noubieau

Welcome to noubie universe.


“Hi sayang!” sapa Rose yang langsung menghampiri Jennie untuk memeluknya. Namun Jennie menghindari Rose.

“Udah selesai?” tanya Jennie.

“Udah kok sayang, gimana tadi periksanya? Baby kita sehat?” Rose mengusap perlahan perut Jennie yang sudah membesar.

“Don’t touch the baby!” Jennie menepis tangan Rose, “Cepet deh aku capek banget ini.”

Rose menghela napas panjang, “Iya iya ayo kita pulang.”

Rose mengambil tasnya dan berlalu keluar dari ruangan nya yang di ikuti Jennie di belakangnya. Keduanya masuk ke dalam lift. Saat didalam lift, Rose menekan tombol rooftop yang memuat Jennie bingung.

“Mau ngapain ke rooftop?” tanya Jennie heran.

“Katanya mau pulang,” ucap Rose santai.

“Emangnya mobil kamu ada di rooftop?! Nggak usah yang aneh-aneh deh! Aku beneran capek ini!” protes Jennie.

Rose tidak menanggapi ocehan Jennie sampai pintu lift terbuka. Jennie dikejutkan dengan sesuatu yang berada di hadapannya.

“Ayo pulang udah nungguin itu pilotnya,” ucap Rose yang menggenggam tangan Jennie dan berjalan mendekat helikopter.

“Ngapain kita naik ini?” tanya Jennie bingung.

“Ya biar cepet sampe sayang, ayo masuk,” Rose membantu Jennie masuk ke dalam helikopter.

“Ke rumah ya,” ucap Rose pada pilot.

“Siap nyonya,” tak lama Rose masuk ke dalam helikopter.

“Kamu makin sini makin stress tau nggak!” ucap Jennie.

“Hehe I know,” ucap Rose cengengesan.


Setelah selesai memeriksa kandungannya, Jennie bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kepalanya terasa pusing dan badannya sedikit pegal-pegal karena usia kandungannya telah memasuki 17 minggu.

“Pak langsung pulang ya.”

“Nggak jadi beli buahnya nyonya?”

“Nanti aja deh suruh mbak asih yang beli,” Jennie menghela napas panjang dan memejamkan matanya sembari memijat pelan kepalanya.

“Baik nyonya,” ucap sang supir.


“Nyonya, kita sudah sampai.”

Jennie yang sempat ketiduran akhirnya membuka matanya dan melihat keluar jendela, “Loh pak kok kesini sih?”

“Maaf nyonya, tapi nyonya Rose nyuruh saya antar nyonya ke sini,” ucap sang supir yang masih berada di kursi kemudi.

“Ck! Maunya apa sih! Udah tau pusing banget! Yaudah kamu langsung pulang aja saya bareng Rose,” ucap Jennie kesal.

“Baik nyonya,” sang supir bergegas keluar dan membukakan pintu belakang. Tak lupa ia membantu Jennie turun dari mobil.

Saat Jennie sudah turun dari mobil seluruh karyawan yang berada disana menunduk hormat padanya. Jennie hanya membalas dengan senyuman tipis. Salah satu security menghampiri Jennie dan mengawal dirinya hingga sampai di ruangan Rose.


10 January 2022 – 5.25 PM

Mobil hitam berhenti di depan lobby kantor. Seseorang turun dari mobil tersebut, langkah kakinya berderap cepat memasuki lobby dan menuju ke front office.

“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” ucap salah satu pegawai di balik meja front office.

“Saya ingin bertemu dengan Joohyun,” ucap Seulgi.

“Apa sudah membuat janji sebelumnya?”

“Sudah, saya sudah bilang dengan Joohyun.”

“Baik, atas nama siapa mohon maaf?”

“Seul…”

“Mama!” Seulgi menoleh mencari sumber suara. Ternyata Karina sedang berlari kearah nya.

“Hi sayang!” sapa Seulgi yang langsung menggendong Karina.

“Mama kenapa lama banget kerjanya,” Karina memanyunkan bibirnya.

“Maaf ya sayang mama juga kesel loh kenapa selesainya lama, salahin boss mama tuh,” jelas Seulgi.

“Boss mama nakal,” protes Karina.

“Hi Gi, maaf ya soal Karina...,” ucap Joohyun.

“Maaf untuk apa?” Seulgi keingungan.

“Untuk yang tadi, saya dandani Karina tanpa izin kamu, maaf ya,” jelas Joohyun.

“Haha it’s okay, saya nggak masalah kalau Karina didandani, cuma tadi saya kaget aja tau kalau Karina mau digantiin bajunya sama orang lain, biasanya cuma sama saya dia maunya, maaf ya kalau terlihat saya seperti marah,” jelas Seulgi.

“Ah gitu, saya kira kamu marah, tapi gimana dandanan Karina hari ini?” tanya Joohyun semangat pada Seulgi.

“Hm? Coba mama mau liat,” Seulgi menurunkan Karina dari gendongannya dan menatap lekat Karina.

