Selesaikan atau Abaikan


Malam ini di sambut dengan lebatnya hujan yang mengguyur ibu kota Jakarta. Dingin dan kosong. Itu lah yang di rasakan Rosé saat ini. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ia mengetahuinya, namun ia bimbang. Selesaikan atau abaikan. Kira-kira begitulah pikirannya, mengimbang-imbang jawabannya yang tepat untuk situasi saat ini.

Setelah beberapa lama berfikir. Rosé telah membuat keputusan. Tak ingin membuang waktu, ia segera mengambil hoodie miliknya dan mengambil kunci mobil milik Jennie.

“Mau kemana?”, tanya Jennie yang melihat Rosé seperti terburu-buru ingin keluar.

“Keluar sebentar, minjem dulu ya”, ucap Rosé yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Jennie.

Sejujurnya Rosé pulang ke Indonesia adalah kemauannya. Keluarganya tetap tinggal di Aussie. Karena itu lah Rosé kini menumpang di apatemen milik Jennie. Hanya sampai ia menemukan apartemen yang cocok untuknya.


Setelah beberapa lama Rosé mengendarai mobil, kini ia berhenti di depan sebuah rumah yang berukuran sedang dan minimalis. Masih sama seperti dahulu. Tidak ada yang berubah, hanya saja warna tembok yang berubah dari terakhir kali ia lihat dahulu. Sempat ragu beberapa menit, akhirnya ia memutuskan untuk turun dan berlari menuju pagar rumah tersebut. Segera ia menekan tombol bel yang berada di dekat pintu pagar. Sekali dua kali ia tekan tombol bel, namun tak kunjung seorang pun yang keluar dari rumah.

Badannya kini sudah basah kuyup akibat lebatnya hujan. Ia tidak peduli. Tujuan ia kemari ingin bertemu seseorang yang sangat ia rindukan. Kembali ia mencoba menekan tombol bel, tetap saja tak seorang pun yang keluar. Tak lama sebuah mobil berhenti di hadapannya. Matanya tidak dapat melihat jelas akibat silaunya lampu mobil yang menyoroti wajahnya. Hampir 5 menit orang yang berada di dalam mobil tidak turun. Pintu mobil tersebut terbuka, dan seseorang muncul menggunakan payung menghampiri Rosé yang masih diam di depan mobil tersebut. Pandangannya kini kembali fokus setelah menatap seseorang di hadapannya. Bae Irene.

Tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rosé maupun Irene. Mereka saling menatap satu sama lain. Hingga sebuah tangan mendarat di pipi Rosé. Irene menamparnya dengan keras. Ia terkejut dan menatap mata Irene yang sudah berkaca-kaca. Hendak menamparnya kembali, Rosé menarik tangan Irene lalu memeluknya dengan erat. Payung yang di pakai Irene jatuh membuat tubuhnya ikut basah akibat guyuran hujan. Irene menangis dalam dekapan Rosé sembari memukul-mukul punggung Rosé. Perasaannya terasa campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena dapat bertemu dengan Irene setelah sekian lamanya. Sedih karena Irene menangis. Dirasa mereda emosi Irene, Rosé melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Irene.

“Maafin gue Re”

“Jahat lo”

“Gue nggak bermaksud begitu”

“Mana janji lo?!”

“Lo sendiri yang mempersulit Re”

“Karena gue marah sama lo!! Seharusnya lo cerita sama gue! Tapi lo main pergi gitu aja setelah pamit di group! Mana janji lo yang selalu ada buat gue! Mana?!!”, Irene kembali menangis sembari memukuli dada Rosé.

“Iya gue tau gue salah, nggak bisa nepatin janji gue, gue minta maaf, mungkin setelah ini gue tetap nggak akan bisa nepatin janji gue, nggak lama lagi gue bakal tunangan Re”, Irene terkejut menatap Rosé tidak percaya. Rosé mengecup kening Irene sedikit lama.

“Gue harap Seulgi atau Wendy bisa jagain lo, gue minta maaf”, Rosé meninggalkan Irene yang masih mematung dengan keadaan badan yang sudah basah kuyup.

'Maafin gue Re, tapi lo tetap jadi Rere gue sampai kapan pun itu', batin Rosé.