noubieau

Welcome to noubie universe.


11 April 2022 – 7 AM

Secara diam-diam Selene masuk ke dalam kamar Jollie, ia melihat Jollie masih meringkuk di dalam selimut. Perlahan ia berjalan menuju gorden kamar, lalu membukanya membuat sinar matahari masuk ke dalam kamar. Jollie mengernyitkan dahi saat sinar matahari menyoroti wajahnya.

“Hmmm…,” Jollie menutupi wajahnya menggunakan selimut.

“Wake up sleepyhead,” Jollie tidak menanggapi ucapan Selene dan memilih untuk melanjutkan tidurnya.

“Aku mau ke New York, ayo bangun,” ucap Selene.

“Sana pergi aja, ribet banget,” ucap Jollie ketus.

“Nggak mau ikut? Nggak mau ngeliat Kai Kuma?” seketika Jollie membuka selimutnya lalu menatap lekat Selene.

“Yaudah kalo nggak mau ikut,” ledek Selene seraya berjalan keluar kamar, Jollie dengan cepat bangkit dari kasur dan mengejar Selene.

“Ikuuuuuuuuuttttt,” Jollie berhenti di hadapan Selene, “Mau ikut please.”

“Yaudah cepet,” ketika Selene memperbolehkannya ikut, Jollie segera ke kamar untuk bersiap-siap pulang ke New York, ‘New York I’m coming,~’ batinnya.

Selene hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jollie. Ia menunggu Jollie di ruang tamu sembari memeriksa pekerjaannya. Sudah 20 menit Selene menunggu Jollie yang tak kunjung keluar dari kamar. Ia memutuskan untuk memeriksa ke kamar Jollie. Ketika ia bangkit dari sofa, Jollie keluar dari kamarnya dengan membawa koper besarnya membuat Selene kebingungan.

“Ngapain bawa koper?” tanya Selene.

“Kan mau pulang ya bawa koper lah,” jawab Jollie.

“Nggak ada bawa bawa koper, taro koper nya disini,” ucap Selene.

“Are you serious?!” tanya Jollie dengan heran.

“Mau ikut atau nggak?” Selene melipat kedua tangannya di dada.

“Tapi….”

“Tinggalin koper nya kalo mau ikut, ayo cepet nanti ketinggalan pesawat nya,” sela Selene yang berlalu meninggalkan Jollie.

“Errgghh!! Ngeselin banget sih!” terpaksa Jollie meninggalkan koper miliknya begitu saja lalu mengikuti Selene menuju mobil.


10 April 2022 – 9 PM

“Selene!”

“Hm?” sahut Selene yang tengah sibuk menatap layar komputer pada ruang kerjanya.

“Sampe kapan aku dikurung gini? Aku mau pulang Selene!” ucap Jollie yang kini berada di hadapannya menatapnya dengan tatapan kesal.

“Mau ngapain pulang? Kamu udah nggak ada kontrak di agensi lama mu,” ucap Selene dengan santai.

“Tapi kasian Kai Kuma!” Jollie menghentakan kakinya membuat Selene menatap dirinya.

“Who’s Kai Uma?” tanya Selene.

“Kai Kuma! Mereka anjing anjing aku, mereka masih ada di pet care, kasian Kai Kuma…,” ucap Jollie sedih.

“Sebut aja alamat pet care nya, biar Deon yang ambil, kamu nggak boleh ke New York sendirian,” Selene melanjutkan pekerjaannya dan Jollie hanya terkejut tidak percaya bahwa ia tidak diperbolehkan pulang.

“Kok nggak boleh sih?!” protes Jollie.

“Perintah, jangan bantah,” ucap Selene tanpa menatap Jollie yang sudah sangat kesal.

“Ngeselin! Emangnya lo siapa sih! Ngatur ngatur hidup gue! Cukup Leona yang bikin hidup gue kaya hewan! Sekarang lo samanya kaya dia! Gue kira lo mau nolongin gue karena lo peduli sama gue nyatanya gue cuma jadi pecundang di manfaatkan banyak orang!” setelah mengeluarkan kekesalannya Jollie berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruang kerja Selene.

Tangan Jollie sudah memegang kanopi pintu dan siap membuka pintu ruangan tersebut, namun sebuah tangan menahan pintu tersebut membuat Jollie terkejut, ‘Astaga! Kapan dia ngikutin guenya!’ batin Jollie.

Selene membalikan badan Jollie dan menatap Jollie dengan tatapan tajam. Jantung Jollie sangat berdebar dengan kencang. Selene mendekatkan wajahnya pada wajah Jollie, ‘Shit! Gue salah ngomong….’

