noubieau

Welcome to noubie universe.


Anggota pack Dalton sudah sampai di SDA. Terlihat begitu banyak tubuh yang tumbang akibat perang antar vampire liar dengan Hunter. Tanpa berpikir panjang seluruh anggota pack Dalton berubah wujud menjadi serigala lalu membantu para Hunter melawan vampire liar.

Sedangkan Bebe tengah mengamati situasi sembari menolong beberapa Hunter yang tumbang. Memindahkan mereka pada tempat yang aman.

“Awas!” ucap salah satu Hunter pada Bebe.

Bebe menoleh kebelakang, terdapat vampire liar hendak menyerangnya namun gagal karena seseorang telah membunuhnya dengan cara memenggal kepala sang vampire menggunakan samurai.

“Are you okay?” ucap Hunter wanita.

Bebe terkesima dengan aksi wanita dihadapannya, “Okay kok.”

“Cepat bantu aku, disayap barat masih banyak vampire liar,” ucap sang Hunter bernama, Ji Kylie.

Bebe tersadar dari lamunannya, “Kalau gitu naik,” segera ia merubah diri menjadi serigala berbulu hitam pekat.

Satu sisi, Kateryn telah sampai di SDA. Nicole dan Griselda melihat kehadirannya. “NGAPAIN LO KESINI?!” pekik Nicole.

“Gue mau bantu kalian,” ucap Kateryn.

“Gue nggak butuh bantuan dari pengkhianat!” Nicole dengan cepat menyerang Kateryn.

“Gue bisa jelasin semuanya!” ucap Kateryn sembari menangis serangan Nicole.

“Gue nggak butuh penjelasan lo! Sekalinya pengkhianat tetap pengkhianat!!” Nicole hendak menancapkan pisau pada Kateryn, namun ia gagal karena Kateryn menghindar lebih cepat lalu dalam hitungan detik suara patahan tulang terdengar nyaring. Kateryn mematahkan leher Nicole.

“Beraninya lo!” Griselda melepaskan tembakan ke arah Kateryn. Lagi-lagi Kateryn berhasil menghindar. Ia pun melemparkan sebuah pisau pada Griselda dan berhasil tertancap di pahanya.

“ENOUGH!!!” teriak Kateryn berhasil membuat seluruh Hunter dan vampire liar berhenti berkelahi.

“There you’re!” ucap Yuri yang baru saja muncul di hadapan Kateryn.

“Lo nyariin gue kan? Bawa pergi pasukan lo,” ucap Kateryn.

“Haha gue suka nyali lo, dimana Willma?” tanya Yuri.

“Tempat yang aman,” ucap Kateryn.

Yuri terkekeh pelan, kemudian ia menghantam tangannya pada dada Kateryn hingga berhasil masuk ke dalam tubuhnya kemudian mencengkeram kuat jantung Kateryn.

“Jangan main-main sama gue atau lo mati sekarang,” ucap Yuri.

Kateryn tertawa seraya meringis menahan rasa sakit, “Kalau gue mati, Willma pun mati, dan lo pun mati,” jelas Kateryn.

“Maksud lo apa?!” Yuri semakin menekan jantung Kateryn hingga membuatnya sulit bernapas.

“Akh! Haha, karena gue masternya,” Kateryn menyeringai.

Yuri semakin kesal. Ia tidak dapat membunuh Kateryn. Akhirnya Yuri mencabut tangannya lalu menyuruh Jason untuk membawa pergi Kateryn.


Dain dan Bluu kini sudah sampai di kediaman pack Dalton. Terlihat seluruh penduduk tengah bersiaga akibat kemunculan vampire liar yang mencoba mengusik ketenangan pack mereka. Perlahan Dain membawa Bluu menuju rumahnya. Sebenarnya Dain dan Bluu sudah berteman sejak mereka kecil. Saat ayah Bluu sedang berburu ditengah hutan beliau menemukan Dain yang baru saja berumur tiga bulan. Beliau tidak dapat menemukan orang tuanya kemudian memutuskan untuk membesarkannya. Saat Dain sudah menginjak remaja, ayah Bluu mendaftarkan Dain pada Saint Dawson Academy. Karena ia seorang manusia, ia harus dapat membela diri dari serangan para vampire liar.

“Dimana yang lain?” tanya Dain sembari pandangannya mengidar mencari anggota rumah yang lain.

“Mungkin lagi diluar,” ucap Bluu.

“Kamu tunggu sini, aku ambil perban dulu,” Dain mendudukan Bluu di sofa ruang keluarga. Kakinya bergegas mencari perban dan obat merah. Setelah didapat ia kembali pada Bluu lalu membersihkan lukanya dengan perlahan.

“Aw sakit!” ringis Bluu.

“Gitu aja sakit, lemah banget,” sindir Dain.

“Gimana gak sakit, tadi kamu muterin pisaunya ya!” protes Bluu.

Dain memukul kepala Bluu dengan gemas, “Bisa diem nggak?!”

“I-iya diem, galak banget,” dumal Bluu.

Dain kembali melanjutkan mengobati luka Bluu kemudian ia menutupnya dengan perban. Perlahan ia melilitkan perban pada tubuhnya. Bluu hanya diam menatap wajah Dain sedari tadi tanpa berkedip.

“You okay?” tanya Bluu.

“Kenapa nanya begitu, I’m okay,” ucap Dain.

“Kamu menggunakan vervain, aku bisa menciumnya,” ucap Bluu.

