noubieau

Welcome to noubie universe.


“Dor!” Seseorang mencoba untuk membuat Seulgi terkejut, namun tidak berhasil karena Seulgi sudah mengetahui pergerakan orang tersebut.

“Kok nggak kaget sih?!” protes seorang wanita yang memakai kemeja putih dengan tas coklat yang bertengger pada bahunya, terlihat kesal karena rencananya gagal untuk mengejutkan Seulgi, tak lain ialah Irene. Si wakil ketua BEM kampus Kwangya.

“Kalo mau ngagetin ganti dulu parfum lo” ucap Seulgi dengan tenang seraya meneguk perlahan kopi yang ia pesan sejam yang lalu, tentu saja sudah dingin.

“Emang ngaruh?” tanya Irene tidak percaya. “Emang parfum gue kecium banget ya?”

“Iya anjir, udah yuk udah bawel nih si wendy hojung” Seulgi bangkit dari kursi dan segera membayar pesanan yang ia pesan selama menunggu Irene beres rapat BEM. Lalu Seulgi mengajak Irene untuk segera menuju parkiran.

“Tapi enakan wangi parfum gue” kini Irene mengimbangi tempo langkah Seulgi. Sudah biasa terjadi, karena Seulgi memiliki tempo langkah yang sangat cepat hingga orang orang yang jalan dengannya akan tertinggal jauh.

“Kata siapa? Udah bau kemenyan gitu juga” Seulgi berusaha untuk tidak tertawa.

“Ngeselin banget sih lo” tiba tiba saja Irene menggigit kuat lengan Seulgi, yang tentu saja mendapatkan hasil sebuah teriakan ampun dari Seulgi.

“Aaahhh sakit rene sakit ampun!!” Seulgi mendorong paksa kepala Irene. Di lihat lengannya kini terdapat sebuah tanda merah yang begitu dalam berbentuk gigi Irene.

“Salah sendiri ngeselin” Irene menjulurkan lidahnya pada Seulgi. Sang korban gigitan Irene hanya dapat menggelengkan kepala tidak mengerti kenapa Irene dapat berbuat seperti itu.

“Heran gue kenapa banyak yang suka sama lo, padahal lo vampire kang gigit” Seulgi dengan cepat masuk ke dalam mobil, sebelum mendapatkan amukan dari Irene.


Pukul 13.23 Seulgi sudah sampai di apartemen nya. Badannya sedikit pegal pegal akibat tertidur di mobil selama perjalanan Bandung-Jakarta. Karena terbiasa membawa mobil, saat menjadi penumpang rasa kantuknya selalu datang setiap saat. Namun saat kakinya baru menginjakkan lantai lobby, rasa bosan dan kantuk itu berubah menjadi rasa senang. Tentu saja ia sangat senang akhirnya ia dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Segera langkahnya menuju lift untuk naik ke lantai 5 dimana unit apartemen nya berada.

Ketika sudah sampai didepan pintu, hatinya begitu berdebar. Bukan karena ia rindu dengan sang pacar, namun ia gelisah karena sebentar lagi akan melamar pujaan hatinya. Lengannya meraba-raba kantong celana belakangnya, untuk memastikan jika kotak cincin yang ia sudah beli tidak terjatuh. Kotak kecil tersebut masih berada di dalam kantong celananya. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam apartemen.

“I’m home”

Tak ada jawaban. Netra nya kini menelusuri setiap sudut ruangan. Namun ia tidak dapat menemukan pujaan hatinya.

“Sayang?” sebuah suara muncul dari belakangnya. Segera ia berbalik badan dan melihat sosok yang ia rindu kan.

“Aku kira kamu ke…” sebuah pelukan mendarat pada tubuhnya. Irene kini memeluk Seulgi dengan erat.

“Miss you too baby” dengan lembut Seulgi mengusap kepala Irene.

“Kangen ya? Maaf ya bikin kamu sendirian di sini” Irene masih tidak bergeming.

Cukup lama Irene memeluk Seulgi. Kemudian Irene melepaskan pelukan nya dan menatap kedua mata Seulgi. Terlihat mata Irene yang sembab. “Hey kok nangis hm? Kan aku udah pulang, udah di sini sayang”

“Aku punya berita penting…” ucap Irene lirih.

“Aku juga punya berita penting…”

“Yaudah kamu dulu”

“Engga engga, kamu dulu aja aku nanti terakhir” Seulgi tersenyum lebar.

“Ini” Irene memberikan sebuah kartu undangan pada Seulgi.

“Apa ini? Siapa yang nikah?” Irene menundukkan kepalanya tak menjawab pertanyaan Seulgi. Pada undangan tersebut terdapat nama yang tidak asing bagi Seulgi.

