Taste Series : Old Memories Four
“Sayang aku mau nanya.”
“Tanya aja,” Selene memeluk erat tubuh Jollie dari belakang.
“Kenapa mommy sama daddy kamu perginya barengan sama orang tua Waynne dan mamanya Shalgie?” tanya Jollie sembari mengusap lengan Selene.
“Awalnya kita berbeda pack–”
“Pack itu apa?” potong nya.
“Pack itu sama seperti layaknya kelompok atau group, dalam pack itu ada seorang pemimpin disebut alpha dan luna adalah pasangan dari sang alpha, paham kan sampai sini?” tanya Selene yang di jawab anggukan oleh Jollie.
“Di bawah alpha itu ada beta, beta itu sama seperti wakil ketua di dalam organisasi, seperti aku di kantor,” lanjut Selene.
“Jadi kamu beta?” tanya Jollie.
“Ya enggak dong, aku alpha, tapi untuk di kantor memang iya seperti beta haha, uncle John itu beta terpecayanya daddy dulu, balik lagi ke awal aku, Shalgie, dan Waynne itu dari berbeda pack.”
“Terus-terus?”
“Aku dari pack Saint Clair, Shalgie dari pack Dawson, dan Waynne dari pack Greyson. Daddy, uncle Juan, dan mama Yuri itu bersahabat, dan mereka membuat perusahaan yang sekarang Shalgie dan aku pegang. Awal perusahaan dibikin itu jasa import eksport barang, saat itu aku masih umur 5 tahun. Karena ada oknum yang mencoba menyelundupkan narkoba dan di tolak sama mama Yuri, mereka secara brutal nyerang kantor,” jelas Selene.
“Ya Tuhan! Tapi mommy dirumah kan saat itu?” Jollie berbalik badan lalu menatap Selene.
“Memang, aku lagi main sama mommy di halaman belakang, entah bagaimana kejadian saat itu di kantor, tiba-tiba mommy jatuh dan merintih kesakitan, darah keluar dari tubuh mommy begitu aja, aku ketakutan, dan berfikir itu karena perbuatan ku, Waynne pun sama, ternyata sekarang aku paham apa yang di maksud mommy Jessica kemarin, itu karena binding, di tambah mommy adalah manusia, sama sepertimu,” kini mata Selene berkaca-kaca. Jollie mengusap lembut pipinya membuat air matanya sukses jatuh.
“Kamu takut?”
“Yeah, I’m sorry,” tangis Selene pecah. Ia sudah tidak dapat menahannya. Kerinduan dan ketakutan bercampur aduk. Jollie segera menarik tubuh Selene lalu memeluknya dengan erat.
“Aku percaya kamu bisa ngelindungin aku dan baby, aku tau kamu kuat kok sayang, jangan takut ya, dan kejadian dulu bukan salah mu, mungkin udah jalannya Tuhan seperti itu, membuat kamu, Shalgie, dan Waynne semakin kuat, aku sama sekali merasa tidak menyesal jadi apa itu namanya.”
“Mate.”
“Nah iya ituuu, aku nggak pernah ada rasa menyesal jadi mate kamu, malah aku bersyukur punya pasangan seperti kamu, tenang aja aku kuat kok, buktinya kemarin aku cepetkan sembuhnya, padahal rasanya sakit banget tau tonjokan Shalgie,” lanjut Jollie.
“Emang anjing itu anak, aku masih kesel sama dia, tapi kamu beneran udah nggak sakit?” tanya Selene dengan wajah khawatir sembari mengelap ingus nya yang meler.
“Beneran sayang aku udah nggak ngerasa sakit, aku juga nggak tau bisa gitu,” jelas Jollie.
“Aneh banget, apa mungkin karena baby? Nggak mungkin sih, dulu seingatku kalau mommy luka akibat ulah daddy pasti sembuhnya itu lama.”
“Mungkin aku wonder woman hoho.”
“Iya wonder woman, sexy kaya Gal Gadot.”
“Ngomong sekali lagi aku gigit kamu.”
“Sexy kaya Gal Gadot~”
Jollie menggigit kuat bahu Selene hingga merintih kesakitan. Bukan hanya Selene namun Jollie juga.
“Awwwwww~” ringis Jollie sembari memegangi bahunya.
“Don’t do that again! Please!!”
Dari kejauhan terdapat seseorang berjubah hitam berdiri di tengah hutan sedang memantau Selene dan Jollie yang masih berada di makam orang tua Selene.
“I got you~” orang misterius tersebut menyeringai.
Seperti ada yang mengawasi, Selene menoleh ke arah hutan. Matanya mencari sesuatu. Merasa ada yang aneh dengan Selene, Jollie menarik dagu Selene hingga pandangannya teralihkan.
“Kamu ngeliatin apa?” tanya Jollie.
“Nggak ada apa-apa, kedalem yuk uncle John udah nungguin,” Selene bangkit, lalu membantu Jollie untuk berdiri.