“Aku nggak apa-apa,” Dain tersenyum.

“Apa perlu aku bunuh dia?” tanya Bluu.

“Nggak usah aneh-aneh ya!” Dain mencubit perut Bluu.

“Aw iya ih galak!” ringis Bluu.

“Lo kenapa?” tanya seseorang baru saja datang.

“Abis di gigit kelinci,” ucap Bluu mendapat tatapan tajam dari Dain.

“Loh lo nggak ke Academy?” tanya orang tersebut merupakan kakak Bluu. Bebe Dalton.

“Gue abis nolongin serigala kecil abis digigit kelinci, agak ngerepotin emang,” ucap Dain.

“Yaudah lo disini aja, jagain serigala kecil sama penduduk lain, biar gue sama ayah ke Academy bantu Hunter lain,” ucap Bebe.

“Maaf ya kalau ngerepotin,” ucap Dain.

“Haha nggak masalah, gimana pun lo masih keluarga kita, kalau gitu gue pergi sekarang,” Bebe mengusap kepala Dain kemudian segera pergi bersama yang lain menuju SDA.

“Cih keluarga apanya, nama belakangnya aja nggak pake nama ayah,” ledek Bluu.

“Mau digigit lagi bukan?” tanya Dain.

“Mau tapi disini,” Bluu menunjuk lehernya.

Malas menanggapi lelucon Bluu. Dain memutuskan untuk bangkit dan segera keluar dari rumah untuk memeriksa keadaan sekitar. Namun semua itu gagal, karena Bluu menahannya. Bluu menarik tubuhnya hingga terjatuh di pangkuan dirinya.

“Aku serius, kamu nggak apa-apa?” tanya Bluu dengan tatapan serius.

Dain mencoba untuk tidak terbawa suasana, namun air matanya tidak dapat terbendung. Ia menitihkan air mata membasahi kedua pipinya. Bluu mengerti perasaan Dain saat ini. Ia memeluknya dan membiarkannya menangis.


1666

“Sayang.”

“Hum?”

Willma menghampiri Kateryn tengah sibuk mengganti media tanam bunga di halaman belakang. Kemudian ia memeluknya dari belakang. “Aku lapar,” bisiknya pada Kateryn.

“Stok darah kan masih banyak,” ucap Kateryn.

“Aku bosan minum darah hewan,” keluh Willma.

“Terus kamu mau minum apa?” tanya Kateryn.

“Darah manusia,” ucap Willma membuat Kateryn menoleh menatapnya.

“Kok natapnya gitu? Nggak boleh ya?” ucap Willma.

“Boleh sayang.”

“Serius?!” seketika raut wajah Wilmma berubah menjadi riang.

“Iya, lagi pula kamu belum pernah berburu manusia kan? Nanti malam kita berburu,” ucap Kateryn.

“Yeay! Makasih sayang!!” Willma memberikan kecupan berkali-kali pada wajah Kateryn.

“Tapi ingat, kita hanya berburu manusia jahat saja, okay?”

“Okay!”


Sesuai dengan janjinya, malam ini Kateryn dan Willma pergi menuju kota. Suasana kota Toulouse ditengah malam begitu sepi. Dapat terhitung oleh jari manusia yang berlalu lalang disana. Baru saja mereka ingin mencari manusia yang akan dijadikan santapan makan malam, terdengar dengan jelas jeritan seorang wanita meminta tolong. Keduanya saling menatap. Kali ini Kateryn menyuruh Willma untuk bersembunyi terlebih dahulu kemudian ia berjalan dengan santai menuju pada gang sempit nan gelap.

Tak jauh dari Kateryn berdiri, terlihat dua orang pria bertubuh besar hendak memperkosa seorang wanita muda, “Apa kalian akan puas hanya menikmati satu tubuh saja?” ucap Kateryn membuat kedua pria tersebut menatap ke arahnya.

“Apa ini? Apakah dia temanmu? Haha ayo kemari sayang, mari kita saling memuaskan nafsu bersama,” ucap salah satu pria yang berjalan mendekati Kateryn.

Kateryn tekekeh sembari menyeringai, “Baik lah kalau itu mau mu.”

Tangan sang pria hendak menyentuh tubuh Kateryn namun tertahan oleh genggaman kuat dari seseorang yang secara tiba-tiba hadir disebelah Kateryn. Si pria terkejut dengan kemunculan Willma, “How dare you to touch my wife!” Willma meremas kuat tangan si pria hingga terdengar suara remukkan tulang begitu renyah membuatnya berteriak kesakitan.

Kateryn tersenyum bangga melihat tatapan amarah Willma. Baginya itu terlihat sangat seksi. Ia membiarkan Willma menghabisi nyawa si pria dengan menghisap darahnya dan memakan jantungnya hingga kandas. Pandangannya kini teralihkan oleh pria satunya yang hendak berlari kabur karena ketakutan. Ia pun bergerak cepat mengejar si pria hingga berdiri di hadapannya membuat si pria kedua jatuh terkejut melihat kehadiran Kateryn secara mendadak.

“Mau kemana sayang? Urusan kita belum selesai,” Kateryn menyeringai.

Tangannya menjambak rambut sang pria kemudian ia menariknya hingga tubuhnya terseret menuju Willma, “Kamu tidak boleh kabur, kamu harus memuaskan nafsu istri saya,” Kateryn mendorong tubuh pria tersebut sedikit keras pada tembok, membuat si pria terkulai lemas.