“Maksudnya apa ini? Siapa Suho? Kenapa nama kamu ada disini?” Seketika raut wajah Seulgi berubah.

“…aku bakal nikah sama dia…” Irene masih tidak berani menatap Seulgi.

“Haha kamu pasti bercanda ini, kamu pasti bohongkan? Hm? Bilang sama aku ini cuma prank?” Seulgi sedikit menundukkan tubuhnya untuk menatap wajah Irene.

“Maafin aku…” lirih Irene yang tak kuasa menahan tangis nya.

“Pasti kamu bercanda ini haha… nggak mungkin… aku sayang kamu Irene…” Seulgi masih tak percaya dengan semua ini, pipinya kini sudah basah dengan air matanya.

“Aku juga sayang kamu…” Irene memberanikan untuk menatap Seulgi dan tangannya yang bergetar mengusap perlahan pipi Seulgi.

“Kenapa…” ucap Seulgi begitu lirih.

“Mari kita akhiri hubungan ini…” Irene mengecup pipi Seulgi begitu lama. Seulgi hanya diam tak bergeming. Ia tidak tau harus bagaimana. Hatinya begitu hancur. Seharusnya bukan ini yang ia inginkan.

“Aku pamit…”


Seulgi merasa bersalah karena membuat pacarnya marah akibat tidak dapat bertemu dengannya tadi malam. Tak hanya malam itu, namun sudah beberapa kali Irene tidak dapat bertemu dengan Seulgi karena kesibukan kantornya. Sesuai dengan harapannya, kini ia memiliki waktu luang untuk bertemu dengan Irene. Sebelum bertemu dengan Irene, ia terlebih dahulu membeli sebuah bouquet bunga, sebagai tanda permintaan maaf.

Sampainya di parkiran kampus, ia segera menghubungi Irene agar menemui dirinya di parkiran. Namun panggilannya selalu di tolak. Sudah di pastikan pacarnya ini sudah marah sekali. Dengan terpaksa dirinya harus turun dari mobilnya, dan mencari keberadaan Irene. Ketika sedang mengunci mobil. Indera pendengaran menangkap suara yang ia kenal. Seulgi menoleh ke arah sumber suara, ternyata sosok tersebut yang ia cari sedang mengomel pada teman-temannya. Sudah di pastikan Irene sedang mengomel tentang dirinya. Lucu juga melihat ekspresi wajahnya saat sedang marah.

Beberapa temannya menyadari keberadaan Seulgi lalu menyadarkan Irene agar dapat melihat dirinya. Namun Irene langsung membuang pandangannya tidak ingin melihat Seulgi. Tanpa menunggu lama, Seulgi mengambil bouquet bunga di dalam mobil, lalu menghampiri Irene yang sedang di tahan oleh teman temannya.

“Ih apaan sih…”

“Itu pacar lo juga ih parah banget”

“Hi, bisa pinjem Irenenya sebentar?”

“Hi kak, oh boleh nih ambil aja dari tadi rungsing pusing kita” teman-temannya mendorong tubuh Irene pada Seulgi dan meninggalkannya begitu saja.

“YAK!!” teriak Irene yang begitu melengking.

“Ayo makan siang” Seulgi menatap Irene begitu lekat.

“Gak” ketus Irene.

“Ini buat kamu” Seulgi memberikan sebuah bouquet bunga pada Irene.

Raut wajah Irene seketika berubah saat melihat bouquet bunga. Seulgi tau kalau pacarnya ini sangat menyukai bunga. Tanpa aba aba, Seulgi mengecup kening Irene lalu mengusap lembut pipinya seraya menatap kedua matanya.

“Maafin aku ya sayang, next time aku janji kalau mau berangkat aku bangunin km”

“Janji?”

“Iya sayang”

“Aku mau sushi sama ramen”

“Iya sayang ayo”


Sampai nya di rumah Nayeon, Jeongyeon segera masuk ke dalam rumah yang super besar. Langkahnya mengitari beberapa ruangan untuk mencari keberadaan Nayeon, namun nihil. Ketika hendak menginjakan kakinya ke lantai dua, Jeongyeon di kejut kan oleh seseorang yang sedang berdiri di tengah tengah ujung tangga, dengan kedua tangan di lipat pada dadanya.

“Ngapain?” tanya Jeongyeon dengan posisi kepala sedikit mendengak ke atas. Namun seseorang yang di tanya hanya diam sembari menghampiri dirinya.

“Mana?” sebuah tangan terulurkan di hadapan Jeongyeon dengan posisi meminta sesuatu. Lalu Jeongyeon menaruh sekotak pizza pada tangan tersebut.

“IH BUKAN ITU JEJE!” Nayeon menjatuhkan kotak pizza yang sudah Jeongyeon beli ke lantai. Mulai lagi keluar sifat rese anak boss nya ini, batin Jeongyeon.

