noubieau

Welcome to noubie universe.


Sudah berjam-jam Irene mengobrol dengan para sahabatnya. Ia sangat senang dapat berkumpul kembali dengan kedua sahabatnya. Karena ia tau Suho sangatlah sibuk di antara ia dan Jennie.

“Rene udah malem gue anter lo ya?” tanya Suho.

“Hah? Emang jam berapa ini?” Irene melirik benda kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Ish baru juga jam 10, nanti dulu lah,” rengek Jennie pada Suho.

“Besok gue mau keluar kota, jadi gua mau prepare buat besok Jen,” jelas Suho.

“Sibuk banget sih pak boss satu nih,” Irene hanya bisa menggelengkan kepala.

“Next kita liburan deh ke pantai gimana?” tanya Suho.

“Kapan?! Kapan?!!” tanya Irene dan Jennie bersamaan.

“Atur aja sama kalian, nanti gue atur ulang jadwal sesuain tanggal yang kalian tentuin,” jelas Suho.

“Gitu dong dari dulu kek kaya gini, kan jadi enak kita,” ucap Jennie.

“Nanti gue juga izin dulu sama boss gue hehe,” seru Irene.

“Iya deh tau yang udah punya boss hahaha,” ledek Jennie.

“Oh jelas dong siapa dulu hahaha,” ucap Irene dengan nada pedenya.

“Kemaren aja nangis nangis nggak keterima kerja, sekarang sombong betul,” ucap Jennie.

“Biarin aja sih wleee sirik kan lo wleee,” Irene menjulurkan lidah pada Jennie.

“Dah dah… Rene ayo balik,” ucap Suho.

“Gue balik sendiri aja, soalnya gue udah dijemput hehe maaf ya Suho,” jelas Irene sembari merapihkan barang-barangnya.

“Jemput sama siapa?” tanya Suho heran.

“Paling sama supir bosnya, kan tadi dia dianterin supir bosnya,” jelas Jennie.

“Oh gitu,” ucap Suho pelan sembari melirik Irene dengan penuh tanda tanya.

“Eh tuh mobilnya udah dateng, gue balik duluan ya dadah kalian,” Irene segera bangkit dari duduknya lalu sedikit berlari keluar cafe. Tanpa di sadari Suho memperhatikan Irene dari belakang sampai Irene masuk ke dalam mobil. Suho merasa ada yang janggal dengan Irene.


Setelah mendapat izin dari Seulgi dan Irene sudah memindahkan sebagian barang miliknya ke rumah baru. Segera ia menuju cafe Jennie, tentunya menggunakan mobil milik Seulgi berikut dengan Supir. Sampai nya di tujuan, sang supir membukakan pintu penumpang belakang, dimana Irene duduk.

“Saya akan menunggu di sini nyonya,” ucap sang Supir.

“Ah tidak perlu! Kamu bisa pulang dahulu, nanti saya akan kabari jika sudah selesai,” jelas Irene yang tidak enak.

“Tidak bisa nyonya, ini sudah perintah dari nyonya kang,” jelas sang supir yang kemudian menunduk hormat sebelum dirinya pergi masuk ke dalam mobil untuk mencari parkir.

“Tapi… Yaudah lah lagi pula gue ngomong juga gak bakal bisa, siapa lo emang Rene,” nyinyir Irene sembari melangkah masuk ke dalam cafe. Matanya mencari keberadaan sahabatnya. Muncul sebuah lambaian tangan dari seseorang yang ia kenal. Jennie.

“Hi…,” Sapa Irene yang sudah duduk di hadapan Jennie.

“Gue liat lo naik mobil pake supir tuh,” Jennie tersenyum menggoda Irene.

“Iya itu mobil bos gue,” jelas Irene.

“Cie baru juga masuk udah di anterin bosnya aja,” goda Jennie kembali.

“Apaan sih ah, eh Suho mana?” mata Irene menelusuri sekelilingnya mencari sosok Suho.

“Katanya sih tadi lagi di jalan, paling kena macet, lo mau pesen apa?” tanya Jennie.

“Kaya biasa hehe matcha latte,” jawab Irene.

“Nggak kuenya sekalian?” tanya Jennie lagi.

“Nggak deh, tadi gue udah makan, masih kenyang” jelas Irene.

“Halah bilang aja lo mau diet kan biar keliatan bohay depan bos lo hahahahaha,” ledek Jennie yang segera pergi untuk memesankan pesanan Irene.

“Awas aja lo Jen!!” suara Irene yang sedikit teriak hampir terdengar hingga pintu masuk cafe.

“Gila suara lo sampe kedengeran keluar Rene,” ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Irene. Irene sedikit terkejut.

“Astaga Suho! Sumpah ya bisa nggak sih kalo dateng tuh salam dulu kek, say hi kek, ngagetin aja,” protes Irene yang mengerucut kan bibirnya.

“Aigooo maaf ya kalo ngagetin tapi emang sengaja haha,” Suho mengusap lembut kepala Irene.

“Cih samanya emang kaya Jennie,” Irene menggerutu.

“Hahaha sorry sorry, Jennie mana?” tanya Suho.

“Lagi mesen minuman tadi tapi nggak tau deh sekarang kemana, ke ruangan nya dulu kali,” mata Irene mencari sosok Jennie yang sudah menghilang entah kemana.

“Oh… Jadi mau di ajarin apa aja?” tanya Suho yang menatap Irene dengan intens.

“Eh iya lupa haha, wait ya,” segera Irene mengeluarkan Macbook, iPad, dan iPhone pemberian dari Seulgi.

“Okay, mau yang mana dulu nih?” tanya Suho kembali.

“Hmm… mana aja deh aku bingung,” Irene memanyunkan bibirnya yang terlihat menggemaskan di mata Suho.

“Yaudah yang gampang dulu deh nih,” Suho mengambil iPhone milik Irene, lalu mengajarkan Irene perlahan agar ia dapat mengerti. Setelah beberapa menit mengajarkan Irene, kini Suho melanjutkan mengajari iPad dan Macbook.


'ting tong~'

'ting tong~'

Sebuah pintu terbuka lebar menampilkan seseorang yang terkejut saat melihat penampilan pelaku yang membunyikan bel pintunya.

“ASTAGA ROSÉ!! LO ABIS DARI MANA BASAH KUYUP GINI!!!”, tanya Jennie, namun Rosé hanya diam dan tersenyum kecut.

“Cepet masuk nanti lo sakit!” Jennie menarik Rosé masuk ke dalam apartemennya. Setelah di dalam apartemen, Rosé menahan lengan Jennie.

