noubieau

Welcome to noubie universe.


Suho's Room

Seseorang masuk kedalam kamar dan berdiri di ambang pintu, “Udah mau berangkat lo?”

Sang pemilik kamar bernama Suho tengah bersiap untuk pergi ke kantor lalu menoleh kearah nya, “Iya, kenapa Kai?”

“Ada yang mau gue kasih tau ke lo Ho,” ucap Kai serius.

“Go head, I’m listen,” ucap Suho sembari menatap Kai penasaran.

“Ada yang terbunuh lagi,” ucap Kai.

“Gue rasa mereka memang mau perang sama kita,” Suho mengeraskan rahang nya kesal.

“Kita harus apa? Gue rasa pelakunya hanya satu orang, gue bisa cium aromanya yang sama dari korban sebelumnya,” jelas Kai.

“Pelakunya bukan newbie…,” tiba-tiba saja Suho teringat dengan Irene, “Gue punya kerjaan buat lo.”

“Apa?” tanya Kai penasaran.

“Gue mau lo pantau Irene dari kejauhan.”

“Irene temen lo itu?”

“Iya, ada yang mau gue tau tentang kerjaan dia, gue mencium aroma vampire,” ucap Suho.

“Terus gimana sama korban yang sekarang?” tanya Kai.

“Itu biar gue serahin ke Sehun, gue mau lo jangan sampe ketahuan,” Suho menghampiri Kai lalu menepuk bahunya.

“Okay,” ucap Kai.


Yeri's Room

Yeri membuka matanya perlahan. Badannya terasa lemas. Saat mengusap kan wajahnya, Yeri kebingungan mengapa ada handuk pada dahinya. Tangannya merogoh bawah bantal mencari ponsel nya. Ia tidak menemukannya. Terpaksa ia mengangkat tubuhnya untuk melihat pada nakas. Benar saja ponsel nya berada dinakas. Hendak mengambil ponsel nya ia terkejut melihat seseorang tengah tidur di sofa dalam kamarnya. Sempat tak mengenali nya, beberapa saat kemudian ia mengingat kejadian semalam. Ia memeriksa ponsel nya yang tidak dapat menyala. Yeri kesal.

“Hey!! Lo! Bangun! Ponsel gue mati tanggung jawab!!” ucap Yeri kesal.

Orang tersebut membuka matanya lalu menatap Yeri diam, “Jangan diem aja lo! Gara gara lo hp gue mati!”

Orang tersebut mengambil sesuatu pada saku jaket nya berbentuk kotak persegi panjang, lalu ia melemparnya pada kasur. Yeri melihat sebuah kotak ponsel keluaran terbaru. “Banyak omong lo,” ucap orang tersebut yang sudah bangkit dari sofa dan berlalu keluar begitu saja.

Yeri langsung mengambil kotak tersebut lalu mengeluarkan ponsel barunya. Saat sudah menyala, ponsel tersebut sudah di atur agar dapat dipakai langsung. Yeri mengotak-atik ponsel tersebut, sampai ia menemukan satu contact dengan nama Hojung.


Saat Hojung turun, ia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada diruang makan. Ia mendengar Irene menanyakan tentang Yeri. “She’s sick,” ucap Hojung dengan santai sembari berjalan menuju meja makan.

Irene segera bangkit dari kursi dengan tangan menggenggam sebuah garpu. Ketika Hojung ingin mengambil segelas air yang berada di meja makan, tiba-tiba saja Irene mengarahkan garpu pada wajah Hojung dengan cepat. Refleks Seulgi menahan lengan Irene agar tidak melukai Hojung.

“WOW! Easy babe!” ucap Hojung yang sedikit terkejut melihat Irene ingin melukai dirinya.

“Apa yang lo lakuin sama adik gue?!” tanya Irene kesal. Hojung melirik Seulgi dengan penuh tanda tanya.

“Okay…,” Hojung menyeringai mengerti mengapa Irene menjadi berani seperti sekarang, “I do nothing, cuma selamatin adik lo yang tenggelam semalem, that’s it.”

Seulgi segera mengambil garpu dari tangan Irene lalu menenangkan nya, “Mungkin hari ini dia butuh istirahat, nggak perlu khawatir,” ucap Seulgi sembari mengusap lengan Irene dengan lembut.

