noubieau

Welcome to noubie universe.


Seulgi, Jeongyeon, dan Winter mengelilingi rumah mereka, memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam rumah, seperti sedang mencari sesuatu. Ketika Winter menuju dapur untuk mengambil minum, matanya menangkap sosok yang ia kenal berada di halaman belakang.

“Kak!”, Winter memanggil Seulgi dan Jeongyeon yang berada di ruang tamu.

“Apaan?”, tanya Jeongyeon.

“Tuh”, Winter menunjuk seseorang yang sedang duduk di halaman belakang.

“Ayo buru”, ucap Seulgi yang jalan duluan menghampiri orang yang di tunjuk Winter.

Jeongyeon dan Winter mengikuti langkah Seulgi di belakang. Ternyata mereka sedang mencari Taeyeon yang lagi asik bermain game ponsel sembari meminum kopi kesukaannya. Ia tidak menyadari jika Seulgi, Jeongyeon, dan Winter menghampirinya. Seulgi sudah berada di belakang Taeyeon. Jeongyeon berdiri di hadapan Taeyeon. Sedangkan Winter berada di samping. Dengan aba-aba dari Seulgi, Jeongyeon mengambil ponsel Taeyeon.

“Eh! Ngapain?!”, kesal Taeyeon. Tiba-tiba saja Seulgi mencekik leher Taeyeon dengan lengannya dari belakang membuat Taeyeon terkejut bukan main.

“Mama apain Mami?!!”, tanya Jeongyeon.

“Emang mami kenapa??? Lepasin eh apaan sih ini woy!!”, teriak Taeyeon sembari menepuk-nepuk lengan Seulgi yang melingkar erat di lehernya.

“Mama kan yang bikin nangis Mami!! Ngaku nggak!!!”, teriak Seulgi yang semakin mempererat lengannya pada leher Taeyeon.

Mendengar suara kegaduhan di halaman belakang, perasaan Tiffany tidak enak. Segera ia keluar dari kamar dan menuju halaman belakang. Benar saja perasaannya tidak enak, kini ia melihat anak-anak sedang mencekik Taeyeon. Tiffany berlari menghampiri mereka.

“KALIAN NGAPAIN?!!!”, teriak Tiffany.

“Mama kan yang bikin Mami nangis?!”, tanya Seulgi.

“ASTAGAAAAA BUKAN!! LEPASIN ITU MAMA KALIAN KESAKITAN!!”, Tiffany semakin panik melihat Taeyeon di cekik oleh Seulgi.

“Bukan?”, seketika Seulgi melepas lengannya.

“Terus siapa yang bikin Mami nangis?”, tanya Winter.

“Mami nangis gara gara nonton drakor bukan berantem sama Mama kalian! Astagaaaa sayang nggak apa apa?”, Tiffany menghampiri Taeyeon yang lemas terkejut akibat kelakuan anak-anak mereka, lalu memeriksa keadaan Taeyeon.

“Cepet bawa Mama ke kamar!”, ucap Tiffany.

Segera Seulgi dan Jeongyeon menggotong tubuh Taeyeon menuju kamar. Setelah sampai di dalam kamar, Seulgi dan Jeongyeon merebahkan tubuh Taeyeon pada kasur.

“Kalian tuh gimana sih! Kasian Mama tau sampe lemes gini!”, omel Tiffany.

“Hehehe maaf ya Mah”, Seulgi segera mengecup punggung tangan Taeyeon, lalu di ikuti dengan Jeongyeon dan Winter. Hendak ingin memukul kepala mereka bertiga dengan remote TV, Seulgi, Jeongyeon, dan Winter segera kabur keluar dari kamar agar tidak di amuk oleh Taeyeon.

“BOCAH-BOCAH GEBLEK!!! KELUAR LO SEMUA DARI KARTU KELUARGA!!!!!”, teriak Taeyeon.

“Ahhh ahhh aww….”, akibat berteriak kencang, Taeyeon meringis kesakitan pada lehernya.

“Ayang sakit?”, tanya Tiffany yang sedang duduk di sebelah Taeyeon.

“Besok besok kaga ada lagi nonton drama korea!!”, bentak Taeyeon pada Tiffany.

“Maafin aku ayaaaaang, jangan maraaaaaah”, Tiffany memeluk erat tubuh Taeyeon lalu mendusal-dusalkan wajahnya pada dada Taeyeon.


Setelah deal taruhan pada group chat, Jeongyeon dan Winter segera keluar kamar mereka masing-masing lalu menuju kamar Seulgi yang berada di sebelah kamar Winter. Tidak ingin ketahuan oleh orang tua mereka, Jeongyeon dan Winter berjalan mengendap-endap melewati kamar Taeyeon dan Tiffany yang berada di depan kamar Winter. Berhubung kaki Winter masih di perban akibat insiden beberapa hari lalu, ia menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, ia di tinggal duluan oleh Jeongyeon yang sudah berada di depan pintu kamar Seulgi.

Ketika beberapa langkah menuju kamar Seulgi, indra pendengaran nya menangkap suara tangisan yang berasal dari kamar orang tua mereka. Winter berhenti untuk memastikan suara tersebut, dan ternyata benar. Seketika Winter berubah arah menuju pintu kamar orang tua mereka. Jeongyeon yang melihat Winter berubah arah kebingungan.

“Yudi! Ngapain lo?!”, tanya Jeongyeon yang sedikit berbisik-bisik.

Winter menjawab pertanyaan Jengyeon hanya dengan gerakan kepalanya yang mengarah pada pintu kamar orang tua mereka. Setelah cukup berjuang dengan tongkatnya, Winter membuka perlahan pintu di hadapannya, lalu ia mengintip ke dalam kamar. Di dalam kamar Winter melihat Mami Tiffany yang sedang menangis terisak-isak dengan posisi meringkuk di atas kasur memunggunginya.

“Mami?”, tanya Winter yang segera masuk ke dalam kamar dan menghampiri Tiffany.