“Gue udah bilang” ucap Rosé yang menatap Jennie dengan tatapan kosong.

“Lo kerumah dia tadi? Ujan ujanan? Bener bener ya lo”, omel Jennie.

“Gue bilang kalo gue bakal tunangan” ucap Rosé lirih, tanpa disadar air matanya jatuh membasahi pipinya.

“What?! Apa lo udah gila?! Yang bener aja lo! Mana mungkin gue tunangan sama lo! Pacar beneran juga bukan!” Jennie tidak mengerti mengapa Rosé bisa mengatakan seperti itu pada Irene.

“Bantu gue... Bantu gue buat lupain dia...” hatinya sangat terasa sakit untuk mengatakan ini. Namun ia harus meneruskan rencana yang ia buat agar dapat melupakan Irene.

“Tapi Je...”

“Bantu gue untuk jatuh cinta sama lo, gue mohon”, Jennie menghapus air mata Rosé yang masih membasahi pipinya.

“Kenapa? Kenapa harus gue?”

“Karena cuma lo yang gue percaya”


8 January 2022 – 10.24 PM

Setelah berkunjung ke makam Irene, Seulgi mengajak Karina ke kedai es krim favorit saat Seulgi dan Irene masih pacaran dahulu. Tidak butuh waktu lama mobil Seulgi sudah berada di parkiran kedai es krim.

“Es krim, es krim, es krim,” Karina begitu senang ketika Seulgi membawanya ke kedai es krim. Mengapa Karina terlihat sangat mirip dengan Irene. Begitu senang jika di bawa ke tempat ini.

“Seneng banget kamu,” ucap Seulgi.

“Soalnya Kayin suka es krim hehe,” jelas Karina.

“Ayo turun,” Seulgi dan Karina turun dari mobil.

Karina menunggu Seulgi mengunci mobil, lalu menggenggam tangan Seulgi. Sudah kebiasaan Karina selalu menggenggam tangan Seulgi kemana pun itu, baik di luar maupun di dalam rumah. Seulgi pun tidak paham mengapa Karina seperti itu. Namun ia tidak menanggapinya dengan serius. Karina menggoyang-goyang kan tangan Seulgi. Hatinya begitu senang hari ini. Seulgi senang melihat Karina riang seperti. Baginya tawa dan senyum Karina adalah hal yang paling berharga. Ia tidak mau membuat Karina sedih. Ia sangat menjaga Karina dengan baik. Setelah membukakan pintu untuk Karina, Seulgi melirik kanan kiri untuk mencari meja kosong. Matanya menemukan meja kosong yang berada di pojok dekat jendela.

“Sayang kamu duduk duluan gih di situ, mama pesen dulu es krimnya,” Seulgi menunjuk meja yang di maksud.

“Matcha ya mah!” ucap Karina.

“Duh iya bawel mama tau, dah sana.”

Hendak maju mengantri memesan es krim, Seulgi menabrak seseorang yang tidak di kenal. Orang tersebut panik melihat baju Seulgi yang terkena es krim miliknya begitu banyak.

“Astaga! Maaf mbak! Salah saya nggak liat ada orang di belakang saya,” orang tesebut sibuk membersihkan baju Seulgi. Namun Seulgi hanya diam mematung menatap orang yang ada di hadapannya saat ini.

“I-Irene?” tanya Seulgi begitu pelan namun dapat terdengar.

“Huh? Maaf siapa?” tanya orang tersebut kebingungan.

“Ah!” Seulgi tersadar dari lamunannya. “Maaf saya kira orang yang saya kenal”,*

“Iya ngak apa apa, ngomong ngomong saya harus ganti baju anda, gara gara saya jadi kotor bajunya,” ucap orang tersebut.

“Hm?” Seulgi melirik ke bajunya, ternyata benar, bajunya terkena noda es krim coklat begitu banyak. “It’s fine, nggak perlu ganti.”*

“Jangan gitu! Pasti habis ini anda punya acara dan saya membuatnya kacau, saya minta maaf, saya boleh minta nomor anda mbak…?” tanya orang tersebut.

“Ah boleh, sebentar,” Seulgi mengambil dompet miliknya dan mengeluarkan kartu nama miliknya lalu memberikannya.

“Kang… Seulgi…,” orang tersebut membaca nama Seulgi pada kartu nama.

“Iya benar itu saya,” timpal Seulgi.

“Saya Joohyun, mungkin nanti saya akan hubungi anda secepat untuk mengganti baju itu,” ucap Joohyun.

“Tidak perlu saya abis ini juga pulang, tidak perlu sampai menggantinya,” ucap Seulgi.

“MAMIIIII~,” Karina tiba-tiba saja berlari ke arah Joohyun dan memeluk erat kakinya. Joohyun sedikit terkejut. Seulgi pun terkejut melihat Karina memeluk orang yang tidak di kenal.

“Eh Karina itu bukan mami sayang,” Seulgi mencoba melepaskan Karina dan menggendong nya.

“Terus kalo bukan mami, siapa dong? Tapi mukanya mirip mah,” Karina munujuk wajah Joohyun. Dengan cepat Seulgi menurunkan tangan Karina.

“Maafkan anak saya ya,” Seulgi membukuk berkali-kali pada Joohyun.

“Haha tidak apa, siapa nama kamu sayang?” tanya Joohyun sembari mengusap lembut pipi Karina.

“Nama aku Kang Jimin, tapi tante boleh manggil aku Kayin hehe muka tante mirip banget sama mami aku,” ucap Karina dengan polos.

“Namanya cantik kaya orangnya, kenalin nama tante Joohyun, tapi sayangnya tante bukan mami kamu sayang,” Joohyun mengusap kepala Karina.

“Iya nggak apa apa tante, lagian mami udah di surga,” Karina menujuk ke atas.

“Haha udah ya sayang, kayanya tantenya mau pulang itu,” timpal Seulgi.


“Sayang,” sebuah suara terdengar seperti memanggil dirinya. Saat membalikkan badan ia mendapati seseorang yang selama ini ia sayang, hadir di hadap nya.

“I-irene?” tanya Seulgi memastikan jika seseorang di hadapannya itu benar-benar Irene.

“Iya sayang ini aku, kamu apa kabar?” tanya Irene yang menghampiri Seulgi. Tangannya kini mengusap perlahan pipi Seulgi. Terasa hangat dan nyaman.

“Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang ke aku tentang penyakit mu?!” Seulgi menatap Irene dengan penuh dengan rasa amarah dan penyesalan. Irene hanya diam memandangi Seulgi yang kini tengah meneteskan air matanya.

