noubieau

Welcome to noubie universe.


“Sayang~”

“Iya sayang?”

“Aku takut~” melihat Jollie ketakutan, Selene menggenggam erat tangannya.

“Tenang sayang ada aku, mommy nggak akan marahin kamu kok, percaya sama aku,” Selene menatapnya sembari tersenyum.

“Tapi nanti kamu di marahin sama mommy,” ucap Jollie.

“Nggak apa-apa sayang, aku kuat kok hehe,” Selene mengecup punggung tangan Jollie.

Tak berselang lama, mobil yang dinaiki Selene dan Jollie pun sampai didepan kediaman keluarga Dawson. Segera sang supir turun membukakan pintu untuk Selene dan Jollie. Selene melihat mobil Shalgie dan Waynne yang sudah terparkir rapi. Ia menarik napas dalam-dalam sembari merangkul pinggang kekasihnya.

Didepan pintu sudah ada dua bodyguard Jessica membukakan pintu untuk mereka. Perlahan Selene masuk di iringi oleh Jollie disebelah nya. Setelah masuk Selene dan Jollie melepaskan Coats mereka lalu memberikannya pada maid.

“Mommy dimana?” tanya Selene pada seorang maid.

“Nyonya besar berada di ruang keluarga,” jawab sang maid.

“Okay thank you, come on baby,” Selene menarik pelan tangan Jollie lalu berjalan menuju ruang keluarga.

Terlihat Jessica, Shalgie, dan Waynne tengah berbincang santai di ruang keluarga, “Hi mom~” sapa Selene agak sedikit ragu.

Seketika semua mata tertuju padanya dan Jollie, “Duduk,” ucap Jessica tanpa tersenyum. Selene menelan ludah ketika melihat raut wajah Jessica.

Selene dan Jollie pun duduk pada sofa dihadapan Jessica, sedangkan Shalgie dan Waynne berada di sofa kiri dan kanan Jessica. Suasana semakin mencekam karena tidak ada satu pun yang berbicara hanya ada tatapan tajam dari Jessica pada Selene.

“Mom kok ngeliatin aku begitu?” Selene menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jessica tidak menjawabnya dan masih menatap tajam kearah nya.

“Okay~ Okay~ Fine! Aku salah,” ucap Selene dengan pasrah.

“And then?” Jessica melipat kedua tangannya di dada.

“Aku minta maaf mom, aku kelepasan,” ucap Selene.

“Kamu tau apa yang kamu lakukan itu membuat fatal karir kalian?!” tanya Jessica.

“Mom semua ini salah aku, seharusnya aku nggak godain Selene saat itu, dan aku juga lupa untuk minum pil,” ucap Jollie.

“Nggak kamu nggak salah, dia yang salah,” ucap Jessica. “But wait, tadi kamu bilang minum pil?” tanya Jessica.

“Iya mom,” jawab Jollie.

“Moon Goddes! Sini kamu Selene!!” Jessica mengambil heelsnya untuk di lemparkan pada Selene.

“Oh shit! Ampun mom!!” Selene langsung loncat ke belakang sofa untuk berlindung. Namun Jessica sangat kesal padanya akhirnya Jessica mengejar Selene.

Dengan cepat Selene berlari menjauhi Jessica, “Mom!!! Mom!!! Please!! Maafin aku!!!”

“SINI KAMU SELENE!!” teriak Jessica yang masih mengejar Selene.

“Hahaha indahnya teater kali ini,” ucap Waynne yang berpindah duduk ke sebelah Shalgie.

“Lagian nyari gara-gara sama mommy hahaha,” ucap Shalgie.

“MOM!! MOM!!! STOP!!!” sekuat tenaga Selene menahan kedua tangan Jessica, “Kenapa bagian aku dimarahin sih? Aku kan ngikutin cara Shalgie sama Waynne!!” Jessica merasa kebingungan. Shalgie dan Waynne tersedak teh saat mendengar ucapan Selene.

“Maksud kamu apa?” tanya Jessica.

“Mom, mom, udah mommy istirahat aja ya? Biar Selene kami yang urus,” Shalgie menghampiri Jessica dan Waynne kini tengah mencengkeram erat bahu Selene.

Jessica menghela napas dengan kasar lalu kembali duduk di sofa, kali ini Jessica duduk disebelah Jollie. Melihat Jessica sudah duduk, Shalgie berbalik badan dan menatap tajam pada Selene.

“Mulai macem-macem ya lo,” ucap Shalgie.

“Emang lo berdua sama kan anjir! Kaga pernah pake k-” dengan cepat Shalgie menutup mulut Selene. Lalu Waynne menahan kedua tangan Selene dengan kuat agar tidak memberontak.

“Gemesnya adik kita satu ini hhmm~” Shalgie tersenyum lalu meninju keras perut Selene dua kali.

“AAHHHH!!”

Rintihan yang terdengar bukan dari Selene. Melainkan Jollie. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Jessica pun terkejut melihat Jollie, “Jollie?!”