“Listen, pertama sekarang gue atasan lo jadi apa yang gue perintah lo harus nurut, kedua gue ngelarang lo ke New York bukan semata-mata keingin gue tapi buat ngelindungin lo! Ketiga berhenti samain gue sama bajingan itu!!!” Selene meninju pintu yang berada dibelakang Jollie dengan keras hingga pintu tersebut nyaris hancur.

Gertakan Selene membuat Jollie nunduk ketakutan sampai ia meremas ujung bajunya. Sadar Jollie ketakutan Selene menghela napasnya dengan kasar, “Masuk kamar sekarang.”

Tak ingin membuat Selene bertambah marah, Jollie menuruti perkataan Selene tanpa mengeluarkan satu kata pun. Selene merasa bersalah karena tidak dapat mengontrol emosi nya, kini ia merutuki dirinya karena membuat Jollie ketakutan.

Selene melihat pintu yang ia tinju, “Shit!”


Sekian lama Winter mengikuti mobil penculik tersebut, kini ia berhenti di sebuah daerah pabrik tua yang sudah terbengkalai lama. Disana terdapat beberapa gedung yang berjejer. Winter tidak mengetahui dimana penculik tersebut bersembunyi. Tak ingin buang waktu, ia berkeliling menggunakan motor untuk mencari Sarang.

Ketika hendak menuju gedung ketiga, ia dikejutkan oleh bongkahan batu sedang melayang mengenai kepalanya dan membuatnya terjatuh dari motor. Kepalanya terasa pening dan nyeri akibat lemparan batu yang entah berasal dari mana. Ia mencoba bangkit dan menetralkan pandangannya yang sedikit kabur, kini di hadapannya ada tiga preman menatapnya sembari memegang balok kayu. Matanya menatap satu persatu sembari memegangi kepalanya, dan melihat tangannya yang hampir penuh dengan darah segar.

“Shit! Dimana adek gue?!” ucap Winter.

“Adek lo? Hahaha” ucap salah Satu preman.

“Adek lo udah mati! Hahaha,” mendengar omong kosong preman tersebut membuat amarah Winter meningkat.

“Gue bilang sekali lagi, dimana, adek, gue, sekarang?” Winter menatap tajam preman preman di hadapannya.

“Lo budek apa gimane? Dibilang adek lo mati! Eh apa udah dijual ya? Hahaha… Aakhh!!” seketika sebuah pisau besar menancap di kening preman tersebut hingga tewas seketika dan membuat preman lainnya terkejut.

“Woy anjing lo!”

“Cewek perek!”

Winter berlari menuju dua preman yang masih hidup dan menghajar nya tanpa ampun. Ia sangat bersyukur ilmu bela diri yang ia lakukan setiap minggu akhirnya berguna juga untuknya. Namun ia lengah ketika mendengar suara tangis Sarang yang berasal dari dalam gedung. Ia terkena pukulan keras di punggung dan wajahnya membuat ia terkapar ditanah.

“Harus di kasih pelajaran nih bocah!”

“Bawa ke dalem!”


“BANGUN WOY!!” teriak salah satu penculik sembari menyiram air pada wajah Winter agar ia tersadar.

Winter membuka perlahan matanya dan menatap beberapa preman yang tengah menatapnya, ia terkejut saat tangannya diikat pada tiang yang membuat dirinya sulit bergerak.

“Brengsek emang nih bocah berani nya bacok temen kita,”

Winter melihat Sarang yang masih saja menangis di gendongan salah satu preman perempuan, “Lo butuh uang berapa? Satu miliar? Dua? Satu triliun?”

“Gue mau sepuluh triliun atau adek lo mati ditangan gue,” ancam salah satu preman yang diduga boss nya mereka.

“Deal! Asal lo lepasin gue sama adek gue, gue bakal kasih uang yang lo mau,” ucap Winter.

“Hahahaha!” preman tersebut menampar pipi Winter dengan keras lalu mejambak rambutnya, “Gue nggak sebodoh yang lo kira!”

“Oh pinter ternyata, di atm gue ada duit 100M, DP dulu gimana? Lo bisa cek saldo di m-banking gue sih,” ucap Winter.

Preman tersebut langsung memeriksa ponsel Winter yang ia sita lalu minta password ponsel nya dan m-baking, tanpa ragu Winter memberi tahu password kepada mereka dengan tangannya bergerak mencoba untuk lepas dari ikatan tali. Winter masih memantau situasi untuk siap menyerang mereka. Ketika para preman tengah fokus pada isi saldo bank milik Winter, ia segera mengambil balok kayu yang tak jauh dari tempat ia diikat lalu menghajar satu persatu preman yang tengah lengah.

Sudah beberapa preman Winter taklukkan, kini ia sedang berduel dengan salah satu preman dengan berbadan kekar. Sudah beberapa kali wajah dan perutnya terkena pukulan keras, namun ia tetap bangkit untuk menyelamatkan Sarang. Hingga beberapa menit, akhirnya ia menaklukkan preman besar tersebut lalu ia berjalan menuju boss dan perempuan yang tengah menggendong Sarang.