“Mana uang aku?” tanya Nayeon dengan nada ketus. Jeongyeon menghela napas panjang, ia tidak menjawab langsung, melainkan mengambil kotak pizza yang di jatuhkan Nayeon.

“Buat apa?” Jeongyeon kini menatap lekat wajah Nayeon tanpa ekspresi.

“Kepo banget sih, udah siniin uang aku” kini Nayeon mencoba untuk meraih tas Jeongyeon untuk mengambil dompetnya. Namun dengan cepat Jeongyeon menghindar dan menepis kan tangan Nayeon.

“Gak ada” jawab Jeongyeon.

“JEONGYEON!” teriak Nayeon pada Jeongyeon yang kini meninggalkan dirinya begitu saja.


Beberapa jam setelah mendapat pesan singkat dari boss nya, Jeongyeon segera mempersiapkan beberapa baju kedalam tas karena malam ini dirinya di haruskan untuk menginap di rumah boss nya. Tak semata-mata hanya menginap, namun dirinya harus extra menjaga anak boss nya yaitu Nayeon. Wanita yang keras kepala, selalu membantah ucapan dirinya, dan Jeongyeon harus mengikuti kemauan dirinya. Kesal memang, namun apa boleh buat. Jeongyeon membutuhkan pekerjaan ini agar dapat menghidupi dirinya, dan juga membayar hutang-hutang pada keluarga Son. Walaupun keluarga Son tidak menaggihnya, namun Jeongyeon merasa tidak enak karena mereka Jeongyeon dapat meneruskan sekolahnya sampai lulus kuliah dengan gelar sarjana.

“Mau kemana lo?” ucap seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Jeongyeon, tak lain yaitu Son Chaeyoung. Sahabat Jeongyeon satu satunya.

“Kepo lo” jawab Jeongyeong.

“Mau staycation ya lo sama Nayeon? HAHAHA” sungguh tidak ada adab keluarga Son yang satu ini.

“Kaga bangsat, gue di suruh bokapnya nginep di rumahnya” ucapan Jeongyeon membuat Chaeyoung semakin tertawa lepas memenuhi keheningan kamar Jeongyeon yang mayoritas isinya berwarna abu dan hitam.

“HAHAHA langsung staycation di rumahnya gak tuh HAHAHA” Jeongyeon melemparkan bantal tepat pada muka Chaeyoung.

“Berisik bangsat, dah gue mau otw, minggir lo” Jeongyeon bangkit dari kasur dan segera meninggalkan Chaeyoung yang masih saja tertawa di dalam kamar.

“Jangan lupa pake pengaman HAHAHA” teriak Chaeyoung dari dalam kamar.


Hujan masih saja terus mengguyur seluruh kota. Bau air hujan membuat beberapa orang akan merasa tenang, termasuk Seulgi. Kini dirinya sedang berada di balkon rumah Wendy. Menatap langit yang begitu gelap hanya dapat terlihat kilatan-kilatan petir. Hembusan angin yang begitu dingin menerpa kulitnya, namun dirinya tidak merasa kedinginan. Seharusnya ia sudah menggigil. Aneh bukan? Tentu saja.

Wendy datang menghampiri Seulgi dengan membawa dua gelas teh hangat, lalu Wendy memberikan pada Seulgi dan duduk di sebelah sahabatnya itu. Seulgi sangat senang dapat melihat Wendy kembali. Sudah lama ia merindukan sahabatnya.

“Udah lama banget ya kita nggak ketemu Gi?” Wendy tersenyum dengan tatapan nya menuju pada langit yang begitu gelap.

“Tega lo Wen,” dapat terdengar oleh Wendy hembusan napas Seulgi yang begitu kasar.

“Maafin gua Gi, tapi semua ini udah rencana tuhan, gua nggak bisa berbuat apa-apa,” kini Wendy menatap Seulgi lalu tersenyum.

“Tapi Wen cuma lo sahabat gua satu satunya,” Seulgi tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia membiarkan air matanya jatuh satu persatu.

“Don’t cry…,” Wendy menghapus air mata Seulgi.

“Walau gua udah gak ada di dunia lo, tapi gua bisa liat lo dari sini, gua selalu ada di sisi lo Gi, gua tau lo lagi berjuang mencari siapa dalang semua ini, gua tau Gi,” tangan Wendy kini merapihkan rambut Seulgi yang sedikit berantakan akibat hembusan angin yang sedikit kencang.

“Lo masih inget kan pesan terakhir gua? Find your happiness…,” ucap Wendy yang di anggukan oleh Seulgi.

“Gua rasa lo udah menemukannya Gi, cuma lo masih belum sadar,” Wendy terkekeh pelan.