Mendengar Winter memanggil Tiffany, Jeongyeon memanggil Seulgi untuk mengecek ke kamar Tiffany. Winter berjalan mengitari kasur untuk berada di hadapan Tiffany. Tak lama Jeongyeon dan Seulgi masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Tiffany yang masih saja menangis tersedu-sedu dan tidak ingin menatap anak-anaknya yang sudah mengumpul mengelilingi dirinya.

“Mami kok nangis?”, tanya Seulgi sembari mengusap lembut kepala Tiffany.

“Mami kenapa?”, tanya Jeongyeon yang sedang duduk didekat kaki Tiffany.

“Mami nangis gara gara aku?”, tanya Winter yang di jawab gelengan kepala oleh Tiffany.

“Gara gara aku?”, tanya Jeongyeon Tiffany masih menggelengkan kepalanya.

“Atau gara gara aku?”, kini Seulgi yang bertanya dan masih sama dengan jawaban Winter dan Jeongyeon.

Mereka bertiga saling menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan satu kata pun, seperti mengerti apa yang di maksud oleh mereka, Jeongyeon memberi isyarat gerakan kepala untuk segera keluar dari kamar Tiffany. Seulgi, Jeongyeon, dan Winter segera keluar dari kamar Tiffany. Merasa kamarnya menjadi sepi Tiffany melirik sekitar kamar mencari keberadaan anak-anaknya.

“Kemana mereka?”, ucap Tiffany sedikit lirih dengan mata yang sembab.


“Wah makasih sayangku”, ucap Taeyeon yang melihat sang istri membawakan secangkir kopi dan semangkuk kacang kulit kesukaannya.

“Tumben kamu pulang cepet yang”, Tiffany menaruh gelas kopi dan mangkuk kacang di meja hadapan Taeyeon, lalu ia duduk di sebelah Taeyeon.

“Dibilang aku kangen banget sama istri aku yang paling cantik ini”, Taeyeon tiba-tiba saja mengecup bibir Tiffany.

“Gombal banget sih”, keluh Tiffany yang salah tingkah akibat perlakuan Taeyeon padanya, dan seketika pipinya terasa panas.

“Beneran sayang hehe”, Taeyeon mengambil beberapa kacang lalu memakannya dengan membuka terlebih dahulu cangkang kulitnya.

“Pada kemana sih tuh trio wek wek? Tumben banget pada nggak nagih jalan jalan”, tanya Taeyeon penasaran.

“Nggak tau tuh nggak bilang ke aku mau nonton kembang apinya dimana, bosen kali mereka jalan jalan, paling juga antara di rumahnya irene, nayeon, atau nggak karina”, jelas Tiffany yang matanya fokus pada layar TV yang berukuran 60 inch, tangannya terus saja menekan tombol channel untuk mencari channel yang seru.

“Dasar bucin”, ucap Taeyeon yang masih asik makan kacang.

“Kaya yang nggak aja kamu”, Tiffany memutarkan matanya jengah.

'kriiiiiiiiiiingg~’ ‘kriiiiiiiiiiingg~

“Yang angkat gih”, perintah Taeyeon pada Tiffany.

“Siapa sih telepon jam segini, ganggu aja”, protes Tiffany.

Dengan berat hati Tiffany mengangkat telp rumah yang berdering berada di meja kecil sebelah sofa yang sedang Tiffany dan Taeyeon duduki.

“Halo”, ucap Tiffany ketika pesawat telp sudah menempel pada kupingnya.

“Iya selamat malam, iya betul dengan saya sendiri, maaf dengan siapa ini ya?”, tanya Tiffany.

“Iya betul, ada apa ya pak?”, seketika raut wajah Tiffany berubah menjadi serius seraya melirik ke arah Taeyeon yang masih asik menonton TV dan memakan kacang.

“Yang bener pak?! Bukan penipuan kan ini?!”, Taeyeon yang hendak meminum kopi, seketika kopi tersebut tumpah mengenai pahanya akibat tangan Tiffany yang menepuk-nepuk lengan Taeyeon dengan sedikit keras.

“ANYING PANAS! PANAS!”, Taeyeon panik karena kopi panasnya tumpah mengenai pahanya.

“Iya pak saya segera kesana! Terima kasih pak atas infonya, selamat malam”, Tiffany menutup telp.

“Apa sih yang panik gitu, kopi aku jadi tumpah, panas banget ini”, omel Taeyeon pada Tiffany seraya tangannya membersihkan pahanya menggunakan tissue.

“Yang cepet yang ke kantor polisi!!”, ucap Tiffany panik.

“Ngapain?”

“Winter yang!! Katanya kena petasan!!”

“Lah kok ada di kantor polisi?”

“Banyak nanya ya kamu! Anak kamu itu lagi kesakitan di kantor polisi pula!!”

“Bener bener ya nggak bisa gitu tentram sehari”


“Wah makasih sayangku”, ucap Taeyeon yang melihat sang istri membawakan secangkir kopi dan semangkuk kacang kulit kesukaannya.

“Tumben kamu pulang cepet yang”, Tiffany menaruh gelas kopi dan mangkuk kacang di meja hadapan Taeyeon, lalu ia duduk di sebelah Taeyeon.

“Dibilang aku kangen banget sama istri aku yang paling cantik ini”, Taeyeon tiba-tiba saja mengecup bibir Tiffany.

“Gombal banget sih”, keluh Tiffany yang salah tingkah akibat perlakuan Taeyeon padanya, dan seketika pipinya terasa panas.

“Beneran sayang hehe”, Taeyeon mengambil beberapa kacang lalu memakannya dengan membuka terlebih dahulu cangkang kulitnya.

“Pada kemana sih tuh trio wek wek? Tumben banget pada nggak nagih jalan jalan”, tanya Taeyeon penasaran.

“Nggak tau tuh nggak bilang ke aku mau nonton kembang apinya dimana, bosen kali mereka jalan jalan, paling juga antara di rumahnya irene, nayeon, atau nggak karina”, jelas Tiffany yang matanya fokus pada layar TV yang berukuran 60 inch, tangannya terus saja menekan tombol channel untuk mencari channel yang seru.

“Dasar bucin”, ucap Taeyeon yang masih asik makan kacang.

“Kaya yang nggak aja kamu”, Tiffany memutarkan matanya jengah.