Terdengar suara sirine polisi dan suara helikopter yang mendekat membuat preman yang masih sadar panik dan mencoba kabur untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Hendak mengejar, Winter terkejut ketika sebuah pisau menancap di pinggangnya. Pelakunya ternyata preman yang berbadan besar. Setelah menusuk Winter menggunakan pisau lipat, preman tersebut kabur meninggalkan Winter yang terkapar lemas sembari memegangi pisau yang menancap di pinggangnya.

“KALIAN SUDAH KAMI KEPUNG!!”

“JATUHKAN SENJATA DAN ANGKAT TANGAN KALIAN!!”

“Aaah fuck…,” Winter mencoba mengatur napasnya menahan rasa sakit di pinggangnya.

“Winter….”

“Winter!”

“WINTER!”

Winter tak mengetahui siapa yang memanggil dirinya. Ia sudah tak kuat bahkan untuk menoleh sekali pun. Pendengaran nya menangkap derap kaki yang mendekat kearah nya. Ia melihat Tiffany dan beberapa polisi menghampirinya. Begitu riuh suara yang ia dengar hingga ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa saja yang dibicarakan oleh Tiffany.

“Hi mami,” Winter tersenyum saat Tiffany mengangkat tubuh Winter untuk disandarkan pada tubuhnya.

“Hei sayang mami disini sayang, jangan tidur ya mami mohon! PAK CEPET BANTUIN ANAK SAYA!!” ucap Tiffany sembari memegangi wajah Winter agar ia tetap sadar.

“Mih,” ucap Winter dengan pelan.

“Ya sayang? Kenapa hm?” Tiffany mengusap wajah dengan lembut.

“Maafin Winter ya…,” terlihat wajah Winter semakin pucat.

“It’s okay sayang, mami udah maafin kamu, tapi mami mohon tetap sadar ya? Hm?” Tiffany menatap wajah Winter dengan mata berkaca-kaca, Winter mencoba perlahan untuk meraih wajah Tiffany lalu mengusap nya perlahan.

“Jangan nangis mih, nanti cantik nya ilang,” Winter tersenyum lalu ia memejamkan matanya.

“Kamu lagi kaya gini masih aja bercanda! Jangan merem Winter… Winter… Winter...,” Tiffany menepuk-nepuk wajah Winter berkali-kali namun tak ada respon dari Winter, Tiffany menjerit panik.

“Winter!! Sayang please bangun!! Pak cepet anak saya tolongin!!! Winter? Please jangan ninggalin mami!!! WINTER!!!!” Tiffany menangis sembari mendekap kepala Winter dengan erat.


“Linu nggak tadi pas dicoba jalan?” tanya Tiffany.

“Banget mih rasanya kek pen rebahan aja,” Jeongyeon menghela napas panjang.

“Apa pindah aja ya kak ke Singapore, kata temen mami pengobatan disana bagus,” ucap Tiffany sembari menatap jalanan diluar.

“Jauh ah mih, nggak mau LDR sama Nayeon,” Jeongyeon memanyunkan bibirnya.

“Ish! Kamu tuh! Bucin banget, ya bisa video call kan nanti disana,” omel Tiffany.

“Ya mending mih kalo sebulan, kalo berbulan bulan? Nggak mau ah mih!” protes Jeongyeon.

“Ya nggak sampe segitu kali kak! Kan tujuan kesana biar kamu cepet sembuh, kalo disini kurang kan fasilitasnya,” jelas Tiffany.

“Nggak mauuuu~ enggak mauuuu~” Jeongyeon menutup kuping nya membuat Tiffany kesal.

“Yaudah terserah deh, tapi jangan ngeluh kalo lama sembuh nya!” ucap Tiffany kesal.

“Ya nggak apa apa, kan aku bisa di manjain sama Mami sama Nayeon lebih lama hehehe,” Jeongyeon mendusalkan pipinya pada bahu Tiffany.

“Emang ada maunya kamu mah!” Tiffany menyentil dahi Jeongyeon hingga ia meringis kesakitan.

“Ish sakit tau mih! Eh kok banyak mobil polisi?” Jengyeon dan Tiffany merasa heran ketika melihat banyak mobil polisi di halaman rumah mereka.

“Firasat mami kok nggak enak…,” mobil yang ditumpangi Jeongyeon dan Tiffany berhenti didepan rumah.

Pak Jono bergegas turun lalu membuka pintu untuk Tiffany dan Jeongyeon. Ketika Tiffany turun, ia melihat Taeyeon dan Seulgi tengah berbincang dengan seseorang yang tak ia kenal. Setelah Jeongyeon sudah duduk di kursi roda, Tiffany mendorong kursi roda Jeongyeon untuk menghampiri Taeyeon dan Seulgi.

