Taste : Nine
10 April 2022 – 9 PM
“Selene!”
“Hm?” sahut Selene yang tengah sibuk menatap layar komputer pada ruang kerjanya.
“Sampe kapan aku dikurung gini? Aku mau pulang Selene!” ucap Jollie yang kini berada di hadapannya menatapnya dengan tatapan kesal.
“Mau ngapain pulang? Kamu udah nggak ada kontrak di agensi lama mu,” ucap Selene dengan santai.
“Tapi kasian Kai Kuma!” Jollie menghentakan kakinya membuat Selene menatap dirinya.
“Who’s Kai Uma?” tanya Selene.
“Kai Kuma! Mereka anjing anjing aku, mereka masih ada di pet care, kasian Kai Kuma…,” ucap Jollie sedih.
“Sebut aja alamat pet care nya, biar Deon yang ambil, kamu nggak boleh ke New York sendirian,” Selene melanjutkan pekerjaannya dan Jollie hanya terkejut tidak percaya bahwa ia tidak diperbolehkan pulang.
“Kok nggak boleh sih?!” protes Jollie.
“Perintah, jangan bantah,” ucap Selene tanpa menatap Jollie yang sudah sangat kesal.
“Ngeselin! Emangnya lo siapa sih! Ngatur ngatur hidup gue! Cukup Leona yang bikin hidup gue kaya hewan! Sekarang lo samanya kaya dia! Gue kira lo mau nolongin gue karena lo peduli sama gue nyatanya gue cuma jadi pecundang di manfaatkan banyak orang!” setelah mengeluarkan kekesalannya Jollie berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruang kerja Selene.
Tangan Jollie sudah memegang kanopi pintu dan siap membuka pintu ruangan tersebut, namun sebuah tangan menahan pintu tersebut membuat Jollie terkejut, ‘Astaga! Kapan dia ngikutin guenya!’ batin Jollie.
Selene membalikan badan Jollie dan menatap Jollie dengan tatapan tajam. Jantung Jollie sangat berdebar dengan kencang. Selene mendekatkan wajahnya pada wajah Jollie, ‘Shit! Gue salah ngomong….’
“Listen, pertama sekarang gue atasan lo jadi apa yang gue perintah lo harus nurut, kedua gue ngelarang lo ke New York bukan semata-mata keingin gue tapi buat ngelindungin lo! Ketiga berhenti samain gue sama bajingan itu!!!” Selene meninju pintu yang berada dibelakang Jollie dengan keras hingga pintu tersebut nyaris hancur.
Gertakan Selene membuat Jollie nunduk ketakutan sampai ia meremas ujung bajunya. Sadar Jollie ketakutan Selene menghela napasnya dengan kasar, “Masuk kamar sekarang.”
Tak ingin membuat Selene bertambah marah, Jollie menuruti perkataan Selene tanpa mengeluarkan satu kata pun. Selene merasa bersalah karena tidak dapat mengontrol emosi nya, kini ia merutuki dirinya karena membuat Jollie ketakutan.
Selene melihat pintu yang ia tinju, “Shit!”