Taste : Seven
3 April 2022 – 8 AM
“Selamat pagi ma’am, waktunya untuk sarapan,” ucap Dion pada Jollie yang masih meringkuk diatas ranjang nya.
“Taruh aja dimeja,” ucap Jollie malas.
“Tapi ma’am, anda harus sarapan lalu minum obatnya,” ucap Dion.
“Ish bawel banget sih pagi pagi!” gerutu Jollie.
3 April 2022 – 9 AM
Jollie merasa bosan, sudah dua hari ia dirawat akibat pasca insiden dua hari yang lalu, dimana Leona memukuli dirinya menggunakan benda tumpul. Entah ia harus merasa senang atau sedih ketika Leona ditangkap polisi akibat video Leona memukuli dirinya tersebar. Ia tau jika semua ini adalah rencana Selene.
Sebetulnya ia senang karena ada seseorang yang membantu dirinya agar lepas dari Leona, namun ia juga takut jika Selene hanya memanfaatkan dirinya sama seperti Leona lakukan padanya. Jollie menghela napasnya. Ia bangkit dari ranjang lalu memegangi tiang infusan dan berjalan menuju pintu.
Saat pintu ia buka, ia terkejut melihat Selene berdiri didepan pintu lalu menatap diam dirinya, “Mau kemana kamu?” tanya Selene.
“Mau keliling, bosan di kamar,” jawab Jollie.
“Aku temenin, tapi pake kursi rodanya,” balas Selene.
“Aku nggak lumpuh Selene!” protes Jollie.
“Kamu baru aja sembuh, kata Waynne kamu nggak boleh kecapekan, Deon ambilin kursi roda,” ucap Selene.
“Ugh whatever!” Jollie memutar kedua matanya jengah.
Deon segera mengambil kursi roda didalam kamar lalu mendekat ke arah Jollie, Selene dengan sigap membantu Jollie duduk di kursi roda dan memindahkan kantung infusan nya pada tiang yang tersedia di kursi roda.
“Mau jalan kemana?” Selene mendorong perlahan kursi roda Jollie keluar dari kamarnya.
“Terserah asal bukan di kamar,” ucap Jollie.
“Okay ma’am,” beberapa orang yang lalu lalang menatap ke arah Jollie dan Selene, entah bagaimana saat ini mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di rumah sakit.
“Balik aja ke kamar,” ucap Jollie.
“Loh katanya bosen,” Selene melirik wajah Jollie dari samping.
“Banyak yang ngeliatin,” Jollie menundukkan kepalanya.
“Mau aku sewa satu rumah sakit?” tanya Selene.
“Nggak usah aneh aneh deh, gara gara kamu aku jadi kaya gini,” ketus Jollie.
“Maaf ya,” Selene memutar kursi roda Jollie untuk kembali ke dalam kamar.
Sampai nya didalam kamar, Selene membantu Jollie untuk pindah ke ranjang nya, namun Jollie menepis tangan Selene, “Aku bisa sendiri,” Jollie membenarkan posisi duduknya diatas ranjang.
“Kamu mau minum?” Jollie menggelengkan kepalanya dan menatap kedua mata Selene lekat.
“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Jollie.
“Maksud kamu apa?” Selene merasa bingung.
“Kenapa kamu begitu baik padaku, padahal kita baru saling kenal hanya dalam hitungan jam,” jelas Jollie.
“Aku tidak punya alasan untuk menolong kamu,” mendengar jawaban Selene, Jollie hanya terkekeh pelan, “Apa yang lucu?”
“Those word remind me of her,” Jollie menundukkan kepalanya.
Selene mendekati Jollie lalu mengangkat dagu nya agar dapat melihat wajahnya, “Jika aku sama seperti dia…,” tangannya merogoh sesuatu pada kantung celananya lalu diberikan pada Jollie.
Jollie terkejut saat Selene memberikan sebuah pisau lipat padanya, “You can use this,” Selene membuka pisau tersebut lalu menarik tangan Jollie dan mengarahkan pisau tersebut pada dadanya, “To kill me,” Selene menatap kedua mata Jollie dengan jarak yang sangat dekat.
“Astaga!” Jollie melemparkan pisau tersebut ke lantai, “Are you crazy?!”
Selene hanya tersenyum melihat reaksi dari Jollie lalu ia mengambil pisau terbut dan melipatkannya kembali, “Maybe,” Selene memberikan pisau tersebut kepada Jollie, “You can keep it.”
Jollie hanya diam menatap Selene, “Mulai minggu depan, kamu bakal bekerja di agensi Dawson,” Jollie membulatkan matanya.
“Wait, what?!”
“I know you hear that.”
“B-but since when?! Aku aja belum nerima kontraknya!”
“Udah kok, sidik jari kamu cukup mewakilkan tanda tangan mu.”
“WHAT?!! THAT’S AN ILLEGAL!”
“I think it’s legal, karena itu untuk membayar balas budi telah menjauhkan mu dari Leona,” Selene melebarkan senyum nya pada Jollie.