“Aku cantik kan mah?” tanya Karina.

“Kamu anak mama yang paling cantik sayang, kamu dandan kaya gini makin mirip mami kamu,” jawab Seulgi.

“Berarti mirip sama tante Joohyun juga dong?!” tanya Karina.

“Eh?” Joohyun terkejut dengan pertanyaan Karina.

“Iya sayang,” Seulgi mengangguk seraya melirik ke arah Joohyun.

“Makasih ya udah mau jagain Karina, kamu udah mau pulang kan? Biar saya yang antar kamu pulang,” ucap Seulgi.

“Lain kali kalau mau nitip Karina bisa sama saya, kayanya saya harus nunggu boss saya pulang dulu, saya bisa pulang sendiri,” ucap Joohyun.

“Kalau gitu kita pamit, ayo ucapin makasih ke tante Joohyun,” Karina langsung memeluk kaki Joohyun.

“Makasih ya tante udah mau main sama Kayin, dadah tante Joohyun,” Karina melambaikan tangannya pada Joohyun.

“Iya sama-sama sayang, hati-hati dijalan ya,” ucap Joohyun.

“Ayo sayang,” Karina langsung menggenggam tangan Seulgi dan berjalan menuju mobil.

Joohyun menatap kepergian Seulgi dan Karina. Setelah mobil Seulgi menghilang dari lingkungan kantornya, Joohyun hendak kembali menuju ruangan nya.

“Bu yang tadi temannya?” tanya salah satu pegawai.

“Ih kepo deh kamu haha,” jawab Joohyun.

“Abis saya baru pertama kali liat hehe, tapi anaknya mirip banget sama ibu,” jelas sang pegawai.

“Ah masa sih? Perasaan kamu aja kali, dah saya mau pulang, bilangin ke pak kim siapin mobil,” ucap Joohyun seraya melangkah menuju lift.

“Baik bu.”


10 January 2022 – 2.16 PM

Sudah 15 menit mereka menyantap kue red velvet. Seulgi menatap Karina dan Joohyun yang tengah bercerita riang hingga Karina tertawa lepas. Sudah lama sekali ia tidak melihat Karina seceria ini. Bahkan baru kali ini ia terlihat sangat akrab dengan orang baru yang ia kenal. Apa mungkin wanita itu sangat mirip dengan Irene, sang mendiang ibunya.

‘drrttt~ drrttt~ drrttt~'

Lamunan Seulgi buyar ketika ponsel nya menyala dan menampilkan sebuah panggilan masuk dari sekretarisnya. Segera ia menjawab panggilan tersebut.

“Halo, ada apa? Sekarang? Udah pada dateng? Oke oke saya segera kesana, bilang saya masih di sekolah anak saya, saya lagi dalam perjalanan,” ucap Seulgi yang mendapat perhatian dari Joohyun.

Joohyun masih menatap Seulgi yang sudah mengakhiri panggilan. “Orang kantor ya?” tanya Joohyun.

“Iya sekretaris saya bilang saya harus ke kantor segera,” ucap Seulgi yang terlihat kebingungan dan ia menatap jam yang melekat di pergelangan tangan kirinya.

“Kalau gitu kamu ke kantor aja, biar Karina dikantor saya,” kata Joohyun.

“Jangan nanti dia ngerepotin kamu….”

“Nggak ngerepotin kok, lagian kantor saya nggak jauh dari sini jalan kaki pun bisa, kalau kamu nggak percaya kamu bisa ikut dulu ke kantor saya,” jelas Joohyun.

Seulgi merasa bimbang, kalau ia mengantarkan Karina ke rumah orang tuanya sudah pasti ia akan telat sampai kantor, jika Karina ikut dengan Joohyun ia belum terlalu kenal dengannya. Tapi Seulgi sadar kalau Karina dapat menjaga dirinya dengan baik. Tapi rasanya tidak ada pilihan lain selain Karina dijaga oleh Joohyun.

“Sayang mama ada kerjaan dikantor, kamu nggak apa-apa kalau sama tante Joohyun dulu?” tanya Seulgi pada Karina.

“Asik ke kantornya mami! Eh salah tante Joohyun! Hehe mama ke kantor aja,” jawab Karina semangat.

‘Nih anak ngusir atau gimana?’ batin Seulgi.

“Yaudah kalau gitu ayo, nanti kamu telat sampai kantor, jalanan macet loh,” ucap Joohyun.

“Oh iya,” Seulgi mengambil dompet miliknya, dan hendak mengeluarkan uang namun Joohyun segera menahan tangan Seulgi.

“Udah dibayar kok, tenang aja,” ucap Joohyun yang tersenyum ke arahnya. Seulgi mematung. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyuman itu.

‘Senyumnya pun sama, siapa dia?’

“Karina ayo kita ke kantor tante, biarin mama kamu kerja dulu okay?” ucap Joohyun.