“Andaikan kamu bilang saat itu, pasti aku udah bawa kamu ke dokter yang paling terbaik, pasti kamu bisa gendong Karina saat itu, dan Karina bisa lihat kamu untuk pertama kalinya… Tapi kenapa? Kenapa kamu rahasia kan ini…,” Seulgi sudah tak tahan lagi, ia menangis sejadi-jadinya. Irene segera memeluk Seulgi dengan erat.

“Maafin aku… aku emang egois… aku nggak mau menyusahkan kamu saat itu, biar aku yang berjuang sendiri… aku pikir aku bisa melewati itu semua, tapi nyatanya tuhan memanggil aku untuk pulang setelah Karina lahir… maafin aku…,” Seulgi masih menangis terisak di dekapan Irene. Ia dapat menghirup aroma tubuh Irene yang sudah lama ia rindu kan.

“Tapi sekarang Karina sudah besar, dia sangat cantik…,” ucap Irene. Kini Irene melepaskan pelukan nya, lalu menatap kedua mata Seulgi.

“Tolong jaga Karina, sudah saatnya kamu mencari pengganti ku untuk mengurusi Karina dan kamu,” dengan cepat Seulgi menggelengkan kepalanya.

“Aku… aku nggak mau… nggak akan… tolong tinggal lebih lama Rene… aku… aaku… kangen kamu…,” ucap Seulgi.

“Aku minta maaf belum bisa jadi istri yang terbaik untuk kamu dan ibu yang terbaik untuk Karina… maafin aku baru kali ini aku mampir ke dalam mimpimu… sudah lama aku menunggu momen ini… dimana aku ingin minta maaf sama kamu udah ninggalin kamu… tolong jaga Karina ya sayang… semoga kamu dapat bahagia di kehidupan mu berikutnya… aku selalu sayang kamu dan kamu tau itu,” ucap Irene dengan tersenyum lembut sembari mengusap setiap inci wajah Seulgi.

“Please Rene jangan pergi lagi… aku mohon…,” Seulgi memegang erat tangan Irene.

“Selamag tinggal Kang Seulgi…,” Irene melepaskan genggaman Seulgi dari lengannya. Dalam hitungan detik Irene menghilang dari pandangan Seulgi.

“Rene? Irene?? IRENE!!! Jangan tinggalin aku… aku mohon… IREEEEENE!!!!” Seulgi berteriak histeris memanggil-manggil Irene yang sudah menghilang.


8 January 2022 – 7.23 AM

“Mah… mah… mama!” seketika Seulgi terbangun dari tidurnya dengan terkejut. Karina yang sedari tadi membangunkan Seulgi ikut terkejut.

“Hah?!” nafas Seulgi tersengal-sengal dengan badan yang basah kuyup karena keringat.

“Mama kenapa?” tanya Karina khawatir melihat keadaan Seulgi yang sedikit kacau, menurutnya.

“Hi sayang… kamu kok belom tidur?” Seulgi mengusap wajahnya perlahan.

“Mama pasti mimpi buruk, ini udah pagi mah,” ucap Karina.

“Pagi?” Seulgi melihat ke arah jendela yang masih tertutup gorden. Namun ia masih dapat melihat sebuah cahaya terang masuk dari sela-sela gorden. Ternyata benar sudah pagi. Ia menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Mah ayo ketemu mami!” Karina menarik-narik lengan Seulgi.

“Karina mandi duluan aja gih, mama masih mau beresin file kerjaan mama,” ucap Seulgi.

“Nggak mau mandi sendiri, mau mandi sama mama biar cepet! Ayo! Ayo! Ayooooo!” dengan terpaksa Seulgi mengangguk membuat Karina semakin semangat menarik tangan Seulgi menuju kamar mandi.


8 January 2022 – 9.12 AM

“Mah?” tanya Karina yang sedang menggenggam tangan Seulgi menggunakan tangan kirinya dan sebuah boquet bunga yang berukuran sedang menggunakan tangan kanannya.

“Iya sayang?” Seulgi menatap wajah Karina.

“Kenapa kita kesini?” tanya Karina kebingungan.

“Katanya kamu mau ketemu mami,” Karina melirik kanan kiri mencari sesuatu.

“Tapi mah disini sepi banget, emangnya mami tinggal disini?” tanya Karina lagi.

“Iya sayang mami tinggal disini… dah sampe, ini rumah mami sayang,” Seulgi menunjuk ke batu nisan yang berukuran besar yang bertuliskan,

In loving memory of Bae Irene Mar 29 1984 – Apr 11 2012

“Mana mami mah?” tanya Karina yang masih kebingungan. Seulgi menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk duduk didekat batu nisan Irene, lalu menarik lengan Karina agar mendekat.

“Karina sayang, mama mau kasih tau kamu ini udah lama, namun mama nunggu kamu mengerti dan mama baru bisa ngajak kamu kesini lagi setelah terakhir kali kamu masih umur 2 tahun,” jelas Seulgi perlahan agar Karina dapat mengerti apa yang di maksud perkataannya. Karina menatap Seulgi tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Mami udah nggak ada sayang… mami udah ada di surga…,” Seulgi tersenyum mengusap lembut pipi Karina. Ia mencoba untuk tidak menangis kali ini.

“Jadi Karina nggak bisa ketemu mami?” mata Karina sudah berkaca-kaca.

“Iya sayang, maafin mama ya sayang,” Karina mengucek-kucek matanya agar menghapus air matanya. Secara tiba-tiba Karina memeluk erat Seulgi.

“Pasti mama sedih banget nggak bisa ketemu mami lagi,” Karina menepuk-nepuk punggung Seulgi.

“Sekarang udah engga, karena sekarang mama punya Karina yang udah besar, kamu yang membuat mama kuat sampai saat ini…,” Seulgi melepaskan pelukan Karina dan menatap wajah anak semata wayangnya itu.

“Mama jangan sedih lagi ya, kan udah ada Kayin yang nemenin mama hehe… IH! Ada tanggal ulang tahun Kayin!!” Karina menunjuk ke arah batu nisa Irene.

“Haha iya sayang mami pergi saat kamu lahir, ayo sapa mami dulu terus taro bungannya di situ,” ucap Seulgi yang di turuti oleh Karina.

“Halo mami! Ini bunga buat mami! Mami bobo yang nyenyak ya!” Karina mengusap-usap batu nisan Irene.

“Karina abis ini mau kemana hm?” tanya Seulgi.

“Mau makan es krim mah!” jawab Karina semangat.