'kriiiiiiiiiiingg~’ ‘kriiiiiiiiiiingg~

“Yang angkat gih”, perintah Taeyeon pada Tiffany.

“Siapa sih telepon jam segini, ganggu aja”, protes Tiffany.

Dengan berat hati Tiffany mengangkat telp rumah yang berdering berada di meja kecil sebelah sofa yang sedang Tiffany dan Taeyeon duduki.

“Halo”, ucap Tiffany ketika pesawat telp sudah menempel pada kupingnya.

“Iya selamat malam, iya betul dengan saya sendiri, maaf dengan siapa ini ya?”, tanya Tiffany.

“Iya betul, ada apa ya pak?”, seketika raut wajah Tiffany berubah menjadi serius seraya melirik ke arah Taeyeon yang masih asik menonton TV dan memakan kacang.

“Yang bener pak?! Bukan penipuan kan ini?!”, Taeyeon yang hendak meminum kopi, seketika kopi tersebut tumpah mengenai pahanya akibat tangan Tiffany yang menepuk-nepuk lengan Taeyeon dengan sedikit keras.

“ANYING PANAS! PANAS!”, Taeyeon panik karena kopi panasnya tumpah mengenai pahanya.

“Iya pak saya segera kesana! Terima kasih pak atas infonya, selamat malam”, Tiffany menutup telp.

“Apa sih yang panik gitu, kopi aku jadi tumpah, panas banget ini”, omel Taeyeon pada Tiffany seraya tangannya membersihkan pahanya menggunakan tissue.

“Yang cepet yang ke kantor polisi!!”, ucap Tiffany panik.

“Ngapain?”

“Winter yang!! Katanya kena petasan!!”

“Lah kok ada di kantor polisi?”

“Banyak nanya ya kamu! Anak kamu itu lagi kesakitan di kantor polisi pula!!”

“Bener bener ya nggak bisa gitu tentram sehari”


Mendapat pesan singkat dari Jennie, Rose segera menyelesaikan pekerjaannya, dan segera pulang. Perasaannya mengatakan kalau Jennie akan membahas perihal vas bunga miliknya yang di beli pada pelelangan yang di selenggarakan di Italia. Selama perjalanan Rose merasakan badannya sangat gerah, padahal AC pada mobilnya terasa dingin. Rose meminta sang supir untuk menaikkan suhu AC pada mobilnya.

Setelah berjuang pada suhu di dalam mobil, akhirnya Rose sampai di rumahnya. Segera ia masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang istri. Rose sempat bertanya pada maid yang bekerja di rumahnya dimana Jennie, dan maid mengatakan Jennie sedang berada di dalam kamar. Tidak ingin membuat sang istri menunggu lama, ia segera menuju ke kamar. Saat pintu di buka, ia melihat Jennie sedang duduk di atas kasur sambil mensenderkan tubuhnya pada headboard.

Jennie melihat Rose yang sudah pulang lalu menyuruhnya untuk duduk di hadapannya tanpa berkata satu kata pun hanya memberikan isyarat menggunakan dagu dan matanya. Rose menelan ludahnya. ‘Alamat tidur di luar lagi…’ batinnya. Kini Rose sudah duduk di hadapan Jennie sang istri tercinta.

“Hi sayang… Kamu mau ngomongin apa?”, ucap Rose dengan berhati-hati.

“Buka”, Jennie memberikan sebuah kotak kecil yang membuat Rose kebingungan.

“Apa ini?”, tanya Rose yang mengambil kotak pemberian Jennie.

“Banyak nanya ih!”, protes Jennie.

“Hehe maaf sayang, aku buka ya”, Rose membuka perlahan kotak tersebut.

Di dalam terdapat 2 alat kecil, baju bayi, dan kaos kaki bayi. Rose berpikir sejenak. Matanya terfokus kan pada tulisan di sebuah alat yang bernama testpack. Tulisan tersebut menampilkan tanda positif. Rose menatap Jennie dan testpack bergantian. Rose tidak bisa berkata apapun, bibirnya sangat sulit untuk berbicara.

“Kok kamu kaya nggak seneng gitu sih?”, tanya Jennie yang kecewa melihat reaksi Rose biasa saja.

“Aku… aku nggak tau mau ngomong apa…”, Rose menatap Jennie. Jennie terkejut melihat mata Rose yang sudah berkaca kaca.

“Kok kamu nangis”, Jennie menangkup kedua pipi Rose dan menghapus air mata Rose yang terjatuh pada pipinya. Tak ingin berlarut, Rose menarik tubuh Jennie kedalam pelukan nya. Ia memeluk Jennie dengan erat.

“Makasih sayang… aku seneng banget…”, ucap Rose lirih.

“Hehe aku juga seneng banget akhirnya aku bisa hamil juga”, Jennie mendusalkan wajahnya pada bahu Rose. Tak lama Jennie mendorong pelan tubuh Rose dan menatapnya.

“Ayo say hi sama little baby”, Jennie sedikit mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya yang masih terlihat rata.

“Halo little baby, welcome to mommy’s tummy”, Rose mengecup beberapa kali perut sang istri. Kecupan Rose membuat Jennie sedikit menggeliat geli.

“Hi… umm nanti baby manggil kamu apa ya?”, tanya Jennie.

“Kamu mami, aku mama”, jawab Rose yang masih fokus pada perut Jennie dengan sesekali ia menggosokan hidungnya pada perut Jennie.

“Hi mama! Jangan ngeselin tiap hari ya!”, Jennie meniru kan suara baby.

“Hahaha iya sayang mama janji!”, Rose membenarkan baju Jennie dan menarik dagu Jennie, lalu ia mengecup bibirnya.

“Kamu bau…”, ucap Jennie.

“Kan belom mandi hehe”, ucap Rose.

“Oh iya aku mau nanya, kamu liat vas bunga aku nggak yang waktu itu beli di Italia, aku mau ganti bunganya tapi kok ilang sih”, DEG! Rose diam seketika.

“Umm nggak tau, aku mandi dulu ya”, melihat tingkah Rose yang berubah, Jennie memincingkan matanya menatap Rose curiga. Saat Rose ingin bangkit dari kasur, dengan cepat Jennie menarik kerah kemeja belakang Rose.