Mendengar Jollie kesakitan Selene mendorong tubuh Shalgie dan Waynne lalu berlari menghampiri Jollie, “Sayang?! Kamu kenapa?!” Selene menangkup kedua pipi Jollie.

“Perut aku sakit banget~” Rintih Jollie sembari memegangi perutnya.

“KALIAN NGAPAIN MUKUL SELENE?!!” teriak Jessica.

“Kan mau hukum dia mom,” jawab Waynne.

“Tapi dampaknya ke Jollie juga!” merasa aneh, Selene menatap Jessica.

“Maksudnya apa mom?” tanya Selene.

“Binding,” jawab Jessica.

“Binding?” tanya Selene kebingungan.

“Kalau pasangan kita sudah di tandai, mereka akan merasakan rasa sakit yang sama pada tubuh kita, dan kamu kemarin sudah menandai Jollie, kalau kamu terluka, Jollie akan merasakan sakitnya juga, dan itu sangat berbahaya untuk pasangan kalian yang bukan makhluk seperti kita,” jelas Jessica.

“Oh shit! Gue lupa!” celetuk Shalgie.

Selene mencoba mencerna penjelasan Jessica. Tanpa sengaja Shalgie telah melukai Jollie. Seketika emosinya memuncak. Selene menggeram lalu menatap tajam ke arah Shalgie dan Waynne.

“Lene! Lene! Gue minta maaf! Gue lupa!” ucap Shalgie yang ketakutan.

“BERANINYA LO BERDUA BIKIN JOLLIE KESAKITAN!!” Selene merubahkan wujudnya menjadi serigala berwarna hitam bercorak putih. Lalu ia mengejar Shalgie dan Waynne dengan cepat.

“ANJRIT!! LENE BINI GUE LAGI BUNTING WOY!!” teriak Shalgie.

“Untung bini gue belom!” sahut Waynne.


BRAK!!

Pintu kamar terbuka lebar akibat ulah Selene yang baru saja datang, “BABY!”

“Ya tuhan SELENE! Bisa nggak sih pelan-pelan masuknya! Aku kaget tau!” protes Jollie.

“Kalo pelan-pelan nggak seru hehe,” Selene menghampiri Jollie tengah rebahan di kasur dengan ponsel di tangannya. Ya hampir seharian Jollie berada di atas kasur, entah apa yang membuatnya sangat malas untuk melakukan aktivitas.

“Kamu nggak di marahin Shalgie nggak ikut rapat?” Selene menggelengkan kepala. Ia merebahkan tubuhnya disebelah Jollie, lalu mendusal-dusalkan wajah pada perutnya.

“Halo little wofy~” Selene mengecupi perut Jollie. Sang empunya hanya terkekeh melihat tingkah pacarnya yang begitu menggemaskan.

“Sayang kalau mommy tau gimana?” tanya Jollie sembari mengusap kepala Selene.

Mendengar kata ‘Mommy’ sekejap ia terdiam lalu menatap Jollie, “Pasti seneng lah mommy dapet cucu hehe~” Selene tersenyum.

Ting!

FATE — PART TWO : ONE


Silas berhasil membawa tubuh Seth menuju kediamannya. Ia segera meletakkan tubuh Seth pada ranjang kamarnya. Tangannya segera merobek pakaian Seth untuk memeriksa lukanya dan terlihat tak ada satupun luka pada dadanya. Silas merasa kebingungan.

“Bagaimana bisa?” gumamnya.

“HHHHAAAAAHHHH!!” Seth terbangun sembari meraba-raba dadanya.

Seth merasa linglung lalu menatap Silas sedikit lama. “What… did you do… TO ME?!!!” mata Seth berubah menjadi merah membara dan ia menendang tubuh Silas hingga menghantam tembok kamarnya.

“Ahhhh…,” Silas meringis kesakitan.

Seth bangkit dari kasur, lalu menghampiri Silas yang masih meringis kesakitan dilantai, “Seth… please listen… wwooaahhh aarghh!!” Seth mengangkat tubuh Silas dan membanting nya dengan keras pada lantai.

Seth melayangkan tinjunya pada wajah Silas. Namun Silas berhasil menahan tangannya. “SETH! LITSEN! I DIDN’T DO ANYTHING! CELESTE TOO!”

Seth menatap kedua mata Silas. Tak lama warna matanya kembali normal. Ia segera bangkit dan membantu Silas berdiri. “Kalau bukan lo, udah jelas ini perbuatan daddy!” Seth melepaskan pakaiannya yang sudah sobek lalu menuju walking closet sembari menyari pakaian yang cocok untuknya.

Silas melihat sebuah luka besar pada punggung sang adik, ia mengernyitkan dahinya, “Sayap lo….”

“Gue buang,” Seth memutuskan untuk mengenakan hoodie hitam milik Silas.

“Are you insane?!!” Silas menghampiri Seth dan berdiri di hadapannya.

“Maybe…,” Seth mengangkat bahunya santai, ia berjalan begitu saja melewati Silas keluar kamar dan menuju dapur.

“Seth sekarang neraka jadi kacau semenjak lo nggak ada disana…,” ucap Silas sembari mengikuti Seth dibelakang.