“Kaya ada yang beda dari lo,” Hojung melihat Irene dari bawah hingga atas, “Oh iya lo kan CEO baru, jadi harus keliatan cantik,” Irene menampar wajah Hojung dengan keras.

Hojung terkejut ketika Irene menampar nya. Merasa ditantang olehnya, Hojung menghampiri Irene untuk membalas perbuatannya, namun Seulgi menahan tubuh Hojung dengan lengannya. “ENOUGH!!” ucap Seulgi.

“Minggir lo!” Hojung menepiskan lengan Seulgi lalu pergi meninggalkan ruang makan dengan kesal.

Seulgi menatap Irene yang masih terlihat marah. Benar yang dikatakan Hojung. Ada yang berbeda dengan Irene setelah ia menghipnotis nya. Bukan karena sikapnya. Tapi karena kekuatannya.


Irene's Style

Sebuah benda lebar dan pipih tengah di genggam oleh Seulgi yang berada di ruang makan. Ia tengah sibuk membaca sesuatu pada iPad miliknya. Suasana begitu hening. Beberapa maid lalu lalang menyajikan sarapan untuk Seulgi dan yang lainnya. Samar-samar terdengar langkah kaki seseorang yang mengenakan heels mendekat. Seulgi menoleh ke arah tangga dimana sumber suara berada. Ia melihat Irene dan Joy sudah berpakaian rapi. Ada yang berbeda dari mereka. Irene. Benar saja, Seulgi terpana dengan penampilan Irene yang begitu berbeda dari sebelumnya. Tanpa sadar ia mendekati tangga dan menunggu Irene sampai di anak tangga terakhir. Irene semakin gugup karena Seulgi menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat ia artikan.

Saat kaki Irene sudah menginjakan anak tangga terakhir, Seulgi mengulurkan tangannya padanya, “Good morning, my lady.”

Pipi Irene seketika terasa panas. Perlahan ia menyambut tangan Seulgi. Hatinya semakin berdegub kencang ketika Seulgi mengecup punggung tangannya. “Please gue minder banget…,” batinnya.

“You look gorgeous,” Irene salah tingkah.

“A-aku gugup banget, apa boleh batalin aja…,” ucap Irene dengan pelan.

“Let me help you,” Seulgi menangkup kedua pipi Irene.

Irene menatap mata monolid miliknya. Tak lama pupil nya membesar dan tatapan nya menjadi kosong. “Lepas rasa takut dan gugup mu, kamu akan berjalan dengan percaya diri tanpa ada keraguan sedikit pun, lakukan apa yang sudah kamu baca sebelumnya,” bisik Seulgi.

Tak lama Irene tersadar lalu menatap Seulgi bingung, “Nanti nona Joy akan membantu mu dalam bekerja, lakukan apa yang menurut mu benar, I trust you,” ucap Seulgi sembari menepuk bahunya.

“Oh, okay…,” Irene mengangguk mengerti.

“Ayo sarapan dulu,” Seulgi mengajak Irene ke meja makan, ia menarik sebuah kursi lalu mempersilakan Irene untuk duduk.

Saat Irene sudah duduk, matanya melirik sekitar ruang makan, “Yeri belom turun?”


25 January 2022 – 7 AM

Seulgi menggeliat pelan. Tangannya mencari sosok yang berada di sampingnya sudah tidak ada. “Hm?” Seulgi sedikit membangun badannya melirik kanan kiri mencari Joohyun.

Terpaksa ia bangkit dari kasur. Dengan badan yang tak mengenakan satu helai benang, ia berjalan keluar kamar dan melihat sosok yang sedang ia cari sedang berada di dapur. Perlahan ia menghampiri lalu memeluknya dari belakang.

“Astaga!” Joohyun terkejut saat Seulgi memeluknya.

“Good morning,” ucap Seulgi dengan pelan.

Joohyun mengusap pipi Seulgi saat ia menopang dagu pada bahunya, “Good morning too, mau kopi?” Joohyun melirik wajah Seulgi, lalu Seulgi membalas dengan sebuah anggukan kecil.

Hendak mengambil gelas, Seulgi membalikkan badan Joohyun lalu memegangi dagunya dengan pelan. Joohyun yang melihat Seulgi masih dalam keadaan tanpa busana, matanya membulat.

