Fourteen : Unexpected
Semenjak kedatangan Keira pertama kali ke Woody's Brew, dia hampir setiap hari datang untuk menulis novel terbarunya. Allan selalu memperhatikan Keira dari jauh, mengagumi kecantikan dan keanggunannya. Keira, yang terlalu asyik dengan pekerjaannya, tidak menyadari bahwa dia menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain yang juga terpesona oleh aura menawannya.
Hari ini, Allan melihat Keira tampak frustasi. Wajahnya pucat, matanya sayu. Sepertinya dia sedang mengalami kesulitan dalam menulis.
“Kak, itu temannya jadi sering ke sini, apa nggak bosen?” celetuk salah satu karyawan Allan.
Allan menoleh, menatap karyawannya. “Dia lagi butuh suasana baru, biasanya dia selalu nulis di rumahnya,” jawab Allan.
“Kayaknya lagi bingung dia, Kak. Nggak ditawarin menu lain aja?”
“Iya ya, kenapa nggak kepikiran,” gumam Allan.
Dengan spontan, Allan memberanikan diri menghampiri meja Keira dengan membawa secangkir cokelat hangat yang sengaja dia buat untuknya.
“Ini cokelat hangat buat Kak Kei, siapa tau bisa mencerahkan pikiran.”
Keira mendongak, terkejut melihat Allan berdiri di sampingnya. Dia menerima cokelat hangat dengan senyum tipis. “Makasih, Allan.”
“Stuck lagi ya, Kak?” tanya Allan dengan lembut.
Keira menghela napas panjang. “Ya gitu deh, padahal kemarin-kemarin lancar banget, sekarang aku bener-bener buntu.”
Allan mendengarkan dengan penuh perhatian. “Kalau boleh tau bagian mana yang bikin Kak Kei kesulitan? Mungkin aku bisa bantu kasih saran dari intonasi? Atau gerakan mungkin?”
Keira terdiam sejenak, menyesap cokelat hangatnya. “Aku lagi nulis adegan romantis, tapi kayanya kaku banget. Aku pengen adegannya terasa nyata, tapi nggak tau gimana caranya.”
Allan tersenyum. “Mungkin Kak Kei butuh inspirasi dari pengalaman nyata?” Keira mengangkat alisnya. “Maksudnya?”
“Mungkin Kak Kei bisa coba praktekin adegan itu sama seseorang. Jadi, Kak Kei bisa ngerasain emosi yang sesungguhnya dan gampang menuangkannya ke tulisan.”
Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di benak Keira. Dia sangat ragu untuk mengungkapkannya, tapi dia harus segera menyelesaikan novelnya. Keira mendongak menatap Allan dengan raut wajah yang sulit dibaca. “Kamu mau nggak bantu aku?”
Allan terkejut, dia tidak menyangka akan mendapat tawaran dari seorang Keira. “Bantu apa, Kak?”
Keira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. “Kamu mau nggak jadi lawan main aku dalam adegan itu? Aku janji, ini cuma akting.”
Allan tertegun, jantungnya berdebar kencang. Dia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini. Namun, melihat Keira yang tampak putus asa, dia tidak tega menolaknya.
“Bo―leh, aku bantu,” jawab Allan sedikit ragu.
Keira tersenyum lega. “Makasih, Allan. Aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu.”