The Devils : Telat


Akibat terlelap semalam, membuat Irene kesiangan karena harus menyelesaikan terlebih dahulu buku yang di berikan oleh Seulgi. Jam sudah menunjukan pukul 06.30, Irene bergegas merapihkan bekal Yeri untuk makan siang di sekolah. Namun Yeri masih saja belum keluar dari kamarnya.

“YERI! CEPET!”

“Iya ih sabar kenapa,” sahut Yeri yang keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju meja makan.

“Kebiasaan banget sih kamu apa apa tuh lama! Udah tau kakak hari ini pertama kali masuk kerja,” Irene memasukkan bekal Yeri ke dalam tasnya adiknya.

“Bawel banget ih… masih pagi juga,” Yeri cemberut sambil memakan roti selai coklat buatan kakaknya.

“Udah jam berapa ini? Macet nanti, cepet abisin makanan kamu, kakak duluan,” Irene segera menuju pintu dan meninggalkan Yeri yang masih berada di meja makan.

“Ih kak! Kak! Bareeeeeeng.. tunggu ih!” Yeri langsung memakan roti sekali lahap dan meneguk segelas susu hingga kandas. Merasa mulutnya sudah kosong, lalu ia bergegas keluar dan mengejar Irene yang sudah jauh.

“Astaga! Cepet banget sih jalannya! Hah!” kini Yeri sudah berada di sebelah Irene dengan napas tersengal-sengal akibat berlari mengejar Irene.

“Tumben banget mau bareng, biasanya ogah,” tanya Irene.

“Enggak mau sendirian lagi, takut,” Yeri menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menggandeng tangan Irene dengan erat

“Takut apanya sih? Masih pagi juga, kebanyakan nonton film horror sih kamu,” mata Irene kini tertuju pada ponselnya, jarinya sibuk membalas pesan singkat yang belum sempat ia balas semalam seraya berjalan perlahan mengikuti irama langkah Yeri.

“Ih emang kakak nggak tau? Semalem kan... kak… kak… itu siapa sih? Kok ngeliatin kita terus,” Yeri berbisik pada Irene.

“Hhmm apa?”

“Ih itu di depan ada orang ngeliatin kita terus!”

“Good morning, miss Bae,” ucap seseorang seraya menyunggingkan senyuman pada Irene. Langkah Irene terhenti setelah mendengar suara yang tidak asing baginya. Terkejut bukan main ketika Irene mendongakan kepalanya dan menangkap sosok yang ia kenal, ternyata bossnya, Seulgi.

“Eh? Kok ibu, maaf Seulgi ada disini?” tanya Irene heran.

“Sengaja saya kesini buat jemput kamu, itu adik kamu? Siapa namanya?” Seulgi melirik Yeri yang masih diam sembari memeluk erat lengan Irene.

“Hah? Oh… iya dia adik saya, Yeri namanya haha,” kekeh Irene. “Ayo ucapin salam, dia boss kakak,” bisik Irene pada Yeri.

“Oh… Halo nama saya Bae Yerim, adiknya kak Irene,” Yeri memberi salam dengan membungkuk kan badannya pada Seulgi.

“Saya Seulgi, boss kakak kamu, ayo saya antar kamu ke sekolah,” Seulgi membukakan pintu penumpang belakang untuk Yeri.

“Enggak usah Seulgi, dia bisa naik bis sendiri, nanti ngerepotin haha iya kan Yer,” Irene menyenggol lengan Yeri memberi kode untuk menolak ajakan Seulgi. Namun Yeri menghiraukan nya.

“Boleh memang nya bu? Nanti ibu telat kalau antar aku ke sekolah dulu,” Seulgi terkekeh pelan mendengar jawaban polos dari Yeri.

“Jangan panggil saya ibu, panggil aja kakak, udah masuk aja, saya bossnya mau telat atau enggak itu urusan saya.”

“Yaudah aku mau, kan bisa irit ongkos,” ucap Yeri yang sudah masuk ke dalam mobil Seulgi.

“Ya! Bae Yerim!” Irene menatap Yeri tak percaya.

“Cepat kamu masuk,” kini Seulgi sudah membukakan pintu penumpang depan untuk Irene.

“Tapikan….”

“Mau jadi pengangguran lagi?”

“I-iya enggak,” Irene masuk kedalam mobil Seulgi dengan pasrah. Seulgi hanya tersenyum melihat tingkah Irene yang menggemaskan menurutnya. Tak lupa ia menutup pintu Irene, bergegas masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya menuju sekolah Yeri yang berada di Cheongdam-Dong.