“Astaga kamu belom pake baju! Pake baju dulu sana,” Seulgi hanya menunduk melihat tubuhnya dan kembali menatap wajah Joohyun.

“Baju aku didepan, lagian nggak apa apa kaya gini, kan kamu juga udah liat semalem,” Seulgi memperhatikan kedua pipi Joohyun yang masih merah dan ada sedikit luka disana.

“Tapikan….”

“Kamu kerja hari ini?” Joohyun mengangguk kecil.

“Yakin?” tanya Seulgi kembali.

“Emangnya kenapa?” tanya Joohyun balik.

“Pipi kamu merah banget itu,” jawab Seulgi.

“Masa sih?” Joohyun semakin panik ia berlari menuju cermin yang berada di ruang tv lalu menatap wajahnya. Ia terkejut saat melihat wajahnya di cermin.

“Yakin masih mau kerja?” tanya Seulgi dengan santai sembari mengambil gelas untuk minum.

“Hnggggg,” Joohyun memanyunkan bibirnya sembari menangkup pipinya, “Mana ada meeting aku hari ini,” ucap Joohyun menatap Seulgi.

“Yaudah nggak usah masuk,” Seulgi mengambil roti yang sudah disiapkan Joohyun lalu memakannya sembari menatap Joohyun.

“Tapikan….”

“Kalo kamu nggak masuk aku juga nggak masuk, sama kok hari ini aku ada meeting,” Seulgi menghabiskan roti yang di tangannya lalu kembali minum.


24 January 2022 – 10 PM

“Di tower mana?” ucap Seulgi sembari melihat-lihat sekeliling daerah apartemen Joohyun.

“Di tower B, pintu masuknya di situ,” Joohyun menunjuk pintu masuk yang tidak jauh dari posisi mereka.

Seulgi mencari tempat parkir yang kosong di dekat pintu masuk, “Dah sampe,” ucap Seulgi sembari melirik Joohyun.

“Makasih ya Seulgi buat hari ini, oh sama bunganya hehe,” ucap Joohyun.

“Sama-sama Joohyun,” Seulgi menatap kedua mata Joohyun.

“Kalau gitu aku masuk duluan ya, kamu langsung pulang ya,” Joohyun segera membuka pintu mobil dan hendak turun namun Seulgi menahan lengannya membuat ia menoleh ke arah Seulgi.

“Hm? Kenapa?” tanya Joohyun bingung.

Seulgi melepaskan safety beltnya lalu mengecup bibir Joohyun sekilas membuat Joohyun terkejut, “M-maaf a-aku…,” ucapan Seulgi terpotong akibat Joohyun menarik scraf Seulgi dan mencium bibir Seulgi.

Mendapat balasan dari Joohyun ia melumat lembut bibir Joohyun sembari menopang badannya pada dashboard dan jok mobil. Lumatan mereka semakin memanas dan napas mereka semakin memburu, Joohyun melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya saling mengatur napas dan menatap satu sama lain.

“Hmmm nggak mau mampir?”

“Can I?”

“Why not.”


22 January 2022 – 5 PM

Waktu sudah pukul 5 sore. Seulgi masih terkena macet dijalan akibat banyaknya karyawan kantoran yang pulang membuat jalanan menjadi padat merayap. Ia merasa tidak enak karena telat menjemput Joohyun, ditambah Joohyun memberi tahu Seulgi kalau ia sudah menunggu di lobby kantornya dari beberapa waktu yang lalu. Setelah berjuang beberapa menit melewati arus macet, kini Seulgi menancapkan gas mobilnya menuju kantor Joohyun.

Tak lama kini mobil hitam yang di kendarai oleh Seulgi sampai di depan lobby kantor Joohyun. Matanya melihat Joohyun tengah berdiri menunduk sembari memainkan ponsel nya membuat dirinya semakin tidak enak. Dengan segera ia turun lalu berlari menghampiri Joohyun.

“Hi, maaf banget ya telat tadi ada tambahan kerjaan terus kena macet juga depan kantor,” jelas Seulgi.

