7 January 2022 – 7.30 PM
Aroma cat yang sangat kuat memasuki indera penciuman. Banyaknya tumpukan kardus yang berisikan barang-barang yang hampir tergeletak di seluruh ruangan pada rumah yang baru di tempati. Tidak begitu besar namun nyaman untuk sebuah keluarga kecil yang tinggal disana. Rumah tersebut baru saja selesai dibangun. Sang pemilik rumah akhirnya dapat menempati rumah baru mereka. Namun butuh waktu untuk menikmatinya. Karena harus menata ulang barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam kardus.
Seorang wanita terlihat sangat sibuk mencari sesuatu pada setiap kardus yang terdapat diruang keluarga. Mata monolid tersebut fokus meneliti setiap barang yang ia temukan. Terlihat sangat frustrasi karena ia tak kunjung menemukan barang yang ia cari.
“Sayang! Kamu liat kardus yang isinya file-file di ruang kerja dulu?” ucap Seulgi pada seseorang yang berada dikamar.
Tak lama muncul seorang anak kecil berumur 9 tahun membawa sebuah kardus sedang dengan kesusahan akibat kardus tersebut lumayan berat.
“Yang ini mah?” tanya anak tersebut.
“Ah! Iya, awas sayang nanti jatuh kena kaki kamu,” segera Seulgi menghampiri anak tersebut dan mengambil kardus miliknya.
“Ugh! Ini berat Karina, kamu kuat banget,” ujar Seulgi sembari menaruh kardus miliknya dimeja depan sofa.
“Iya dong aku kuat! Kan aku udah sabuk merah jadi harus kuat! Hehehe,” Karina terkekeh senang.
“Emang anak mama pinter banget,” Seulgi mengusap lembut kepala Karina. Namun tiba-tiba saja Karina berlari kedalam kamar dan kembali membawa sesuatu di tangannya.
“Mah! Aku nemu ini di kamar, ada foto mama sama mami!” Karina memberikan album foto yang berukuran A4 dengan sampul berwarna hitam polos.
“Wah, udah lama mama nyari ini, kamu nemu dimana sayang?” Seulgi menerima album yang diberikan Karina lalu ia duduk di sofa, diikuti dengan Karina yang duduk disebelah nya.
“Umm di kardus apa ya? Aku lupa hehe,” ucap Karina.
“Masih kecil udah pelupa kamu haha,” kini Seulgi membuka album tersebut dan melihat potret dirinya dengan seseorang yang ia cintai, yaitu Bae Irene.
“Ini mama lagi ngapain sama mami?” tanya Karina yang menunjukan sebuah foto.
“Itu pas waktu mama sama mami masih pacaran sayang, jaman mama masih SMA,” jelas Seulgi.
15 Mei 2001 – 4.25 PM
“Seulgi!” panggil Irene yang sedang jalan menghampiri Seulgi yang tengah istirahat di ruang latihan band SMA Kwangya.
“Sayang!” raut wajah Seulgi berubah menjadi senang ketika ia melihat sang pujaan hati mengunjungi dirinya lalu ia merentangkan tangannya lebar agar Irene segera memeluk dirinya. Bukan pelukan yang ia dapat, namun sebuah cubitan kecil pada pinggangnya.
“Aaaahh aahhhh sakit yang! Kok aku di cubit sih?!” gerutu nya sembari mengusap bekas cubitan Irene pada pinggangnya.
“Abis siapa suruh sok ke cakepan di atas panggung tadi? Kedipin mata segela ke cewe-cewe apa maksudnya coba?!” hendak menjewer kuping Seulgi, dengan cepat Seulgi menarik tubuh Irene untuk ia pangku dan memeluknya dengan erat.
“Hohoho pacar aku cemburu ternyata,” Seulgi mengecup pipi Irene beberapa kali.
“Ish kamu bau matahari,” Irene mendorong wajah Seulgi agar berhenti menciumi dirinya.
“Nggak apa bau matahari, dari pada bau parfum cewe lain? Yakan?” goda Seulgi.
“Oh jadi punya cewe lain hm? Mana orangnya? Sini kenalan dulu sama aku,” Irene menggerutu kesal.
“Hahaha gemesin banget sih kamu,” Seulgi kembali mengecupi pipi Irene bertubi-tubi.
“Woy anjeng! Balik sono! Berasa dunia milik berdua, yang laen ngontrak,” celetuk Wendy selaku sahabat Seulgi dari kecil.
“Jomblo ya? Nggak boleh sirik ya mblo,” ledek Seulgi yang mendapatkan hadiah lemparan kaus kaki milik Wendy.
