Taste Series : The Truth Two


Setelah menjauh untuk beberapa saat, Shalgie akhirnya mulai tenang dan bersedia untuk duduk bersama yang lain. Walaupun ia sudah bisa mengontrol emosinya sekarang, tapi Kaiden dan Selene masih saja mengawasinya seolah Shalgie dapat kembali menyerang Yuri sewaktu-waktu. Well itu benar, tapi tatapan mereka tetap menyebalkan untuknya.

“Stop liatin gue, lebih baik jelasin!” ucap Shalgie sinis.

Yuri menghela napas panjang kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh Shalgie. Tapi sang anak malah menepis dengan cepat, membuat Yuri harus pasrah dan kembali mengurungkan niatnya.

Yuri menarik napas panjang sebelum memulai kata-katanya. “Kalau kalian berpikir mama sengaja menghilang atau sengaja meninggalkan kalian setelah kejadian itu, kalian salah. Banyak hal yang terjadi selama mama nggak berada disini. Terlalu banyak sampai kalian mungkin ragu dan nggak percaya. Tapi mama bisa pastikan, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala kalian akan terjawab sekarang,” netra Yuri menatap satu persatu sorot tajam yang menatap kearahnya.

“Saat penyerangan terjadi waktu itu,nggak ada yang tersisa, seperti yang kalian tau, orang tua kalian, sahabat kami, gugur dalam peristiwa itu,” Yuri mengepalkan tangannya erat. Menahan gejolak duka yang kembali naik bersama terbukanya luka lama.

“Lalu kenapa mama…,” ucap Waynne menggantung. Tak yakin harus disampaikan atau tidak.

“Kenapa mama bisa selamat?” Yuri tersenyum tipis. “Apakah dengan kondisi mama sekarang kalian pikir mama selamat? Kalau bisa, mama akan lebih memilih untuk pergi dari pada menjadi seperti ini. Namun bukan mama yang punya kendali, mama tidak berdaya saat itu dan dibawa pergi, sangat jauh,” mata Yuri menerawang mengingat kejadian lampau yang membawanya pada kondisi sekarang.

“Who…,” Selene bergumam kecil, namun tentu mereka semua dapat mendengarnya.

“Para Vampire, tentu saja,” Yuri menghela napas.

“Kejadiannya sangat cepat, kondisi mama tidak berdaya saat itu, mereka mengikat mama dengan wolfbane, menyiksa mama berminggu-minggu, dan sampai akhirnya mereka melakukan ritual terlarang mengubah mama menjadi kaum mereka, melepaskan mama di Verkhoyansk tanpa adanya daylight ring,” jelas Yuri dengan mata yang sesekali terpejam mengingat kejadian saat itu.

“Tapi alasan mereka apa? Nggak mungkin mereka tiba-tiba menyerang dan bawa mama begitu saja hanya untuk dijadikan seperti mereka?” Selene menggeleng tak mengerti, membuat Yuri lagi-lagi harus menarik napasnya yang terasa begitu berat.

“Semuanya rumit, Selene. Ini dimulai jauh, jauh sebelum kalian lahir,” Yuri mengarahkan pandangannya sejenak ke arah Shalgie yang masih terdiam sedari tadi.

“Mereka bukanlah komplotan Vampire sembarangan, mereka berjalan disemua sektor gelap yang mungkin nggak bisa kalian pikir sebelumnya. Narkoba, perdagangan manusia, bahkan jauh lebih buruk. Mereka sangat kuat. Mereka berada dimana-mana. Mereka ingin menguasai segala hal. Namun sayangnya mama menghalangi mereka saat itu, mama tidak membiarkan mereka melakukan ekspor narkoba besar-besaran melalui perusahaan dan itu membuat mereka marah,” lanjut Yuri.

“Tapi, Verkhoyansk bukankah salah satu subjek federal terbesar di Russia? Banyak tentara disana, kenapa m-mama nggak mencoba kabur sejak lama?” Shalgie kali ini angkat bicara. Meski agak ragu, perlahan ia mulai dapat menerima kehadiran Yuri di hadapannya dan itu berhasil membuat sang ibu tersenyum.

“Verkhoyansk, Republik Sakha itu memang bagian dari Russia, tapi sayangnya semua berpusat disana, Shalgie. Negara itu sudah seperti kerajaan vampire. Setiap sisi, setiap sudut, bahkan mungkin setiap bebatuan kecil yang ada disana adalah kaki tangannya. Sekali kita masuk kedalam cengkeraman mereka, peluang untuk kabur sangatlah minim, mungkin nyaris mustahil. Selama bertahun-tahun mama mencoba untuk kabur namun selalu gagal. Sampai percobaan yang terakhir, keberuntungan akhirnya memihak pada mama. Mama berhasil pulang dan kita dapat mulai kembali,” Yuri tersenyum kearah Kaiden dan Krystal yang sama sekali tak bersuara sedari tadi, dan itu menarik perhatian Shalgie, Selene, dan Waynne.

“Maksudnya?” Waynne mengernyit tak mengerti.

“Kalian ingat saat gue ke Finland beberapa hari yang lalu? Kita bertemu Yuri disana,” jawab Kaiden yang malah membuat ketiga alpha semakin tidak mengerti.

“Russia? Finland? Maksudnya bagaimana?” tanya Selene bingung.

Krystal berdecak, “Kak Yuri berusaha kabur dan berhasil menyebrang ke Finland melalui kapal barang, tapi dia masih dikejar oleh vampire sialan, beruntung kita bertemu dan berhasil pulang setelah mereka kehilangan jejak.”

“Well, setidaknya untuk sekarang,” lanjutnya.

“Wait! Wait! Wait! Kalian terus aja sebut vampire, dia, mereka, tanpa menyebutkan siapa mereka sebenarnya yang kalian maksud?! Kalau kalian saja nggak tau siapa, bagaimana kita bisa tau siapa yang kita hadapi sekarang,” ujar Shalgie yang mendadak kembali emosi setelah mendengar cerita dari sang ibu.

Yuri menyugar rambutnya dengan hembusan napas panjang, “Jujur mama sendiri nggak tau siapa pemimpin mereka yang sebenarnya, karena selama ini yang selalu turun tangan adalah kaki tangan kepercayaannya.”

“Siapa?”

“Bamiereel Calaban.”

“Ah mama baru ingat, ada satu sektor bisnis yang sedang mereka incar belakangan ini, dibidang… fashion? Ya, ya, dibidang fashion,” lanjut jelas Yuri membuat Shalgie, Selene, dan Waynne serempak menatap satu sama lain.