Terlihat Willma sudah selesai memakan pria pertama, kini ia menatap tajam ke arah pria kedua, tatapannya begitu lapar membuat si pria memohon ampun. “To-ttolong jangan bunuh saya, sa-saya minta maaf!”

“You late,” Willma menyeringai.

“To-tolong… AAAKKKHHHH!!!!” Willma menggigit leher pria tersebut. ia meneguk darah begitu banyak hingga sang pria tewas. Tidak lupa ia mencabut jantungnya kemudian ia makan dengan lahap.

Sementara itu Kateryn tengah menolong wanita muda yang menjadi korban pelecehan dari kedua pria bejat tersebut. Ia mencoba untuk menenangkan si korban yang sudah sangat ketakutan.

“Hey love, look at me, aku tidak akan membunuh mu,” ucap Kateryn membuat si korban memberanikan diri untuk menatapnya.

Ketika kedua mata mereka bertemu, “Kamu akan melupakan apa yang terjadi malam ini, kamu akan pulang dengan perasaan tenang, sekarang kamu segera pulang dan jangan untuk menengok kebelakang, kunci rapat pintu rumah mu, lalu kamu akan bermimpi indah malam ini,” Kateryn berhasil menghipnotis wanita tersebut.

“Sekarang pulang lah,” ucap Kateryn kembali. Si wanita muda mengangguk patuh kemudian segera pergi meninggalkan Kateryn dan Willma.

“Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Willma.

“Nanti aku ajari caranya,” Kateryn menoleh ke arah Willma lalu terkekeh pelan.

“Kok ketawa?!”

“Kamu menggemaskan, bagaimana kamu akan menjadi ibu dari anak-anak kita, kalau kamu saja masih seperti anak kecil,” Kateryn mencubit pelan pipi Willma.

“Ish ngeselin!” Willma memukul dada Kateryn cukup keras.

“Ah! Haha,” Kateryn menarik tangan Willma agar ia mendekat, “Sini aku bersihin dulu,” Kateryn menangkup kedua pipi Willma kemudian ia menjilati darah yang berada di wajah dan lehernya.

Willma memejamkan matanya sembari menikmati sentuhan lidah Kateryn yang begitu menggelitik, “Aahhhh.”

BRUK!!

Willma membuka kedua matanya. Ia terkejut melihat kehadiran seseorang di hadapannya. Kateryn. Wanita yang ia cintai selama berabad-abad tengah menatapnya yang sulit diartikan. Namun ia tersadar bahwa Kateryn telah membuka paksa pintu jeruji besi yang menahan dirinya selama berjam-jam. Ya benar, akibat mimpi indahnya ia sampai lupa kalau ia telah menjadi tahanan para Hunter.

“Kateryn?”

“Ayo pergi dari sini,” Kateryn segera membuka borgol pada kedua tangan Willma.

“Tapi….”

“Kamu mau ikut aku atau dia?!!” bentak Kateryn membuat Willma terdiam.

Tidak ingin ia tertangkap oleh vampire liar atau pun Hunter, Kateryn segera menggendong tubuh Willma lalu membawanya pergi pada suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh para vampire liar dan Hunter.

Sampai akhirnya Kateryn sampai di suatu tempat terpencil ditengah hutan. Terlihat tempat tersebut seperti gua kecil yang berada di bawah tanah. Entah dimana Willma merasa asing dengan tempat ini.

“Ini dimana?” tanya Willma setelah Kateryn menurunkannya.

“Tempat yang aman untuk bersembunyi,” ucap Kateryn.

Tanpa sadar Kateryn memborgol kembali tangan kekasihnya, “What are you doing?!” Willma mencoba untuk melepaskan borgor tersebut namun tidak bisa.

“Agar tidak kabur, tunggu sebentar disini, aku akan selesaikan semuanya, aku janji akan kembali dan kita akan memulai kehidupan yang baru,” Kateryn mengecup kening Willma sedikit lama.

“Jangan! Jangan tinggali aku lagi! Please! Aku nggak mau kehilangan kamu lagi!” Willma memohon sembari menarik baju Kateryn untuk menahannya.

“Sebentar saja, aku janji akan kembali, tenang lah aku tidak akan meninggalkan mu,” ucap Kateryn.

“Tapi….”

“Aku pergi dulu,” Kateryn segera meninggalkan Willma sendirian di tempat yang gelap dan lembab, hanya menyisakan cahaya dari obor menerangi ruang tersebut.


Setelah mencari tahu keberadaan alamat yang diberikan oleh Kateryn, kini Dain sudah sampai di sekitar suatu rumah tua yang terletak di tengah hutan dan sangat jauh dari jangkauan penduduk kota. Dengan hati-hati ia bersembunyi untuk membaca situasi di sekitar rumah maupun dalam rumah dimana Kateryn berada.

Ia melihat beberapa Hunter vampire tengah berjaga di halaman rumah tua tersebut. Mereka merupakan senior yang ia kenal. Jantungnya berdegup cukup kencang. Ia takut. Namun ia harus membebaskan Kateryn. Perlahan ia mengatur napasnya untuk menenangkan detak jantungnya. Akhirnya Dain memberanikan diri untuk muncul dengan santai.

Kemunculan Dain membuat para Hunter kebingungan, “Ngapain kesini?” tanya salah satu Hunter.

“Tadi abis nyari angin aja, tau-tau ngeliat kalian disini,” ucap Dain.