“Maksud lo?” Seulgi masih tak mengerti apa yang di maksud Wendy.

“Masih aja ya lo gak berubah Gi, masih lemot hahaha,” ledek Wendy yang di hadiahkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Asli ya lo gak di sana gak di sini roasting gua mulu,” kesal Seulgi.

“Haha chill brou… Maksud gua adalah ada seseorang yang mencintai lo sangat tulus, cuma lo nya belum sadar,” jelas Wendy membuat Seulgi berpikir lama.

“Siapa Wen?” tanya Seulgi.

“Nanti juga lo tau setelah lo bangun,” Wendy mengusap kepala Seulgi dengan lembut.

“Enggak Wen gua nggak mau bangun, gua mau disini sama lo, sama bokap nyokap gua Wen…,” Seulgi menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Disini bukan tempat lo Gi, lo harus bangun, takdir lo masih berlanjut,” Wendy beranjak dari kursi dan hendak pergi. Namun Seulgi menahan lengan Wendy dengan kuat.

“Wen please Wen jangan pergi… Gua nggak mau kehilangan lo lagi Wen…,” Seulgi memohon mohon agar dirinya dapat bertahan lama di dunia tersebut. Seketika muncul sebuah tangan memegang bahu Seulgi. Sontak Seulgi langsung melihat kebelakang. Dan kini Seulgi berpindah tempat berada di sebuah halaman rumah tepi pantai.

“Seulgi…,” panggil seseorang. Seulgi mengenali suara tersebut. Pandangannya mencari asal sumber suara tersebut dan menangkap sosok wanita paruh baya yang sedang berjalan menghampirinya.

“Mama?” tanya Seulgi agar memastikan jika yang ia lihat adalah mamanya.

“Iya sayang ini mama, lihat anak mama sudah besar sekarang,” mama Kang menangkup pipi Seulgi dan mengusap lembut pipi Seulgi.

“Ma aku kangen…,” Seulgi langsung memeluk tubuh sang mama dengan erat dan menangis dalam pelukan sang mama.

“Mama juga kangen kamu sayang, anak mama yang paling mama sayang,” ucap mama Kang.

“Biarin aku disini ma… Aku nggak mau mama pergi lagi…,” pinta Seulgi namun mama Kang langsung melepaskan pelukan Seulgi dan menatap wajahnya.

“Dengar sayang, disini bukan tempat kamu, kamu masih harus menjalankan takdir kamu, masih ada seseorang yang menunggu kamu disana sayang, temui dia,” Seulgi menggelengkan kepalanya cepat.

“Enggak ma… Enggak… Aku nggak mau kesana... Aku mohon ma….”

“Seulgi!” seorang pria paruh baya datang menghampirinya.

Seulgi menoleh pada pria tersebut. “Papa?”

“Kamu harus bangun! Kamu nggak boleh berada disni!”

“Relakan kami nak.”

“Gi relain kita.”

“Papa selalu dukung kamu dari sini.”

“Kita semua ada di sisi kamu nak.”

“Pulang Gi.”

Seketika semua berubah menjadi gelap. “Wen? Ma? Pa?” Seulgi mencari sosok mereka yang tiba tiba saja menghilang. Tangis nya semakin pecah. Dirinya masih tidak rela untuk kembali ke tubuhnya. Ia masih merindukan mereka. Orang yang ia sayangi.

“WENDY?!!!”

“MAMA?!!!”

“PAPA?!!!

“Jangan tinggalin aku....”

Seulgi masih saja terus mencari mereka dengan meneriaki nama mereka satu per satu, namun tidak ada jawaban satu pun yang terdengar olehnya. Dadanya begitu sesak dan sulit untuk bernapas. Badannya semakin lemas dan kakinya kini sudah tidak kuat untuk menopang badannya. Ia terjatuh. Tak berdaya. Mungkin ini akhir bagi segalanya. Dan ia rela dengan takdir nya.


Cuaca semakin dingin. Walau dalam ruangan namun Irene dapat merasakan dingin nya bertambah akibat hujan yang masih saja deras di luar sana. Dengan cepat Irene menambahkan selimut pada Seulgi agar tidak kedinginan. Dengan penuh hati-hati Irene membenarkan posisi Seulgi agar tetap hangat.

Ketika Irene sedang membenarkan selimut Seulgi, tiba-tiba saja tubuh Seulgi kejang-kejang membuat Irene sangat ketakutan. Dengan cepat Irene menekan tombol bell darurat dan segera keluar kamar meneriaki perawat dan dokter untuk segera memeriksa Seulgi. Terdengar suara monitor berbunyi sangat kencang hingga keluar ruangan.