“I don’t care~” celetuk Seth.

“Mau sampai kapan lo disini?” tanya Silas.

“Mau sampai kapan lo maksa gue buat balik? Kenapa nggak lo aja yang jaga neraka? Lo bisa utus Celeste gantiin tugas gue, selesai,” jelas Seth sembari mengambil pisau dapur lalu ia menebaskan pisau tersebut pada lengannya. Pisau dapur milik Silas patah begitu saja setelah mengenai lengan Seth, ia tersenyum.

“Nggak semudah itu Seth… lo….”

“Ssttt udah malem, gue ngantuk kita lanjut besok okay?” potong Seth yang berjalan menuju lemari kunci, ia mengambil salah satu kunci mobil milik Silas, “Gue minjem ini okay? Lo tau kan gue udah nggak punya sayap, good night Silas,” jelas Seth tersenyum pada Silas dan pergi begitu saja meninggalkan Silas yang terpana dengan kelakuan sang adik.

“Oh dad…,” Silas memijat kening nya yang terasa pening.

FATE — THREE


TW: Blood

“Kalian nggak turun lagi?” Seth menatap kedua orang yang berada di hadapannya sedang menikmati minuman mereka.

“Rita Ora nya udah beres, jadi mager kebawah lagi,” jawab Alice sembari mengunyah makanan.

Seth ketawa mendengar jawaban Alice, “Jadi kalian kesini cuma mau liat Rita Ora?” Alice dan Alora mengangguk kompak.

“Tapi engga juga sih, emang dari awal mau minum kebetulan ada Rita Ora disini,” jelas Alice.

“Tapi kok boss bisa masuk sih? Udah booking sebelumnya?” tanya Alice.

“Ngapain booking kalo saya yang punya,” jawaban Seth membuat Alice dan Alora tersedak makanan. Refleks Seth memberikan segelas air mineral pada Alora.

Alora menerima gelas pemberian dari Seth lalu ia meneguk nya hingga kandas, “Are you okay?” tanya Seth.

“I’m fine,” jawab Alice.

“Not you, but her,” timpal Seth membuat Alice memutar kedua bola matanya jengah.

“I-I’m fine,” Alora tersenyum kaku karena gugup saat di tatap oleh Seth.

Seth terus saja menatap kedua mata hazel Alora sampai ia tersadar ada waitress yang datang menaruh piring kosong pada meja mereka. Seth, Alice, dan Alora kebingungan.

“Siapa yang mesen piring kosong?” Seth melihat piring kosong tersebut lalu menenggakan kepalanya untuk menatap sang waitress. Matanya membulat terkejut.

“Long time no see, Seth Vier,” ucap sang waitress menyeringai menatap Seth.

“Celeste…,” gumam Seth.

Watress yang bernama Celeste merogoh saku celana belakangnya dan mengeluarkan dua buah pisau karambit berwarna hitam.

“Oh my dad…,” Celeste mengarahkan pisaunya pada wajah Seth.

Dengan cepat Seth menunduk dan mendorong tubuh Celeste agar menjauh dari Alice dan Alora. Ia membenturkan tubuh Celeste pada dinding. Semua orang yang berada disana terkejut dan menjauhi Seth dan Celeste saat melihat pisau yang di genggam oleh Celeste.

“Gimana caranya lo kesini?! Siapa yang ngirim lo?!!” teriak Seth yang mencekik Celeste.

“Gue!!” teriak seseorang yang baru saja datang menghampirinya.

Seth tertawa keras, “Udah gue bilang, gue nggak mau bahas ternyata lo udah sejauh ini, Silas,” raut wajah Seth menjadi serius seketika sembari menatap Silas kesal.

Ketika Seth tengah serius menatap Silas, Celeste mendorong tubuh Seth dengan keras hingga tubuhnya terlempar jauh dan mendarat pada meja di hadapan Alice dan Alora. Tentunya Alice dan Alora menjerit ketakutan. Silas baru menyadari Alice sedang berada di dalam pertempuran Celeste dengan Seth.

Celeste menghampiri Seth sedang meringis kesakitan di atas meja yang hancur. Ia menindih tubuh Seth dan menghajar berkali-kali wajah Seth hingga wajahnya babak belur. Dengan sekuat tenaga Seth menggenggam lengan Celeste agar berhenti memukulinya.

“Enough!!!” Seth membenturkan kepalanya pada kepalanya Celeste dengan keras dan mendorongnya agar tidak berada di atas tubuhnya.

Celeste meringis kesakitan. Segera Seth bangkit lalu menatap Celeste dan Silas bergantian, “Hah!” Seth menghela napas kasar.

“Seharusnya udah gue hancurin ini pisau,” ucap Seth sembari menatap kedua pisau milik Celeste yang ia genggam.

“What?!” Celeste baru menyadari bahwa pisau nya telah di curi oleh Seth.

“Bawa dia pulang Silas, sebelum masalah semakin rumit,” ucap Seth.

“Gue bakal bawa dia balik tapi lo juga,” ucap Silas.

