Wila Kinsley : One


Langit tampak cerah pada hari ini. Terdengar kicauan burung saling sahut merasuk dalam indera pendengaranku. Tak hanya itu. Banyak orang sudah keluar dari sarangnya. Melakukan aktivitas membosankan. Seperti sekolah dan bekerja. Ya walau bosan tapi kita membutuhkannya bukan?

Hari ini aku bangun lebih pagi dari sebelumnya. Bukan karena aku ingin sampai lebih dahulu di sekolah. Melainkan temanku sedari malam mengganggu tidurku. Leherku terasa berat karena porsi tidurku berkurang.

“Mengapa kau menggunakan itu? Kau sedang tidak mendengarkan lagu,” ucap temanku. Kakinya bergerak mengikuti ritme langkahku.

“Sudahku bilang jangan mengikutiku saat sekolah,” ucapku pelan agar tidak terdengar oleh orang lain.

“Kenapa? Sekolahmu kali ini seru tau, banyak perempuan cantik dan laki-laki tampan, tak hanya itu merekapun sangat kaya raya!” jelasnya dengan penuh semangat.

“Terserah, asal jangan ajak diriku bicara,” ucapku.

“Kalau ingat.”

“Noura Hellen!” ucapku penuh penekanan.

“Baiklah! Tapi nanti sore pinjamkan aku ponselmu, aku ingin melihat baju-baju baru,” jelas Noura.

“Ya.” Gerbang sekolah sudah terlihat didepan. Kupercepat langkah kaki agar Noura tidak berada disampingku. Kepalaku sedikit menunduk melihat jalan agar tidak tersandung.

“Wila tunggu!” Noura mengejarku. Aku menghiraukannya.

“Wila!”

“Tidak.”

“Wila didepanmu!”

“Ti–”

Bruk!

Sial. Aku menabrak seseorang. Tubuhku sedikit terhempas. Hampir terjatuh. Tapi tidak. Kurasakan sebuah lengan melingkar pada pinggulku. Aku tersadar saat ini posisi diriku dengan orang yang kutabrak saling melekat tanpa ada jarak sedikitpun. Bahkan aku dapat merasakan hembusan napasnya menerpa poniku.

Aku menenggakkan kepala. Menatap wajah korban tabrakku. Mata kami saling bertemu. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan manusia di hadapanku begitu tampan. Walau wujudnya seorang wanita.

“Bisakah kau jalan dengan mata menghadap ke depan?” ucapnya dengan suara husky.

“Ah–” kesadaranku kembali. Dengan cepat aku menarik tubuhku menjauh membuat lengannya terlepas dari pinggulku.

“Maafkan aku! Aku tidak melihat kehadiranmu! Sekali lagi aku minta maaf!” berkali-kali aku membungkuk padanya. Minta maaf karena telah menabraknya. Sungguh ceroboh diriku.

“Jangan diulangi kembali,” ucapnya. Perlahan ia meninggalkanku masuk ke dalam sekolah.

Aku termenung menatap punggungnya yang lambat laun hilang dari penglihatanku. Sontak aku tersadar. Aku tidak dapat melihat perginya Noura. Kemana anak itu? Awas saja jika bertemu nanti! Batinku.