“Balik ke asrama, ma’am Kateryn nggak ada disini,” ucap sang Hunter vampire.

“Ma’am Kateryn ada disini? Kok nggak bilang?” tanya Dain membuat para Hunter vampire bersiaga menghalau dirinya.

“Di bilang balik ke asrama!” salah satu Hunter hendak mendorong tubuh Dain, namun dengan cepat Dain menghindar lalu memberi pukulan keras tepat di wajahnya.

Melihat pemberontakan dari Dain, seluruh Hunter vampire yang berjaga menyerang dirinya dengan cepat. Sempat kewalahan dan mendapat serangan bertubi-tubi membuat tubuhnya melemah. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia harus segera menyelamatkan Kateryn.

Segera ia mengambil pisau lalu kembali menyerang para Hunter vampire dengan membabi buta. Ia tidak segan untuk menancapkan pisaunya tepat di leher para Hunter. Ia sudah tidak perduli lawannya kali ini. Berkat pisau yang dipakai memiliki vervain, tentu membuat para Hunter vampire terkapar lemah. Ia sengaja tidak membunuh mereka. Karena bagaimana pun mereka masih bagian dari anggota SDA.

Melihat seluruh Hunter vampire yang berada disana terkapar, Dain bergegas mencari Kateryn ke dalam rumah tua tersebut. Ruangan demi ruangan ia buka sampai akhirnya ia berkahir di basement. Begitu sangat kosong, tidak ada barang apapun selain sebuah peti mati berwarna hitam terletak tidak jauh dari Dain berdiri sekarang.

Tanpa basa basi Dain mendekat pada peti mati tersebut kemudian ia membukanya perlahan. Ternyata benar. Kateryn berada didalamnya bersama sebuah belati silver menancap di dadanya. Ia langsung melepaskan belati tersebut membuat warna tubuh Kateryn kembali normal.

“Sayang?” ucap Dain sembari mengusap wajah Kateryn dengan lembut. Perlahan Kateryn membuka matanya, lalu menatap Dain cukup lama.

“Hi,” Dain tersenyum.

Kateryn pun keluar dari peti mati, kemudian ia menggendong tubuh Dain dan segera pergi dari rumah tua tersebut. Ia berlari sangat cepat sampai akhirnya berhenti di tengah hutan yang cukup gelap. Ia menurunkan Dain lalu memeluknya dengan erat.

“Thank you for saving me baby,” ucap Kateryn.

“My pleasure babe,” Dain semakin mempererat pelukannya.

“Baby,” perlahan Kateryn melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah Dain dengan serius.

“Ya?”

Kateryn melirik pada kedua tangannya. Terlihat Dain mengenakan cincin Hunter di jari tengahnya. Ia perlahan melepaskan cicin tersebut membuat sang pemilik kebingungan.

“Kok dilepas?” tanya Dain.

Tidak membalas pertanyaannya. Kateryn menangkup kedua pipi Dain dan menatap tajam kedua matanya. “Lupakan memori singkat antara kita berdua, kita hanya murid dan mentor, tanpa adanya diriku kamu akan tetap bahagia, jangan pernah mencari tahu siapa diriku, apabila temanmu menanyakan tentang kita, katakan saja bahwa itu semua hanya kesalah-pahaman,” ucap Kateryn membuat pupil Dain membesar menandakan bahwa Dain sudah terhipnotis olehnya.

Sebelum Dain sadar, Kateryn segera pergi meninggalkannya ditengah hutan. Tak lupa ia menjatuhkan cincin Dain ke tanah sebelum ia meninggalkannya. Lima detik kemudian Dain tersadar. Ia terkejut. Mengapa ia berada di tengah hutan yang gelap. Ia pun segera mencari ponsel miliknya lalu menyalakan flash ponsel untuk menerangi pandangannya.

Hendak pergi mencari jalan keluar. Ia merasakan seseorang berjalan mendekat kearahnya. Tangannya segera mengambil pisau miliknya lalu melemparkannya ke arah belakang dimana sumber suara langkah berasal.

“ARGHH!!” pisau tersebut berhasil tertancap di bahu seseorang yang berada dua meter dari tempat ia berdiri.

Dain pun berlari menghampiri orang misterius tersebut. Kemudian ia menendang tubuhnya hingga terpojok pada pohon besar. Tangannya mencekik kuat leher orang misterius tersebut lalu menekan pisau miliknya yang tertancap membuat orang tersebut meringis kesakitan.

“AARGHH PLEASE STOP I’M NOT VAMPIRE!” ringis orang tersebut.

“WHO ARE YOU?!” bentak Dain.

“B-Bluu Dalton! I’m a werewolf!”

“Huh?!” perlahan ia menatap wajahnya dengan lekat.

“Oh my God!” segera ia melepaskan kedua tangannya.

Sang werewolf bernama Bluu meringis sakit pada bahunya. Perlahan ia mencabut pisau milik Dain lalu memberikan pada pemiliknya. “Astaga bisa-bisanya kamu melupakan aku, aahhh,” ucap Bluu.

“Maafin aku! Aku kira kamu vampire liar! Lagian siapa suruh berkeliaran di tengah hutan begini!” ucap Dain.

“Harusnya aku yang nanya itu ke kamu, kamu ngapain tengah malam ada disini? Ini daerah kekuasaanku kalau kamu ingat,” tanya Bluu.