“UDAH GUE BILANG DADDY NGGAK MENGINGINKAN GUE ADA DISANA!!! SETELAH GUE DIBUANG, LO SEENAKNYA BERTINGKAH PEDULI SAMA GUE DAN MINTA GUE BALIK!!!” Seth berteriak pada Silas sembari menunjuk nya menggunakan pisau milik Celeste.

“Kata siapa? Daddy bilang ke gue, dia butuh lo Seth,” ucap Silas.

“BULLSHIT!!!” hendak menghampiri Silas, tiba-tiba saja Celeste menusukan sebuah pisau makan tepat pada dadanya.

“Aw!” Seth melihat sebuah pisau tertancap di dadanya lalu ia menatap Celeste dengan bingung, “For what?!”

“Pengen aja, abis muka lo ngeselin,” jawab Celeste dengan santai.

Alice dan Alora berteriak panik saat melihat sebuah pisau tertancap di dada Seth. Seth menoleh ke arah Alice dan Alora, “It’s okay, I’m fine,” ucap Seth tersenyum sembari mencabut pisau yang berada di dadanya.

Bukannya tenang, namun Alora semakin panik karena melihat darah segar bercucuran keluar dari luka di dadanya. Entah apa yang ia pikirkan, Alora menghampiri Seth dan menutup lukanya menggunakan tangannya.

“PLEASE CALL 911!!!” ucap Alora pada semua orang disekitarnya.

Seth hanya terdiam menatap wajah Alora dari dekat. Begitu cantik. Pikirnya. Tangan kanannya menyentuh pipi Alora, dan mengusapnya dengan lembut.

“Tolong jangan bergerak!” Alora semakin menekan luka di dada Seth.

Lama kelamaan Seth merasa sesak di dadanya. Kakinya menjadi lemas sampai ia tidak dapat menahan badannya dan terjatuh lemas. Semua orang semakin panik begitu juga dengan Alora, Alice, dan Silas.

“Impossible…,” ucap Silas pelan dan ia menjentikan jarinya membuat seluruh manusia yang berada di dalam club berhenti seketika. Terkecuali Celeste, Seth dan dirinya.

“Lo pergi dari sini, biar Seth gue yang urus,” Celeste mengangguk dan pergi begitu saja meninggalkan Seth yang terkapar lemas dilantai.

Dengan cepat Silas membopong tubuh Seth. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sayap berwarna putih keluar dari tubuhnya. Silas menggendong tubuh Seth dan membawa Seth pergi jauh dengan cepat

‘Entah apa yang terjadi, yang jelas ada yang salah ditubuh lo Seth.’

Setelah jauh dari jangkauan club. Semua orang yang berada di dalam club kembali normal. Namun Alice dan Alora terkejut bukan main saat mengetahui bahwa Seth sudah tidak ada di hadapannya.

FATE — TWO


“Ish nyebelin banget!” celetuk Alice yang berhasil memecahkan lamunan Alora.

“Kenapa?” tanya Alora.

“Sumpah ya dua boss gue tuh bener-bener,” jelas Alice dengan nada kesal.

“Kenapa lagi mereka? Ngasih kerjaan? Setau gue lo kerjanya enak deh,” ujar Alora.

“Kerjaanya sih enak, gue bisa handle semua, tapi kelakuan mereka itu loh yang bikin gue jijik,” Alice mengidikan bahunya.

“Kenapa sih emangnya?” tanya Alora yang semakin penasaran dengan kedua boss sahabatnya.

“Kan tadi gue post foto lo kan, nah boss gue tuh yang… gimana ya jelasinya…,” Alice menggaruk kepalanya.

“Ish sumpah ya lo sering banget ngegantungin cerita!” Alora memukul lengan Alice.

“Ah! Iya iya! Jadi tuh boss gue ada dua nih, nah mereka itu adik kakak, yang sering ada dikantor itu adiknya, pahamkan?” Alice menatap Alora.

“Iya gue paham, terus?” Alora melipat kedua tangannya didada dan fokus mendengarkan cerita Alice.

“Nah gue tuh paling males sama adiknya ini, karena dia tuh gila banget, hampir setiap hari tuh dia ngelakuin sex di ruangannya,” jelas Alice.

“SUMPAH LO?!” mata Alora membulat terkejut mendengar cerita boss sahabatnya yang gila.

“Sumpah! Awalnya ya gue kaget dong dia sering begitu, tapi ya gue udah mulai hirauin dia kalo lagi begitu, tapi kadang suka gue jailin hahaha,” Alora menatap Alice dengan penuh curiga, mengetahui maksud tatapan sang sahabat, Alice mendorong muka Alora.

“Kaga ya! Jangan mikir yang engga engga lo,” ketus Alice.

“Ya kan siapa tau,” ucap Alora.

“Ogah sih gue sama manusia macam modelan begitu,” Alice memutar matanya.

“Terus kakaknya gimana? Sama aja? Terus lo tadi kesel kenapa?” tanya Alora.