“Yang! Kok banyak polisi gini?” Taeyeon dan Seulgi saling menatap dan tidak menjawab pertanyaan Tiffany.

“Sarang mana kak?” tanya Jeongyeon.

“Hello guys! Are you listen to me? What the fuck happen in here?” tanya Tiffany kesal.

“Aku bisa jelasin yang… tapi masuk dulu ya? Takut ada wartawan,” bujuk Taeyeon sembari menarik perlahan tangan Tiffany.

Tiffany menepis tangan Taeyeon dan menatapnya tajam, “Aku butuh jawaban sekarang! Mana Sarang?! Mana Winter?!”

“Win….”

“Sarang diculik mih,” ucap Seulgi pasrah.

Tiffany terkejut bukan main, ia lalu menatap Taeyeon untuk minta penjelasan, “Listen babe, sekarang polisi lagi lacak hpnya Winter biar tau lokasi penculik Sarang dimana.”

Tiffany menampar Taeyeon dengan keras membuat semua orang menatap kearah mereka, “Tanpa kabari aku dan Jeongyeon? Gila kamu….”

“I’m sorry babe, aku cuma….”

“Enough! Aku nggak mau dengar lagi alasan kamu! Aku mau Sarang dan Winter kembali dengan selamat!”

“I-iya sayang polisi lagi lacak….”

“Setelah mereka ketemu, kita cerai Tae…,” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

“Wow nggak pernah liat mami semarah dan sesensitif itu~” gumam Jeongyeon lalu Seulgi mengangguk setuju dengan wajah terkejut nya.


“Mbim mbim mbim!” oceh Sarang sembari menarik-narik baju Winter.

“Hm? Apaan?” Winter membuka matanya dan menatap Sarang sudah berada di sebelah nya dan masih menarik-narik baju Winter.

“Mbim! Mbim! Mbim!” Winter mengernyitkan dahi.

“Apa sih ah mau apa? Elah nyusahin bat bocah,” Winter mengambil ponsel nya lalu mencari nomor Tiffany dan menghubungi nya.

“Halo mih, ini Sarang ngomong apa sih?” tanya Winter sembari mendekatkan ponsel nya pada Sarang yang masih saja mongoceh.

“Mbim! Mbim! Mbim!!”

“Tuh mih! Ngomong apa dia?” Winter mendengarkan penjelasan Tiffany seraya menjauhkan Sarang dari badannya hingga Sarang terjengkang kebelakang.

“Naik mobil? Mobil mana? Di halaman belakang? Yaudah iya, jelas, bye mih,” Winter segera mematikan sambungan telepon lalu bangkit dari kasur dan menggendong Sarang menuju halaman belakang.

“Eh udah bangun non Sarang, non Sarang udah dikasih minum?” tanya mbak Iyem yang sedang masak di dapur.

“Emang harus minum?” tanya Winter.

“Harus lah non, kasian nanti Sarang seret mulutnya, bentar non mbak ambilin gelasnya,” ucap mbak Iyem.

“Nyusahin lo,” Winter menatap Sarang yang tengah menguap lalu mendusalkan wajahnya pada leher Winter.

“Nih non minum dulu yuk,” mbak Iyem menyodorkan sedotan pada mulut Sarang, lalu Sarang meneguk air di gelas hingga kandas.

“Wih aus ya non haha,” Sarang menepuk tangannya senang sehabis minum.

“Dah ayo ke mobil deh, lo berat banget, makanya jangan makan mulu,” oceh Winter menuju halaman belakang lalu mendudukkan Sarang pada mobil maiannya.

Dengan malas Winter mengajak Sarang berkeliling halaman belakang dengan mengendalikan mobil Sarang menggunakan remote control. Merasa lelah, Winter duduk di salah satu kursi dekat kolam renang.

‘Drrrttt… Drrrtttt…’

Winter mengambil ponselnya didalam saku dan melihat Karina menghubungi dirinya, tak butuh waktu lama Winter menjawab panggilan tersebut. “Halo yang.”

Merasa kesusahan, ia menjepit ponsel nya menggunakan bahu agar dapat mendengar suara Karina sembari mengontrol mobil Sarang, “Hm? Aku lagi di halaman belakang, lagi mainin mobilnya Sarang.”

“Hah? Yang bener kamu?! Aku belom liat yang, bentar-bentar!” Winter menaruh remote control di pahanya lalu ia fokus pada ponsel nya sembari meloudspeaker suara Karina.

“Udah liat?”

“Ih iya! Hahaha akhirnya lulus juga! Makasih ya ayang! Muah muah muah!” ucap Winter sembari mengecupkan ponsel nya.