“Yeay! Mama ayo!” Karina menarik lengan Seulgi. Lagi-lagi Seulgi melamun hingga ia sadar kalau Joohyun dan Karina sudah menunggu dirinya.

“Oh… Iya iya sayang,” jawab Seulgi.


“Sayang dengerin mama ya, jangan nakal, kalau tante Joohyun lagi sibuk jangan diganggu okay?” ucap Seulgi yang sedang jongkok dihadapan Karina.

“Siap boss! Hehe,” jawab Karina.

“Pinter, mama ke kantor dulu ya,” Seulgi mengecup kening Karina lalu menatap Joohyun yang berada dibelakang Karina.

“Saya nitip Karina sebentar ya, maaf ngerepotin,” kata Seulgi.

“Nggak ngerepotin kok, lagian Karina juga pinter, iya kan?” Karina mengangguk menjawab pertanyaan Joohyun.

“Kalau gitu saya ke kantor dulu,” Seulgi berpamitan dengan Joohyun dan Karina, ia segera masuk ke dalam mobil dan pergi ke kantornya.

“Dadah mama!” Karina melambaikan tangan ke mobil Seulgi.

“Mau keliling kantor?” tanya Joohyun.

“Tapi kantor tante besar nanti Kayin capek,” ucap Karina.

“Hahaha gemesin banget sih kamu, yaudah kita langsung ke ruang tante aja ya,” Karina mengangguk dan menggenggam tangan Joohyun.

“Tante,” bisik Karina.

“Ya sayang?” Joohyun menatap Karina.

“Aku udah boleh panggil tante mami kan?” tanya Karina yang hampir membuat Joohyun tertawa kencang.

“Haha ya ampun boleh sayang, kan mama kamu udah pergi,” jelas Joohyun.

“Yes!” seru Karina bersemangat.


10 January 2022 – 2 PM

Seulgi turun dari mobil, ia memutar mobil hitam miliknya. Tangannya membuka pintu penumpang, terlihat Karina tersenyum ke arahnya dan mengulurkan tangannya memberi syarat jika ia ingin turun dari sana. Seulgi membantunya dengan hati-hati. Tak lupa ia menutup kembali pintu dan mengunci mobilnya.

“Kita mau makan disini mah?” tanya Karina.

“Kamu mau makan disini? Nggak mau makan dirumah oma?” tanya Seulgi.

“Mau makan disini! Boleh kan mah?” Karina menatap Seulgi.

“Tentu sayang,” Seulgi mengusap kepala Karina.

Seperti biasa Karina langsung menggenggam erat tangan Seulgi dan menariknya untuk segera masuk ke dalam cafe. Ketika sudah berada didalam cafe, mata monolidnya menyusuri setiap meja yang hampir terisi oleh para pengunjung. Matanya terhenti pada meja yang berada di ujung ruangan, terlihat seorang wanita tengah melambaikan tangannya dan tersenyum ke arahnya.

‘Cantik.’

“Sayang kita duduk disana yuk?” ucap Seulgi.

“Disana udah penuh mah… ih ada mami!” ujar Karina yang langsung melepaskan tangan Seulgi dan berlari ke arah meja ujung.

“Karina! Astaga…,” Seulgi menggelengkan kepalanya bingung melihat tingkah anaknya yang begitu senang bertemu dengan wanita asing yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.

“Mami!” Karina menghampiri Joohyun dan memeluknya.

“Hi cantik,” sapa Joohyun yang membalas pelukan Karina.

“Karina! Mana sopan santun kamu?” ucap Seulgi.

“Hehehe maaf ya tante,” ucap Karina dengan cengengesan.

“It’s okay honey, kamu boleh panggil tante apa aja yang kamu mau sayang,” kata Joohyun seraya mengusap lembut kepala Karina.

“Tapi sama mama nggak boleh panggil tante mami,” Karina melirik ke arah Seulgi yang sudah duduk di hadapan Joohyun.

“Kalau gitu panggil maminya kalau nggak ada mama kamu aja gimana?” ujar Joohyun yang menatap lekat wajah Karina.

“Hehe boleh tante hehe,” Karina tertawa sembari melirik Seulgi dengan tatapan jail.

“Astaga nih anak…,” ucap Seulgi.

“Sini duduk sebelah tante,” Joohyun membantu Karina untuk duduk di kursi sebelahnya.

“Apa kabarnya Seulgi?” tanya Joohyun.

“Saya baik, bagaiman dengan kamu?” Seulgi menatap wajah Joohyun.

“Baik juga, oh iya kalian udah pada makan belum? Tadi saya baru pesan kue, kamu suka kue red velvet nggak sayang?” Joohyun menatap ke arah Karina yang tengah melihat-lihat buku menu.

“Suka tante, biasanya aku sama mama suka makan disini makan kue red velvet hehe,” ucap Karina semangat.

“Wah pas banget, tunggu sebentar ya bentar lagi dateng, oh iya kamu mau minum apa Gi?” tanya Joohyun pada Seulgi.