“Aku nggak tau kenapa bisa ada disini, yang aku ingat tadi aku lagi tidur, terus bangun-bangun ada disini, aku nggak bisa liat jelas karena gelap banget disini,” jelas Dain.

Bluu sempat diam cukup lama menatap wajah Dain dengan lekat, “Lebih baik kamu sekarang ke Academy, mereka kedatangan banyak vampire liar, aku kesini untuk mencari vampire liar yang kabur karena sudah mengusik ketenangan pack ku,” ucap Bluu.

Dain diam mencerna apa yang dikatakan Bluu padanya. Namun ia teralihkan pada luka di bahu Bluu. Terlihat darah segar mengalir cukup banyak. Semua itu akibat dirinya. Tanpa berpikir panjang ia merobek kaos yang dikenakan Bluu lalu kaos tersebut ia gunakan untuk menyumbat aliran darah yang keluar dari lukanya.

“Kita ke pack mu, obati luka mu terlebih dahulu,” ucap Dain membuat Bluu terdiam.


Georgia

Deru suara mobil menggema keseluruh penjuru Saint Dawson Academy. Terlihat begitu banyak mobil berwarna hitam baru saja datang dan berhenti didepan gerbang membuat fokus para murid teralihkan. Dengan serempak muncul begitu banyak vampire liar keluar dari mobil tersebut. Diperkirakan jumlahnya sekitar seratus lebih.

Melihat keramaian vampire liar membuat penjaga bersiaga didepan gerbang untuk menghalau mereka masuk ke dalam SDA. Tak lama seorang wanita muncul dari kerumunan para vampire liar. Wanita tersebut berjalan dengan santai menuju para penjaga SDA yang merupakan Hunter vampire.

Sebelum wanita tersebut mengeluarkan suara, kerumunan vampire liar membelah memberikan jalan untuk mobil yang baru saja datang. Mobil tersebut berhenti tepat di depan sang wanita. Wanita tersebut tersenyum ketika melihat pemilik mobil dan satu penumpang turun tengah menatapnya bingung.

“Yuri? Mau ngapain kamu kesini?” tanya Selene.

“Hi ma’am Selene, hi ma’am Joelle, long time no see,” ucap Yuri.

“Are they your people?” tanya Joelle.

“Umm, actually they are not my people, but my master’s,” Yuri tersenyum lebar membuat Selene dan Joelle memincingkan mata mereka.

“Who is your master?” tanya Selene.

“Willma Deveraux, do you know her?” tanya Yuri.

“Not really, but I know her name,” ucap Joelle.

“We’d better talk inside, come on,” ucap Selene sembari mengajak Yuri untuk segera masuk ke dalam SDA. Namun Yuri menolak.

“I don’t have much time, saya meminta dengan hormat untuk melepaskan Willma sekarang,” Yuri menatap Selene dan Joelle dengan tatapan serius.

“Kalau kami tidak mengizinkannya?” tanya Joelle.

“Aku akan membunuh kalian semua, bagaimana?” Yuri tersenyum membuat emosi Joelle tersulut.

Selene segera menahan Joelle terlebih dahulu yang hendak menyerang Yuri, “Maaf Yuri, kami tidak bisa memberikan Willma begitu saja, jika kamu ingin berperang biarkan kami bersiap terlebih dahulu,” ucap Selene.

“Five minute,” ucap Yuri.

Selene menyeringai, “I like your tone, that’s way you’re my favorite Hunter,” Selene memberi isyarat pada Hunter vampire untuk segera mempersiapkan diri.

Tidak lama suara sirine berbunyi. Seluruh siswa-siswi calon Hunter segera berlari menuju tempat aman yang sudah disediakan. Sedangan para Hunter tengah sibuk menyiapkan diri untuk bersiap menjaga SDA dari para vampire liar. Joelle berlari ke dalam kemudian Selene mengamankan mobil sportnya agar tidak rusak.

Selagi menunggu para Hunter siap, Yuri memanggil Jason. “Sebagian berpencar, sepertinya Willma tidak ada disini, biar saya yang menghadapi para Hunter,” ucap Yuri.

“Baik ma’am,” Jason mengangguk lalu mengajak sebagian pasukan vampire untuk segera menyebar mencari keberadaan Willma.

Yuri melihat para Hunter berlari keluar dari gedung base. Ia menjentikkan jarinya membuat seluruh pasukan vampire berlari menyerang para Hunter. Perang pun dimulai. Yuri berjalan dengan santai masuk ke dalam SDA sembari menangkis beberapa serangan dari para Hunter. Tujuan ia bukanlah untuk membunuh Hunter, melainkan hanya membawa kembali Willma dan bertemu dengan sahabat lamanya, Kateryn. Namun ia pun tidak segan untuk membunuh apa bila ada yang menghalangi rencananya.

“Where are you Kateryn,” gumamnya.


“DAIN!” teriak seseorang dari luar kamar.

Tak lama pintu kamar terbuka lebar menampilkan sosok yang ia kenal. Velo. “Mau ikut nggak ke kamar Byan?” tanya Velo.

Dengan malas Dain menggelengkan kepalanya sembari menatap ke arah jendela kamar. Ia sama sekali tidak menoleh pada sahabatnya. Velo menghela napas. Ia mengetahui bahwa Dain sedang dilanda kesedihan akibat pacar barunya menghilang tidak memberi kabar dalam beberapa hari.