“Kakaknya sih ya baik sih, cuma ya gitu deh sering di kibulin adiknya, mau dibilang polos tapi bukan, tau deh gue jarang ketemu juga sama dia… tadi tuh mereka ngechat gue, nah yang adiknya itu nanyain lo,” jelas Alice yang mendapatkan pukulan keras di lengannya oleh Alora.

“TUH KAN! MAKANYA JANGAN SUKA POST FOTO GUE!!” Alora menatao Alice dengan tatapan membunuh.

“Ya mana gue tau tuh orang nanyain lo, tapi ada untungnya juga sih, gue di transfer lagi sama dia hehe,” Alice menyengir.

“Sumpah bisa bisanya gue di jual…,” Alora memijat keningnya yang terasa nyeri melihat kelakuan sahabatnya.

“Tenang kok, dia cuma nanya lo udah punya pacar apa belom, gue jawab belom, terus sempet nanya gue dimana, langsung gue matiin hpnya hehe sorry,” Alice memeluk erat Alora yang masih diam menatapnya.

“Bener bener ya lo… mana sini uangnya!” ucap Alora.

“Iya nanti gue transfer….”

“Berat ish…,” Alora melepaskan pelukan Alice lalu membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan.

“Maaf, apa benar atas nama miss Alice Scout?” tanya seorang staff NYX pada Alice dan Alora.

“Iya benar saya, gimana? Ada yang kosong?” tanya Alice

“Mohon maaf sekali, untuk malam ini sudah penuh,” jawab sang staff NYX.

“Tuh kan, yaudah deh makasih ya,” ucap Alora yang kecewa karena tidak dapat melihat Rita Ora tampil lalu menarik Alice keluar dari barisan.

“Ish sebel banget, gue udah totalitas tapi penuh huaaaaa,” Alice merengek sedikit kencang membuat orang-orang sekitar menatap kearah Alice dan Alora.

“Ish kan udah gue bilang bakalan penuh! Ayo cari tempat lain!” Alora menarik tangan Alice menuju tempat parkir mobil.

“Alice!” baru saja beberapa langkah meninggalkan pintu masuk club, seseorang memanggil nama Alice dari belakang membuat Alice dan Alora berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Oh shit…,” ucap Alice dengan pelan namun dapat terdengar oleh Alora.

“Siapa?” bisik Alora.

“Boss gue!” bisik Alice.

“Eh ada boss,” ucap Alice yang menyengir kaku.

“Kamu mau kemana?” Seth menatap Alice dan Alora.

“Eung… mau… ke tempat lain boss hehe,” jawab Alice.

“Boss… kuncinya boss…,” salah satu staff valey parking menghampiri Seth dan meminta kunci mobil yang masih di genggam olehnya.

“Oh lupa…,” Seth memberikan kunci mobilnya pada staff valey parking, “Ayo masuk bareng saya.”

Alice dan Alora saling menatap satu sama lain dengan ragu. Melihat mereka hanya diam, Seth mejentikan jarinya di hadapan wajah mereka agar tersadar dari lamunan. “Hey, mau nggak? Kalau nggak mau juga nggak apa apa,” Seth berbalik badan lalu berjalan menuju pintu masuk melewati jalur vip.

“Boss ih tunggu mauuu, ayo Ra kapan lagi liat rita oraaaa,” Alice menarik tangan Alora lalu mengejar Seth yang tengah berbincang dengan beberapa staff club disana.

“Mereka…,” Seth menunjuk kedua wajah Alice san Alora, “Sekretaris gue, namanya Alice dan satu lagi…,” Seth berhenti berbicara dan menatap ke arah Alora.

“Maaf nama kamu siapa?” tanya Seth dengan lembut.

“A-alora…,” jawab Alora sedikit terbata karena terpesona dengan wajah Seth.

“Nama yang cantik, kaya orangnya…,” Seth tersenyum pada Alice dan kembali fokus ke para staff club, “Alice, Alora, sekretaris gue, kalo mereka kesini langsung suruh masuk,” ucap Seth.

“Baik boss,” para staff menjawab kompak, dan mempersilakan Seth, Alice, dan Alora masuk.

FATE — ONE


“Aahhh sshhh bossshhh.”

“Enak hm?”

“Yeaaahhh aahhh! There!”

“Ohh yeah baby.”

Erangan seorang wanita terdengar jelas berasal dari belakang pintu ruangan yang tertuliskan CEO. Sudah sejam suara itu muncul sedari jam makan siang selesai. Didepan ruangan terdapat sekretaris yang tengah sibuk menyiapkan berkas untuk atasannya. Ya sudah pasti ia mendengarkan antasannya itu sedang bercinta dengan salah satu karyawan perusahaannya. Saat awal bekerja ia sangat terkejut melihat kelakuan atasannya yang sangat gila, namun saat ini ia sudah terbiasa dan terkadang ia menutup kuping nya dengan earpods.

Tok tok tok

Sekretaris itu mengetuk pintu ruangan sang atasan. Tidak ada jawaban melainkan hanya suara desahan yang tak kunjung berhenti. Ia menghela napas lalu membuka pintu tersebut. Terlihat dengan jelas sang atasan sedang bercumbu mesra karyawan nya yang terbaring di atas meja kerja.

