The Devils : Sentuhan


Setelah beberapa menit di perjalanan, kini mobil yang dinaiki Irene sudah memasuki halaman rumah Seulgi. Hatinya berdegub kencang ketika mobil berhenti didepan pintu rumah. Ia takut kalau Seulgi akan memarahi nya karena pulang hampir tengah malam. Lamunan nya buyar saat supir membukakan pintu untuknya. Ia mengatur dahulu napasnya agar tidak gugup saat masuk ke dalam rumah. Merasa sedikit tenang, perlahan ia turun dari mobil dan berjalan menaiki anak tangga menuju pintu rumah. Perlahan ia membuka pintu agar tidak terdengar oleh Seulgi. Lalu ia menutup kembali pintu dengan sangat pelan. Hendak membalikkan badan, ia dikejutkan oleh seseorang yang tengah berdiri menatapnya. Jarak mereka begitu dekat.

“Oh ini ternyata ceo baru,” ucap orang tersebut seraya tangannya mengelus perlahan pipi Irene.

“Si-siapa kamu?” ucap Irene yang perlahan mundur karena ketakutan.

“Ternyata Seulgi nggak kenalin gue ke lo ya…,” jelas orang di hadapannya.

“HOJUNG!!” teriak seseorang tengah berdiri di lantai 2 menatap kearah Hojung dan Irene.

“See you again. Irene,” Hojung menyeringai ke arah Irene lalu pergi meninggalkannya yang masih ketakutan akibat perlakuan Hojung.

“Irene,” panggil seseorang yang ia kenal suaranya.

“Huh?” Irene menatap Seulgi sudah berdiri di hadapannya. Kapan ia datangnya? Batinnya.

“Maafin kelakuan adik saya, are you okay?” tanya Seulgi.

“Nggak apa apa kok, cuma kaget aja hehe,” jelas Irene.

“Ayo ke ruang kerja, ada yang mau saya tunjukan,” ucap Seulgi yang di anggukan oleh Irene.


Sampai nya di ruang kerja, Irene melihat ada dua orang yang tidak ia kenal menatap kearah nya. Irene masih saja mengikuti Seulgi seperti anak bebek mengikuti induknya. Kedua orang tersebut tersenyum ke arah Irene.

“Irene kenalin ini Park Sooyoung dan ini Jeong Jaehyun,” Seulgi memperkenalkan kedua orang tersebut pada Irene.

“Ah… saya Bae Irene,” Irene membukuk hormat pada kedua orang di hadapannya. Seulgi tersenyum melihat tingkah polos Irene yang sangat menggemaskan baginya.

“Park Sooyoung nanti akan bekerja sebagai asisten pribadi kamu dan Jeong Jaehyun sebagai supir dan bodyguard kamu, kemana pun kamu pergi harus di antar oleh Jaehyun. Mengerti?” jelas Seulgi yang menatap Irene dengan tatapan serius. Irene hanya mengangguk kecil tidak berani menatap lama kedua mata bos nya itu.

“Good, kalau gitu kamu tolong bantu Irene bekerja besok, karena ia butuh dilatih ekstra sepertinya,” ucap Seulgi pada Sooyoung.

“Baik bu, semua aman dalam kendali saya,” ucap Sooyoung yang tersenyum ke arah Seulgi dan Irene.

“Segitu aja kalian bisa ke ruangan kalian,” ucap Seulgi.

Sooyoung dan Jaehyun membukuk hormat kepada Seulgi dan Irene lalu beranjak keluar dari ruang kerja. Irene hendak pamit pada Seulgi, namun di cegah oleh Seulgi.

“Mau kemana kamu?” tanya Seulgi.

“Mau ke kamar, tadi katanya disuruh keluar,” Ingin rasanya Seulgi tertawa melihat tingkah polos Irene, namun ia tahan.

“Saya tadi suruh Sooyoung dan Jaehyun, kamu tidak termasuk,” jelas Seulgi.

“Oh gitu, hehe maaf,” Irene menyengir malu.

“It’s okay, by the way tadi saya dapet info kalau temanmu ada yang cowo, saya sudah tau orangnya, tapi saya mau dengar dari kamu, siapa dia?” Irene sedikit terkejut ternyata Seulgi memantau nya pada saat di cafe.

“Namanya Kim Suho, saya udah berteman dengan dia dari umur 2 tahun, kebetulan dia tetangga saya, tapi pas lulus kuliah dia pindah ke busan untuk nerusin bisnis keluarganya,” jelas Irene.

Tiba-tiba saja Seulgi menarik tangan Irene lalu memeluk pinggangnya dengan erat. Irene terkejut diam tidak bisa berkutik. Seulgi menatap kalung yang di kenakan oleh Irene. Seulgi tersenyum karena Irene masih memakainya. Jantung Irene berdetak sangat cepat, rasanya oksigen di ruangan ini hampir habis. Ia tidak dapat bernapas dengan bebas. Ia tidak berani untuk menatap wajah Seulgi yang sangat begitu dekat.

Aroma dari tubuh Irene begitu kuat. Mata Seulgi kini mengarah pada leher Irene. Rasanya ingin sekali Seulgi menandai Irene sebagai miliknya. Tanpa di sadari Seulgi menyingkirkan rambut panjang milik Irene agar ia dapat melihat dengan jelas lehernya. Irene semakin takut namun ia tidak dapat bergerak. Tanpa berpikir jernih, Seulgi mengecup perlahan leher Irene. Seperti tersengat listrik, kecupan pada lehernya mampu membuat seluruh darah pada tubuhnya mengalir begitu cepat sampai bulu halus nya meremang.

Terdengar jelas oleh Seulgi desahan kecil yang keluar dari mulut Irene. Ia pikir Irene akan menolaknya, namun tubuh mungil nya menikmati sentuhan tersebut. Seperti diberi izin oleh sang pemilik, Seulgi melanjutkan aktivitasnya pada leher Irene. Awalnya ingin menolak apa yang akan di lakukan Seulgi, namun entah mengapa ia menyukai nya. Bahkan rasanya tidak ingin berhenti.