“Cieeee yang lulus sertif cieeeeee.”

“Hehehe kan berkat bantuan ayang,” ucap Winter.

“Selamat ya sayang, eh kamu lagi mainin mobil Sarang bukan?”

“Iya kenapa emang?”

“Terus Sarangnya mana? Aku mau liat ayang, switch video call yang.”

“Bentar… Dah, eh ini kamera depan, wait….”

“Ih malah muka kamu yang diliatin sih.”

“Ya sabar dong… Tuh… Keliatan nggak?”

“Mana ayang Sarangnya?”

“Itu loh diatas mobilnya dia.”

“Mana ih ayang nggak ada!”

“Masa sih?” Winter yang merasa curiga lalu ia menurunkan ponsel nya dan melihat Sarang tidak ada di mobil mainan nya, matanya menangkap seseorang tengah berlari membawa Sarang pergi dari pembatas halaman belakang rumah.

“FUCK! WOY!!” tanpa pikir panjang Winter mengejar orang tersebut, namun jarak antara Winter dan penculik tersebut sangat jauh.

“YANG! KENAPA?!!”

“Aku matiin dulu ya, nanti aku jelasin!” sambungan video call terputus.

Winter dengan cepat masuk kedalam rumah dan mengambil pisau dapur yang tengah dipakai mbak Iyem, “Astaga! Non! Kenapa non?!” tanya mbak Iyem yang terkejut.

Winter tak punya banyak waktu untuk menjelaskan pada mbak Iyem, kini ia mengambil kunci motor Jeongyeon dan segera mengejar penculik tersebut.


“Winteeeeeeeeeeeerrrr,” teriak Jeongyeon dari dalam kamar.

“Apaan?!” tanya Winter yang sudah berada di ambang pintu.

“Gue laper, ambilin koko krunch dong,” Winter langsung menuju dapur untuk mengambil koko krunch.

“Nih,” Winter memberikan satu kotak baru koko krunch pada Jeongyeon.

“Mangkoknya mana?” tanya Jeongyeon.

“Bukannya sekalian tadi!” Winter kembali mengambil mangkuk didapur dan memberikannya pada Jeongyeon.

“Sendok sama susunya manaaaaa?” tanya Jeongyeon.

“Ribut yuk nyet,” Winter menarik kerah baju Jeongyeon.

“Ahhh aahhh aahhh mami! Aaahhh!” Jeongyeon meringis kesakitan.

“Najis aduan lo,” Winter melepaskan kerah baju Jeongyeon dan pergi menuju dapur untuk mengambil barang yang Jeongyeon minta.

“Tuh! Dah gue mau main game!!” Winter memberikan sekotak susu dan sendok pada Jeongyeon lalu pergi menuju kamarnya.

“Hahaha thanks sistah,” ucap Jeongyeon.


“Winter,” panggil Tiffany.

“Apaaaa?” teriak Winter dari dalam kamarnya.

“Sini dulu,” ucap Tiffany.

Terpaksa Winter keluar kamar lalu menuju tangga sembari mencari sosok Tiffany, “Kenapa mih?”

“Mami mau anter Kakje check up, kamu dirumah ya tolong jagain Sarang,” ucap Tiffany.

Winter menghela napas panjang, “Iya mih….”

“Awas lo bikin nangis Sarang!” ancam Jeongyeon.

“Bacot deh lo,”

“WINTER!” bentak Tiffany.

“Maaf mih,” Jeongyeon hanya bisa ketawa melihat Winter tak bisa melawan dirinya.

“Jangan lupa nanti jam empat, ajak Sarang main di halaman belakang, jangan berenang, cuaca nya lagi dingin,” ucap Tiffany.

“Iya miiiiihh,” jawab Winter.

“Dah sana kamu main hpnya di kamar mami, Sarang lagi tidur, tapi jangan di bangunin nanti rewel, mami berangkat dulu ya,” ucap Tiffany sembari mendorong kursi roda Jeongyeon menuju pintu keluar.

“Iya mih…,” ucap Winter malas.


“Winter!” ucap Taeyeon dengan nada tinggi.

“Sayang…,” Tiffany menggenggam erat tangan Taeyeon.

“Udah kamu ke kamar aja, temenin Sarang,” ucap Taeyeon.

“Iya tapi jangan marah-marah…,” ucap Tiffany.

Tak lama Winter pun turun dari lantai dua, menghampiri Taeyeon yang tengah berdiri didepan tangga sembari melipat tangannya dan menatap tajam wajah Winter, “Kamu masuk kamar,” Tiffany mengangguk patuh dan meninggalkan Taeyeon dan Winter.