‘Glek!’

‘Bahkan suaranya pun sama…’

Joohyun menunggu Seulgi tengah melamun menatapnya dengan tatapan kosong. “Seulgi?” panggil Joohyun.

“Biasanya mama minum caffe latte,” ucapan Karina membuyarkan lamunan nya.

“Caffe latte?” tanya Joohyun memastikan jika Seulgi ingin memesan itu.

“Ah iya caffe latte,” jawab Seulgi.

“Terus kamu mau minum apa?” Joohyun melirik Karina.

“Green tea frappe boleh?” tanya Karina pada Seulgi.

“Boleh sayang pesan aja,” jawab Seulgi.

“Aku mau green tea frappe tante!” ucap Karina.

“Mau ikut tante nggak? Kita pesen disana?” tanya Joohyun sembari menunjuk ke arah kasir. Lalu dijawab dengan anggukan dari Karina.

“Biar saya aja yang pesan,” ucap Seulgi.

“Udah saya aja, kamu disini aja,” bantah Joohyun yang segera bangkit dari kursi dan berlalu untuk memesan minuman pada kasir, tak lupa Karina yang mengikutinya sembari menggenggam tangan Joohyun.


Setelah mendapa pesan dari Tiffany, Jeongyeon dan Seulgi terpaksa memutar balik mobil mereka menuju rumah. Dengan kecepatan tinggi, hanya butuh waktu 15 menit akhirnya Jeongyeon dan Seulgi sampai dihalaman rumah mereka. Tak lupa Jeongyeon dan Seulgi membukakan pintu untuk pacar mereka, Nayeon dan Irene. Terlihat dari raut wajah mereka yang sangat 'bete' akibat insiden salah kirim foto beberapa waktu yang lalu.

Jeongyeon dan Seulgi saling menatap sinis. “Gara-gara lo! Gue dituduh selingkuh!,” ucap Jeongyeon dengan nada penuh kekesalan.

“Anjrit emang! Gue aja nggak tau itu punya siapa! Emang lo doang, gue juga jadi dituduh selingkuh sama Irene!,” jelas Seulgi yang tak kalah kesal.

“Ya itu kan ada dimobil lo….”

“KIM SEULGI!! KIM JEONGYEON!!,”* teriak Tiffany yang membuat Seulgi dan Jeongyeon terkejut.

Seketika bulu halus mereka meremang setelah mendengar teriakan Tiffany. Firasat mereka mengatakan Tiffany akan marah besar kali ini. Tak ingin amarah Tiffany semakin parah, Jeongyeon lebih dahulu masuk ke dalam rumah, lalu diikuti Nayeon, Irene, dan Seulgi. Ketika memasuki ruang keluarga, terlihat Tiffany yang tengah duduk disofa sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam. 4 orang dihadapan Tiffany hanya bisa nunduk dan menelan ludah mereka dalam-dalam.

“Duduk!” ucap Tiffany ketus.

Saat Jeongyeon dan Seulgi ingin duduk, Tiffany mencegah mereka. “Ngapain kalian? Berdiri disitu!,” Tiffany menunjuk ke arah depan televisi. Jeongyeon dan Seulgi hanya menurut apa yang diperintah Tiffany.

“Jongkok!” Jeongyeon dan Seulgi jongkok sembari melirik Tiffany.

“Angkat tangannya!” perintah Tiffany lagi.

“Tapi mih kan aku yang korbannya kok aku ikut dihukum sih?!” protes Jeongyeon pada Tiffany.

“Mulai berani kamu sama mami?!” Tiffany melototi Jeongyeon.

“Iya engga mih…,” jawab Jeongyeon yang ciut seketika dipelototi oleh Tiffany.

“Jadi itu bukan punya kalian? Jujur aja sama tante kalo itu punya kalian,” tanya Tiffany pada Nayeon dan Irene.

“Bukan tante,” ucap Nayeon dan Irene kompak sembari melirik sinis pada Jeongyeon dan Seulgi.

Tiffany lalu menatap kedua anaknya yang tengah dihukum olehnya, “Jadi kalian punya cewe lain?”

“Sumpah mih engga, aku aja baru pake mobilnya dia dan udah ada begituan,” jelas Jeongyeon.

“Sama mih aku juga engga, aku juga nggak tau itu punya siapa, udah seminggu aku nggak pake mobil itu terakhir sama Irene aja belom ada mih,” jelas Seulgi.

“Halah alesan…,” celetuk Irene yang jengah mendengar ucapan Seulgi.

“Beneran yang sumpah… kan dari kemaren aku sama kamu terus…,” Seulgi mencoba untuk meyakinkan Irene bahwa ia tidak selingkuh.

“Kalo punya mah ngaku aja kali, biar gue bisa baean sama cewe gue,” celetuk Jeongyeon.

“Jangan sekata-kata lo kalo ngomong! Gara-gara lo gue jadi begini.”

“Mikir dong itu barang ada di mobil siapa gue tanya?! Kalo di mobil gue baru lo bisa marah!!”