“Mau kemana?”, Jennie menatap Rose dengan tatapan membunuh.

“A-aku mau mandi yang”, jawab Rose dengan terbata-bata.

“Dimana vas bunga aku?”, tanya Jennie.

“Ada kok ada!”, Rose tidak berani menatap wajah sang istri.

“D.I.M.A.N.A?”, tanya Jennie kembali membuat bulu kuduk Rose meremang.

“Ada yang di tong sampah… Maafin aku… tadi pagi nggak sengaja kesenggol pas lagi ambil tas… Aku janji bakal ganti vasnya…”, Rose memohon ampun pada Jennie.

“Keluar…”, Jennie melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Rose.

“Ampun yang jangan usir aku…”, Rose membalik badannya dan memohon mohon pada Jennie dengan menciumi punggung tangan Jennie.

“Keluar ish!! Kamu bau! Aku mau rapihin kasur”, Rose seketika menatap Jennie tidak percaya. Apakah ia tidak di usir?

“Jadi aku nggak di usir?”, tanya Rose.

“Kali ini aku maafin, lagian aku juga udah bosen sama modelnya”, jawab Jennie.

“YES! Makasih sayang, aku sayang banget sama kamu”, Rose mengecupi beberapa kali pipi Jennie.

“Ish udah sana bau!”, Jennie mendorong badan Rose.

Merasa senang karena tidak di usir oleh Jennie, Rose bersenandung seraya berjalan menuju lemari untuk menaruh perhiasan yang ia pakai. Saat ia membuka lemari, sebuah benda terjatuh dari dalam lemari, dan menimbulkan suara pecahan beling yang begitu nyaring. Saat di lihat ternyata botol perfume milik Jennie. Rose terkejut dan menatap pecahan botol yang berada di lantai. Jennie melihat ke arah Rose dengan tatapan sulit di artikan.

“Keluar kamu PARK CHAEYOUNG!!”, kini Jennie sudah hilang kesabaran.

“Bukan aku yang sumpah itu jatuh sendiri!”, jelas Rose.

“KELUAAAAR!!”, Jennie melemparkan bantal pada Rose.

“Ampun yaaaaang”, Dengan cepat Rose menghindar dan segera keluar dari kamar sebelum dirinya menjadi sasaran empuk benda melayang.


Mendapat pesan singkat dari Jennie, Rose segera menyelesaikan pekerjaannya, dan segera pulang. Perasaannya mengatakan kalau Jennie akan membahas perihal vas bunga miliknya yang di beli pada pelelangan yang di selenggarakan di Italia. Selama perjalanan Rose merasakan badannya sangat gerah, padahal AC pada mobilnya terasa dingin. Rose meminta sang supir untuk menaikkan suhu AC pada mobilnya.

Setelah berjuang pada suhu di dalam mobil, akhirnya Rose sampai di rumahnya. Segera ia masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang istri. Rose sempat bertanya pada maid yang bekerja di rumahnya dimana Jennie, dan maid mengatakan Jennie sedang berada di dalam kamar. Tidak ingin membuat sang istri menunggu lama, ia segera menuju ke kamar. Saat pintu di buka, ia melihat Jennie sedang duduk di atas kasur sambil mensenderkan tubuhnya pada headboard.

Jennie melihat Rose yang sudah pulang lalu menyuruhnya untuk duduk di hadapannya tanpa berkata satu kata pun hanya memberikan isyarat menggunakan dagu dan matanya. Rose menelan ludahnya. ‘Alamat tidur di luar lagi…’ batinnya. Kini Rose sudah duduk di hadapan Jennie sang istri tercinta.

“Hi sayang… Kamu mau ngomongin apa?”, ucap Rose dengan berhati-hati.

“Buka”, Jennie memberikan sebuah kotak kecil yang membuat Rose kebingungan.

“Apa ini?”, tanya Rose yang mengambil kotak pemberian Jennie.

“Banyak nanya ih!”, protes Jennie.

“Hehe maaf sayang, aku buka ya”, Rose membuka perlahan kotak tersebut.

Di dalam terdapat 2 alat kecil, baju bayi, dan kaos kaki bayi. Rose berpikir sejenak. Matanya terfokus kan pada tulisan di sebuah alat yang bernama testpack. Tulisan tersebut menampilkan tanda positif. Rose menatap Jennie dan testpack bergantian. Rose tidak bisa berkata apapun, bibirnya sangat sulit untuk berbicara.

“Kok kamu kaya nggak seneng gitu sih?”, tanya Jennie yang kecewa melihat reaksi Rose biasa saja.

“Aku… aku nggak tau mau ngomong apa…”, Rose menatap Jennie. Jennie terkejut melihat mata Rose yang sudah berkaca kaca.

“Kok kamu nangis”, Jennie menangkup kedua pipi Rose dan menghapus air mata Rose yang terjatuh pada pipinya. Tak ingin berlarut, Rose menarik tubuh Jennie kedalam pelukan nya. Ia memeluk Jennie dengan erat.

“Makasih sayang… aku seneng banget…”, ucap Rose lirih.

“Hehe aku juga seneng banget akhirnya aku bisa hamil juga”, Jennie mendusalkan wajahnya pada bahu Rose. Tak lama Jennie mendorong pelan tubuh Rose dan menatapnya.

“Ayo say hi sama little baby”, Jennie sedikit mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya yang masih terlihat rata.

“Halo little baby, welcome to mommy’s tummy”, Rose mengecup beberapa kali perut sang istri. Kecupan Rose membuat Jennie sedikit menggeliat geli.

“Hi… umm nanti baby manggil kamu apa ya?”, tanya Jennie.

“Kamu mami, aku mama”, jawab Rose yang masih fokus pada perut Jennie dengan sesekali ia menggosokan hidungnya pada perut Jennie.

“Hi mama! Jangan ngeselin tiap hari ya!”, Jennie meniru kan suara baby.

“Hahaha iya sayang mama janji!”, Rose membenarkan baju Jennie dan menarik dagu Jennie, lalu ia mengecup bibirnya.

“Kamu bau…”, ucap Jennie.