Taeyeon berjalan menuju ruang tamu lalu Winter mengikutinya dari belakang sembari kepala menunduk tak berani menatap wajah sang Mama. Taeyeon duduk pada sofa lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Winter hanya bisa menelan ludah ketika melihat aura Taeyeon saat ini. Menyeramkan.

“Jelasin kenapa kamu bisa nabrak kakak kamu Jeongyeon,” mata Taeyeon masih fokus pada ponsel nya, ia melihat rekaman cctv yang memperlihatkan kejadian dimana Winter dan Jeongyeon adu mulut hingga insiden penabrakan.

Winter tidak dapat berkata-kata, lidahnya terasa sangat kelu, Taeyeon menaruh ponsel nya pada meja lalu menatap Winter yang masih saja diam, “Nggak punya mulut? Atau emang nggak punya rasa bersalah?”

Tangis Winter pecah saat ia membuka mulutnya, “Ma-ma-maaf…,”

“For what?” tanya Taeyeon.

“Ma-ma-maaf… udah nabrak… kak Jeongyeon…,” ucap Winter sedikit sesegukan.

“Sebenci itukah kamu ke Sarang sampe Jeongyeon tega kamu tabrak? Tingkah kamu makin sini makin keterlaluan Minjeong!” ucap Taeyeon.

“Mulai besok kamu pergi diantar pak Jono, nggak ada keluar keluar main atau pacaran sama Karina selama pemulihan Jeongyeon, paham?” Winter hanya mengangguk pasrah dengan keputusan Taeyeon.

“Minta maaf sana sama mami!” ucap Taeyeon.


“Yeeee yeeee yeeee,” oceh Sarang ketika melihat Jeongyeon sudah pulang lalu merentangkan tangannya pada Jeongyeon.

“Halo cantik long time no see…,” Jeongyeon mencoba untuk menggendong Sarang namun kekuatan tangannya masih belum pulih.

“Udah ah ngilu mami liatnya,” Tiffany mendudukkan Sarang pada paha Jeongyeon.

Merasa sangat rindu dengan adiknya, Jeongyeon memeluk erat Sarang hingga Sarang menjerit girang, “Hehehe kangen nggak sama Kakje hum? Kangen nggak?” Jeongyeon menciumi pipi Sarang.

“Yang ish! Nanti jaitanya lepas!” oceh Nayeon.

“Kenapa sih pada sirik banget, aku kan kangen sama pacar cilik aku,” Jeongyeon memanyunkan bibirnya membuat Sarang ketawa.

“Gua tabok ya lu yang!” ucap Nayeon.

“Udah ya Sarang sama mami lagi, biarin Kakje nya istirahat dulu, nanti main lagi,” Tiffany menggendong Sarang.

“Kamu tidur dibawah aja, udah dipindahin beberapa barang kamu ke kamar bawah,” Jelas Taeyeon yang dibalas anggukan Jeongyeon.

“Yuk bobo yuk,” ucap Nayeon yang mendorong kursi roda yang Jeongyeon duduki menuju kamar sementara Jeongyeon.

“Yang nanti usap usap punggung aku,” ucap Jeongyeon dengan nada manja.

“Uuuuu manja banget ini bayi aku,” ucap Nayeon yang menahan gemas melihat wajah manja Jeongyeon.

“Cama nen…,” ucap Jeongyeon sedikit pelan lalu mendapat hadiah pukulan dari Nayeon di kepalanya.

“Ah anying…,” Jeongyeon meringis kesakitan.

“Kalo ngomong kadang suka ngadi ngadi, kalo gua digorok emak lu gimana!” oceh Nayeon yang sedikit pelan agar tidak terdengar oleh Taeyeon dan Tiffany.

“Hehe canda ayang,” jawab Jeongyeon cengengesan.

“Ngeselin lu yang!” ucap Nayeon.

“Ah ayang mukulnya niat banget, pusing tau!” protes Jeongyeon.

“Atit ya? Mana yang atit? Uuuu maap ayang,” Nayeon mengusap-usap kepala Jeongyeon.

Sementara Taeyeon dan Tiffany hanya diam mengamati drama yang dilakukan anaknya Jeongyeon dan calon menantunya Nayeon, “Mau heran tapi itu Jeongyeon sama Nayeon,” ucap Tiffany sembari menghela napas panjang.


3 April 2022 – 10 AM

“Lo mau ngomongin apa?” tanya Selene yang baru saja datang.

“Duduk dulu,” Shalgie mengarahkan tangannya pada sofa agar Selene duduk.

“Mau ngomongin apaan sih, serius banget,” Selene menatap Shalgie heran sembari duduk pada sofa.

Shalgie duduk di hadapan Selene dan menatapnya lekat membuat Selene semakin bingung, “Apa anjir apaaa?” tanya Selene yang penasaran.

“Tadi pagi…,” ucap Shalgie.