“IH! WENDY! JOROK BANGET!!!” Irene berteriak kesal karena kaus kaki yang Wendy lempar mengenai dirinya.
“Hahaha maaf sayang, nggak sengaja kan tujuannya ke pacar kamu yang itu tuh yang sedikit… umm ya you know lah…,” ucap Wendy.
“Sayang sayang, gue colok juga mata lo pake stick drum,” Seulgi memeluk erat tubuh Irene seperti tidak ingin sang pacar di rebut oleh sahabatnya sendiri.
“Yang ih kamu bauuuuu,” protes Irene.
“Kamu lagi pms ya? Marah marah mulu,” tanya Seulgi.
“Iya, kenapa emang? Masalah?” tanya Irene balik dengan nada ketus.
“Ih galak ih, atut ah,” Seulgi mendusal-dusal kan wajah pada lengan Irene.
“SEULGI!!!” teriak Irene yang begitu melengking hingga membuat seluruh orang yang berada didalam ruang latihan merasa kesakitan mendengarnya.
7 January 2022 – 7.45 PM
“Ih ternyata mama jail banget ke mami,” ucap Karina.
“Seru tau sayang jailin mami kamu haha,” timpal Seulgi.
“Terus terus ini pas kapan?” tanya Karina yang menunjuk foto.
“Oh ini pas mama sama mami udah nikah, ini lagi ngapain ya? Bentar…,” Seulgi mencoba mengingat kembali kejadian yang terpotret di album.
“Mama udah tua jadi udah pikun,” Karina menjulurkan lidahnya pada Seulgi.
“Enak aja! Inget nih!” Seulgi ikut menjulurkan lidahnya pada Karina.
5 July 2010 – 8 PM
“Sayang aku pulang,” Seulgi baru saja sampai pada apartemen nya setelah menyelesaikan kerjaannya yang lumayan banyak.
Ia menaruh tas dan jaket nya pada sofa. Matanya menerawang sekeliling mencari keberadaan istrinya. Seharusnya Irene sudah berada dirumah sejak sore. Kemana Irene, batinnya.
“Sayang?,” kini Seulgi mencari Irene disetiap ruangan, namun nihil.
“Irene?,” panggil Seulgi kembali. Hanya satu ruangan yang belum ia periksa, yaitu kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, Seulgi tidak dapat melihat dengan jelas didalam kamar akibat lampu kamar yang tidak menyala. Tangannya mencari tombol lampu dengan meraba-raba dinding, lalu menyalakan lampu kamar agar ia dapat melihat dengan jelas. Namun ia dikejutkan seseorang yang muncul dari balik pintu dengan membawa kue kecil ditangannya.
“Surprise!!”
“ASTAGA!!”
“Hahaha maaf sayang kaget pasti,” Irene tertawa keras akibat melihat Seulgi terkejut dengan kemunculan nya.
“Kamu ngapain sih? Kaget aku!” Seulgi mengatur napasnya dan melihat kue yang dipegang oleh Irene.
“Hehehe aku punya hadiah buat kamu, buat ngerayain 4 bulan pernikahan kita,” jelas Irene dengan semangat.
“Oh iya hari ini tanggal 5 ya, maaf ya sayang aku lupa gara-gara kerjaan kantor,” ucap Seulgi sedih.
“Jadi kamu nggak inget? Kok kamu jahat sih,” mata Irene sudah berkaca-kaca, ia sedih akibat Seulgi tidak mengingat tanggal pernikahannya.
“Maaf sayang, jangan nangis, nanti ininya nggak jadi buat kamu,” Seulgi menunjukan sebuah paper bag kecil berwarna biru muda.
“Ih kamu bohong! Ngeselin ih!” Irene meninggalkan Seulgi dikamar.
“Hahaha kamu mau kemana?” Seulgi mengikuti Irene yang menuju dapur.
“Mau taro kue, pegel tau! Mana nggak di ambil, aku udah pegang lama nungguin kamu pulang!” Irene menggerutu kesal sembari menaruh kue pada meja makan. Lalu Seulgi memeluk tubuh Irene dari belakang.
“Aku nggak akan pernah lupa sayang, maafin aku ya kalo kamu megang kuenya lama gara-gara nungguin aku pulang,” Seulgi mengecup pipi Irene.
“Huh ngeselin… terus ini apa?” tanya Irene penasaran setelah mengambil paper bag dari tangan Seulgi.
