Two


7 January 2022 – 8.22 PM

Seulgi mengambil kotak yang berisikan file kerajaannya dan membawanya ke ruang kerja miliknya. Barang-barang di dalam sana sudah sebagian tertata rapi. Hanya menyisakan tumpukan buku yang mesti ia susun di lemari. Setelah menaruh kotak di atas meja kerjanya, ia mengambil sebuah gelas, membuka botol whiskey yang masih ter segel, lalu menuangkan ke dalam gelas. Pada ujung penglihatannya, sebuah benda menarik perhatiannya. Di lihat ternyata sebuah upright piano yang berwarna hitam metalik. Seulgi hampir saja lupa kalau dirinya memiliki piano tersebut sudah lama. Setelah beberapa kali tegukkan whiskey, Seulgi menghampiri piano tersebut. Sudah lama sekali ia tidak memainkan nya. Tangannya mengangkat fallboard piano dan memperlihatkan deretan tuts piano. Sedikit berdebu.

Satu tuts ia tekan menghasilkan nada yang keluar begitu pelan, karena ia menekan nya juga dengan pelan. Beginilah alasan mengapa ia sudah lama tidak memainkan piano tersebut. Karena setiap ia memainkan nya, dadanya terasa sangat sesak. Bukan karena ia memiliki trauma memainkan piano, namun ia menjadi mengingat masa lalunya bersama Irene. Seharusnya ia membuang piano tersebut. Namun hati dan pikirannya sangat bertolak belakang, membuat dirinya tetap menyimpan piano yang penuh dengan kenangannya bersama Irene.

Seulgi meneguk whiskey hingga kandas, menaruh gelas di atas piano, lalu ia duduk. Kini kedua tangannya sudah berada di atas tuts piano. Hendak memainkan sebuah lagu namun jarinya terasa sangat kaku dan gemetar. Seulgi ingin menghapus rasa takutnya dengan mencoba kembali memainkan piano miliknya. Satu dua tuts berhasil ia tekan setelah berjuang cukup lama menggerakkan jari-jarinya. Seketika sebuah memori ter putar dalam pikirannya.


18 January 2001 – 2.30 PM

Saat ini seluruh siswa-siswi SMA Kwangya berada di dalam kelas sedang mendengarkan para guru menjelaskan materi tentang pelajaran. Terkecuali dengan Irene. Karena saat ini ia sedang disuruh guru bahasa Inggris untuk mengambil 12 kamus bahasa inggirs di perpustakaan. Walau ukurannya kecil namun cukup berat karena halamannya yang bisa sampai 200 lebih halaman, di tambah ia membawa 12 kamus, lumayan membuat lengannya pegal-pegal.

Saat ia berjalan menuju kelas, indera pendengaran nya mendengar lantunan nada yang begitu indah yang berasal dari ruang latihan band. Seperti tersihir, kakinya melangkah mendekat menuju pintu ruang band yang sedikit terbuka. Irene mengintip ke dalam ruangan tersebut karena ingin melihat siapa yang memainkan piano pada jam pelajaran. Tak hanya lantunan nada piano, saat ini ia mendengar suara yang begitu merdu.

Merasa seperti ada yang memperhatikan, orang tersebut berhenti bernyanyi dan memainkan piano. Irene sangat terkejut ketika orang tersebut menatap dirinya yang tengah mengintip melalui pintu. Hendak kembali ke kelas dengan cepat, sialnya buku yang ia pegang jatuh semua membuat buku berserakan di lantai. Segera Irene memunguti buku tersebut dan kembali ke kelas. Saat mengambil buku terakhir yang berada di depan pintu, sebuah tangan dengan cepat mengambil buku tersebut. Irene menenggakkan kepalanya menatap orang yang mengambil bukunya.

“Nih”, ucap orang tersebut sembari memberi buku pada Irene.

“Oh.. Oh iya, makasih ya”, Irene mengambil bukunya dengan rasa malu.

“Ngapain tadi ngintip?”, DEG!.

“Hehe maaf ya, soalnya suara lo bagus banget, terus gue kepo siapa yang nyanyi, ternyata lo si anak pindahan baru, hehe”, jelas Irene dengan gugup.

“Oh gitu, kenalin gue Seulgi”, Seulgi mengulurkan tangannya pada Irene.

“Gue Irene”, Irene menerima uluran tangan Seulgi. Seulgi tersenyum lebar sembari menatap Irene yang sulit di artikan.

“Tau kok, siapa yang nggak kenal lo si ketua osis haha” ledek Seulgi.

“Haha bisa aja lo” timpal Irene.

“Mau gue bantuin?”, tanya Seulgi.

“Oh nggak usah, gue bisa sendiri, lo lanjut latihan aja”, jawab Irene.

“Siapa yang lagi latihan? Orang gue bolos kelas, hahaha”, jelas Seulgi.

“Gila sih baru pindah udah macem-macem”, Irene hanya menggelengkan kepalanya tak percaya apa yang baru saja ia dengar.

“Ayo gue bantu lo bawain”.

“Yaudah kalo lo maksa”.

“Tapi lepasin dulu tangan gue”, sadar Irene masih menggenggam tangan Seulgi, dengan cepat ia melepaskannya. Sekarang pipinya terasa panas akibat ulah bodohnya. Seulgi hanya tertawa kecil menatap Irene sedang merutuki dirinya sendiri.


24 December 2011 – 8.20 PM

“Sayang sini deh”, panggil Seulgi pada Irene.

“Kenapa?”, Irene menghampiri Seulgi yang tengah duduk di hadapan piano kesayangannya.

“Sini duduk sebelah aku”, Seulgi menggeser dirinya agar Irene dapat duduk disebelah nya.