“Anj….”

“ENOUGH!!” teriak Tiffany membuat Jeongyeon dan Seulgi diam seketika.

“Fasilitas kalian mami cabut sampai dari kalian ada yang ngaku punya siapa barang itu.”

“Tapi mih….”

“Nggak ada tapi tapian, gitu terus sampe kalian ngaku.”

Tiffany yang hendak meninggalkan ruang keluarga dikejutkan kehadiran Taeyeon yang sudah pulang. Tiffany melirik jam yang masih belum menunjukan jam 12.

“Hahaha ngapain kalian disitu pagi pagi,” ledek Taeyeon pada Jeongyeon dan Seulgi.

“Katanya ada rapat?” tanya Tiffany yang seidkit ketus.

“Diundur waktunya jadi jam 2, eh ada Nayeon Irene,” sapa Taeyeon yang dibalas dengan senyuman terpaksa.

“Jadi ini ada apa? Sampe saya dipanggil kesini sama mami,” tanya Taeyeon.

“Emang kamu nggak liat group?” tanya Tiffany.

“Group? Emang ada ya? Aku nggak sempet buka chat yang lain,” Taeyeon mengambil ponsel nya dari saku celana dan mengecek group chat yang dimaksud Tiffany.

“Bentar… kamu nemu ini dimana Je?” tanya Taeyeon pada Jeongyeon.

“Dimobil dia tuh,” Jeongyeon menunjuk Seulgi menggunakan dagu nya.

“Oh pantes, tau ini mah,” ucap Taeyeon.

“Oh jadi kamu yang selingkuh?!” tanya Tiffany.

“Hah? Selingkuh?” Taeyeon nampak kebingungan.

“Nggak usah pura-pura nggak ngerti deh, ngaku aja itu punya cewe lain kan?!!” kekesalan Tiffany semakin menjadi.

“Ih apaan, kapan aku selingkuh? Enak aja, itu punya kamu tau” jelas Taeyeo dengan santai.

“Punya aku? Aku nggak punya yang model gitu ya Kim Taeyeon! Lagian kapan juga aku naik mobilnya Seulgi!” ucap Tiffany.

“Hadeuh gini nih kalo kebanyakan minum wine… itu tuh punya kamu sayang, itu kan hadiah dari temen kamu pas anniv pernikahan kita kemarin, kemarin malem kamu baru pake, dan kita pergi ke acara temen aku, kamu kebanyakan minum wine, akhirnya kamu mabuk, dan….” jelas Taeyeon.

“Dan apa?!” tanya Tiffany yang penasaran.

“Yaaaaa akhirnya kamu buka itu pas di mobil… emang kamu nggak inget?” tanya Taeyeon.

“Masa sih?!!” Tiffany terlihat panik dan mengingat kejadian kemarin malam.

“Kenapa bisa pake mobil Seulgi, aku suruh pak Jono siapin mobil tapi malah mobil Seulgi yang dikeluarin dari garasi, dan kita udah telat yaudah pake aja mobilnya Seulgi, gitu loh yang” lanjut Taeyeon.

“KOK KAMU NGGAK KASIH TAU AKU?! TERUS KALO TAU ITU PUNYA AKU BUKANNYA DIAMBIL,” terlihat muka Tiffany saat ini merah karena malu.

“Lupa aku yang, aku sibuk gotong kamu ke kamar jadi lupa buat ambil lagi dimobil,” jelas Taeyeon.

“Terus fasilitas kita nggak jadi dicabut kan?” tanya Jeongyeon.

“Terus ini kita udahan kan?” tanya Seulgi.

“Ya,” Tiffany langsung kabur ke kamarnya karena malu.

“Hahaha kasian betul kena hukum mami… Nanti kalian makan siang disini ya Nay, Rene,” Taeyeon menatap Nayeon dan Irene yang tengah menahan tawa.

“Iya tante hehehe,” jawab Nayeon dan Irene kompak.


“Kok kuping aku pengang ya,” ucap Jeongyeon pelan. Ia tengah fokus menyetir sembari menggenggam erat jemari tangan Nayeon.

“Yang kamu beneran nggak mandi?” tanya Nayeon penasaran.

“Iya hehe,” jawab Jeongyeon sembari cengengesan.

“Ih sumpah ya jorok banget sih,” Nayeon sedikit menjauh dari Jeongyeon dan melepas genggaman tangan mereka.

“Ih kok di lepas sih?!” protes Jeongyeon.

“Kamunya bau belom mandi,” ledek Nayeon.

“Lagian beli pussy doang elah ngapain mandi, nanti juga kamu rebahan di kamar aku,” jelas Jeongyeon.

“Tapi setidaknya dong yang mandi kek ih, bauuuuu,” protes Nayeon yang menutup hidungnya.

“Enak aja, aku wangi tau, buktinya kamu tadi nempel-nempel aja,” jelas Jeongyeon.