“Ngapain sih galau? Lagi sibuk kali dia, ayo mending ikut dari pada lo dikamar sendiri,” bujuk Velo.

“Enggak Vel, gue ngantuk, lo aja nggak apa-apa, gue mau tidur,” ucap Dain sembari ia mengubah posisi untuk siap tidur.

“Ah nggak asik lo, mending lo tidur tuh di peti mati lo,” ucap Velo.

“Matiin lampunya dong tolong sama tutup pintunya,” ucap Dain.

“Nyuruh lagi si kampret, yaudah gue ke kamar Byan dulu ya,” Velo mematikan lampu dan menutup pintu kamar Dain sebelum ia pergi ke kamar temannya. Dain menghela napas panjang. Perlahan ia mulai memejamkan matanya.

“Sayang.”

Dain membuka matanya. Ia mendengar suara yang ia kenal. Kateryn. Matanya pun mencari keberadaan kekasihnya. Terlihat samar-samar Kateryn tengah berdiri di dekat jendela kamar.

Cahaya dari luar jendela menyinari sebagian wajah Kateryn. Sontak Dain mengubah posisi menjadi duduk. “Kateryn?”

“Yes baby, come here,” ucap Kateryn sembari melebarkan kedua tangannya.

Dengan cepat ia turun dari kasur lalu berlari menghampiri sang kekasih. Tak lupa ia memeluk erat tubuh Kateryn. “Hnngg kemana ajaaaaaa? aku kangenn,” ucap Dain sembari mendusalkan wajahnya tepat di dada Kateryn.

“Maaf ya sayang bikin kamu nunggu lama, tapi aku mau minta bantuan kamu,” ucap Kateryn membuat Dain bingung lalu menatap wajahnya.

“Bantu apa?” tanya Dain.

Kateryn memberikan secarik kertas pada Dain, “Aku minta kamu datang malam ini ke alamat di kertas itu,” ucap Kateryn.

Dain pun melihat alamat pada kertas tersebut, “Buat apa?” tanyanya kembali.

“Aku minta kamu untuk cabut belati yang ada di dada aku sekarang,” ucap Kateryn.

Pandangannya pun turun melihat ke arah dadanya. Terlihat sebuah belati tengah menancap di dada Kateryn membuat Dain terkejut.

“Sayang!!”

Dain terbangun. Badannya dipenuhi oleh keringat dan napasnya pun tersengal-sengal. Ia sangat terkejut sekaligus kebingungan. Segera ia menyalakan lampu kamar untuk mencari keberadaan Kateryn. Nihil. Ternyata hanya mimpi. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela napas. Mimpinya sangat terasa nyata sehingga membuat tenggorokannya terasa kering. Ia memutuskan untuk mengambil air di dapur. Ketika ia membuka pintu kamar, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di lantai. Ia melihat secarik kertas berada didekat kakinya. Tangannya pun mengambil kertas tersebut.

“Oh shit.”

Dain bergegas mengganti baju dan tak lupa ia membawa alat senjata tajam apabila ia bertemu dengan vampire liar diluar sana. Ternyata itu bukan sekedar mimpi biasa, namun merupakan pesan yang disampaikan oleh Kateryn padanya. Kateryn dalam bahaya. Ia harus menyelamatkan kekasihnya. Ketika sudah dirasa siap, ia keluar melalui jendela kamar agar tidak terlihat oleh penjaga asrama dan teman-temannya.


1658

Seorang gadis kecil berlari dengan sekuat tenaga menuju tengah hutan. Disana sangatlah minim cahaya. Hanya bulan lah yang menjadi sumber cahaya di kegelapan hutan. Dengan napas yang tersengal-sengal, gadis tersebut akhirnya berhenti di suatu pohon tumbang berukuran raksasa melintang menutupi sebagian jalur setapak.

Begitu banyak noda darah terlihat di baju dan kedua tangannya. Gadis kecil itu merasa ketakutan. Ia menjatuhkan diri tepat disamping pohon tumbang lalu memeluk kedua kakinya. Tak lama suara tangis terdengar dengan jelas.

“Jangan menangis,” suara tersebut membuat sang gadis terlonjak kaget. Ia melihat seorang wanita bertubuh tinggi tengah berdiri di hadapannya. Ia pun mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah wanita di hadapannya. Matanya pun membulat.

“Tolong! Jangan bunuh saya! Aku mohon!” gadis kecil bersujud dan memeluk kaki sang wanita memohon agar mengampuni dirinya.

Wanita itu perlahan melepaskan pelukan si gadis kecil pada kakinya. Ia berjongkok untuk menyeimbangkan pandangan mereka. Sang wanita tersenyum kemudian mengusap kepala si gadis dengan lembut.

“Untuk apa saya membunuh mu? Kamu sudah mati sayang,” ucap sang wanita membuat si gadis kebingungan.

“Siapa nama mu?” tanya sang Wanita.

“W-Willma,” ucap si gadis bernama Willma.

“Nama yang cantik, seperti pemiliknya, perkenalkan nama saya Kateryn, mulai detik ini saya yang akan mengajari mu untuk memulai kehidupan baru sebagai vampire,” ucap Kateryn membuat Willma semakin kebingungan.

“Va-vampire?” tanya Willma.

“Kamu sudah mati dan sekarang kamu menjadi vampire, sama seperti ku, makhluk penghisap darah,” jelas Kateryn.