“Kan belom mandi hehe”, ucap Rose.

“Oh iya aku mau nanya, kamu liat vas bunga aku nggak yang waktu itu beli di Italia, aku mau ganti bunganya tapi kok ilang sih”, DEG! Rose diam seketika.

“Umm nggak tau, aku mandi dulu ya”, melihat tingkah Rose yang berubah, Jennie memincingkan matanya menatap Rose curiga. Saat Rose ingin bangkit dari kasur, dengan cepat Jennie menarik kerah kemeja belakang Rose.

“Mau kemana?”, Jennie menatap Rose dengan tatapan membunuh.

“A-aku mau mandi yang”, jawab Rose dengan terbata-bata.

“Dimana vas bunga aku?”, tanya Jennie.

“Ada kok ada!”, Rose tidak berani menatap wajah sang istri.

“D.I.M.A.N.A?”, tanya Jennie kembali membuat bulu kuduk Rose meremang.

“Ada yang di tong sampah… Maafin aku… tadi pagi nggak sengaja kesenggol pas lagi ambil tas… Aku janji bakal ganti vasnya…”, Rose memohon ampun pada Jennie.

“Keluar…”, Jennie melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Rose.

“Ampun yang jangan usir aku…”, Rose membalik badannya dan memohon mohon pada Jennie dengan menciumi punggung tangan Jennie.

“Keluar ish!! Kamu bau! Aku mau rapihin kasur”, Rose seketika menatap Jennie tidak percaya. Apakah ia tidak di usir?

“Jadi aku nggak di usir?”, tanya Rose.

“Kali ini aku maafin, lagian aku juga udah bosen sama modelnya”, jawab Jennie.

“YES! Makasih sayang, aku sayang banget sama kamu”, Rose mengecupi beberapa kali pipi Jennie.

“Ish udah sana bau!”, Jennie mendorong badan Rose.

Merasa senang karena tidak di usir oleh Jennie, Rose bersenandung seraya berjalan menuju lemari untuk menaruh perhiasan yang ia pakai. Saat ia membuka lemari, sebuah benda terjatuh dari dalam lemari, dan menimbulkan suara pecahan beling yang begitu nyaring. Saat di lihat ternyata botol perfume milik Jennie. Rose terkejut dan menatap pecahan botol yang berada di lantai. Jennie melihat ke arah Rose dengan tatapan sulit di artikan.

“Keluar kamu PARK CHAEYOUNG!!”, kini Jennie sudah hilang kesabaran.

“Bukan aku yang sumpah itu jatuh sendiri!”, jelas Rose.

“KELUAAAAR!!”, Jennie melemparkan bantal pada Rose.

“Ampun yaaaaang”, Dengan cepat Rose menghindar dan segera keluar dari kamar sebelum dirinya menjadi sasaran empuk benda melayang.


Mendapat pesan singkat dari Jennie, Rose segera menyelesaikan pekerjaannya, dan segera pulang. Perasaannya mengatakan kalau Jennie akan membahas perihal vas bunga miliknya yang di beli pada pelelangan yang di selenggarakan di Italia. Selama perjalanan Rose merasakan badannya sangat gerah, padahal AC pada mobilnya terasa dingin. Rose meminta sang supir untuk menaikkan suhu AC pada mobilnya.

Setelah berjuang pada suhu di dalam mobil, akhirnya Rose sampai di rumahnya. Segera ia masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang istri. Rose sempat bertanya pada maid yang bekerja di rumahnya dimana Jennie, dan maid mengatakan Jennie sedang berada di dalam kamar. Tidak ingin membuat sang istri menunggu lama, ia segera menuju ke kamar. Saat pintu di buka, ia melihat Jennie sedang duduk di atas kasur sambil mensenderkan tubuhnya pada headboard.

Jennie melihat Rose yang sudah pulang lalu menyuruhnya untuk duduk di hadapannya tanpa berkata satu kata pun hanya memberikan isyarat menggunakan dagu dan matanya. Rose menelan ludahnya. ‘Alamat tidur di luar lagi…’ batinnya. Kini Rose sudah duduk di hadapan Jennie sang istri tercinta.

“Hi sayang… Kamu mau ngomongin apa?”, ucap Rose dengan berhati-hati.

“Buka”, Jennie memberikan sebuah kotak kecil yang membuat Rose kebingungan.

“Apa ini?”, tanya Rose yang mengambil kotak pemberian Jennie.

“Banyak nanya ih!”, protes Jennie.

“Hehe maaf sayang, aku buka ya”, Rose membuka perlahan kotak tersebut.

Di dalam terdapat 2 alat kecil, baju bayi, dan kaos kaki bayi. Rose berpikir sejenak. Matanya terfokus kan pada tulisan di sebuah alat yang bernama testpack. Tulisan tersebut menampilkan tanda positif. Rose menatap Jennie dan testpack bergantian. Rose tidak bisa berkata apapun, bibirnya sangat sulit untuk berbicara.

“Kok kamu kaya nggak seneng gitu sih?”, tanya Jennie yang kecewa melihat reaksi Rose biasa saja.

“Aku… aku nggak tau mau ngomong apa…”, Rose menatap Jennie. Jennie terkejut melihat mata Rose yang sudah berkaca kaca.

“Kok kamu nangis”, Jennie menangkup kedua pipi Rose dan menghapus air mata Rose yang terjatuh pada pipinya. Tak ingin berlarut, Rose menarik tubuh Jennie kedalam pelukan nya. Ia memeluk Jennie dengan erat.

“Makasih sayang… aku seneng banget…”, ucap Rose lirih.

“Hehe aku juga seneng banget akhirnya aku bisa hamil juga”, Jennie mendusalkan wajahnya pada bahu Rose. Tak lama Jennie mendorong pelan tubuh Rose dan menatapnya.

“Ayo say hi sama little baby”, Jennie sedikit mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya yang masih terlihat rata.

“Halo little baby, welcome to mommy’s tummy”, Rose mengecup beberapa kali perut sang istri. Kecupan Rose membuat Jennie sedikit menggeliat geli.

“Hi… umm nanti baby manggil kamu apa ya?”, tanya Jennie.