“Mau ngapain sih?”, Irene hanya menuruti perkataan Seulgi dan kini ia sudah duduk di sebelah Seulgi.

“Aku abis cari refrensi lagu yang cocok untuk baby, sekarang aku udah bisa, mau dengerin nggak?”, tanya Seulgi.

“Aduh dek liat deh, mama abis nyariin lagu buat kamu, ayo mana lagunya mama”, Irene mengusap-usap perutnya sembari meniru kan suara seperti anak kecil.

“Tapi mami jangan bobo ya soalnya temponya pelan banget”, Seulgi mulai memainkan tuts piano kesayangannya. Sebuah nada terdengar sangat tenang membuat Irene sedikit nyaman saat mendengarkannya. Tak lama kepala Irene sudah bersandar di bahu Seulgi dengan tangan mengusap perutnya.

“Baby suka lagunya mah, dia tadi nendang perut aku”, bisik Irene.

“Oh ya? Kalo gitu aku mainin sampe baby bobo, ayo bobo sayang, mimpi indah kesayangan mama dan mami”, Irene tersenyum lebar saat mendengar perkataan Suelgi.


7 January 2022 – 8.36 PM

Kini jari Seulgi semakin lancar menekan tuts piano. Ia tersenyum saat memori bersama Irene ter putar di kepalanya. Ketika satu lagu selesai ia mainkan, kini ia memainkan lagu Lay Me Down dari Sam Smith. Ia sangat menikmati nadanya. Hingga tanpa sadar air matanya jatuh seketika.

“Told me not to cry~”,

“When you were gone~”,

“But the feeling’s overwhelming~”,

“It’s much too strong~”,


11 April 2012 – 9.48 AM

“Sayang liat aku bawa apa?”, Seulgi menunjukan sebuah kantung.

“Apa itu?”, tanya Irene yang sedikit lemas.

“Bubur langganan kamu!”, Seulgi mengambil kotak bubur milik Irene.

“Tapi aku nggak nafsu sayang”, ucap Irene.

“Kamu harus makan sayang, kasian babynya kelaparan”, Seulgi mencoba mengangkat ranjang Irene, agar Irene dapat makan.

“Dikit aja”, timpal Irene pasrah.

“Iya deh iya dikit”, Kini Seulgi menyuapi bubur pada Irene.

“Enak nggak?”, Irene hanya menjawab dengan anggukan. Seulgi kembali menyuapi Irene hingga beberapa suap.

“Udah”.

“Ini dikit lagi sayang”.

“Udah sayang”.

“Yaudah minum dulu”, Seulgi mengambil gelas berisikan air minum Irene, lalu Seulgi mengarahkan sedotan pada mulut Irene. Perlahan Irene minum lalu menyuruh Seulgi menaruh gelasnya kembali.

“Akhirnya mami makannya banyak dek”, ucap Seulgi seraya mengecup perut Irene dengan penuh hati-hati.

“Sayang”.

“Hm? Apa sayang?”.

“Aku mau…”, Irene membuka kalung miliknya lalu memberikannya pada Seulgi.

“Aku mau kamu nanti kasih ini ke anak kita”, Seulgi kebingungan.

“Maksud kamu apa?”, tanya Seulgi.

“Kata dokter kan aku harus sesar, kalau nanti baby udah keluar, aku mau kamu kasih ini untuk anak kita, tapi mungkin nunggu dia bisa jalan dulu kali ya hehe”, jelas Irene.

“Kan nanti kamu bisa kasih langsung ke baby”, ucap Seulgi.


11 April 2012 – 11.45 AM

Saat ini Irene sedang berada di dalam ruang operasi untuk mengeluarkan bayi yang berada di dalam perutnya. Seulgi yang tidak boleh memasuki ruang operasi hanya dapat menunggu kabar dari dokter di depan ruang operasi dengan rasa yang gelisah. Ia sangat berharap Irene dan bayinya baik-baik saja. Setelah beberapa jam Seulgi menunggu, dokter keluar menghampiri Seulgi.

“Gimana dok?”, tanya Seulgi.

“Anak nyonya Irene sudah lahir, seorang perempuan”, jawab Dokter. Seulgi bernapas lega.

“Gimana dengan istri saya dok?”, tanya Seulgi.

“Kami sudah membantu sebaik mungkin, namun nyonya Irene tidak dapat tertolong”, seketika lutut Seulgi terasa lemas.

“Nggak mungkin… Hahaha dokter pasti bercanda kan?”, Seulgi sangat berharap dokter mengatakan iya bahwa ini semua rencana Irene mengerjainya.

“Maaf kan saya, namun sel kanker yang terdapat di otak nyonya Irene sudah menjalar kebagian tubuh lainnya”, jelas sang Dokter.

“Kanker? Sejak kapan???”.

“Nyonya Irene di diagnosa memiliki kanker pada tanggal 31 Juli 2011 lalu”.


7 January 2022 – 8.38 PM

“Can I lay by your side?”,

“Next to you~”,

“And… make sure…”,

“…you’re… be okay…”

Sesak, seperti oksigen menipis. Mulutnya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan lagu yang ia nyanyi kan. Jarinya kembali kaku. Tangis Seulgi pecah begitu saja. Ia sangat merindukan Irene. Hampir 10 tahun Irene meninggalkan Seulgi dan Karina, bahkan Karina dapat melihat sosok Irene hanya dari potret yang tersimpan pada album foto. Seulgi masih menyalahkan dirinya yang tidak becus menjaga Irene. Andai saja ia tahu pada saat itu apa yang di rasakan Irene, mungkin saat ini Irene masih berada di sampingnya.