“Kenapa tadi pagi?” Selene mencondongkan badannya kedepan untuk mendengar Shalgie lebih jelas.

“Gue ditampar Arine…,” seketika raut wajah Selene berubah menjadi datar.

“Bajingan! Jauh jauh gue kesini cuma dengerin lo curhatin Arine!” kesal Selene.

“Aneh banget dia belakangan ini, demen banget marah marah ke gue,” ucap Shalgie.

“Bosen kali sama lo,” ucap Selene asal.

“Nggak mungkin lah.”

“Batu, siapa tau dia nemu alpha lain yang lebih gagah, kaga letoy kek lo,” Selene mendapat hadiah lemparan sepatu dari Shalgie, “A!!” teriak Selene yang singkat.

“Kalo ngomong jangan main main!” ucap Shalgie.

“Ya lagi lo ngeselin, udah tau gue lagi ngerayu Jollie biar kaga marah, eh lo chat, gue kira penting, taunya KAGA PENTING!” Selene bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu.

“Leona bebas bersyarat,” ketika ingin memegang kanopi pintu, Selene berbalik badan dan menatap Shalgie.

“Apa lo bilang tadi?” tanya Selene.

“Leona berhasil bebas,” jelas Shalgie.

“How?” tanya Selene heran.

“I don’t know how, tapi dia berhasil bebas dan sekarang dia kabur ke asia, gue belom cari tau lagi info jelasnya, mau gue langsung bunuh aja?” Shalgie menatap Selene.

“Jangan! Biar dia mati ditangan gue.”

“Lebih baik lo hati hati dan lebih ketat jagain Jollie, firasat gue dia bakal balas dendam ke lo.”


3 April 2022 – 8 AM

“Selamat pagi ma’am, waktunya untuk sarapan,” ucap Dion pada Jollie yang masih meringkuk diatas ranjang nya.

“Taruh aja dimeja,” ucap Jollie malas.

“Tapi ma’am, anda harus sarapan lalu minum obatnya,” ucap Dion.

“Ish bawel banget sih pagi pagi!” gerutu Jollie.


3 April 2022 – 9 AM

Jollie merasa bosan, sudah dua hari ia dirawat akibat pasca insiden dua hari yang lalu, dimana Leona memukuli dirinya menggunakan benda tumpul. Entah ia harus merasa senang atau sedih ketika Leona ditangkap polisi akibat video Leona memukuli dirinya tersebar. Ia tau jika semua ini adalah rencana Selene.

Sebetulnya ia senang karena ada seseorang yang membantu dirinya agar lepas dari Leona, namun ia juga takut jika Selene hanya memanfaatkan dirinya sama seperti Leona lakukan padanya. Jollie menghela napasnya. Ia bangkit dari ranjang lalu memegangi tiang infusan dan berjalan menuju pintu.

Saat pintu ia buka, ia terkejut melihat Selene berdiri didepan pintu lalu menatap diam dirinya, “Mau kemana kamu?” tanya Selene.

“Mau keliling, bosan di kamar,” jawab Jollie.

“Aku temenin, tapi pake kursi rodanya,” balas Selene.

“Aku nggak lumpuh Selene!” protes Jollie.

“Kamu baru aja sembuh, kata Waynne kamu nggak boleh kecapekan, Deon ambilin kursi roda,” ucap Selene.

“Ugh whatever!” Jollie memutar kedua matanya jengah.

Deon segera mengambil kursi roda didalam kamar lalu mendekat ke arah Jollie, Selene dengan sigap membantu Jollie duduk di kursi roda dan memindahkan kantung infusan nya pada tiang yang tersedia di kursi roda.

“Mau jalan kemana?” Selene mendorong perlahan kursi roda Jollie keluar dari kamarnya.

“Terserah asal bukan di kamar,” ucap Jollie.

“Okay ma’am,” beberapa orang yang lalu lalang menatap ke arah Jollie dan Selene, entah bagaimana saat ini mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di rumah sakit.

“Balik aja ke kamar,” ucap Jollie.

“Loh katanya bosen,” Selene melirik wajah Jollie dari samping.

“Banyak yang ngeliatin,” Jollie menundukkan kepalanya.

“Mau aku sewa satu rumah sakit?” tanya Selene.

“Nggak usah aneh aneh deh, gara gara kamu aku jadi kaya gini,” ketus Jollie.

“Maaf ya,” Selene memutar kursi roda Jollie untuk kembali ke dalam kamar.

Sampai nya didalam kamar, Selene membantu Jollie untuk pindah ke ranjang nya, namun Jollie menepis tangan Selene, “Aku bisa sendiri,” Jollie membenarkan posisi duduknya diatas ranjang.

“Kamu mau minum?” Jollie menggelengkan kepalanya dan menatap kedua mata Selene lekat.