7 January 2022 – 8.22 PM

Seulgi mengambil kotak yang berisikan file kerajaannya dan membawanya ke ruang kerja miliknya. Barang-barang di dalam sana sudah sebagian tertata rapi. Hanya menyisakan tumpukan buku yang mesti ia susun di lemari. Setelah menaruh kotak di atas meja kerjanya, ia mengambil sebuah gelas, membuka botol whiskey yang masih ter segel, lalu menuangkan ke dalam gelas. Pada ujung penglihatannya, sebuah benda menarik perhatiannya. Di lihat ternyata sebuah upright piano yang berwarna hitam metalik. Seulgi hampir saja lupa kalau dirinya memiliki piano tersebut sudah lama. Setelah beberapa kali tegukkan whiskey, Seulgi menghampiri piano tersebut. Sudah lama sekali ia tidak memainkan nya. Tangannya mengangkat fallboard piano dan memperlihatkan deretan tuts piano. Sedikit berdebu.

Satu tuts ia tekan menghasilkan nada yang keluar begitu pelan, karena ia menekan nya juga dengan pelan. Beginilah alasan mengapa ia sudah lama tidak memainkan piano tersebut. Karena setiap ia memainkan nya, dadanya terasa sangat sesak. Bukan karena ia memiliki trauma memainkan piano, namun ia menjadi mengingat masa lalunya bersama Irene. Seharusnya ia membuang piano tersebut. Namun hati dan pikirannya sangat bertolak belakang, membuat dirinya tetap menyimpan piano yang penuh dengan kenangannya bersama Irene.

Seulgi meneguk whiskey hingga kandas, menaruh gelas di atas piano, lalu ia duduk. Kini kedua tangannya sudah berada di atas tuts piano. Hendak memainkan sebuah lagu namun jarinya terasa sangat kaku dan gemetar. Seulgi ingin menghapus rasa takutnya dengan mencoba kembali memainkan piano miliknya. Satu dua tuts berhasil ia tekan setelah berjuang cukup lama menggerakkan jari-jarinya. Seketika sebuah memori ter putar dalam pikirannya.


18 January 2001 – 2.30 PM

Saat ini seluruh siswa-siswi SMA Kwangya berada di dalam kelas sedang mendengarkan para guru menjelaskan materi tentang pelajaran. Terkecuali dengan Irene. Karena saat ini ia sedang disuruh guru bahasa Inggris untuk mengambil 12 kamus bahasa inggirs di perpustakaan. Walau ukurannya kecil namun cukup berat karena halamannya yang bisa sampai 200 lebih halaman, di tambah ia membawa 12 kamus, lumayan membuat lengannya pegal-pegal.

Saat ia berjalan menuju kelas, indera pendengaran nya mendengar lantunan nada yang begitu indah yang berasal dari ruang latihan band. Seperti tersihir, kakinya melangkah mendekat menuju pintu ruang band yang sedikit terbuka. Irene mengintip ke dalam ruangan tersebut karena ingin melihat siapa yang memainkan piano pada jam pelajaran. Tak hanya lantunan nada piano, saat ini ia mendengar suara yang begitu merdu.

Merasa seperti ada yang memperhatikan, orang tersebut berhenti bernyanyi dan memainkan piano. Irene sangat terkejut ketika orang tersebut menatap dirinya yang tengah mengintip melalui pintu. Hendak kembali ke kelas dengan cepat, sialnya buku yang ia pegang jatuh semua membuat buku berserakan di lantai. Segera Irene memunguti buku tersebut dan kembali ke kelas. Saat mengambil buku terakhir yang berada di depan pintu, sebuah tangan dengan cepat mengambil buku tersebut. Irene menenggakkan kepalanya menatap orang yang mengambil bukunya.

“Nih”, ucap orang tersebut sembari memberi buku pada Irene.

“Oh.. Oh iya, makasih ya”, Irene mengambil bukunya dengan rasa malu.

“Ngapain tadi ngintip?”, DEG!.

“Hehe maaf ya, soalnya suara lo bagus banget, terus gue kepo siapa yang nyanyi, ternyata lo si anak pindahan baru, hehe”, jelas Irene dengan gugup.

“Oh gitu, kenalin gue Seulgi”, Seulgi mengulurkan tangannya pada Irene.

“Gue Irene”, Irene menerima uluran tangan Seulgi. Seulgi tersenyum lebar sembari menatap Irene yang sulit di artikan.

“Tau kok, siapa yang nggak kenal lo si ketua osis haha” ledek Seulgi.

“Haha bisa aja lo” timpal Irene.

“Mau gue bantuin?”, tanya Seulgi.

“Oh nggak usah, gue bisa sendiri, lo lanjut latihan aja”, jawab Irene.

“Siapa yang lagi latihan? Orang gue bolos kelas, hahaha”, jelas Seulgi.

“Gila sih baru pindah udah macem-macem”, Irene hanya menggelengkan kepalanya tak percaya apa yang baru saja ia dengar.

“Ayo gue bantu lo bawain”.

“Yaudah kalo lo maksa”.

“Tapi lepasin dulu tangan gue”, sadar Irene masih menggenggam tangan Seulgi, dengan cepat ia melepaskannya. Sekarang pipinya terasa panas akibat ulah bodohnya. Seulgi hanya tertawa kecil menatap Irene sedang merutuki dirinya sendiri.


24 December 2011 – 8.20 PM

“Sayang sini deh”, panggil Seulgi pada Irene.

“Kenapa?”, Irene menghampiri Seulgi yang tengah duduk di hadapan piano kesayangannya.

“Sini duduk sebelah aku”, Seulgi menggeser dirinya agar Irene dapat duduk disebelah nya.

“Mau ngapain sih?”, Irene hanya menuruti perkataan Seulgi dan kini ia sudah duduk di sebelah Seulgi.

“Aku abis cari refrensi lagu yang cocok untuk baby, sekarang aku udah bisa, mau dengerin nggak?”, tanya Seulgi.

“Aduh dek liat deh, mama abis nyariin lagu buat kamu, ayo mana lagunya mama”, Irene mengusap-usap perutnya sembari meniru kan suara seperti anak kecil.

“Tapi mami jangan bobo ya soalnya temponya pelan banget”, Seulgi mulai memainkan tuts piano kesayangannya. Sebuah nada terdengar sangat tenang membuat Irene sedikit nyaman saat mendengarkannya. Tak lama kepala Irene sudah bersandar di bahu Seulgi dengan tangan mengusap perutnya.

“Baby suka lagunya mah, dia tadi nendang perut aku”, bisik Irene.

“Oh ya? Kalo gitu aku mainin sampe baby bobo, ayo bobo sayang, mimpi indah kesayangan mama dan mami”, Irene tersenyum lebar saat mendengar perkataan Suelgi.