Willma terdiam. Kemudian ia menatap kedua tangannya penuh dengan noda darah yang sudah mengering. Lalu ia menatap wajah Kateryn kembali. “Kenapa nyonya tidak biarkan saya mati saja? S-saya tidak pantas untuk hidup kembali, kedua orang tua saya sudah mati, saya saya ingin bersama mereka,” ucap Willma dengan lirih.

“Tidak sayang, kamu masih pantas untuk hidup lebih baik, maka dari itu saya mengubah mu menjadi vampire,” ucap Kateryn mencoba untuk menenangkan Willma yang sudah bergetar ketakutan dan sekaligus berkabung atas kematian kedua orang tuanya yang dibunuh tepat didepan matanya.

“Maafkan saya tidak sempat menolong orang tua mu, tapi saya janji saya akan membuat hidupmu menjadi lebih baik, ayo ikut saya pulang, kamu harus membersihkan tubuh mu, tidak baik bila dilihat oleh manusia,” ucap Kateryn sembari mengulurkan tangannya pada Willma.

Willma diam menatap tangan Kateryn. Ia sangat ragu. Ia takut jika ia akan dimanfaatkan atau disiksa oleh Kateryn. Karena ia selalu mendapatkan perlakuan berbeda dari penduduk kota. Dipukul, ditendang, maupun dilecehkan sudah menjadi makanan Willma sehari-hari ketika mencari makanan sisa dari tempat sampah.

Kateryn mengerti mengapa Willma sangat ketakutan dan ragu untuk ikut dengannya. Namun ia harus tetap membantu Willma untuk mengendalikan nafsu laparnya dan mengajarinya untuk berkelahi apabila ada seseorang yang berniat jahat padanya. Dengan cepat Kateryn mengangkat tubuh Willma dengan mudah. Si gadis kecil pun terkejut dan refleks memegang kedua bahu Kateryn yang sangat kokoh menurutnya.

“Kita harus cepat, sebelum manusia melihat kita, pejamkan matamu, mungkin ini akan membuatmu takut,” ucap Kateryn. Willma mengangguk nurut.

Ia memejamkan kedua matanya dengan cepat. Kateryn terkekeh pelan melihat betapa lucunya Willma saat menuruti perintahnya. Kateryn pun berlari menuju rumahnya yang tidak jauh dari lokasi ia menemukan Willma.


Willma membuka matanya perlahan. Pandangannya sangat buram. Ditambah kepalanya terasa sangat pening. Ia mengerjapkan matanya untuk menormalkan pandangannya. Terlihat di hadapannya terdapat seseorang tengah berdiri memandang dirinya dengan tatapan tajam.

Willma sadar jika dirinya kini sudah menjadi tahanan para Hunter. Kedua tangannya di borgol pada kedua sisi tembok. Ia tersenyum sembari menahan rasa nyeri pada luka punggungnya yang tak kunjung pulih.

“Who are you?” tanya seseorang di hadapannya yang merupakan Arine.

“Me?” Willma menatap Arine lalu terkekeh pelan, “I’m Willma Dawson,” Willma menyeringai.

“You’re not Dawson,” ucap Arine.

“You’re always denying, it’s like denying your daughter is a monster,” sindir Willma membuat Arine marah.

PLAK

Arine menampar keras wajah Willma. Kemudian ia memegang kepalanya membuat Willma memberontak. “Get off your fucking hands from my head!” teriak Willma.

Gertakan Willma tidak digubris olehnya. Arine mencoba fokus untuk membaca memori Willma bersama Kateryn. Tidak membutuhkan waktu lama ia mendapat pandangan berupa putaran memori Willma ketika bersama dengan anaknya, Kateryn. Merasa ingatannya berhasil dilihat oleh Arine, Willma menendang tubuh Arine hingga terpental menghantam tembok dengan keras.

“I SAID GET OFF!!!”


Berlin

Yuri pun sampai di kediaman Willma. Beberapa orang yang merupakan penjaga rumah menyapa dirinya. Senyuman hangat ia lontarkan kepada mereka. Sampainya di dalam rumah, Yuri tidak dapat mencium aroma keberadaan sang pemilik rumah.

“Ma’am,” ucap seseorang dari belakang.

Yuri memutar badannya lalu menatap pada pria bertubuh kekar yang selalu mengikuti kemana Willma pergi, “Oh hi Jason, where is Willma?”

“Ma’am Willma ditangkap para Hunter, saya minta maaf,” Jason menundukan kepalanya.

Senyuman Yuri pudar seketika. Ia menatap Jason dengan tajam. Kakinya melangkah mendekati Jason. Seperkian detik tangannya berhasil menerobos masuk pada dada Jason kemudian menggenggam kuat jantungnya membuat Jason kesakitan.

“What did you say?” tanya Yuri sembari mendekatkan wajahnya pada Jason.

“Aakh… S-saya minta maaf ma’am, t-tapi kemarin ma’am Willma tidak ingin dikawal karena ingin bertemu seseorang,” ucap Jason.

“Who?!!” Yuri semakin mencengkram kuat jantung Jason.

“Arrrgghhh… K-kateryn… Kateryn Dawson…,” ucap Jason.

Yuri diam sejenak. Ia mengeraskan rahangnya. Kemudian mencabut tangannya membuat Jason bernapas lega. “Siapkan pasukan, malam ini kita jemput Willma,” ucap Yuri.

“B-baik ma’am.”