“Buka aja,” ucap Seulgi. Dengan cepat Irene membuka paper bag tersebut dan mengambil sebuah kotak kecil. Saat membuka kotak tersebut, Irene terkejut bukan main.
“Bercanda kamu, nggak mungkin!”
“Beneran sayang, itu kan kalung yang kamu mau bulan lalu,” jelas Seulgi.
“Tapi kan mahal banget Gi! Tiga kali lipat dari gaji aku!,” Irene masih tidak percaya apa yang ia lihat. Seulgi mengambil kalung tersebut dari kotaknya, lalu memasangkan nya pada leher Irene.
“Ini buat kamu, kamu nggak perlu mikir aku bisa beli ini dari mana uangnya,” Irene membalikkan badannya menatap Seulgi.
“Tapi….”
“Aku nggak ngutang kok, tenang aja sayang,” Seulgi mengecup kening Irene.
7 January 2022 – 8.05 PM
“Ih sama kalungnya kaya punya Kayin,” ucap Karina dengan semangat.
“Itu punya mami,” jelas Seulgi.
“Kok ada di aku sih mah?,” tanya Karina.
“Ya karena mami kamu yang ngasih itu ke kamu,” Karina hanya ber-oh ria setelah mendengar penjelasan dari Seulgi.
“Pasti ini pas mau natal ya mah!,” tebak Karina dengan menunjuk foto Irene yang tengah sibuk membuka bungkus hiasan pohon natal.
“Mami kamu paling suka banget ngehias pohon natal,” jelas Seulgi.
20 December 2011 – 9 PM
“Sayang ini udah jam 9 ayo bobo, kita lanjutin besok lagi,” ucap Seulgi.
“Bentar sayang nanggung,” Irene masih saja sibuk menata hiasan pohon natal.
“Sayang…,” Seulgi memeluk tubuh Irene dari belakang lalu mengecup bahunya sembari mengelus perut Irene yang sedang mengandung Karina.
“Kata dokter kan kamu nggak boleh ke capekan sayang,” ucap Seulgi.
“Iya iya sayang satu lagi ini, sebentar ya, kamu kalo udah ngantuk bobo duluan aja,” Irene melirik wajah Seulgi sekilas dan kembali fokus pada pohon natal.
“Sayang kamu nggak kasian apa sama baby kamu ajak begadang, pasti ini dia udah bobo,” tangan Seulgi masih saja mengelus perut Irene yang buncit.
“Tapi kan….”
“Sayang?”
“Huft~ okay fine!” Irene membalikkan badannya lalu memeluk leher Seulgi sembari menatap wajahnya.
“Bobo ya?” tanya Seulgi.
“Hum,” Irene mengangguk manja pada Seulgi.
“Natapnya kenapa gitu?” Seulgi tertawa kecil saat melihat tingkah istrinya yang begitu manja.
“Pijitin akuuuu… pinggul aku pegeeeeeel hhnnggg,” Irene memanyunkan bibirnya.
“Makanya ayo ke kamar, nanti aku pijtin,” Seulgi mengelus-elus pinggul Irene.
“Gendong~” ucap Irene dengan nada manja.
“Nanti baby kejepit sayang, jangan ngadi ngadi deh, ayo,” Seulgi melepaskan lengan Irene dan mengajak nya ke kamar.
7 January 2022 – 8.20 PM
“Ih itu bintangnya sama kaya pohon natal kemarin ya mah?!” tanya Karina.
“Iya sayang, berarti itu umur bintangnya sama kaya umur kamu sekarang, hahaha tua,” ledek Seulgi.
“Aku masih kecil mama!” Karina memanyunkan bibirnya kesal. Seulgi melihat tingkah anaknya hanya tersenyum.
“Tapi mah mami kok nggak pulang pulang sih? Kan Kayin pengen ketemu!” protes Karina.
“Liat udah jam berapa ini, waktunya anak kecil bobo,” ucap Seulgi sembari melirik jam dinding.
“Tapi aku belom ngantuk,” Karina melipat kan tangannya di dada.
“Mau ketemu mami nggak?” tanya Seulgi.
“Mau!!!” jawab Karina semangat.
“Makanya tidur, biar nggak kesiangan,” Karina mengangguk cepat.
“Aye aye captain!! Hehehe asik ketemu mami!!” Karina berlari menuju kamarnya untuk tidur.
Seulgi hanya menggelengkan kepalanya sembari menghela napas panjang. Ia menutup album, lalu menaruhnya di atas meja. Akibat Karina, tugasnya untuk merapihkan barang jadi tertunda. Ia memutuskan untuk melanjutkan pada esok hari.