7 January 2022 – 8.36 PM

Kini jari Seulgi semakin lancar menekan tuts piano. Ia tersenyum saat memori bersama Irene ter putar di kepalanya. Ketika satu lagu selesai ia mainkan, kini ia memainkan lagu Lay Me Down dari Sam Smith. Ia sangat menikmati nadanya. Hingga tanpa sadar air matanya jatuh seketika.

“Told me not to cry~”,

“When you were gone~”,

“But the feeling’s overwhelming~”,

“It’s much too strong~”,


11 April 2012 – 9.48 AM

“Sayang liat aku bawa apa?”, Seulgi menunjukan sebuah kantung.

“Apa itu?”, tanya Irene yang sedikit lemas.

“Bubur langganan kamu!”, Seulgi mengambil kotak bubur milik Irene.

“Tapi aku nggak nafsu sayang”, ucap Irene.

“Kamu harus makan sayang, kasian babynya kelaparan”, Seulgi mencoba mengangkat ranjang Irene, agar Irene dapat makan.

“Dikit aja”, timpal Irene pasrah.

“Iya deh iya dikit”, Kini Seulgi menyuapi bubur pada Irene.

“Enak nggak?”, Irene hanya menjawab dengan anggukan. Seulgi kembali menyuapi Irene hingga beberapa suap.

“Udah”.

“Ini dikit lagi sayang”.

“Udah sayang”.

“Yaudah minum dulu”, Seulgi mengambil gelas berisikan air minum Irene, lalu Seulgi mengarahkan sedotan pada mulut Irene. Perlahan Irene minum lalu menyuruh Seulgi menaruh gelasnya kembali.

“Akhirnya mami makannya banyak dek”, ucap Seulgi seraya mengecup perut Irene dengan penuh hati-hati.

“Sayang”.

“Hm? Apa sayang?”.

“Aku mau…”, Irene membuka kalung miliknya lalu memberikannya pada Seulgi.

“Aku mau kamu nanti kasih ini ke anak kita”, Seulgi kebingungan.

“Maksud kamu apa?”, tanya Seulgi.

“Kata dokter kan aku harus sesar, kalau nanti baby udah keluar, aku mau kamu kasih ini untuk anak kita, tapi mungkin nunggu dia bisa jalan dulu kali ya hehe”, jelas Irene.

“Kan nanti kamu bisa kasih langsung ke baby”, ucap Seulgi.


11 April 2012 – 11.45 AM

Saat ini Irene sedang berada di dalam ruang operasi untuk mengeluarkan bayi yang berada di dalam perutnya. Seulgi yang tidak boleh memasuki ruang operasi hanya dapat menunggu kabar dari dokter di depan ruang operasi dengan rasa yang gelisah. Ia sangat berharap Irene dan bayinya baik-baik saja. Setelah beberapa jam Seulgi menunggu, dokter keluar menghampiri Seulgi.

“Gimana dok?”, tanya Seulgi.

“Anak nyonya Irene sudah lahir, seorang perempuan”, jawab Dokter. Seulgi bernapas lega.

“Gimana dengan istri saya dok?”, tanya Seulgi.

“Kami sudah membantu sebaik mungkin, namun nyonya Irene tidak dapat tertolong”, seketika lutut Seulgi terasa lemas.

“Nggak mungkin… Hahaha dokter pasti bercanda kan?”, Seulgi sangat berharap dokter mengatakan iya bahwa ini semua rencana Irene mengerjainya.

“Maaf kan saya, namun sel kanker yang terdapat di otak nyonya Irene sudah menjalar kebagian tubuh lainnya”, jelas sang Dokter.

“Kanker? Sejak kapan???”.

“Nyonya Irene di diagnosa memiliki kanker pada tanggal 31 Juli 2011 lalu”.


7 January 2022 – 8.38 PM

“Can I lay by your side?”,

“Next to you~”,

“And… make sure…”,

“…you’re… be okay…”

Sesak, seperti oksigen menipis. Mulutnya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan lagu yang ia nyanyi kan. Jarinya kembali kaku. Tangis Seulgi pecah begitu saja. Ia sangat merindukan Irene. Hampir 10 tahun Irene meninggalkan Seulgi dan Karina, bahkan Karina dapat melihat sosok Irene hanya dari potret yang tersimpan pada album foto. Seulgi masih menyalahkan dirinya yang tidak becus menjaga Irene. Andai saja ia tahu pada saat itu apa yang di rasakan Irene, mungkin saat ini Irene masih berada di sampingnya.


7 January 2022 – 7.30 PM

Aroma cat yang sangat kuat memasuki indera penciuman. Banyaknya tumpukan kardus yang berisikan barang-barang yang hampir tergeletak di seluruh ruangan pada rumah yang baru di tempati. Tidak begitu besar namun nyaman untuk sebuah keluarga kecil yang tinggal disana. Rumah tersebut baru saja selesai dibangun. Sang pemilik rumah akhirnya dapat menempati rumah baru mereka. Namun butuh waktu untuk menikmatinya. Karena harus menata ulang barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam kardus.

Seorang wanita terlihat sangat sibuk mencari sesuatu pada setiap kardus yang terdapat diruang keluarga. Mata monolid tersebut fokus meneliti setiap barang yang ia temukan. Terlihat sangat frustrasi karena ia tak kunjung menemukan barang yang ia cari.

“Sayang! Kamu liat kardus yang isinya file-file di ruang kerja dulu?” ucap Seulgi pada seseorang yang berada dikamar.

Tak lama muncul seorang anak kecil berumur 9 tahun membawa sebuah kardus sedang dengan kesusahan akibat kardus tersebut lumayan berat.

“Yang ini mah?” tanya anak tersebut.

“Ah! Iya, awas sayang nanti jatuh kena kaki kamu,” segera Seulgi menghampiri anak tersebut dan mengambil kardus miliknya.

“Ugh! Ini berat Karina, kamu kuat banget,” ujar Seulgi sembari menaruh kardus miliknya dimeja depan sofa.

“Iya dong aku kuat! Kan aku udah sabuk merah jadi harus kuat! Hehehe,” Karina terkekeh senang.

“Emang anak mama pinter banget,” Seulgi mengusap lembut kepala Karina. Namun tiba-tiba saja Karina berlari kedalam kamar dan kembali membawa sesuatu di tangannya.

“Mah! Aku nemu ini di kamar, ada foto mama sama mami!” Karina memberikan album foto yang berukuran A4 dengan sampul berwarna hitam polos.

