Spill or Drink


Terlihat empat orang yang sedang tertawa terbahak bahak sedang berkumpul memainkan sebuah permainan Spill or Drink. Sebuah botol akan di putar untuk menentukan siapa yang akan di beri sebuah pertanyaan, dan orang tersebut bebas untuk memilih akan menjawab pertanyaan tersebut atau akan meminum segelas alkohol dengan sekali teguk.

Irene dan Hojung terlihat sudah tidak karuan saat berbicara. Mereka sudah mabuk karena terlalu banyak memilih Drink di bandingkan Spill. Berbeda dengan Seulgi dan Wendy, mereka selalu menjawab pertanyaan yang di berikan, namun ada beberapa memilih untuk minum.

“Ayo puter lagi!” ucap Hojung dengan wajah teler nya.

“Ayo ayo ayo…” seru Irene.

“Hahaha udah mabok mereka gi…” Wendy tertawa melihat tingkah kedua temannya yang sudah tidak karuan.

“Ayoooo ih puter Weeeeenn… kan tadi lo yang kena…” protes Irene yang memasang wajah cemberut nya membuat Irene terlihat menggemaskan bagi Wendy dan Seulgi. Tentu saja bagi yang masih sadar.

“Hahaha iya iya ini gue puter” Wendy memutar kan botol yang berada di lantai tersebut. Mereka berempat mengamati pergerakan botol tersebut untuk mengetahui ke arah mana botol tersebut berhenti. Setelah menunggu sedikit waktu, ujung botol kini mengarah pada Irene.

“Ih gue muluuuuu….” Irene memanyunkan bibirnya kesal karena selalu dirinya yang kena.

“Kacau sih sampe lo milih drink lagi rene” ucap Seulgi sedikit khawatir.

“Nggak apa apa Gi, gue kuat hehe… Ayo siapa yang mau nanya gue?” ucap Irene.

“Di antara kita bertiga, siapa yang pengen banget lo cium rene dan kenapa? Spill or Drink?” tanya Wendy.

“Kita? Bertiga? Cium? Huummm… Spill!” seketika raut wajah Irene berubah menjadi serius dan menatap satu persatu wajah Wendy, Seulgi, dan Hojung.

“Siapa rene?” tanya Seulgi penasaran.

Sedikit sempoyongan Irene menghampiri Seulgi dengan merangkak. Jantung Seulgi sudah tidak karuan akibat Irene menghampiri dirinya. Irene menatap lekat wajah Seulgi sedikit lama. Seulgi menelan ludahnya. Kenapa Irene menatapnya begitu. Namun tiba tiba Irene berbelok arah menuju Hojung yang sedang bersandar pada sofa. Irene mengecup pipi Hojung dengan lama. Hojung mematung. Bagaimana dengan Seulgi? Kecewa? Tentu. Cemburu? Jelas.

“OMAIGAT! Aku loyo guys…” seru Hojung yang seketika tepar di lantai akibat Irene menciumnya secara tiba tiba dan tentu dari pengaruh alkohol juga.

“Hehehe alesannya gemes soalnya” jawab Irene.

“HAHAHA langsung tepar anjir si juju” Wendy menertawakan Hojung yang sudah hilang kesadarannya.

“Udahan ayo, liat udah makin gak bener si Irene” celetuk Seulgi.

“Lo nginep gak Gi?” tanya Wendy.

“Engga Wen, gue balik aja deh” Seulgi berdiri. Kepalanya sudah terasa sedikit pusing. Sudah lama sekali dirinya tidak minum alkohol.

“Mau kemanaaaa? Ikuuuuut” rengek Irene pada Seulgi.

“Ikut kemana? Gue mau balik Rene” Seulgi mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.

“Iiiiihhh ikuuuttttt… ikuuuut” Irene semakin merengek seperti anak kecil yang ingin ikut dengan orang tuanya.

“Anterin balik deh Gi, makin kacau haha” ucap Wendy.

“Tau gitu gak usah ikut lo Rene… yaudah ayo, tapi lo balik ke apart lo” ucap Seulgi pasrah.

“Hehehe gendong” Irene merentangkan kedua tangannya pada Seulgi.

“Berat ah jalan buru” Seulgi bantu Irene untuk berdiri.

“Wendy hnggg…” Kini Irene kembali merengek pada Wendy dengan mata yang sudah berkaca kaca.

“Kenapa sayang?” tanya Wendy.

“Seulginya nggak mau gendong akuuuuu” adu Irene pada Wendy.

“Gi gendong deh Gi ampe nangis mah berisik anjir malu sama tetangga” Seulgi menghela napas panjang.

“Iya iya di gendong buru naik” kini Seulgi sudah berjongkok di hadapan Irene. Tentu saja Irene senang bukan main. Dengan cepat Irene segera naik ke punggung Seulgi, lalu Seulgi berdiri dengan memegangi kedua kaki Irene agar tidak terjatuh.

“Yeaaay makasih Seulgi” ucap Irene dengan nada manjanya yang berhasil membuat bulu kuduk Seulgi berdiri.

“Dadah Wendy…” Irene melambaikan tangan pada Wendy ketika Seulgi sudah melangkah menuju halaman rumah Wendy. Segera Seulgi memasukkan Irene ke dalam mobil sebelum dirinya berbuat hal yang bikin sakit kepala. Tak lupa Seulgi berpamitan dengan Wendy.


Selama di perjalanan menuju apartemen Irene, Seulgi di buat pusing oleh tingkah Irene yang selalu mengganggu konsentrasi menyetir nya. Dari menanyakan setiap gedung yang di lalui hingga memainkan kaca mobil milik Seulgi naik dan turun. Seulgi paling tidak suka jika ada penumpang di mobilnya berperilaku seperti itu. Sebenarnya Irene sudah tau, tapi apakah ia sengaja agar Seulgi marah? Atau memang Irene sudah benar benar di luar kendali?

Setelah berkeliling parkiran untuk mendapatkan parkir dekat dengan lift, akhirnya membuahkan hasil. Seulgi dengan perlahan memarkirkan mobilnya dan hendak mematikan mobilnya, namun Irene memegang lengan Seulgi.

“Kenapa Rene? Mau muntah?” tanya Seulgi yang tidak di jawab oleh Irene melainkan hanya menatap lekat kedua mata Seulgi.

“Kenapa?” tanya Irene.

“Hm? Kenapa apanya?” tanya Seulgi dengan heran.

“Kenapa… lo nggak confess ke gue… kaya Wendyyy… kaya Hojuuung…” Irene memaksakan dirinya untuk fokus.

“Kenapa juga gue harus confess? Gue udah tau jawabannya dan gue sadar diri, jadi temen lo aja gue udah seneng kok” jawab Seulgi.

“Tapi gue mau lo confess ke gueeee” ucap Irene.

“Apa sih lo, udah yuk mabok lo” Seulgi langsung mematikan mesin mobilnya dan segera membuka pintu untuk turun.

Namun lagi lagi Seulgi gagal turun dari mobil karena Irene menarik lengan Seulgi. Saat Seulgi menoleh untuk melontarkan protes nya, tiba tiba saja Irene menarik kedua pipi Seulgi lalu mencium bibirnya. Seulgi membulatkan matanya lebar. Badannya mematung. Irene semakin melumat bibir Seulgi yang masih saja diam tidak membalas ciuman Irene. Perlahan Irene menjauhkan wajahnya lalu menatap kedua mata monolid Seulgi.

“I want you, I’m so into you” ucap Irene pelan namun masih dapat di dengar oleh Seulgi.