BRUK!

Sang sekretaris menjatuhkan setumpuk laporan di meja sebelah tubuh karyawan yang tengah disantap oleh atasannya. Mendengar suara keras, keduanya terkejut melihat kemunculan sekretaris yang sedang menatap datar kearah mereka.

“Oh hi Alice! Mau join?” tanya sang atasan yang menyengir menatapnya.

“Waktu sudah habis, keluar, boss lagi nggak bisa diganggu gugat,” ucap Alice datar.

“Okaaay~ Bye boss~,” ucap sang karyawan wanita sedikit centil sembari membenarkan pakaiannya dan berlalu keluar dari ruangan.

Sang atasan hanya menatap tak percaya apa yang dilakukan Alice padanya, “Beraninya....” Saat sang atasan menunjuk Alice dan hendak bangun dari kursi, Alice menahan bahu sang atasan agar tetap berada duduk diatas kursinya.

Ia mengambil ballpoint dan memberikannya pada sang atasan, “Ini laporan dari seluruh cabang, dan mereka minta persetujuan anda.”

“Kenapa kamu nggak pakai tanda tangan digital saya?!” tanya sang atasan dengan kesal.

“Nggak bisa, komputer saya lemot dan juga tanda tangan basah anda menandakan kalau anda masih hidup,” ucap Alice.

Sang atasan tidak bisa berkata-kata dengan kelakuan sekretarisnya, ia hanya bisa pasrah, dan melakukan apa yang diminta oleh sekretarisnya. Ketika ia membuka satu laporan, matanya melihat sosok yang ia kenal masuk ke dalam ruangan, ia menyeringai kecil.

“Seth! Ada yang mau gue omongin!”

“Silas! Saudarakuuuu~ Welcome welcome!” Seketika Seth berdiri lalu menghampiri Silas saudara kembarnya yang baru saja datang.

Seth mendorong Silas menuju kursinya dan mendudukannya. Silas kebingungan dengan tingkah saudaranya yang begitu aneh, “Pasti lo capek kan berdiri lama di lift dari lobby ke ruangan gue.”

“Kata siapa? Orang gue....”

“Sstttt ssttt sstttt,” Seth mencubit bibir Silas.

“Iya gue tau lo capek, makanya duduk dulu sebentar rasakan sensasi kursi import yang baru gue beli dari Italy, hand, made,” ucap Seth sembari mendorong badan Silas agar menyandar pada kursinya. Tentu mebuat Silas semakin kebingungan.

“Gimana? Enakan?” tanya Seth sembari menatap Silas.

“Eh iya enak juga, beliin gue satu dong buat dirumah,” ucap Silas.

“Gampang tapi pertama-tama lo pegang ini dulu,” Seth memberikan ballpoint miliknya pada Silas.

“Buat apa?” tanya Silas.

“Buat ngisi formulir order kursi yang lo dudukin itu, dan ini formulirnya yang harus lo tanda tangan, baca dulu okay? Kalo udah baca lo tanda tangan ya, gue sakit perut mau ke toilet dulu ookay?” Seth menyodorkan map pada Silas.

“Yaudah sana lo, asik punya kursi baru,” ketika Silas membuka map tersebut, Seth langsung keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam lift untuk kabur.

Saat melihat halaman pertama yang menampilkan laporan perusahaan, Silas baru menyadari bahwa ia tengah di tipu oleh saudaranya. Alice yang sedari tadi menyaksikan kebodohan Silas hanya bisa menahan tawa.

“Bajingan! Gue di tipu! SEEEEEEETH!!!!” teriak Silas.

“Boss bisa di percepat?” tanya Alice.

“Apanya?” tanya Silas kembali.

“Tanda tangan laporannya, mereka sudah menunggu dari tadi,” jelas Alice.

Silas melihat begitu banyak laporan yang menumpuk di atas meja, membuat ia menunduk kesal dengan perlakuan saudaranya. “Ini nggak bisa pake tanda tangan digital dia?” Silas menenggakan kepalanya dan menatap Alice.

“Nggak bisa.”

Silas menghela napas panjang, ia hanya bisa pasrah mengerjakan pekerjaan Seth yang begitu banyak.


‘Udah lama banget lo nggak ngehubungi gue, sombong banget.’

“Sorry, gue lagi banyak yang harus diurus disini,” ucap Seulgi.

‘Haha kidding, gimana kabar wanita yang jadi CEO baru kantor lo?’

“Ya she’s fine.”

‘Terus lo ada perlu apa telp gue?’

“Gue perlu lo lacak Hojung,” jawab Seulgi.

‘Kenapa sama dia? Bukannya dia lagi dirumah lo?’

“Memang, tapi dia menghilang, Yoonjung bilang ada orang yang masuk ke rumah gue,” jelas Seulgi.

‘Okay wait, biar gue lacak dia,’

“Okay Wen.”

Terdengar suara tidak jelas dari sebrang sana, Seulgi menunggu Wendy menyelesaikan mantra nya untuk mencari keberadaan Hojung.