“Wah, udah lama mama nyari ini, kamu nemu dimana sayang?” Seulgi menerima album yang diberikan Karina lalu ia duduk di sofa, diikuti dengan Karina yang duduk disebelah nya.

“Umm di kardus apa ya? Aku lupa hehe,” ucap Karina.

“Masih kecil udah pelupa kamu haha,” kini Seulgi membuka album tersebut dan melihat potret dirinya dengan seseorang yang ia cintai, yaitu Bae Irene.

“Ini mama lagi ngapain sama mami?” tanya Karina yang menunjukan sebuah foto.

“Itu pas waktu mama sama mami masih pacaran sayang, jaman mama masih SMA,” jelas Seulgi.


15 Mei 2001 – 4.25 PM

“Seulgi!” panggil Irene yang sedang jalan menghampiri Seulgi yang tengah istirahat di ruang latihan band SMA Kwangya.

“Sayang!” raut wajah Seulgi berubah menjadi senang ketika ia melihat sang pujaan hati mengunjungi dirinya lalu ia merentangkan tangannya lebar agar Irene segera memeluk dirinya. Bukan pelukan yang ia dapat, namun sebuah cubitan kecil pada pinggangnya.

“Aaaahh aahhhh sakit yang! Kok aku di cubit sih?!” gerutu nya sembari mengusap bekas cubitan Irene pada pinggangnya.

“Abis siapa suruh sok ke cakepan di atas panggung tadi? Kedipin mata segela ke cewe-cewe apa maksudnya coba?!” hendak menjewer kuping Seulgi, dengan cepat Seulgi menarik tubuh Irene untuk ia pangku dan memeluknya dengan erat.

“Hohoho pacar aku cemburu ternyata,” Seulgi mengecup pipi Irene beberapa kali.

“Ish kamu bau matahari,” Irene mendorong wajah Seulgi agar berhenti menciumi dirinya.

“Nggak apa bau matahari, dari pada bau parfum cewe lain? Yakan?” goda Seulgi.

“Oh jadi punya cewe lain hm? Mana orangnya? Sini kenalan dulu sama aku,” Irene menggerutu kesal.

“Hahaha gemesin banget sih kamu,” Seulgi kembali mengecupi pipi Irene bertubi-tubi.

“Woy anjeng! Balik sono! Berasa dunia milik berdua, yang laen ngontrak,” celetuk Wendy selaku sahabat Seulgi dari kecil.

“Jomblo ya? Nggak boleh sirik ya mblo,” ledek Seulgi yang mendapatkan hadiah lemparan kaus kaki milik Wendy.

“IH! WENDY! JOROK BANGET!!!” Irene berteriak kesal karena kaus kaki yang Wendy lempar mengenai dirinya.

“Hahaha maaf sayang, nggak sengaja kan tujuannya ke pacar kamu yang itu tuh yang sedikit… umm ya you know lah…,” ucap Wendy.

“Sayang sayang, gue colok juga mata lo pake stick drum,” Seulgi memeluk erat tubuh Irene seperti tidak ingin sang pacar di rebut oleh sahabatnya sendiri.

“Yang ih kamu bauuuuu,” protes Irene.

“Kamu lagi pms ya? Marah marah mulu,” tanya Seulgi.

“Iya, kenapa emang? Masalah?” tanya Irene balik dengan nada ketus.

“Ih galak ih, atut ah,” Seulgi mendusal-dusal kan wajah pada lengan Irene.

“SEULGI!!!” teriak Irene yang begitu melengking hingga membuat seluruh orang yang berada didalam ruang latihan merasa kesakitan mendengarnya.


7 January 2022 – 7.45 PM

“Ih ternyata mama jail banget ke mami,” ucap Karina.

“Seru tau sayang jailin mami kamu haha,” timpal Seulgi.

“Terus terus ini pas kapan?” tanya Karina yang menunjuk foto.

“Oh ini pas mama sama mami udah nikah, ini lagi ngapain ya? Bentar…,” Seulgi mencoba mengingat kembali kejadian yang terpotret di album.

“Mama udah tua jadi udah pikun,” Karina menjulurkan lidahnya pada Seulgi.

“Enak aja! Inget nih!” Seulgi ikut menjulurkan lidahnya pada Karina.


5 July 2010 – 8 PM

“Sayang aku pulang,” Seulgi baru saja sampai pada apartemen nya setelah menyelesaikan kerjaannya yang lumayan banyak.

Ia menaruh tas dan jaket nya pada sofa. Matanya menerawang sekeliling mencari keberadaan istrinya. Seharusnya Irene sudah berada dirumah sejak sore. Kemana Irene, batinnya.

“Sayang?,” kini Seulgi mencari Irene disetiap ruangan, namun nihil.

“Irene?,” panggil Seulgi kembali. Hanya satu ruangan yang belum ia periksa, yaitu kamarnya.

Saat membuka pintu kamar, Seulgi tidak dapat melihat dengan jelas didalam kamar akibat lampu kamar yang tidak menyala. Tangannya mencari tombol lampu dengan meraba-raba dinding, lalu menyalakan lampu kamar agar ia dapat melihat dengan jelas. Namun ia dikejutkan seseorang yang muncul dari balik pintu dengan membawa kue kecil ditangannya.

“Surprise!!”

“ASTAGA!!”

“Hahaha maaf sayang kaget pasti,” Irene tertawa keras akibat melihat Seulgi terkejut dengan kemunculan nya.

“Kamu ngapain sih? Kaget aku!” Seulgi mengatur napasnya dan melihat kue yang dipegang oleh Irene.

“Hehehe aku punya hadiah buat kamu, buat ngerayain 4 bulan pernikahan kita,” jelas Irene dengan semangat.

“Oh iya hari ini tanggal 5 ya, maaf ya sayang aku lupa gara-gara kerjaan kantor,” ucap Seulgi sedih.

“Jadi kamu nggak inget? Kok kamu jahat sih,” mata Irene sudah berkaca-kaca, ia sedih akibat Seulgi tidak mengingat tanggal pernikahannya.

“Maaf sayang, jangan nangis, nanti ininya nggak jadi buat kamu,” Seulgi menunjukan sebuah paper bag kecil berwarna biru muda.

“Ih kamu bohong! Ngeselin ih!” Irene meninggalkan Seulgi dikamar.

“Hahaha kamu mau kemana?” Seulgi mengikuti Irene yang menuju dapur.

“Mau taro kue, pegel tau! Mana nggak di ambil, aku udah pegang lama nungguin kamu pulang!” Irene menggerutu kesal sembari menaruh kue pada meja makan. Lalu Seulgi memeluk tubuh Irene dari belakang.