“Astaga napas Seulgi haha, it’s okay, aku tau kok pasti kamu sibuk apa lagi sekarang kan senin, lagi pula nggak lama kok aku nunggu nya,” ucap Joohyun.

“Hehe maaf ya, ayo Hyun,” Seulgi mengajak Joohyun segera naik ke mobil, tak lupa ia membukakan pintu untuk Joohyun dan menutupnya dengan hati-hati sampai Joohyun sudah duduk di dalam mobil.

Tanpa sadar perlakuan Seulgi membuat Joohyun tersipu malu, namun ia berusaha untuk tidak terlalu terlihat oleh Seulgi. Ia melihat Seulgi sedikit berlari mengitari mobil lalu masuk ke dalam mobil.

“Karina masih di rumah nenek nya?” tanya Joohyun.

“Iya katanya mau nginep mumpung besok sekolahnya libur 2 hari,” tangan Seulgi merogoh sesuatu yang berada dibelakang kursi Joohyun.

“Loh libur apa? Emang besok tanggal merah?” Joohyun yang penasaran segera mengambil ponsel nya dan melihat kalender.

“Engga kok, di sekolahnya dipake buat dokumentasi kakak kelasnya makanya di liburin dulu,” jelas Seulgi.

“Yah kirain tanggal merah,” Joohyun memanyunkan bibirnya.

“Baru juga senin udah minta libur aja,” Seulgi mengambil sebuah bouquet bunga dari belakang dan memberikannya pada Joohyun, “Buat kamu.”

Joohyun membulatkan matanya terkejut melihat Seulgi memberikan bouquet bunga yang begitu besar untuknya, “B-buat aku?” Joohyun menatap Seulgi.

“Iya sebagai tanda maaf aku karena gagal ajak kamu ke pantai dan malah ngurusin aku sama Karina,” jelas Seulgi.

“Sebenarnya nggak masalah kok, lagi pula kan kamu sakit karena nganterin aku juga, jadi denger kamu sakit aku langsung minta alamat kamu ke Karina,” Joohyun yang tersenyum lebar membuat Seulgi terdiam sejenak menatap Joohyun.

“Makasih ya, bunganya, hehe,” ucap Joohyun kembali membuat Seulgi tersadar dari lamunan nya.

“Sama-sama,” Seulgi membenarkan posisi duduknya lalu melajukan mobilnya menuju restaurant.


“Gi serius mau makan disini? Rame loh, aku aja selalu nggak kebagian antrian,” ucap Joohyun yang khawatir sembari melihat ke arah pintu masuk restaurant.

“Tenang aja, aku udah booking kok,” ucap Seulgi.

“Serius? Pasti booking dari kapan tau ya?” tanya Joohyun.

“Enggak kok, tadi siang baru booking,” jawab Seulgi.

“Bohong banget!” ucap Joohyun tak percaya.

“Beneran,”

“Kok bisa?! Pake ordal ya?!”

“Kok tau? Haha”

“Pantesan aja, enak banget punya ordal, bisa kapan aja kesini,” Joohyun memanyunkan bibirnya.

“Kan yang penting kamu udah disini bareng aku,” ucap Seulgi.

“Iya juga sih….”

“Joohyun,” panggil Seulgi.

“Hm?” sahut Joohyun yang menatap wajah Seulgi.

“Maaf ya,” ucap Seul yang membuat dahi Joohyun mengerut.

“Buat?” tanya Joohyun.

Tidak menjawab pertanyaan Joohyun, Seulgi mencondongkan badannya mendekat ke arah Joohyun lalu mendekati lehernya. Joohyun yang terkejut ia langsung memejamkan matanya sembari menahan napas. Seulgi menyibakan rambut Joohyun lalu melihat lehernya yang sedikit ada bekas tanda ulahnya beberapa hari yang lalu.

“Maaf gara-gara aku nggak mikir panjang jadi begini,” ucap Seulgi pelan sembari mengusap lembut leher Joohyun.

Merasakan sentuhan lembut di lehernya, Joohyun menarik napas dalam dan membuka kedua matanya, lalu ia menatap wajah Seulgi yang begitu dekat, “Gi…,” ucap Joohyun yang terdengar menahan napas.

“Hm?” Seulgi menatap kedua mata Joohyun cukup lama, tatapan nya membuat Joohyun meneguk ludahnya.