Beberapa perawat dan dokter berlari masuk menghampiri Seulgi yang masih saja kejang. Dokter mulai memeriksa keadaan Seulgi dengan hati-hati. Beberapa perawat memegangi tubuh Seulgi.

“Dok detak jantungnya semakin melemah,” ucap salah satu perawat yang sedang membaca grafis detak jantung Seulgi pada monitor.

Dokter masih terus mencoba untuk menormalkan kembali detak jantung Seulgi. Irene hanya bisa menangis melihat Seulgi yang sedang sekarat. “Ayo Gi kamu bisa berjuang… Aku mohon….”

Detak jantung Seulgi semakin melemah membuat dokter harus memberikan Defibrilator pada Seulgi, “Siapkan Defibrilator.”

Salah satu perawat mempersiapkan alat kejut jantung dengan cepat. Perawat lainnya membuka pakaian Seulgi. Dokter langsung melakukan kejut jantung pada dada Seulgi. Percobaan pertama tidak berhasil. Dokter menambahkan daya kejut untuk percobaan kedua. Tetap tidak membuat detak jantung Seulgi meningkat. Tetapi membuat semakin melemah. Dokter kembali mencoba dengan daya kejut yang sudah di tambahkan. Namun sama saja. Hingga suara monitor yang terdengar begitu nyaring. Menandakan sudah tidak ada detak pada jantung Seulgi.

“Maaf nyonya, kami sudah berusaha sebaik mungkin,” ucap sang Dokter.

“Enggak… Nggak mungkin… Dia masih bisa dok… Coba lagi…,” Irene melangkah mendekat pada ranjang dimana tubuh Seulgi terbaring dengan jantung yang tidak berdetak lagi.

“Maaf nyonya… Kami harus mengumumkan ini… Nama Kim Seulgi, umur 24 tahun, meninggal pada pukul 10.25 malam…,” ucap Dokter.

Irene memeluk erat kepala Seulgi yang masih terpasang Ventilator pada mulutnya, “Seulgi ayo bangun Gi… Aku tau kamu masih bisa dengar… Please Gi… Aku mohon bangun…,” tangis Irene semakin pecah. Ia masih percaya jika Seulgi akan bangun kembali.

“Dokter saya mohon… saya mohon… bantu Seulgi… saya mohon…,” ucap lirih Irene pada Dokter.

Irene menatap wajah Seulgi dengan lekat. Tangannya mengusap pipi Seulgi dengan lembut. “Seulgi aku mohon kembali….”

.

.

.

.

‘bip!’


Cuaca hari ini sangat lah dingin. Terlihat jelas dari jendela hujan sedang turun dengan lebatnya. Sesekali muncul beberapa kilatan petir dengan suara yang bergemuruh memecahkan keheningan kamar inap VIP rumah sakit. Dalam kamar tersebut terdapat Seulgi yang terbaring lemah dengan begitu banyak kabel dan selang pada tubuhnya. Tidurnya begitu tenang hanya dapat terdengar suara monitor yang menampilkan grafis detak jantung.

Tak lama pintu kamar terbuka dan muncul sosok wanita yang masuk ke dalam dengan tangan yang penuh dengan belanjaan makanan. Wanita tersebut lah yang selama ini merawat Seulgi. Irene. Sudah seminggu semenjak kejadian kecelakaan, Seulgi masih tak kunjung sadar. Dokter mengatakan butuh waktu yang sangat lama untuk Seulgi dapat siuman dari koma nya. Bagaimana tidak, kejadian minggu lalu hampir saja merenggut nyawanya. Tubuhnya hampir saja hancur. Sama halnya dengan Irene yang berada di sebelah nya saat ini. Hatinya begitu hancur saat mendengar kabar bahwa Seulgi mengalami kecelakaan sama halnya seperti pak Kang. Namun tuhan mendengarkan doanya. Seulgi masih dapat bertahan hingga saat ini. Walau dalam keadaan koma. Bunyi dering ponsel memecahkan keheningan dan juga lamunan Irene. Tangannya meraih ponsel nya dan menjawab panggilan masuk dengan cepat.

”Halo kenapa Yer?”

”Masih belum sadar, kayanya kakak bakal lama disini…”

”Udah kamu di rumahnya Seulgi aja, fokus belajar aja ya, kakak bisa sendiri kok”

”Iya nanti kakak makan, baru aja sampe beli stock makanan… kamu udah makan?”

”Humm…” Irene melirik pada jam dinding, sudah jam 7 malam.

”Kamu jangan begadang besok sekolah… yaudah kakak matiin ya… telp kakak kalo butuh sesuatu… humm ya” Irene mengakhiri panggilan tersebut dan menaruh ponsel nya di atas nakas. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan masuk dua orang yang Irene kenal. Jennie dan Kai.

”Hi kak…” Jennie memeluk Irene.