“Aku nggak akan pernah lupa sayang, maafin aku ya kalo kamu megang kuenya lama gara-gara nungguin aku pulang,” Seulgi mengecup pipi Irene.

“Huh ngeselin… terus ini apa?” tanya Irene penasaran setelah mengambil paper bag dari tangan Seulgi.

“Buka aja,” ucap Seulgi. Dengan cepat Irene membuka paper bag tersebut dan mengambil sebuah kotak kecil. Saat membuka kotak tersebut, Irene terkejut bukan main.

“Bercanda kamu, nggak mungkin!”

“Beneran sayang, itu kan kalung yang kamu mau bulan lalu,” jelas Seulgi.

“Tapi kan mahal banget Gi! Tiga kali lipat dari gaji aku!,” Irene masih tidak percaya apa yang ia lihat. Seulgi mengambil kalung tersebut dari kotaknya, lalu memasangkan nya pada leher Irene.

“Ini buat kamu, kamu nggak perlu mikir aku bisa beli ini dari mana uangnya,” Irene membalikkan badannya menatap Seulgi.

“Tapi….”

“Aku nggak ngutang kok, tenang aja sayang,” Seulgi mengecup kening Irene.


7 January 2022 – 8.05 PM

“Ih sama kalungnya kaya punya Kayin,” ucap Karina dengan semangat.

“Itu punya mami,” jelas Seulgi.

“Kok ada di aku sih mah?,” tanya Karina.

“Ya karena mami kamu yang ngasih itu ke kamu,” Karina hanya ber-oh ria setelah mendengar penjelasan dari Seulgi.

“Pasti ini pas mau natal ya mah!,” tebak Karina dengan menunjuk foto Irene yang tengah sibuk membuka bungkus hiasan pohon natal.

“Mami kamu paling suka banget ngehias pohon natal,” jelas Seulgi.


20 December 2011 – 9 PM

“Sayang ini udah jam 9 ayo bobo, kita lanjutin besok lagi,” ucap Seulgi.

“Bentar sayang nanggung,” Irene masih saja sibuk menata hiasan pohon natal.

“Sayang…,” Seulgi memeluk tubuh Irene dari belakang lalu mengecup bahunya sembari mengelus perut Irene yang sedang mengandung Karina.

“Kata dokter kan kamu nggak boleh ke capekan sayang,” ucap Seulgi.

“Iya iya sayang satu lagi ini, sebentar ya, kamu kalo udah ngantuk bobo duluan aja,” Irene melirik wajah Seulgi sekilas dan kembali fokus pada pohon natal.

“Sayang kamu nggak kasian apa sama baby kamu ajak begadang, pasti ini dia udah bobo,” tangan Seulgi masih saja mengelus perut Irene yang buncit.

“Tapi kan….”

“Sayang?”

“Huft~ okay fine!” Irene membalikkan badannya lalu memeluk leher Seulgi sembari menatap wajahnya.

“Bobo ya?” tanya Seulgi.

“Hum,” Irene mengangguk manja pada Seulgi.

“Natapnya kenapa gitu?” Seulgi tertawa kecil saat melihat tingkah istrinya yang begitu manja.

“Pijitin akuuuu… pinggul aku pegeeeeeel hhnnggg,” Irene memanyunkan bibirnya.

“Makanya ayo ke kamar, nanti aku pijtin,” Seulgi mengelus-elus pinggul Irene.

“Gendong~” ucap Irene dengan nada manja.

“Nanti baby kejepit sayang, jangan ngadi ngadi deh, ayo,” Seulgi melepaskan lengan Irene dan mengajak nya ke kamar.


7 January 2022 – 8.20 PM

“Ih itu bintangnya sama kaya pohon natal kemarin ya mah?!” tanya Karina.

“Iya sayang, berarti itu umur bintangnya sama kaya umur kamu sekarang, hahaha tua,” ledek Seulgi.

“Aku masih kecil mama!” Karina memanyunkan bibirnya kesal. Seulgi melihat tingkah anaknya hanya tersenyum.

“Tapi mah mami kok nggak pulang pulang sih? Kan Kayin pengen ketemu!” protes Karina.

“Liat udah jam berapa ini, waktunya anak kecil bobo,” ucap Seulgi sembari melirik jam dinding.

“Tapi aku belom ngantuk,” Karina melipat kan tangannya di dada.

“Mau ketemu mami nggak?” tanya Seulgi.

“Mau!!!” jawab Karina semangat.

“Makanya tidur, biar nggak kesiangan,” Karina mengangguk cepat.

“Aye aye captain!! Hehehe asik ketemu mami!!” Karina berlari menuju kamarnya untuk tidur.

Seulgi hanya menggelengkan kepalanya sembari menghela napas panjang. Ia menutup album, lalu menaruhnya di atas meja. Akibat Karina, tugasnya untuk merapihkan barang jadi tertunda. Ia memutuskan untuk melanjutkan pada esok hari.


'ting tong~'

'ting tong~'

Sebuah pintu terbuka lebar menampilkan seseorang yang terkejut saat melihat penampilan pelaku yang membunyikan bel pintunya.

“ASTAGA ROSÉ!! LO ABIS DARI MANA BASAH KUYUP GINI!!!”, tanya Jennie, namun Rosé hanya diam dan tersenyum kecut.

“Cepet masuk nanti lo sakit!” Jennie menarik Rosé masuk ke dalam apartemennya. Setelah di dalam apartemen, Rosé menahan lengan Jennie.

“Gue udah bilang” ucap Rosé yang menatap Jennie dengan tatapan kosong.

“Lo kerumah dia tadi? Ujan ujanan? Bener bener ya lo”, omel Jennie.

“Gue bilang kalo gue bakal tunangan” ucap Rosé lirih, tanpa disadar air matanya jatuh membasahi pipinya.

“What?! Apa lo udah gila?! Yang bener aja lo! Mana mungkin gue tunangan sama lo! Pacar beneran juga bukan!” Jennie tidak mengerti mengapa Rosé bisa mengatakan seperti itu pada Irene.

“Bantu gue... Bantu gue buat lupain dia...” hatinya sangat terasa sakit untuk mengatakan ini. Namun ia harus meneruskan rencana yang ia buat agar dapat melupakan Irene.

“Tapi Je...”

“Bantu gue untuk jatuh cinta sama lo, gue mohon”, Jennie menghapus air mata Rosé yang masih membasahi pipinya.

“Kenapa? Kenapa harus gue?”