“Ya itu sih tadi belom kecium, sekarang udah, bauuuuuu,” ledek Nayeon.

“Terus aja yang terus.”

“Hahahaha wleeeee.”

“Ngeledek aja lu.”

“Biarin wle! Eh aku baru sadar, kamu beli mobil baru bukan?” tanya Nayeon.

“Dapet gratis dooooong,” jawab Jeongyeon.

“Dari siapa?” Nayeon sedikit curiga.

“Kepo ah kamu,” jawab Jeongyeon.

“Mobil orang kali ini, setau aku kamu kemaren nggak kemana-mana deh,” jelas Nayeon yang masih penuh curiga pada Jeongyeon.

“Enak aja! Ini punya aku tau!” protes Jeongyeon.

Nayeon yang penasaran dengan seluruh interior mobil, tangannya memeriksa beberapa fasilitas yang terdapat di mobil tersebut. Hingga ia membuka laci dashboard yang menampilkan sebuah kain tipis berwarna merah.

“Yang ini punya siapa?” tanya Nayeon sembari menunjukan kain tersebut pada Jeongyeon menggunakan ujung jarinya.

Seketika Jeongyeon menghentikan mobilnya mendadak. Untung saja jalanan sedang sepi. “What the… punya siapa itu yang?!” tanya Jeongyeon terkejut.

“Ini ada dimobil kamu, kok malah tanya aku sih?!” Nayeon melempar kain tersebut ke wajah Jeongyeon. “Gue turun disini, balik lo sana bajingan.”

“Mau kemana kamu?!” Jeongyeon menahan tangan Nayeon yang hendak turun dari mobil.

“Lepasin! Gue mau balik!” protes Nayeon yang berusaha melepas cengkeraman tangan Jeongyeon pada lengannya.

“Nggak! Jelas-jelas aku nggak tau ini punya siapa, ngapain kamu pulang?!” jelas Jeongyeon.

“PUNYA SIAPA LAGI DONG ITU? GUE?! GUE AJA BARU MASUK YA SEKARANG KE MOBIL BARU LO, NGGAK USAH NGARANG-NGARANG CERITA DEH LO! UDAH JELAS-JELAS BUKTINYA ADA DI MOBIL LO!!” teriak Nayeon yang terlihat sangat marah pada Jeongyeon.

“Ini bukan mobil aku yang! Ini mobilnya kak Seulgi! Aku dapetin mobil dia karena aku menang taruhan!” jelas Jeongyeon.

“Bullshit! Lepasin gue!!”

“Nggak akan!”


“Udah dong ayang jangan ngambek lagi, kan mau beli pussy,” Jeongyeon mencoba merayu Nayeon yang tengah marah akibat ia telat bangun. Lebih tepatnya susah untuk dibangunkan.

“Apa sih pegang-pegang! Dah sana tidur lagi aja, emang aku mah nggak penting,” rajuk Nayeon yang membuang muka tidak ingin menatap wajah pacarnya.

“Iya deh nggak pegang-pegang, tapi jangan salahin aku ya kalau nanti ada yang megang aku,” mendengar ucapan Jeongyeon membuat Nayeon semakin kesal. Tangan Jeongyeon segera di genggam oleh Nayeon.

“Diem! Kamu punya aku! Nggak boleh ada yang megang-megang selain aku!,” ucap Nayeon.

“Kalau mami nggak boleh pegang aku?,” tanya Jeongyeon yang menatap ke arah Nayeon.

“Kecuali mami! Ayo jalan! Nanti pussynya keburu ilang,” rengek Nayeon.

“Astagaaaaa pacar aku gemesin banget sih,” Jeongyeon mengecup berkali-kali bibir Nayeon yang tengah manyun. “Pussynya nggak akan kabur ayang, kan udah dikandangin,” Akibat ulahnya kini Nayeon tersenyum lebar.


Rasanya ingin sekali Hojung pergi dari rumah ini, karena rencananya gagal untuk menggoda Irene. Seperti tidak ada tujuan Hojung berjalan mengitari sekeliling rumah. Sampai di halaman belakang, ia menangkap sosok wanita yang tengah duduk di pinggir kolam. Terlihat wanita tersebut tengah fokus pada benda kecil persegi miliknya. Seperti menemukan mangsa, Hojung bergegas menghampiri wanita tersebut. Sepertinya pergerakan nya tidak di ketahui olehnya. Dasar manusia bodoh, batinnya. Sudah beberapa menit Hojung berdiri di belakang wanita tersebut sembari memperhatikan jari wanita tersebut yang terus saja mengusap layar ponsel nya. Seperti ada yang memperhatikan, wanita tersebut menoleh ke atas dan melihat wajah Hojung tengah menunduk menatapnya diam. Wanita tersebut terkejut hingga ponsel nya terjatuh ke dalam kolam.

“Hahahahahaha nggak kakanya, nggak adiknya, sama sama penakut,” Hojung tertawa lepas melihat raut wajah Yeri yang kesal melihat ponsel nya terjatuh ke dalam kolam.