“Kamu mami, aku mama”, jawab Rose yang masih fokus pada perut Jennie dengan sesekali ia menggosokan hidungnya pada perut Jennie.

“Hi mama! Jangan ngeselin tiap hari ya!”, Jennie meniru kan suara baby.

“Hahaha iya sayang mama janji!”, Rose membenarkan baju Jennie dan menarik dagu Jennie, lalu ia mengecup bibirnya.

“Kamu bau…”, ucap Jennie.

“Kan belom mandi hehe”, ucap Rose.

“Oh iya aku mau nanya, kamu liat vas bunga aku nggak yang waktu itu beli di Italia, aku mau ganti bunganya tapi kok ilang sih”, DEG! Rose diam seketika.

“Umm nggak tau, aku mandi dulu ya”, melihat tingkah Rose yang berubah, Jennie memincingkan matanya menatap Rose curiga. Saat Rose ingin bangkit dari kasur, dengan cepat Jennie menarik kerah kemeja belakang Rose.

“Mau kemana?”, Jennie menatap Rose dengan tatapan membunuh.

“A-aku mau mandi yang”, jawab Rose dengan terbata-bata.

“Dimana vas bunga aku?”, tanya Jennie.

“Ada kok ada!”, Rose tidak berani menatap wajah sang istri.

“D.I.M.A.N.A?”, tanya Jennie kembali membuat bulu kuduk Rose meremang.

“Ada yang di tong sampah… Maafin aku… tadi pagi nggak sengaja kesenggol pas lagi ambil tas… Aku janji bakal ganti vasnya…”, Rose memohon ampun pada Jennie.

“Keluar…”, Jennie melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Rose.

“Ampun yang jangan usir aku…”, Rose membalik badannya dan memohon mohon pada Jennie dengan menciumi punggung tangan Jennie.

“Keluar ish!! Kamu bau! Aku mau rapihin kasur”, Rose seketika menatap Jennie tidak percaya. Apakah ia tidak di usir?

“Jadi aku nggak di usir?”, tanya Rose.

“Kali ini aku maafin, lagian aku juga udah bosen sama modelnya”, jawab Jennie.

“YES! Makasih sayang, aku sayang banget sama kamu”, Rose mengecupi beberapa kali pipi Jennie.

“Ish udah sana bau!”, Jennie mendorong badan Rose.

Merasa senang karena tidak di usir oleh Jennie, Rose bersenandung seraya berjalan menuju lemari untuk menaruh perhiasan yang ia pakai. Saat ia membuka lemari, sebuah benda terjatuh dari dalam lemari, dan menimbulkan suara pecahan beling yang begitu nyaring. Saat di lihat ternyata botol perfume milik Jennie. Rose terkejut dan menatap pecahan botol yang berada di lantai. Jennie melihat ke arah Rose dengan tatapan sulit di artikan.

“Keluar kamu PARK CHAEYOUNG!!”, kini Jennie sudah hilang kesabaran.

“Bukan aku yang sumpah itu jatuh sendiri!”, jelas Rose.

“KELUAAAAR!!”, Jennie melemparkan bantal pada Rose.

“Ampun yaaaaang”, Dengan cepat Rose menghindar dan segera keluar dari kamar sebelum dirinya menjadi sasaran empuk benda melayang.


Setelah menyantap sarapan buatan Seulgi. Kini Irene yang merapihkan meja makan dan mencuci piring kotor. Sedari tadi Irene hanya diam setelah Seulgi membantunya untuk mengingat kejadian semalam. Entah apa yang ia pikirkan namun berhasil membuat Seulgi sedikit kecewa. Gara-gara Irene semalam, membuat pertahanan Seulgi yang selama ini bangun hancur dalam semalam. Tapi kali ini ia tidak mau memberi batas lagi. Ia akan maju. Seperti yang Irene minta semalam di mobil. Seulgi menghampiri Irene yang masih sibuk mencuci piring. Dipeluk nya pinggang Irene dari belakang. Irene membeku seketika. Seulgi menopang kan dagu nya pada bahu Irene.

“G-gi… ngapain lo?”, ucap Irene terbata-bata.

“Nemenin lo cuci piring”, jawab Seulgi pelan namun berhasil membuat bulu halus Irene meremang.

“Lepasin Gi, gue gak fokus”, merasa risih Irene sedikit bergerak dan mencoba melepaskan lengan Seulgi yang melingkar erat pada tubuhnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Seulgi melepaskan tangannya pada tubuh Irene. Hendak bernapas lega, kini ia di kejut kan kembali oleh Seulgi yang membalikkan badannya lalu mengangkat tubuhnya untuk di dudukan pada kitchen set. Seulgi mengelap tangan Irene yang masih penuh dengan busa sabun.

“Suruh maid lo aja yang cuci piring nanti”, ucap Seulgi yang kini menatap lekat mata hazel milik Irene.

“G-Gi lo ngapain sih, pake baju sana!”, ucap Irene dengan nada kesal.

“Yaudah lepas baju lo”, ucap Seulgi yang mendapatkan tamparan keras dari Irene.

“Mesum!!”, kesal Irene.

“Kok gue di tampar sih? Itu baju gue kan!”, kesal Seulgi.

“T-Tapikan gak buka baju juga depan lo!”, elak Irene.

“Ngapain malu, orang gue udah liat semua semalem”, Irene terdiam. Seulgi mendekatkan wajahnya pada wajah Irene dan menatapnya dengan lekat.

“Gue gak akan mundur kali ini, lo jangan kabur, lo harus tanggung jawab”, ucap Seulgi pelan yang berhasil membuat Irene merinding mendengarnya.

“Tanggung jawab apaan?”, tanya Irene bingung.

“Tanggung jawab bikin pertahanan gue hancur dalam semalam, gue capek bangunnya lagi, jadi sekarang lo gak boleh kabur dari gue”, jelas Seulgi.

“Tap…”, belum melanjutkan protes nya, Seulgi melumat bibir Irene.