“A-aada orang yang ngeliatin…,” bisik Joohyun.

Dengan cepat Seulgi menengok ke depan mobil dan terkejut melihat seseorang sedang menyilangkan tangan menatap ke dalam mobil, “Si anjir….”


24 January 2022 – 11 AM

Sebuah mobil hitam berhenti didepan lobby kantor. Seseorang keluar dari mobil tersebut lalu menghampiri petugas valley untuk memberikan kunci mobil. Terlihat suasana lobby kantor sedikit sepi.

“Saya hanya sebentar,” ucap orang tersebut kepada petugas valley.

“Baik bu,” ucap sang petugas valley yang bergegas mengambil kunci mobilnya.

Kakinya bergerak masuk ke dalam lobby. Matanya melihat ke tempat resepsionis berada. Tak butuh waktu lama kini ia sudah berada di depan meja resepsionis.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” ucap salah satu pegawai resepsionis.

“Apa Joohyunnya ada?” ucap orang tersebut.

“Kebetulan bo- bu Joohyunnya lagi nggak ada di kantor,” jawab pegawai resepsionis.

“Kemana?” tanyanya lagi.

“Saya kurang tahu,” jawab sang pegawai.

“Ah baiklah kalau gitu, terima kasih,” orang tersebut pergi begitu saja.


24 January 2022 – 2 PM

“Bu! Bu!” panggil seseorang yang tengah berlari menghampiri Joohyun yang hendak masuk ke dalam lift.

“Kenapa?” tanya Joohyun yang menghentikan langkahnya.

“Ih ibu cepet banget jalannya, hah saya napas dulu bu,” ucap sang pegawai yang tersengal-sengal akibat mengejar Joohyun.

“Makanya kamu tuh olahraga, jangan pacaran mulu, baru lari dari situ aja udah enggap, ada apa?” Joohyun menatap sang pegawai yang menyengir malu.

“Hehe ibu tau aja, umm… tadi mau ngomong apa ya bu?” sang pegawai menatap Joohyun kebingungan.

“Astaga kamu tuh kebiasaan, dah ah gerah nih,” Joohyun menekan tombol lift dan menatap layar kecil yang melihat kan posisi lift berada di lantai 10.

“Ah bu inget, tadi ada temen ibu yang dateng nanyain ibu,” ucap sang pegawai.

“Siapa?” Joohyun melirik sang pegawai.

“Duh tadi aku lupa minta namanya, tapi temen ibu yang waktu itu anaknya main kesini,” jelas pegawai sembari mengingat-ingat.

“Seulgi?!” tanya Joohyun semangat.

“Nah iya itu!”

“Ish kamu kenapa nggak langsung telp saya kalau dia datang!” seger Joohyun mengambil ponsel nya dan mengetikan sesuatu pada ponsel nya.

“Saya pikir temen ibu kabarin ibu, soalnya cuma nanyain ibu abis itu pergi lagi,” ucap sang pegawai.

“Lain kali kalo dia datang langsung kabarin saya okay?” tak lama lift terbuka dan Joohyun segera masuk ke dalam lift.

“Baik bu….”


11 April 2022 – 3 PM

“Ini rumah siapa?” tanya Jollie penasaran ketika mobil Selene memasuki pekarangan rumah yang cukup megah.

“Rumah keluarga Dawson,” ucap Selene sembari memarkirkan mobilnya didepan rumah.

“Pantesan aja,” ucap Jollie yang masih fokus melihat rumah keluarga Dawson.

Tiba-tiba pintu mobil terbuka membuat Jollie terkejut, “Ayo turun,” Selene mengulurkan tangannya pada Jollie.

“Huh?! Oh ya… ya…,” Jollie meraih tangan Selene lalu keluar dari mobil.

Selene menggenggam tangan Jollie dan mengajak nya masuk ke dalam rumah. Ketika sudah berada didalam, Jollie dikejutkan oleh seorang wanita separuh baya menghampiri mereka, “Welcome home sayang!” wanita tersebut langsung memeluk erat Selene.

Selene membalas pelukan wanita tersebut, “Hi mom!”

Wanita tersebut melepas pelukannya lalu menangkup wajah Selene dengan gemas, “Astaga look at you honey, kamu semakin kurus, pasti Shalgie bikin kamu stress ngasih kerjaan non stop!” Selene hanya terkekeh pelan.