“Siapa sih lo?!! Ngeselin banget!! Hp gue jadi nyemplungkan! Ambil!!” kesal Yeri pada Hojung.

“Lo aja nggak kenal gue, enak banget main nyuruh gue, ambil aja sendiri, bye,” Hojung meninggalkan Yeri yang masih kesal.

Segera Yeri berdiri dan mengikuti Hojung dari belakang. Hendak menjambak rambut Hojung, dengan cepat Hojung membalikkan badan dan menepis tangan Yeri dengan pelan. Tepisan Hojung membuat Yeri terpeleset hingga terjatuh ke dalam kolam.

“Ambil tuh hp lo hahaha,” Hojung melihat Yeri seperti kesulitan berenang dan teriak ketakutan.

Namun ia menghiraukan nya dan meninggalkan Yeri yang masih berjuang untuk tidak tenggelam. Setelah beberapa menit Hojung sudah tidak mendengar suara Yeri. Hening. Ia hanya mendengar suara decakan yang berasal dari lantai 2. Perasaannya tidak enak. Segera ia kembali ke halaman belakang. Ia melihat tubuh Yeri mengambang di kolam.

“Oh come on!!! Itu satu meteeeeeeeerr… Aish! Bener bener nyusahin gue! Kalo nggak bisa berenang nggak usah sok sokan selfie di pinggir kolam, bodoh banget nih manusia satu!” Gerutu Hojung sembari mendekat ke arah kolam.

Dengan cepat Hojung segera masuk ke dalam kolam dan menggotong tubuh Yeri ke pinggir kolam. Hojung semakin panik karena ia tidak dapat mendengar detak jantung Yeri.

“Mati gue!” segera Hojung keluar dari kolam dan melakukan CPR agar jantungnya kembali berdetak.

Sudah semenit ia melakukan CPR namun ia masih tidak mendengar detak jantung Yeri. Ia semakin panik. Tanpa pikir panjang, ia merobek kulit pergelangan tangannya agar darah miliknya keluar. Lalu ia membuka mulut Yeri dan memasukkan darahnya ke dalam mulut Yeri.

“Come on bangun! Please jangan mati dulu! Nanti gue juga mati!” Hojung kembali melakukan CPR agar Yeri segera sadar. Tidak lama, Yeri tersadar dan mengeluarkan air kolam yang masuk ke dalam mulutnya lumayan banyak.

“Yes! Nggak jadi mati! Bangun lo! Nyusahin aja!” ucap Hojung. Yeri terlihat lemas dan kedinginan. Tubuhnya bergetar hebat.

“Tadi tenggelam, terus mati, sekarang menggigil, fix lo nyusahin,” kesal Hojung.

Ia menggendong tubuh Yeri dan segera menuju kamar Yeri. Saat hendak masuk ke dalam kamar Yeri, Hojung melihat dua orang yang sedari tadi berada di ruang kerja keluar dari ruangan tersebut dan menatap heran ke arah Hojung yang tengah menggendong Yeri dalam keadaan basah kuyup.

“Sssssttttt jangan berisik. Tolong lanjutkan di tempat lain gue ada urusan sama manusia ini,” segera Hojung masuk ke dalam kamar Yeri dan mengunci pintu kamar agar Irene tidak dapat masuk ke dalam kamar Yeri.

“Itu Yeri mau di apain hey?!!” teriak Irene panik.

“It’s okay, dia nggak bakal berani jahat sama adik kamu,” Seulgi mencoba untuk menenangkan Irene.

“T-tapi…,” segera Seulgi menangkup kedua pipi Irene dan menatapnya.

“Trust me okay?” Irene mengangguk pasrah.

“Good, sekarang masuk ke kamar, besok kamu udah mulai kerja,” Seulgi mengecup kening Irene.

“Good night, my lady,” bisik Seulgi.


Setelah beberapa menit di perjalanan, kini mobil yang dinaiki Irene sudah memasuki halaman rumah Seulgi. Hatinya berdegub kencang ketika mobil berhenti didepan pintu rumah. Ia takut kalau Seulgi akan memarahi nya karena pulang hampir tengah malam. Lamunan nya buyar saat supir membukakan pintu untuknya. Ia mengatur dahulu napasnya agar tidak gugup saat masuk ke dalam rumah. Merasa sedikit tenang, perlahan ia turun dari mobil dan berjalan menaiki anak tangga menuju pintu rumah. Perlahan ia membuka pintu agar tidak terdengar oleh Seulgi. Lalu ia menutup kembali pintu dengan sangat pelan. Hendak membalikkan badan, ia dikejutkan oleh seseorang yang tengah berdiri menatapnya. Jarak mereka begitu dekat.

“Oh ini ternyata ceo baru,” ucap orang tersebut seraya tangannya mengelus perlahan pipi Irene.

“Si-siapa kamu?” ucap Irene yang perlahan mundur karena ketakutan.