”Hi Jen… Kalian datang berdua aja? Dimana Sehun?” tanya Irene pada Jennie dan Kai. Mereka saling tatap satu sama lain memberi isyarat siapa yang akan bicara.

”Umm.. dia sibuk kak hehe” jawab Kai.

”Oh iya kak ini ada buah buat Seulgi, tapi kayanya buat kakak aja” ucap Jennie sembari melirik Seulgi yang masih terbaring lemah di ranjang.

”Wah sampe repot repot segala, ayo duduk Jen, Kai” Irene mengambil buah pemberian Jennie dan Kai dan menaruhnya pada nakas di sebelah ranjang Seulgi.

”Kabar kak Irene gimana? Pasti capek ya ngurusin Seulgi sama perusahaan keluarganya?” tanya Kai.

”Haha ya gitu deh mau gak mau kan, siapa lagi yang bakal ngurusin Seulgi sama perusahaannya kalo bukan aku” jelas Irene sembari menyiapkan minum untuk Jennie dan Kai. Lalu menaruh minuman tersebut di meja hadapan mereka.

”Oh iya saya tuh dari kemarin mau nanya tapi lupa terus, pacarnya Seulgi kemana ya? Kok saya belum liat dia datang kesini? Apa gak tau kabarnya Seulgi? Tapi nggak mungkin sih, kan ada di berita juga” Jennie dan Kai kebingungan harus menjelaskan pada Irene dari mana.

”Jadi gini kak, sebenarnya Seulgi sama Jisoo itu udah putus kak” jelas Jennie hati-hati pada Irene.

”Putus? Kok bisa? Kapan?” Irene kebingungan.

”Putusnya pas sebelum berita papanya Seulgi keluar…” Jennie melirik Kai dan menyenggol lengannya untuk melanjutkan penjelasannya.

”Putusnya gara gara Jisoo selingkuh sama Sehun kak, dan saat itu juga Seulgi ngeliat berita…” Entah mengapa mendengar cerita tersebut membuat hati Irene terasa sakit. Andaikan saat itu dirinya langsung mencari Seulgi. Pasti Seulgi tidak akan seperti ini. Tanpa sadar air mata Irene jatuh membuat Jennie dan Kai merasa bersalah telah menceritakan hal tersebut.

”Kak kita minta maaf udah ceritain ini” ucap Jennie.

”Kak aku dan Jennie selaku temannya Sehun mau minta maaf kak, karena dia Seulgi jadi begini” ucap Kai. Irene langsung menghapus air matanya lalu tersenyum.

”It’s okay, saya kan jadi tau alasannya, tidak apa kalian melakukan hal yang benar, terima kasih sudah bertahan sebagai temannya Seulgi sampai hari ini”


Cuaca pagi hari ini terlihat berawan gelap seperti menandakan akan turun hujan di siang hari. Entah mengapa dirinya ingin sekali menggunakan motornya untuk pergi ke kampus. Mungkin karena sudah lama dirinya tidak mengendarai motor kesayangannya. Tanpa ragu Seulgi menaiki motornya dan melajukan motornya menuju kampus. Di perjalanan pikirannya masih saja teringat kejadian di rumah. Mengapa suasana rumahnya begitu asing dan juga mengapa papanya tidak mengenali Irene.

Karena lamunan nya tersebut hampir saja ia menabrak seseorang yang sedang menyeberang jalan di zebra cross. Ternyata dirinya tidak menyadari kalau sedang lampu merah. Orang tersebut marah-marah padanya karena tidak hati-hati dalam mengemudi. Seulgi meminta maaf pada orang tersebut. Namun pandangannya ter alihkan pada sosok wanita yang sedang menyeberang jalan melewati dirinya begitu saja. ‘Kak Irene’ batinnya.

Karena terpana dengan sosok wanita tersebut, Seulgi kembali tidak sadar jika lampu merah sudah beralih ke lampu hijau. Alhasil dirinya di beri klakson dari beberapa mobil di belakangnya. Begitu sadar dari lamunan nya Seulgi langsung menepikan motornya di jalan raya. Lalu Seulgi meninggalkan motornya dan mengejar wanita yang diduga adalah Irene.

Setelah beberapa meter Seulgi mengejar wanita tersebut hingga begitu dekat. Tangan Seulgi langsung menarik tangan wanita tersebut hingga sang wanita berbalik badan menatap Seulgi. Benar. Dia Irene.

”Kak Irene” ucap Seulgi pada wanita tersebut.

”S-Siapa???” raut wajah wanita tersebut terlihat begitu ketakutan seperti melihat orang asing yang ingin menculiknya.

”Ini aku Seulgi kak…” Seulgi baru menyadari kalau dirinya masih mengenakan helm, pantas saja wanita tersebut seperti ketakutan. Akhirnya Seulgi melepaskan helmnya dan kembali menatap wanita di hadapanya.