Batinnya ingin menolak ciuman Seulgi, namun bibirnya berkata lain. Irene membalas lumatan Seulgi. Mendapat balasan, Seulgi semakin melumat bibir Irene dengan tangannya meraba-raba pahanya yang tidak tertutup dengan baju. Irene sedikit kewalahan mengimbangi ciuman Seulgi, tangannya mendorong bahu Seulgi agar terlepas dari tautan bibirnya. Irene mengatur napasnya seraya menunduk malu. Seulgi menatap wajah Irene.

“Kenapa hm?”, ucap Seulgi dengan lembut, tangannya mengusap lembut pipi Irene.

“Gimana sama yang lain?”, Irene memberanikan diri untuk menatap Seulgi.

“I don’t care”, Seulgi masih menatap Irene dengan lekat. Sesekali dirinya mengecup bibir Irene.

“Tapi gimana sama Wen..”.

“Be mine”.

“Huh?”.

[1] “Be my summer in a winter day love, I can’t see one thing wrong, between the both of us, be mine, be mine~”, Irene tidak dapat menahan senyuman nya yang mengembang setelah mendengar lirik lagu yang di nyanyi kan Seulgi dengan merdu.

[2] “Got everyone watching us, so baby let’s keep it secret, a little bit scandalous, but baby don’t let them see it, a little less conversation and a little more touch my body, cause I’m so into you, into you, into you~~”, Irene membalas dengan nyanyian sebuah lirik. Seulgi mengerti yang di maksud Irene, lalu ia mencium kembali bibir Irene dengan lembut. Irene memeluk leher Seulgi dengan erat seraya membalas ciuman Seulgi. Keduanya kini melepaskan tautan bibir mereka perlahan dan menempelkan kening mereka satu sama lain.

“I love you Bae Irene”.

“I love you more Kang Seulgi”.

“Ayo mandi, kita ada kelas jam 10”.

“Mandiin~”.

“Jangan salahin aku kalo nanti telat masuk”.

“Hahahaha bercanda Seulgi!”.


[1] : Falling All in You – Shawn Mendes [2] : Into You – Ariana Grande


Langit di pagi hari ini sangatlah gelap, tidak ada satupun cahaya matahari yang keluar dari celah celah awan. Satu dua rintik hujan sudah muncul mengenai jendela. Tidak lama kemudian menjadi ribuan rintik hujan yang turun secara bersamaan membasahi seluruh ibu kota. Tentu saja cuaca seperti ini membuat seseorang yang berada di balik selimut semakin tidak ingin terbangun dari zona nyaman nya. Namun ada sesuatu yang membuat tidur nyaman nya terusik, sebuah aroma makanan yang begitu lezat memasuki indera penciuman nya.

Ia membuka matanya dan melirik sekitar kamarnya yang masih gelap akibat gorden kamarnya yang masih tertutup. Ah mungkin saja ia bermimpi, pikirnya. Tapi matanya tertuju pada pintu kamarnya yang terbuka lebar. Kapan dirinya membuka pintu kamarnya? Apakah ia sempat terbangun? Atau ada orang yang masuk ke dalam apartemen nya?!. Segera ia bangkit dari tidurnya dan segera untuk turun dari kasur. Aktivitasnya terhenti saat ia menatap cermin yang berada di hadapannya. Ia melihat tubuhnya yang tidak memakai satu helai pakaian. ‘Oh shit!’ batinnya. Dengan panik nya ia mencari baju miliknya, yang ia temukan hanya kaos hitam besar yang berada di bawah tubuhnya, sepertinya baju tersebut sudah ada dari semalam. Tanpa pikir panjang ia memakainya. Sedikit kebesaran sampai menutupi setengah pahanya.

Langkahnya bergerak perlahan menuju dapur dimana ia melihat seseorang yang sedang memasak dalam keadaan hanya menggunakan sport bra dan celana jeans. Ia semakin ketakutan. ‘Siapa dia?’ pikirnya. Matanya mencari sebuah benda untuk melindungi dirinya, dan berakhir pada sebuah payung besar yang berada di sebelah sofa. Segera ia ambil dan menghampiri orang tersebut. Kini jarak mereka hanya ada 1,5 meter. Tangannya sudah siap untuk memukul orang misterius di hadapannya, namun ia di kejut kan saat orang tersebut berbalik badan dan menatapnya dengan heran.

“Ngapain?”, tanyanya dengan tenang.

“SEULGI!! NGAPAIN LO DISINI?! TERUS KENAPA LO GAK PAKE BAJU HEH?!!”, tanya Irene yang begitu panik melihat Seulgi berada di apartemen nya pagi hari.

“Masak, itu bajunya lo pake”, Seulgi menyelesaikan aktivitasnya dan menyiapkan sarapan pada meja makan. Irene hanya terdiam mematung. Bagaimana bisa.

“Mikirnya nanti aja, ayo sarapan dulu”, Seulgi menghampiri Irene dan mengambil payung yang berada di tangan Irene.


Terlihat empat orang yang sedang tertawa terbahak bahak sedang berkumpul memainkan sebuah permainan Spill or Drink. Sebuah botol akan di putar untuk menentukan siapa yang akan di beri sebuah pertanyaan, dan orang tersebut bebas untuk memilih akan menjawab pertanyaan tersebut atau akan meminum segelas alkohol dengan sekali teguk.

Irene dan Hojung terlihat sudah tidak karuan saat berbicara. Mereka sudah mabuk karena terlalu banyak memilih Drink di bandingkan Spill. Berbeda dengan Seulgi dan Wendy, mereka selalu menjawab pertanyaan yang di berikan, namun ada beberapa memilih untuk minum.

“Ayo puter lagi!” ucap Hojung dengan wajah teler nya.

“Ayo ayo ayo…” seru Irene.

“Hahaha udah mabok mereka gi…” Wendy tertawa melihat tingkah kedua temannya yang sudah tidak karuan.

“Ayoooo ih puter Weeeeenn… kan tadi lo yang kena…” protes Irene yang memasang wajah cemberut nya membuat Irene terlihat menggemaskan bagi Wendy dan Seulgi. Tentu saja bagi yang masih sadar.

“Hahaha iya iya ini gue puter” Wendy memutar kan botol yang berada di lantai tersebut. Mereka berempat mengamati pergerakan botol tersebut untuk mengetahui ke arah mana botol tersebut berhenti. Setelah menunggu sedikit waktu, ujung botol kini mengarah pada Irene.