“Haha I’m fine mom! Aku emang lagi sibuk ngurusin yang lain,” ucap Selene.

“Tetep aja pasti kamu sering skip makan!” protes wanita tersebut.

“Abis mommy nggak ada di Paris jadi nggak ada yang masakin aku, oh iya mom kenalin ini Jollie Eve, Jollie kenalin ini mommy Jessica,” Jollie tersenyum pada Jessica.

“Oh my God! This is your mate?!” Jessica terkejut saat melihat Jollie.

“Mate?” Jollie tidak mengerti apa yang di maksud dengan Jessica.

“Mom…,”

“Hi sayang!” Jessica memeluk erat Jollie lalu menatap wajahnya dengan tatapan kagum, “Ternyata kamu lebih cantik di bandingkan di TV ya.”

“Ah tante bisa aja,” Jollie terkekeh pelan.

“No tante, call me mommy,” Jollie terkejut.

“Ah hehe okay mom-my…,” ucap Jollie.

“Perfect! Pasti kalian belum makan kan? Ayo makan dulu, Selene jago masak loh,” bisik Jessica pada Jollie.

“Oh ya?” Jollie melirik Selene.

“Kamu nggak pernah dimasakin Selene?! Selene!” Jessica memukul dengan keras lengan Selene.

“Ah! Mom sakit!” Selene meringis kesakitan dan sedikit menjauh dari Jessica.

“Ayo cepet masak sana!” Selene menatap Jessica tidak percaya.

“Mom! Aku baru banget sampe masa di suruh masak,” protes Selene.

“Mulai ngebantah perintah mommy ya!” Jessica mencubiti pinggang Selene.

“Ah! Ah! Ah! Ampun mom! Iya iya aku masak!”

“Nah gitu dong, ayo Jollie kita minum teh dulu, pasti kamu capek kan abis dari Paris langsung ke rumah mommy.”


11 April 2022 – 2 PM

“So this is your apartment?” tanya Selene.

“Ya, maaf ya kecil nggak sebesar punya mu,” Jollie tengah sibuk merapihkan baju yang berceceran dimana-mana.

“Kecil tapi nyaman, I like it,” Selene duduk pada sofa dan menatap Jollie yang masih sibuk membereskan bajunya.

“Mau minum apa?” kini Jollie memeriksa isi kulkas miliknya.

“I think you don’t have anything in there,” Jollie terkekeh.

“Hehe air dingin aja ya,” ucap Jollie.

“Nggak apa apa, selagi nggak ada racunnya…” Kai dan Kuma menatap dirinya begitu lama, membuat Selene merasa risih, “What?”

Jollie menghampiri Selene dan memberikan sebotol air dingin padanya, “Thank you,” ucap Selene.

Jollie duduk disebelah Selene lalu menatapnya, “Jadi tujuan kamu kesini ngapain? Ada kerjaan kah?” Selene menggelengkan kepalanya.

“Nggak ada,” jawab Selene singkat.

“Terus ngapain?” tanya Jollie heran.

“Nganter kamu ngambil Kai Kuma,” Jollie sedang meneguk air seketika tersedak.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Selene mengambil sapu tangan miliknya lalu mengelap bibir dan dagu Jollie dengan lembut.

“Are you okay?” Selene menatap Jollie dengan tatapan khawatir.

Jollie tersipu malu melihat perlakuan Selene yang begitu khawatir saat ia tersedak, pipinya terasa panas, “I-I’m fine….”

“Pelan pelan aja minumnya nggak akan di rebut kok,” Selene tersenyum.

“Please don’t do that…,” ucap Jollie sangat pelan.

“Do what?”

“Nothing! Kai Kuma ayo waktunya makan!”


11 April 2022 – 11 AM

Setelah landing di John F. Kennedy International Airport, Selene dan Jollie segera menuju pet care menggunakan mobil milik Selene yang sudah di siapkan oleh Deon. Dalam perjalanan Selene mengamati Jollie yang terlihat sangat gembira ketika sudah berada di New York. Senyum yang mengembang di wajah Jollie membuat Selene semakin ingin memilikinya dengan segera.