”Seulgi?” tanya wanita tersebut.

”Iya ini aku Seulgi kak” jelas Seulgi yang begitu gembira karena dapat bertemu Irene kembali.

”S-Saya tidak kenal kamu, kamu salah orang…” wanita tersebut mencoba untuk pergi, namun Seulgi menahannya.

”Kak Irene? Ini aku Seulgi, Kang Seulgi” Seulgi masih saja menahan lengan wanita tersebut, membuat wanita di hadapannya tidak nyaman.

”Saya tidak kenal kamu dan nama saya bukan Irene, tolong lepaskan saya” wanita tersebut sekuat tenaga melepaskan genggaman Seulgi. Seketika hujan turun begitu deras membuat Seulgi menatap ke arah langit. Wanita tersebut menggunakan kesempatan untuk lepas dari Seulgi ketika ia lengah. Seulgi sadar, dan melihat wanita tersebut lari menjauhi dirinya.

”Kak Irene mau kemana?!!” Seulgi mengejar wanita tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika wanita tersebut lari ke arah jalan raya dan ter tabrak sebuah truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

”IRENE!!!” Seulgi teriak histeris. Langkahnya dengan cepat menuju tempat di mana Irene ter tabrak. Namun Seulgi tak menemukan tubuh Irene. Seulgi kebingungan.

”Irene? Kak? Kak Irene?!!” Seulgi masih saja mencari sosok Irene di jalan raya. Seketika banyak orang yang berdatangan mengelilingi Seulgi.

”Pak! Bapak liat tadi wanita tadi yang ke tabrak? Dimana dia?” Seulgi bertanya pada salah satu orang yang berada di sekelilingnya. Namun orang tersebut masih saja diam menatap dirinya.

”Mbak mbak, liat kan tadi wanita yang ke tabrak disini? Dimana sekarang mbak? Mbak? Jawab mbak?! DIMANA IRENE?!!!’ Seulgi merasa frustrasi. Mengapa semua orang tidak mau menjawab dirinya. Seketika ada sebuah tangan menariknya bahunya dan menampar pipinya.

”Seulgi sadar!!!” ucap seseorang yang terdengar sangat familiar. Seulgi mengedipkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya. Seulgi melihat seseorang berambut pirang sedang mengenakan payung hitam.

”Wendy?” tanya Seulgi untuk memastikan jika di hadapannya itu sahabatnya.

”Iya ini gua Wendy, ayo bangun” Wendy membantu Seulgi untuk berdiri.

”Tapi Wen tadi… tadi…” Seulgi masih saja terus mencari sosok Irene.

”Siapa? Lo cari siapa? Lo dari tadi teriak teriak di tengah jalan bikin macet, sadar Seulgi!!” Wendy menarik Seulgi untuk menepi dan membubarkan beberapa orang yang berkumpul melihat Seulgi berteriak menyebut nama Irene.

”Wen tadi gua liat kak Irene! Dia lari dari gua dan… dan… tadi dia ketabrak truk itu…” jelas Seulgi untuk meyakinkan Wendy.

”Seulgi, lo halusinasi! Gak ada kak Irene disini, itu cuma imajinasi lo” jelas Wendy.

”Lo inget kak Irene?” tanya Seulgi dan di jawab Wendy dengan anggukan.

”Tapi kenapa bokap nyokap gua gak kenal kak Irene?” tanya Suelgi lagi.

”Karena ini bukan dunianya dia Gi…”

”Kita berada di dunia dimana orang orang sudah pergi untuk selamanya” jelas Wendy.


”Seulgi…”

”Seulgi bangun…”

”Seulgi bangun nak…”

Terdengar suara samar-samar seseorang memanggil-manggil namanya. Lalu ia membuka perlahan matanya untuk mengetahui siapa yang memanggil namanya terus menerus. Saat membuka mata butuh beberapa detik untuk menormalkan pandangannya yang buram. Terlihat seorang wanita yang menatap dirinya begitu dekat. Sampai akhirnya pandangannya kembali normal.

”Sayang ayo bangun, udah siang ini katanya kamu mau kuliah” ucap wanita tersebut.

”Dimana aku?” tanya Seulgi yang masih bingung mengapa dirinya berada di sebuah kamar yang begitu asing baginya. Terakhir yang dia ingat adalah dia sedang menangis tersedu sembari menyetir mobilnya.

”Astaga kamu mimpi apa Seulgi? Jelas ini di kamar kamu, ayo cepat bangun mama udah masakin makanan kesukaan kamu” ucap sang mama. Seulgi masih diam mencerna apa yang terjadi, namun mama Kang terus saja memanggil dirinya untuk turun dan segera sarapan. Terpaksa ia bangkit dari tidurnya dan turun menuju meja makan, di sana sudah ada mama dan papa Kang yang tengah menunggu kehadiran Seulgi.