“Ih gue muluuuuu….” Irene memanyunkan bibirnya kesal karena selalu dirinya yang kena.

“Kacau sih sampe lo milih drink lagi rene” ucap Seulgi sedikit khawatir.

“Nggak apa apa Gi, gue kuat hehe… Ayo siapa yang mau nanya gue?” ucap Irene.

“Di antara kita bertiga, siapa yang pengen banget lo cium rene dan kenapa? Spill or Drink?” tanya Wendy.

“Kita? Bertiga? Cium? Huummm… Spill!” seketika raut wajah Irene berubah menjadi serius dan menatap satu persatu wajah Wendy, Seulgi, dan Hojung.

“Siapa rene?” tanya Seulgi penasaran.

Sedikit sempoyongan Irene menghampiri Seulgi dengan merangkak. Jantung Seulgi sudah tidak karuan akibat Irene menghampiri dirinya. Irene menatap lekat wajah Seulgi sedikit lama. Seulgi menelan ludahnya. Kenapa Irene menatapnya begitu. Namun tiba tiba Irene berbelok arah menuju Hojung yang sedang bersandar pada sofa. Irene mengecup pipi Hojung dengan lama. Hojung mematung. Bagaimana dengan Seulgi? Kecewa? Tentu. Cemburu? Jelas.

“OMAIGAT! Aku loyo guys…” seru Hojung yang seketika tepar di lantai akibat Irene menciumnya secara tiba tiba dan tentu dari pengaruh alkohol juga.

“Hehehe alesannya gemes soalnya” jawab Irene.

“HAHAHA langsung tepar anjir si juju” Wendy menertawakan Hojung yang sudah hilang kesadarannya.

“Udahan ayo, liat udah makin gak bener si Irene” celetuk Seulgi.

“Lo nginep gak Gi?” tanya Wendy.

“Engga Wen, gue balik aja deh” Seulgi berdiri. Kepalanya sudah terasa sedikit pusing. Sudah lama sekali dirinya tidak minum alkohol.

“Mau kemanaaaa? Ikuuuuut” rengek Irene pada Seulgi.

“Ikut kemana? Gue mau balik Rene” Seulgi mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.

“Iiiiihhh ikuuuttttt… ikuuuut” Irene semakin merengek seperti anak kecil yang ingin ikut dengan orang tuanya.

“Anterin balik deh Gi, makin kacau haha” ucap Wendy.

“Tau gitu gak usah ikut lo Rene… yaudah ayo, tapi lo balik ke apart lo” ucap Seulgi pasrah.

“Hehehe gendong” Irene merentangkan kedua tangannya pada Seulgi.

“Berat ah jalan buru” Seulgi bantu Irene untuk berdiri.

“Wendy hnggg…” Kini Irene kembali merengek pada Wendy dengan mata yang sudah berkaca kaca.

“Kenapa sayang?” tanya Wendy.

“Seulginya nggak mau gendong akuuuuu” adu Irene pada Wendy.

“Gi gendong deh Gi ampe nangis mah berisik anjir malu sama tetangga” Seulgi menghela napas panjang.

“Iya iya di gendong buru naik” kini Seulgi sudah berjongkok di hadapan Irene. Tentu saja Irene senang bukan main. Dengan cepat Irene segera naik ke punggung Seulgi, lalu Seulgi berdiri dengan memegangi kedua kaki Irene agar tidak terjatuh.

“Yeaaay makasih Seulgi” ucap Irene dengan nada manjanya yang berhasil membuat bulu kuduk Seulgi berdiri.

“Dadah Wendy…” Irene melambaikan tangan pada Wendy ketika Seulgi sudah melangkah menuju halaman rumah Wendy. Segera Seulgi memasukkan Irene ke dalam mobil sebelum dirinya berbuat hal yang bikin sakit kepala. Tak lupa Seulgi berpamitan dengan Wendy.


Selama di perjalanan menuju apartemen Irene, Seulgi di buat pusing oleh tingkah Irene yang selalu mengganggu konsentrasi menyetir nya. Dari menanyakan setiap gedung yang di lalui hingga memainkan kaca mobil milik Seulgi naik dan turun. Seulgi paling tidak suka jika ada penumpang di mobilnya berperilaku seperti itu. Sebenarnya Irene sudah tau, tapi apakah ia sengaja agar Seulgi marah? Atau memang Irene sudah benar benar di luar kendali?

Setelah berkeliling parkiran untuk mendapatkan parkir dekat dengan lift, akhirnya membuahkan hasil. Seulgi dengan perlahan memarkirkan mobilnya dan hendak mematikan mobilnya, namun Irene memegang lengan Seulgi.

“Kenapa Rene? Mau muntah?” tanya Seulgi yang tidak di jawab oleh Irene melainkan hanya menatap lekat kedua mata Seulgi.

“Kenapa?” tanya Irene.

“Hm? Kenapa apanya?” tanya Seulgi dengan heran.

“Kenapa… lo nggak confess ke gue… kaya Wendyyy… kaya Hojuuung…” Irene memaksakan dirinya untuk fokus.

“Kenapa juga gue harus confess? Gue udah tau jawabannya dan gue sadar diri, jadi temen lo aja gue udah seneng kok” jawab Seulgi.

“Tapi gue mau lo confess ke gueeee” ucap Irene.

“Apa sih lo, udah yuk mabok lo” Seulgi langsung mematikan mesin mobilnya dan segera membuka pintu untuk turun.

Namun lagi lagi Seulgi gagal turun dari mobil karena Irene menarik lengan Seulgi. Saat Seulgi menoleh untuk melontarkan protes nya, tiba tiba saja Irene menarik kedua pipi Seulgi lalu mencium bibirnya. Seulgi membulatkan matanya lebar. Badannya mematung. Irene semakin melumat bibir Seulgi yang masih saja diam tidak membalas ciuman Irene. Perlahan Irene menjauhkan wajahnya lalu menatap kedua mata monolid Seulgi.

“I want you, I’m so into you” ucap Irene pelan namun masih dapat di dengar oleh Seulgi.