Setengah jam perjalanan di tempuh dari airport hingga pet care yang dituju, kini mereka sudah sampai. Selene melepaskan seat beltnya dan menatap Jollie, “Sana masuk ambil Kai Kuma.”

“Loh kamu nggak turun?” tanya Jollie heran.

“Aku dimobil aja,” jawab Selene.

“Terus yang bayar biaya perawatan Kai Kuma siapa?” tanya Jollie kembali.

“Ya kamu lah,” Jollie menggelengkan kepalanya.

“No no no no, kamu yang bayar!” ucap Jollie.

“Loh kok jadi aku?” Selene mengernyitkan dahinya.

“Yang bikin aku di tahan di Paris siapa?!!” Jollie memukul lengan Selene sedikit keras.

“Ah! Galak banget… Nggak lah itu kan peliharaan kamu masa aku yang bayar,” protes Selene.

Secara tiba-tiba Jollie mendekat kearah Selene dan tangannya merogoh mencari sesuatu pada kantong celananya. Sentuhan Jollie membuat Selene menegang seketika seraya menahan napasnya. Tidak ingin terjadi sesuatu, Selene menggenggam kedua tangan Jollie dan menatap wajahnya yang begitu sangat dekat, “Ngapain?”

“Ngambil dompet kamu,” Selene menatap kedua mata Jollie beberapa saat lalu ia mendorong perlahan tubuh Jollie agar menjauh.

“Cepet turun!” ucap Selene dengan ketus lalu ia keluar segera dari mobil.

Selene mencoba untuk mengatur napas dan pikirannya sembari memijat kening nya. Tak lama Jollie turun lalu menghampiri dirinya, “Ayo masuk!” Jollie menarik tangan Selene dan segera masuk ke dalam pet care.

Terlihat suasana pet care sedang ramai pengunjung. Ketika Selene dan Jollie sudah masuk ke dalam, suasana didalam yang tadinya hening menjadi penuh suara geraman dan gonggongan dari beberapa anjing milik pengunjung disana. Selene menghela napas panjang. Jollie merasa heran dengan para anjing yang menggeram dan menggonggong kearah mereka, ia melirik pakaiannya dari bawah hingga atas untuk memeriksa apakah ada sesuatu pada tubuhnya. Selene mengeluarkan kartu kredit miliknya dan memberikannya pada Jollie.

“Cepat!” ucap Selene.

“Oh… Tunggu sebentar ya, kamu duduk aja dulu,” Jollie pergi menuju resepsionis untuk membayar tagihan perawatan kedua anjing nya.

Selene mengikuti saran Jollie dan mencari tempat duduk yang jauh dari para anjing sedang menatap dirinya tak suka. Bukannya mereda, melainkan suasana pet care saat ini menjadi ricuh karena seluruh anjing yang berada di lobby menggonggong kearah nya. Selene menggaruk-garuk belakang kuping nya yang tak gatal dan menghela napas kasar. Saat semua orang tengah sibuk mengurusi peliharaan mereka agar tenang, Selene menggeram dan menghentakan kakinya membuat seluruh anjing menjadi diam ketakutan.

“Nice, thank you,” ucap Selene dengan pelan.

Sudah sepuluh menit Selene menunggu, kini Jollie sudah selesai mengambil Kai dan Kuma. Namun ia kesulitan menghampiri Selene karena Kai dan Kuma ketakutan tak ingin mendekat pada Selene.

“Drama banget emang anjing anjing manja,” keluh Selene lalu ia bangkit dari kursi dan segera menuju mobil.

Jollie mengikuti Selene dibelakang sembari menyeret kai dan kuma yang masih tidak mau mendekati Selene, “Ugh Kai Kuma what’s happen?!! Come on let’s go hooooomeee.”

Selene yang sudah sampai di mobil merasa kesal karena drama anjing manja membuat Jollie kesulitan mengatur mereka, “Kai! Kuma! Listen to your mommy!!” gertakan Selene membuat Kai dan Kuma diam dan pasrah saat digendong oleh Jollie.

“Kok kalian nurutnya sama Selene sih! Kalian udah nggak sayang mommy?” protes Jollie yang sedih melihat para anjing nya lebih menurut perkataan Selene dibandingkan dirinya.