Taste Series : Old Memories Two


“Kita mau kemana sih?”

“Kayanya kamu penasaran banget deh.”

“Emang nggak boleh aku kepo?”

“Boleh dong hehe, marah-marah mulu nih bumil satu,” Selene mengusap perut Jollie semabari fokus menyetir.

“Lagian kamunya juga nyebelin,” Jollie menepuk tangan Selene agar menjauh dari perutnya.

“Maaf ya sayang,” Selene menarik lengan Jollie lalu mengecup punggung tangannya.

“Hmm,” deham nya.

Kini mobil yang dikendarai oleh Selene memasuki jalan kecil menuju ke dalam hutan. Sangat sepi. Hanya ada mobil Selene. Jollie menarik ujung baju Selene lalu meremas nya. Ia merasa ketakutan.

“Kita mau kemana sih Lene? Kamu nggak bakal buang aku disini kan?!” tanya Jollie dengan panik.

“Pfftt!! Ya Tuhaaaaan~ mana ada sih diotak aku buat buang kamu, jangankan buang kamu, aku ditinggal kamu ke kamar mandi aja galaunya setengah mati!” Selene menarik tangan Jollie lalu ia menggenggam nya dengan erat.

“Kan siapa tau aja! Kamu kan jail!” Jollie memanyunkan bibirnya.

“Engga dong sayang, nih dah sampe kok,” Selene membelokkan mobilnya pada sebuah halaman rumah yang terlihat cukup tua namun memiliki halaman yang sangat luas.

Selene memarkirkan mobilnya didepan rumah tersebut. Kemudian ia turun dari mobil lalu membukakan pintu Jollie. Tak lupa ia membantu sang pujaan hatinya turun dari mobil.

“Sayang ini rumah siapa?” Jollie menatap rumah tua tersebut.

“Ini bukan rumah untuk tempat tinggal, tapi ini rumah duka milik keluarga Dawson, ayo masuk nanti aku jelasin,” Selene merangkul pinggang Jollie lalu berjalan masuk ke dalam rumah tersebut tak lupa ia membawa boquet bunga yang sudah ia beli tadi.

“Selene!”

Sang pemilik nama dan juga Jollie menoleh ke asal sumber suara. Terlihat seorang pria tua dengan badan tegap menghampiri mereka berdua.

“Uncle John!” Selene mendadak memeluk erat pria tersebut membuat Jollie sedikit terkejut.

“Haha udah besar aja ya kamu sekarang!” John menggusak kasar kepala Selene membuat rambutnya berantakan.

“Iya lah masa mau kecil terus! Oh iya uncle kenalin ini Jollie Eve, sayang kenalin ini uncle John!” Selene memperkenalkan Jollie dengan John.

“Wow cantiknya mate mu Lene~ Perkenalkan saya John, unclenya Selene,” John mengulurkan tangannya lalu di terima oleh Jollie.

“Hi, Jollie Eve,” Jollie tersenyum malu.

“Udaaaahh jangan lama-lama,” Selene melepaskan jabatan tangan mereka.

“She’s like your mom,” ucap John.

“Yeah I know, uncle aku kebelakang sebentar ya, nanti kita ngobrol lagi,” ucap Selene sembari menarik lengan Jollie.

“Ya! Ya! Ya! Uncle buatkan kalian teh hangat nanti,” ucap John.

“Okay~” Selene dan Jollie berjalan menuju halaman belakang.

Terlihat banyak sekali batu nisan yang tergeletak rapi di atas tanah. Begitu banyak. Jollie terdiam. Bunga yang ia kira untuknya ternyata untuk seseorang yang sudah tidak ada. Tapi ia belum tahu jelas siapa yang akan Selene temui.

“Kok diem?” Selene melirik sekilas wajah Jollie lalu kembali melihat ke arah setiap batu nisan yang mereka lewati.

“Kamu mau ketemu siapa?” tanya Jollie.

Langkah Selene terhenti lalu menunjuk ke arah batu nisan yang terukir nama Dean Saint Clair & Evelyn Saint Clair, “Hi dad, Hi mom, maaf aku baru bisa kesini lagi,” Selene menaruh boquet bunga tepat disebelah batu nisan kedua orang tuanya.

Selene mengajak Jollie untuk duduk di hadapan batu nisan tersebut. Jollie menurut dan duduk tepat disebelah nya. Selene menatap Jollie dan tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Jollie.

“Dad, Mom, kenalin ini Jollie Eve calon istri aku, cantik kan? Kaya mommy hehe,” Selene terkekeh pelan.

“Halo calon mertuanya aku, makasih ya udah lahirin sosok Selene, dia sangat romantis, baik, pintar, walau jail juga, tapi aku sayang banget sama Selene,” Jollie memeluk erat tubuh Selene dan menyandarkan kepala pada bahunya.

“Jailnya nurun dari daddy tau,” ucap Selene.

“Oh ya? Berarti dulu mommy kamu pusing ya ngadepin kamu sama daddy kamu,” ucap Jollie.

“Kok kamu tau sih?”

“Sudah terbayang di otak aku tau, wlee,” Jollie menjulurkan lidah pada Selene.

“Awas loh nanti di datengin daddy,” ucap Selene.

“IIIHHH!!” Jollie memukul keras bahu Selene, “JANGAN SUKA GITU KENAPA SIH?!!”

“Aw! Hahahahaha~ bercanda sayang.”