“Ternyata Seulgi nggak kenalin gue ke lo ya…,” jelas orang di hadapannya.

“HOJUNG!!” teriak seseorang tengah berdiri di lantai 2 menatap kearah Hojung dan Irene.

“See you again. Irene,” Hojung menyeringai ke arah Irene lalu pergi meninggalkannya yang masih ketakutan akibat perlakuan Hojung.

“Irene,” panggil seseorang yang ia kenal suaranya.

“Huh?” Irene menatap Seulgi sudah berdiri di hadapannya. Kapan ia datangnya? Batinnya.

“Maafin kelakuan adik saya, are you okay?” tanya Seulgi.

“Nggak apa apa kok, cuma kaget aja hehe,” jelas Irene.

“Ayo ke ruang kerja, ada yang mau saya tunjukan,” ucap Seulgi yang di anggukan oleh Irene.


Sampai nya di ruang kerja, Irene melihat ada dua orang yang tidak ia kenal menatap kearah nya. Irene masih saja mengikuti Seulgi seperti anak bebek mengikuti induknya. Kedua orang tersebut tersenyum ke arah Irene.

“Irene kenalin ini Park Sooyoung dan ini Jeong Jaehyun,” Seulgi memperkenalkan kedua orang tersebut pada Irene.

“Ah… saya Bae Irene,” Irene membukuk hormat pada kedua orang di hadapannya. Seulgi tersenyum melihat tingkah polos Irene yang sangat menggemaskan baginya.

“Park Sooyoung nanti akan bekerja sebagai asisten pribadi kamu dan Jeong Jaehyun sebagai supir dan bodyguard kamu, kemana pun kamu pergi harus di antar oleh Jaehyun. Mengerti?” jelas Seulgi yang menatap Irene dengan tatapan serius. Irene hanya mengangguk kecil tidak berani menatap lama kedua mata bos nya itu.

“Good, kalau gitu kamu tolong bantu Irene bekerja besok, karena ia butuh dilatih ekstra sepertinya,” ucap Seulgi pada Sooyoung.

“Baik bu, semua aman dalam kendali saya,” ucap Sooyoung yang tersenyum ke arah Seulgi dan Irene.

“Segitu aja kalian bisa ke ruangan kalian,” ucap Seulgi.

Sooyoung dan Jaehyun membukuk hormat kepada Seulgi dan Irene lalu beranjak keluar dari ruang kerja. Irene hendak pamit pada Seulgi, namun di cegah oleh Seulgi.

“Mau kemana kamu?” tanya Seulgi.

“Mau ke kamar, tadi katanya disuruh keluar,” Ingin rasanya Seulgi tertawa melihat tingkah polos Irene, namun ia tahan.

“Saya tadi suruh Sooyoung dan Jaehyun, kamu tidak termasuk,” jelas Seulgi.

“Oh gitu, hehe maaf,” Irene menyengir malu.

“It’s okay, by the way tadi saya dapet info kalau temanmu ada yang cowo, saya sudah tau orangnya, tapi saya mau dengar dari kamu, siapa dia?” Irene sedikit terkejut ternyata Seulgi memantau nya pada saat di cafe.

“Namanya Kim Suho, saya udah berteman dengan dia dari umur 2 tahun, kebetulan dia tetangga saya, tapi pas lulus kuliah dia pindah ke busan untuk nerusin bisnis keluarganya,” jelas Irene.

Tiba-tiba saja Seulgi menarik tangan Irene lalu memeluk pinggangnya dengan erat. Irene terkejut diam tidak bisa berkutik. Seulgi menatap kalung yang di kenakan oleh Irene. Seulgi tersenyum karena Irene masih memakainya. Jantung Irene berdetak sangat cepat, rasanya oksigen di ruangan ini hampir habis. Ia tidak dapat bernapas dengan bebas. Ia tidak berani untuk menatap wajah Seulgi yang sangat begitu dekat.

Aroma dari tubuh Irene begitu kuat. Mata Seulgi kini mengarah pada leher Irene. Rasanya ingin sekali Seulgi menandai Irene sebagai miliknya. Tanpa di sadari Seulgi menyingkirkan rambut panjang milik Irene agar ia dapat melihat dengan jelas lehernya. Irene semakin takut namun ia tidak dapat bergerak. Tanpa berpikir jernih, Seulgi mengecup perlahan leher Irene. Seperti tersengat listrik, kecupan pada lehernya mampu membuat seluruh darah pada tubuhnya mengalir begitu cepat sampai bulu halus nya meremang.

Terdengar jelas oleh Seulgi desahan kecil yang keluar dari mulut Irene. Ia pikir Irene akan menolaknya, namun tubuh mungil nya menikmati sentuhan tersebut. Seperti diberi izin oleh sang pemilik, Seulgi melanjutkan aktivitasnya pada leher Irene. Awalnya ingin menolak apa yang akan di lakukan Seulgi, namun entah mengapa ia menyukai nya. Bahkan rasanya tidak ingin berhenti.