‘Dia ada Woraksan, di rumah lama lo.’

“Okay thanks Wen infonya,” hendak mengakhiri sambungan, Wendy memanggil dirinya.

‘Seulgi! Lo hati-hati karena ini semua ulah adik lo, she looks very angry.’

“Sungkyung… kalau gitu gue pergi dulu Wen, thanks buat bantuannya,” Seulgi segera mengakhiri sambungan dan bergegas menuju Woraksan dimana Hojung disandera oleh adiknya.


Kang's Family House

“Hhhhhaaaaaahhhhhh!!” Hojung menarik napas dalam ketika Sungkyung mencabut belati yang menacap pada dadanya.

“Good morning sleepyhead,” ledek Sungkyung sembari terkekeh pelan melihat Hojung tak berdaya dengan borgol yang terpasang pada tangan kanan dan kirinya.

“Well you’re very smart my sister, using an inocent witch who is not powerful,” Hojung terkekeh saat melihat seorang penyihir tengah berdiri disebelah Sungkyung.

“Oh really? I don’t think so, my dear maybe you can show her something fun,” Sungkyung membisikkan pada penyihir muda.

Sang penyihir menatap Hojung dengan lekat, awalnya Hojung meremehkan kekuatan sang penyihir muda, namun kini badannya sangat terasa sangat panas. Ia dapat merasakan darahnya mendidih membuat ia berkeringat sangat banyak.

“Oh shit… stop that spell!” Hojung memohon agar penyihir tersebut berhenti memantrai dirinya.

Sang penyihir mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah Hojung, “AAARGGHHH!!!” dapat terdengar dengan jelas tulang-tulang pada tubuhnya patah dan hancur, Hojung tidak dapat menahan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya, kini ia berlutut sembari berteriak kesakitan, “AARGHHH FUCK!!!”

Sungkyung memegang lengan sang penyihir agar berhenti menyiksa Hojung, “Enough dear.”

“Well, how does it feel?” Sungkyung mendekati Hojung yang sudah sangat lemas.

“I will kill you…,” Hojung menggeram dan hendak menerkam Sungkyung namun ia tertahan oleh borgol yang membuatnya tidak dapat menggunakan kekuatannya.

Sungkyung mengusap perlahan pipi Hojung lalu menatap kedua matanya, “Before you kill me, I will kill you first…,” Sungkyung menunjukan sebuah belati berwarna hitam padanya, matanya membulat ketika melihat pisau belati hitam tersebut.

Black Dagger

“You remember this? Gue nemu ini di laci bunda, gue udah lupa fungsinya buat apa, tapi seinget gue benda ini bikin ayah tak berdaya,” Sungkyung memainkan belati tersebut dihadapan wajah Hojung, “Mungkin ini bisa bikin lo sama seperti ayah dulu,” Sungkyung mengarahkan belati tersebut pada dada Hojung, hendak mendorong belati tersebut, secara tiba-tiba Sungkyung terdorong jauh hingga tubuhnya menyentuh dinding. Seulgi menahan Sungkyung agar tidak melukai Hojung lebih jauh.

“Enough Sungkyung!” Seulgi memegangi tangan Sungkyung dengan erat.

Sang penyihir muda melihat Sungkyung terancam, ia memantrai Seulgi agar tidak dapat melukai Sungkyung, “ARGHHHHH!!!” Seulgi berlutut kesakitan sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri.

“Jisoo stop! It’s okay…,” mendengar perkataan Sungkyung, Jisoo menghentikan mantra nya.

Sungkyung membantu Seulgi untuk berdiri. Seulgi mencoba menetralkan pandangannya, lalu ia menatap Sungkyung dengan lekat, “Give me that dagger Sungkyung, we can talk later.”

“I won’t… that bastrad…,” Sungkyung menunjuk ke arah Hojung, “Stabbed me and put me in the coffin almost half a century! Now I want her to pay for it!!” Sungkyung mendorong tubuh Seulgi lalu berlari ke arah Hojung, tanpa berpikir panjang ia menusuk kan belati hitam pada dada Hojung.

“AARGHHHHH!!!” belati tersebut bergerak masuk ke dalam tubuh Hojung, tertanam didalam tubuh Hojung, belati tersebut membuat Hojung tidak dapat memulihkan lukanya.

“Sungkyung please stop, we’re family, we can fix this whitout hurting each other,” ucap Seulgi.

“Family won’t destroy my happiness!! My hope!!!” Sungkyung berteriak dan air matanya jatuh membasahi pipinya.

“I know, that’s why I’m sorry, we can fix this…,” Seulgi menghampiri Sungkyung lalu memeluknya dengan erat, “I’ll give you what you want, I promise,” Sungkyung menangis dalam pelukan Seulgi.

“Sungkyung…,” Seulgi melihat Yoonjung berdiri di ambang pintu menatap ke arah Sungkyung.

Sungkyung melepaskan pelukan Seulgi lalu berbalik badan menatap orang yang memanggil namanya, tubuhnya terasa lemas saat melihat Yoonjung, “Yoon…jung….”


