Vampire


“Dor!” Seseorang mencoba untuk membuat Seulgi terkejut, namun tidak berhasil karena Seulgi sudah mengetahui pergerakan orang tersebut.

“Kok nggak kaget sih?!” protes seorang wanita yang memakai kemeja putih dengan tas coklat yang bertengger pada bahunya, terlihat kesal karena rencananya gagal untuk mengejutkan Seulgi, tak lain ialah Irene. Si wakil ketua BEM kampus Kwangya.

“Kalo mau ngagetin ganti dulu parfum lo” ucap Seulgi dengan tenang seraya meneguk perlahan kopi yang ia pesan sejam yang lalu, tentu saja sudah dingin.

“Emang ngaruh?” tanya Irene tidak percaya. “Emang parfum gue kecium banget ya?”

“Iya anjir, udah yuk udah bawel nih si wendy hojung” Seulgi bangkit dari kursi dan segera membayar pesanan yang ia pesan selama menunggu Irene beres rapat BEM. Lalu Seulgi mengajak Irene untuk segera menuju parkiran.

“Tapi enakan wangi parfum gue” kini Irene mengimbangi tempo langkah Seulgi. Sudah biasa terjadi, karena Seulgi memiliki tempo langkah yang sangat cepat hingga orang orang yang jalan dengannya akan tertinggal jauh.

“Kata siapa? Udah bau kemenyan gitu juga” Seulgi berusaha untuk tidak tertawa.

“Ngeselin banget sih lo” tiba tiba saja Irene menggigit kuat lengan Seulgi, yang tentu saja mendapatkan hasil sebuah teriakan ampun dari Seulgi.

“Aaahhh sakit rene sakit ampun!!” Seulgi mendorong paksa kepala Irene. Di lihat lengannya kini terdapat sebuah tanda merah yang begitu dalam berbentuk gigi Irene.

“Salah sendiri ngeselin” Irene menjulurkan lidahnya pada Seulgi. Sang korban gigitan Irene hanya dapat menggelengkan kepala tidak mengerti kenapa Irene dapat berbuat seperti itu.

“Heran gue kenapa banyak yang suka sama lo, padahal lo vampire kang gigit” Seulgi dengan cepat masuk ke dalam mobil, sebelum mendapatkan amukan dari Irene.