“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Jollie.

“Maksud kamu apa?” Selene merasa bingung.

“Kenapa kamu begitu baik padaku, padahal kita baru saling kenal hanya dalam hitungan jam,” jelas Jollie.

“Aku tidak punya alasan untuk menolong kamu,” mendengar jawaban Selene, Jollie hanya terkekeh pelan, “Apa yang lucu?”

“Those word remind me of her,” Jollie menundukkan kepalanya.

Selene mendekati Jollie lalu mengangkat dagu nya agar dapat melihat wajahnya, “Jika aku sama seperti dia…,” tangannya merogoh sesuatu pada kantung celananya lalu diberikan pada Jollie.

Jollie terkejut saat Selene memberikan sebuah pisau lipat padanya, “You can use this,” Selene membuka pisau tersebut lalu menarik tangan Jollie dan mengarahkan pisau tersebut pada dadanya, “To kill me,” Selene menatap kedua mata Jollie dengan jarak yang sangat dekat.

“Astaga!” Jollie melemparkan pisau tersebut ke lantai, “Are you crazy?!”

Selene hanya tersenyum melihat reaksi dari Jollie lalu ia mengambil pisau terbut dan melipatkannya kembali, “Maybe,” Selene memberikan pisau tersebut kepada Jollie, “You can keep it.”

Jollie hanya diam menatap Selene, “Mulai minggu depan, kamu bakal bekerja di agensi Dawson,” Jollie membulatkan matanya.

“Wait, what?!”

“I know you hear that.”

“B-but since when?! Aku aja belum nerima kontraknya!”

“Udah kok, sidik jari kamu cukup mewakilkan tanda tangan mu.”

“WHAT?!! THAT’S AN ILLEGAL!”

“I think it’s legal, karena itu untuk membayar balas budi telah menjauhkan mu dari Leona,” Selene melebarkan senyum nya pada Jollie.


1 April 2022 – 10.15 PM

“Ma’am sepertinya semakin ramai,” ucap anak buah Selene yang sedang memperhatikan lobby hotel dari dalam mobil.

“Kita tunggu sebentar lagi, lagi pula didalam sudah ada yang jaga,” ucap Selene dengan mata tertuju pada iPad miliknya.

“Baik ma’am,” ucap sang anak buah.

Selene melirik jam tangan miliknya, “Dion, dokumen yang gue minta udah beres?”

“Sudah ma’am, ini,” ucap Dion yang memberikan sebuah amplop coklat pada Selene.

Selene mengambil dokumen tersebut dan memeriksanya sekilas, “Ke basement sekarang.”

“Baik ma’am,” Dion melajukan mobilnya menuju basement hotel agar tidak tersorot oleh media.


“Waynne sudah datang?” tanya Selene pada salah satu anak buah Shalgie yang tengah menjaga didepan kamar Jollie.

“Sudah didalam ma’am, silahkan masuk,” ucap sang anak buah.

“Thanks,” Selene masuk ke dalam kamar, terlihat isi kamar yang berantakan akibat penangkapan Leona yang sedikit ‘drama’ menurutnya.

Selene melihat Waynne sedang memeriksa keadaan Jollie, “Apa ada luka serius?”

“Sepertinya ada luka dalam dibagian perutnya, Jollie harus ke rumah sakit sekarang biar gue periksa secara mendalam,” ucap Waynne.

“Nggak perlu!” Jollie bangkit dari kasur lalu berjalan perlahan menghampiri Selene.

“Tapi…,” ucapan Selene terpotong akibat Jollie menampar keras pipi kanannya.

“Why?” Jollie menatap Selene dengan mata sembab nya.

Melihat Selene ditampar oleh Jollie, Waynne hendak menghampiri Jollie namun Selene memberi tanda agar Waynne diam, “Apa aku terlihat menyedihkan sampai kamu bertindak sejauh ini?” Jollie meneteskan air matanya.

Selene diam menatap lekat wajah Jollie yang terlihat pucat dan berkeringat, “What do you want from me? Money? Popularity?” tanya Jollie terkekeh pelan.

“Enough, kamu harus ke rumah sakit sekarang,” ucap Selene.

“Answer me!!!” Jollie berteriak pada Selene.

“If you want money and popularity, just kill me! Kill me!!” Jollie menangis sembari memukuli dada Selene.

Selene menarik tangan Jollie lalu mendekap tubuhnya. Jollie memberontak namun seketika tubuh Jollie terkulai lemas. Selene melirik wajah Jollie yang terlihat sangat pucat. Selene panik.

“Jollie? Hey wake up,” ucap Selene seraya menepuk perlahan pipi Jollie, namun tidak ada respon dari Jollie.

“Cepat bawa ke mobil!” ucap Waynne.