“Karena cuma lo yang gue percaya”


Malam ini di sambut dengan lebatnya hujan yang mengguyur ibu kota Jakarta. Dingin dan kosong. Itu lah yang di rasakan Rosé saat ini. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ia mengetahuinya, namun ia bimbang. Selesaikan atau abaikan. Kira-kira begitulah pikirannya, mengimbang-imbang jawabannya yang tepat untuk situasi saat ini.

Setelah beberapa lama berfikir. Rosé telah membuat keputusan. Tak ingin membuang waktu, ia segera mengambil hoodie miliknya dan mengambil kunci mobil milik Jennie.

“Mau kemana?”, tanya Jennie yang melihat Rosé seperti terburu-buru ingin keluar.

“Keluar sebentar, minjem dulu ya”, ucap Rosé yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Jennie.

Sejujurnya Rosé pulang ke Indonesia adalah kemauannya. Keluarganya tetap tinggal di Aussie. Karena itu lah Rosé kini menumpang di apatemen milik Jennie. Hanya sampai ia menemukan apartemen yang cocok untuknya.


Setelah beberapa lama Rosé mengendarai mobil, kini ia berhenti di depan sebuah rumah yang berukuran sedang dan minimalis. Masih sama seperti dahulu. Tidak ada yang berubah, hanya saja warna tembok yang berubah dari terakhir kali ia lihat dahulu. Sempat ragu beberapa menit, akhirnya ia memutuskan untuk turun dan berlari menuju pagar rumah tersebut. Segera ia menekan tombol bel yang berada di dekat pintu pagar. Sekali dua kali ia tekan tombol bel, namun tak kunjung seorang pun yang keluar dari rumah.

Badannya kini sudah basah kuyup akibat lebatnya hujan. Ia tidak peduli. Tujuan ia kemari ingin bertemu seseorang yang sangat ia rindukan. Kembali ia mencoba menekan tombol bel, tetap saja tak seorang pun yang keluar. Tak lama sebuah mobil berhenti di hadapannya. Matanya tidak dapat melihat jelas akibat silaunya lampu mobil yang menyoroti wajahnya. Hampir 5 menit orang yang berada di dalam mobil tidak turun. Pintu mobil tersebut terbuka, dan seseorang muncul menggunakan payung menghampiri Rosé yang masih diam di depan mobil tersebut. Pandangannya kini kembali fokus setelah menatap seseorang di hadapannya. Bae Irene.

Tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rosé maupun Irene. Mereka saling menatap satu sama lain. Hingga sebuah tangan mendarat di pipi Rosé. Irene menamparnya dengan keras. Ia terkejut dan menatap mata Irene yang sudah berkaca-kaca. Hendak menamparnya kembali, Rosé menarik tangan Irene lalu memeluknya dengan erat. Payung yang di pakai Irene jatuh membuat tubuhnya ikut basah akibat guyuran hujan. Irene menangis dalam dekapan Rosé sembari memukul-mukul punggung Rosé. Perasaannya terasa campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena dapat bertemu dengan Irene setelah sekian lamanya. Sedih karena Irene menangis. Dirasa mereda emosi Irene, Rosé melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Irene.

“Maafin gue Re”

“Jahat lo”

“Gue nggak bermaksud begitu”

“Mana janji lo?!”

“Lo sendiri yang mempersulit Re”

“Karena gue marah sama lo!! Seharusnya lo cerita sama gue! Tapi lo main pergi gitu aja setelah pamit di group! Mana janji lo yang selalu ada buat gue! Mana?!!”, Irene kembali menangis sembari memukuli dada Rosé.

“Iya gue tau gue salah, nggak bisa nepatin janji gue, gue minta maaf, mungkin setelah ini gue tetap nggak akan bisa nepatin janji gue, nggak lama lagi gue bakal tunangan Re”, Irene terkejut menatap Rosé tidak percaya. Rosé mengecup kening Irene sedikit lama.

“Gue harap Seulgi atau Wendy bisa jagain lo, gue minta maaf”, Rosé meninggalkan Irene yang masih mematung dengan keadaan badan yang sudah basah kuyup.

'Maafin gue Re, tapi lo tetap jadi Rere gue sampai kapan pun itu', batin Rosé.


Setelah perang dalam pesan singkat, akhirnya Seulgi dan Wendy menghampiri Rosé dan Jennie yang sudah lama menunggu mereka untuk menjemput. Bisa saja Rosé memesan taxi untuk pulang, namun lebih baik di jemput sahabat lamanya. Sudah 4 tahun Rosé tidak bertemu Seulgi dan Wendy. Apa lagi Irene, ia masih saja tidak dapat berkomunikasi denganya. Entah lupa atau memang Irene tidak ingin bicara dengannya lagi, ia tidak pernah tau itu selama 4 tahun ini.

“Anjrit lo kok bisa bareng si Roje sih Jen”, ucap Wendy pada Jennie.

“Bisa dong wleee”, timpal Jennie yang menjulurkan lidahnya pada Wendy sembari memeluk erat lengan Rosé.

“Kenalin bro pacar gue hehe”, Rosé terkekeh pelan.

“ANJIR KOK BISA?!”, tanya Seulgi dan Wendy kompak.

“Biasa aja dong lo pada kaya nggak seneng banget gue pacarnya si Roje”, Jennie memanyunkan bibirnya sembari menendang pelan kaki Wendy.

“Ah anjrit masih aja lo galak”, Wendy menggerutu.

“Bukannya lo sama si Lisa Jen?”, tanya Seulgi.

“Ih kata siapa?”, Jennie menanya kembali pada Seulgi.

“Kata anak anak yang laen lah njir”, Jennie menggelengkan kepalanya cepat.

“Itu mah pasti akal akalan si Lisa”, ucap Jennie dengan percaya diri.

“Terus lo berdua kok bisa ketemu?”, tanya Wendy penasaran.

“Gue nggak sengaja ketemu dia di café, ternyata dia juga pindah ke kampus yang sama kaya gue, yaudah jadi sering jalan bareng”, jelas Rosé.

“Pantesan aja di kampus gue jarang liat lo anjir, gue kira lo mager kuliah gara gara endorsan kenceng hahaha”, ucap Wendy yang mendapatkan tendangan keras pada kakinya oleh Jennie.

“Enak aja lo kalo ngomong... Tapi iya sih hahaha... Sayangnya bisa di gorok gue sama nyokap kalo berenti kuliah”, ucap Jennie.

“Dah ya introgasinya, gue laper njir, ayo cari makan yang portugal tapi murah”, Rosé bangkit dari duduknya dan membantu Jennie untuk berdiri.

“Gue tau tempatnya”, celetuk Wendy.