”Selamat pagi putri tidur” ucap papa Kang pada Seulgi yang sudah duduk di hadapan mamanya. Kenapa suasana ini begitu familiar baginya, apa dirinya masih terbawa suasana mimpi tapi kenapa begitu nyata mimpinya.

”Pasti begadang lagi dia, kebiasaan banget” ucap sang mama sembari menyiapkan makanan untuk Seulgi dan suaminya.

”Kak Irene mana pah?” tanya Seulgi.

”Irene? Siapa Irene?” papa Kang merasa bingung dengan pertanyaan Seulgi.

”Irene asisten pribadinya papa” jelas Seulgi.

”Kamu tuh mimpi apa sih? Jelas jelas asisten pribadi papa ya mama kamu” ucap papa Kang. Seulgi semakin pusing, ada apa ini.

”Udah udah itu pasti kamu mimpi sayang, sekarang sarapan terus berangkat kuliah, udah jam 8 ini, katanya ada kuliah jam 9 kamu” ucap mama Kang.


Irene mendapat kabar jika Kang Seungwon meninggal karena kecelakaan tunggal yang di alaminya. Dirinya panik dan segera menghubungi Seulgi. Nyatanya Seulgi sudah mengetahui berita tersebut. Sambungan telepon di matikan oleh Seulgi. Irene semakin panik, ia tak mau terjadi sesuatu pada Seulgi. Jemarinya kembali menekan tombol untuk menghubungi nomor Seulgi. Nihil. Nomor Seulgi tidak aktif. Dengan terpaksa dirinya harus meninggalkan Yeri, untung saja masih ada Jaemin dan Jeno.

“Yeri, kakak cari Seulgi dulu, Jaemin Jeno tolong jagain sebentar Yeri” ucap Irene.

“Mau di anter gak kak?” tanya Jeno.

“Nggak usah, naik ojol aja bisa” Irene berlari keluar kamar sembari memesan ojek online untuk menuju rumah Seulgi.


Sampai nya Irene di rumah Seulgi ternyata sudah ramai beberapa wartawan yang meliput kediaman Seulgi. Irene menghiraukan wartawan yang tiba tiba saja mengelilingi dirinya untuk menanyakan tentang kematian Kang Seungwon. Irene kesulitan untuk masuk ke dalam rumah Seulgi, tak lama security rumah Seulgi membantu Irene untuk segera bebas dari segerombolan wartawan.

“Hah! Gila! Lagi kaya gini masih sempetnya bikin ribet!” gerutu Irene.

“Udah dari tadi mbak mereka masih disini katanya mau nunggu jenazah bapak di bawa ke sini” ucap salah satu security.

“Ya itu biar saya yang urus jenazah pak Kang, tapi bapak liat Seulgi gak? Tadi pulang gak?” tanya Irene.

“Waduh mbak, non Seulgi belom pulang lagi ya, tadi sih pergi pagi pagi pake mobilnya yang BMW hitam” jelas security.

Terdengar suara sirine mobil polisi datang. Irene menyuruh security untuk membuka pagar agar para polisi dapat parkir di dalam halaman rumah Seulgi. Ponsel Irene tiba tiba saja error karena begitu banyak pesan dan telp masuk dari beberapa pihak perusahaan yang menanyakan kabar pak Kang.

“Joohyun” ucap seseorang pria yang berdiri di hadapannya. Dirinya menatap pria tersebut. Ternyata Yunho.

“Ah pak Yunho, gimana dengan jenazah pak Kang? Saya mau hubungi rumah sakit cuman ponsel saya error” tanya Irene.

“Tenang aja itu udah saya yang urus, jenazah nya sedang berada dalam perjalanan menuju kesini, oh iya Seulgi mana?” Yunho melirik sekitar mencari keberadaan Seulgi.

“Seulgi gak tau kemana, tadi security bilang dia belom pulang, pak please tolong cariin Seulgi saya takut dia melakukan hal yang...” kini Irene sudah tidak kuat menahan tangis nya. Dirinya tidak tau harus bagaimana, ia takut terjadi sesuatu pada Seulgi. Yunho langsung memeluk Irene agar dapat menenangkan kecemasan nya.

“Biar saya yang cari Seulgi, kamu fokus sama kedatangan jenazah Seungwon” Irene mengangguk pelan.

“Bro lo suruh beberapa unit turun cari mobil Seulgi, BMW 320i hitam plat B 53 LGI, kalo gak mau berenti kejar sampe berenti” perintah Yunho pada anak buahnya untuk mencari keberadaan Seulgi.