Three


“Sayang,” sebuah suara terdengar seperti memanggil dirinya. Saat membalikkan badan ia mendapati seseorang yang selama ini ia sayang, hadir di hadap nya.

“I-irene?” tanya Seulgi memastikan jika seseorang di hadapannya itu benar-benar Irene.

“Iya sayang ini aku, kamu apa kabar?” tanya Irene yang menghampiri Seulgi. Tangannya kini mengusap perlahan pipi Seulgi. Terasa hangat dan nyaman.

“Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang ke aku tentang penyakit mu?!” Seulgi menatap Irene dengan penuh dengan rasa amarah dan penyesalan. Irene hanya diam memandangi Seulgi yang kini tengah meneteskan air matanya.

“Andaikan kamu bilang saat itu, pasti aku udah bawa kamu ke dokter yang paling terbaik, pasti kamu bisa gendong Karina saat itu, dan Karina bisa lihat kamu untuk pertama kalinya… Tapi kenapa? Kenapa kamu rahasia kan ini…,” Seulgi sudah tak tahan lagi, ia menangis sejadi-jadinya. Irene segera memeluk Seulgi dengan erat.

“Maafin aku… aku emang egois… aku nggak mau menyusahkan kamu saat itu, biar aku yang berjuang sendiri… aku pikir aku bisa melewati itu semua, tapi nyatanya tuhan memanggil aku untuk pulang setelah Karina lahir… maafin aku…,” Seulgi masih menangis terisak di dekapan Irene. Ia dapat menghirup aroma tubuh Irene yang sudah lama ia rindu kan.

“Tapi sekarang Karina sudah besar, dia sangat cantik…,” ucap Irene. Kini Irene melepaskan pelukan nya, lalu menatap kedua mata Seulgi.

“Tolong jaga Karina, sudah saatnya kamu mencari pengganti ku untuk mengurusi Karina dan kamu,” dengan cepat Seulgi menggelengkan kepalanya.

“Aku… aku nggak mau… nggak akan… tolong tinggal lebih lama Rene… aku… aaku… kangen kamu…,” ucap Seulgi.

“Aku minta maaf belum bisa jadi istri yang terbaik untuk kamu dan ibu yang terbaik untuk Karina… maafin aku baru kali ini aku mampir ke dalam mimpimu… sudah lama aku menunggu momen ini… dimana aku ingin minta maaf sama kamu udah ninggalin kamu… tolong jaga Karina ya sayang… semoga kamu dapat bahagia di kehidupan mu berikutnya… aku selalu sayang kamu dan kamu tau itu,” ucap Irene dengan tersenyum lembut sembari mengusap setiap inci wajah Seulgi.

“Please Rene jangan pergi lagi… aku mohon…,” Seulgi memegang erat tangan Irene.

“Selamag tinggal Kang Seulgi…,” Irene melepaskan genggaman Seulgi dari lengannya. Dalam hitungan detik Irene menghilang dari pandangan Seulgi.

“Rene? Irene?? IRENE!!! Jangan tinggalin aku… aku mohon… IREEEEENE!!!!” Seulgi berteriak histeris memanggil-manggil Irene yang sudah menghilang.


8 January 2022 – 7.23 AM

“Mah… mah… mama!” seketika Seulgi terbangun dari tidurnya dengan terkejut. Karina yang sedari tadi membangunkan Seulgi ikut terkejut.

“Hah?!” nafas Seulgi tersengal-sengal dengan badan yang basah kuyup karena keringat.

“Mama kenapa?” tanya Karina khawatir melihat keadaan Seulgi yang sedikit kacau, menurutnya.

“Hi sayang… kamu kok belom tidur?” Seulgi mengusap wajahnya perlahan.

“Mama pasti mimpi buruk, ini udah pagi mah,” ucap Karina.

“Pagi?” Seulgi melihat ke arah jendela yang masih tertutup gorden. Namun ia masih dapat melihat sebuah cahaya terang masuk dari sela-sela gorden. Ternyata benar sudah pagi. Ia menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Mah ayo ketemu mami!” Karina menarik-narik lengan Seulgi.

“Karina mandi duluan aja gih, mama masih mau beresin file kerjaan mama,” ucap Seulgi.

“Nggak mau mandi sendiri, mau mandi sama mama biar cepet! Ayo! Ayo! Ayooooo!” dengan terpaksa Seulgi mengangguk membuat Karina semakin semangat menarik tangan Seulgi menuju kamar mandi.


8 January 2022 – 9.12 AM

“Mah?” tanya Karina yang sedang menggenggam tangan Seulgi menggunakan tangan kirinya dan sebuah boquet bunga yang berukuran sedang menggunakan tangan kanannya.

“Iya sayang?” Seulgi menatap wajah Karina.

“Kenapa kita kesini?” tanya Karina kebingungan.

“Katanya kamu mau ketemu mami,” Karina melirik kanan kiri mencari sesuatu.

“Tapi mah disini sepi banget, emangnya mami tinggal disini?” tanya Karina lagi.

“Iya sayang mami tinggal disini… dah sampe, ini rumah mami sayang,” Seulgi menunjuk ke batu nisan yang berukuran besar yang bertuliskan,

In loving memory of Bae Irene Mar 29 1984 – Apr 11 2012

“Mana mami mah?” tanya Karina yang masih kebingungan. Seulgi menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk duduk didekat batu nisan Irene, lalu menarik lengan Karina agar mendekat.

“Karina sayang, mama mau kasih tau kamu ini udah lama, namun mama nunggu kamu mengerti dan mama baru bisa ngajak kamu kesini lagi setelah terakhir kali kamu masih umur 2 tahun,” jelas Seulgi perlahan agar Karina dapat mengerti apa yang di maksud perkataannya. Karina menatap Seulgi tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Mami udah nggak ada sayang… mami udah ada di surga…,” Seulgi tersenyum mengusap lembut pipi Karina. Ia mencoba untuk tidak menangis kali ini.

“Jadi Karina nggak bisa ketemu mami?” mata Karina sudah berkaca-kaca.

“Iya sayang, maafin mama ya sayang,” Karina mengucek-kucek matanya agar menghapus air matanya. Secara tiba-tiba Karina memeluk erat Seulgi.

“Pasti mama sedih banget nggak bisa ketemu mami lagi,” Karina menepuk-nepuk punggung Seulgi.

“Sekarang udah engga, karena sekarang mama punya Karina yang udah besar, kamu yang membuat mama kuat sampai saat ini…,” Seulgi melepaskan pelukan Karina dan menatap wajah anak semata wayangnya itu.

“Mama jangan sedih lagi ya, kan udah ada Kayin yang nemenin mama hehe… IH! Ada tanggal ulang tahun Kayin!!” Karina menunjuk ke arah batu nisa Irene.

“Haha iya sayang mami pergi saat kamu lahir, ayo sapa mami dulu terus taro bungannya di situ,” ucap Seulgi yang di turuti oleh Karina.

“Halo mami! Ini bunga buat mami! Mami bobo yang nyenyak ya!” Karina mengusap-usap batu nisan Irene.

“Karina abis ini mau kemana hm?” tanya Seulgi.

“Mau makan es krim mah!” jawab Karina semangat.