat pada Jerico, “Tolong kasih ke Kellin kalau dia udah bangun besok.”
Wira mengecup sekilas pipi Jerico. “Jaga diri lo baik-baik ya, lo sahabat terbaik gue, dan tolong jagain Kellin buat gue.” Tak lupa ia mengusap kasar kepala sahabatnya sebelum ia bangkit dan pergi.
“Ah satu lagi,” Wira berbalik menatap Jerico yang masih diam menatap dirinya sedih.
“Udah saatnya lo bahagia dengan orang yang lo sayang, see you Cocot,” kali ini Wira benar-benar pergi.
‘Gimana gue bisa bahagia, kalo lo adalah tempat gue bahagia Wir, demi lo gue bakal jaga Kellin,’ batin Jerico.