Silver Dagger

Hojung kini sedang berada dirumah Seulgi. Sepi tak ada siapapun disana. Ia sangat lapar karena ia melewatkan sarapan akibat Irene marah padanya. Ia mencari sesuatu di dapur. Saat membuka isi kulkas, ia melihat banyak kantung darah yang tertata rapi, ia tersenyum lebar.

“Pasti punya Sohee, rapih juga sampe di tata per golongan,” Hojung mengambil satu kantung darah golong AB lalu mengambil gelas.

Ia membuka kantung tersebut dan menuangkannya pada gelas sampai penuh, saat ingin meminumnya, tiba-tiba gelasnya pecah membuat darah berceceran ke seluruh ruangan termasuk wajahnya. “Halo sister.”

“Bagaimana caranya lo bisa keluar?!” tanya Hojung kesal.

“Begitukah cara lo nyambut adik lo yang baru aja bangun,” orang tersebut terkekeh pelan.

“Shut up! Lo seharusnya nggak disini!” Hojung mendekati orang tersebut untuk mencekik nya, namun ia tidak dapat menyentuhnya, seperti ada perisai yang tak terlihat melindungi tubuhnya, “Shit!”

“Kenapa? Lo mau masukin gue ke peti mati lagi? Silahkan… tapi sayangnya lo nggak bisa lagi! Saatnya lo yang masuk ke peti mati!” orang tersebut menusukan sebuah pisau belati berwarna silver tepat pada dadanya.

“ARRGGHHH!!!” Hojung menahan rasa sakit yang luar biasa ketika belati tersebut menusuk di dadanya, ia menatap orang tersebut dengan tatapan marah, “H-h-hhow dare you Sungkyung!” Hojung semakin melemas sampai ia berlutut, warna tubuhnya berubah menjadi abu-abu, tak lama ia terkapar tak berdaya dilantai.

“I’m sorry sister, I love you but you strated the war between us, let me pay for what have you done to me,” Sungkyung menyeringai puas ketika melihat Hojung terbujur kaku dengan pisau belati menancap pada dadanya.


Merasa kesal karena pesannya diabaikan oleh Hojung, Yoonjung mendatangi rumah Seulgi. ‘Pasti tuh orang lagi asik minum sama cewe lain!’ batinya. Ketika sudah berada didepan pintu rumah Seulgi. Ia merasa ada yang janggal dengan suasana rumah tersebut. Pintu rumah sudah terbuka lebar. Ia masuk kedalam rumah dengan hati-hati, matanya melirik kanan kiri mencari sosok Hojung.

“Hojung?!” sepi tak ada seorang pun didalam rumah tersebut. Sangat aneh.

Saat ia berada di dapur, matanya melihat banyak darah yang berceceran di lantai dan juga terdapat serpihan gelas pecah. Ia menghela napas panjang lalu mengambil ponsel pada saku jaket. Ia menghubungi Seulgi.

‘Halo, ada apa Yoon?’

“Ada seseorang yang masuk kerumah lo, gue mencium aroma vampire disini,” ucap Yoonjung.

‘Mungkin aroma Hojung.’

“Beda, dan sekarang dia nggak bisa gue hubungi, hp nya juga ada disini,” Yoonjung melihat ponsel Hojung tergeletak di lantai.

‘Lo tenang dulu, biar gue lacak dia’

“Okay thanks Gi.”


Mobil Irene kini telah sampai didepan lobby kantor. Beberapa karyawan tengah berdiri untuk menyambut CEO baru. Jaehyun turun lalu berlari mengitari mobil dan membuka pintu untuk Irene. Tak lupa ia membantu Irene turun. Ketika Irene sudah keluar dari mobil, karyawan yang menunggu kehadirannya membungkuk hormat padanya. Irene hanya tersenyum. Joy mempersilakan Irene untuk masuk terlebih dahulu ke dalam lobby.

Tak jauh dari kantor, terdapat seseorang sedang mengamati Irene sedari ia sampai. Orang tersebut berada di atas motor yang terparkir pada pinggir jalan. Orang tersebut mengambil ponsel nya lalu memotret beberapa kali ketika Irene keluar dari mobil hingga masuk ke dalam lobby. Sebuah tangan memegang bahu orang tersebut.

“What are you looking for?” tanya Seulgi pada orang tersebut.

“Fuck…,” orang tersebut menegang karena melihat Seulgi dari kaca spion motor.

“Kim… Jongin… that’s your name right?” tanya Seulgi.

“G-gimana lo bisa tau nama gue?!” Kai sedikit menggeram ketika Seulgi menyebutkan nama aslinya.

“I know everything little wolf,” Seulgi berjalan ke hadapan Kai sembari merapihkan lengan kemeja yang ia kenakan lalu menatapnya, “Tell this to your alpha,” Seulgi mendekati Kai, “For now, don’t ever distrub Irene’s life, she already mine…,” bisik Seulgi.

“Or… your people will be die by my hands,” Seulgi menyeringai sembari menepuk-nepuk bahu Kai, “Good luck, little wolf.”

Merasa kesal karena diancam oleh Seulgi, Kai