Toulouse

Kateryn dan Willma pun sampai di rumah mereka. Terlihat bangunannya begitu sangat kuno namun masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kateryn hanya diam menatap rumah di hadapannya. Ia mengingat saat Willma menangis ketika ia melamarnya untuk pertama kali.

“Kamu mikirin apa?” tanya Willma.

“Kamu,” ucap Kateryn berhasil membuat Willma tersipu malu. Sudah sangat lama sekali ia merindukan sosok Kateryn yang ia kenal. Walau sangat mengerikan ketika ia marah. Namun Kateryn sangatlah perhatian dan penuh kelembutan ketika bersama orang yang dicintainya.

“Lama nggak ketemu masih aja gombal ya,” ucap Willma.

“Aku nggak gombal, aku hanya mengingat saat aku melamar mu disini, kamu terlihat menggemaskan ketika sedang menangis,” ucap Kateryn.

Willma menghampirinya lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kateryn, “Jadi, kamu sekarang udah ingat siapa aku?” tanya Willma.

Kateryn mengangguk lalu tersenyum, “You’re my wife,” ucap Kateryn seraya menarik dagu Willma lalu mencium bibirnya dengan lembut. Willma membalas ciumannya tak kalah lembut. Ia memeluk erat leher Kateryn. Ciuman mereka semakin dalam di ikuti deruan napas yang memburu membuat nafsu mereka memuncak.

DOR!

“AKH!!”

Sebuah peluru berhasil masuk ke dalam tubuh Willma. Keduanya pun terkejut. Terutama Willma. Ia meringis kesakitan saat merasakan timah panas menembus punggungnya.

Kateryn dengan cepat mencari pelaku yang sudah menembak Willma. Sampai akhirnya dua sosok muncul dari kejauhan. Nampaknya seperti mengenal mereka. Dua sosok tersebut berjalan menghampiri Kateryn dan Willma.

“Mau ngapain lo kesini?!” tanya Kateryn.

“Bawa lo pulang,” ucap Griselda.

“Coba aja kalo lo bisa,” Kateryn segera berlari menuju Griselda. Dengan cepat ia menyerang Griselda dengan tangan kosong. Namun dari serangan yang ia berikan selalu ditangkis oleh sahabatnya.

Satu sisi Willma tengah berjuang menangkis serangan Nicole yang datang bertubi-tubi. Ia masih merasakan sakit akibat luka tembak di punggungnya tak kunjung menutup.

“Fucking vervain!” Willma mendumal kesal.

“Sakit ya? Ups sorry!” ledek Nicole membuat Willma semakin kesal.

Sekuat tenaga Willma mencoba untuk menjatuhkan Nicole. Namun kekuatannya semakin menurun ketika ia menerima luka sayatan yang diberikan oleh lawannya.

“Nyerah aja Ryn! Ayo kita pulang!” ucap Griselda.

“Bacot!” Kateryn semakin marah. Matanya pun berubah.

Kateryn meloncat ke atas pohon. Ia mematahkan ranting pohon. Kemudian ia melempar cepat ke arah Griselda. Ranting pohon pun menancap tepat di dada Griselda.

“Arghh!” Griselda meringis kesakitan.

Melihat Griselda lengah, Kateryn pun turun untuk menyerang Griselda. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang secara tiba-tiba muncul di hadapannya lalu menusukan sebuah belati pada dadanya. Kateryn pun terkejut. Ia terjatuh saat sebuah belati menancap di dadanya. Pelakunya merupakan Arine.

“NOOO!!!” teriak Willma ketika melihat Kateryn jatuh tidak berdaya.

“WHY YOU KILL MY WIFE?!!!” Willma murka. Ia berlari menuju Arine untuk menyerangnya. Namun Shalgie datang menghentikan aksi Willma dengan mematahkan lehernya dengan mudah.

Willma pun tersungkur ke tanah tidak sadarkan diri. Shalgie menghampiri Arine yang sedari tadi diam menatap wajah Willma. “Sayang?”

Arine pun tersadar dari lamunannya kemudian ia menatap Shalgie dengan bingung, “Huh?

“Ayo pulang,” ucap Shalgie. Arine pun mengangguk.


Setelah semua Hunter berkumpul. Arine pun tiba di base tempat dimana para Hunter untuk menyusun strategi menangkap target mereka. Tak lama Shalgie pun datang. Ia sedikit terkejut ketika Arine datang ke academy.

“Udah berkumpul semua?” tanya Arine tanpa ekspresi.

“Sudah ma’am,” jawab Griselda.

“Rencana apa yang kalian punya untuk menangkap target kali ini?” tanya Arine.

“Kemarin Kateryn bertemu target di salah satu club baru, kemungkinan malam ini kita akan datang kesana untuk mencari informasi lebih lanjut keberadaan target,” jelas Griselda.

“Kalau gitu ambil sepuluh orang buat cari informasi disana, sebagian kalian cari di Berlin, Yeline dan Raegan yang memimpin, Griselda dan Nicole ikut saya ke Toulouse,” ucap Arine membuat bingung para Hunter, termasuk Griselda dan Nicole.

“Kenapa kesana ma’am?” tanya Nicole.

“Nanti juga kalian tau, prepare sekarang!!” ucap Arine.

“Kamu serius?!” Shalgie mengikuti Arine berjalan menuju lemari dimana seluruh senjata ditaruh.

“Iya,” Arine sama sekali tidak menatap Shalgie. Ia hanya fokus memilih senjata yang akan ia pakai.

“Biar aku aja yang pimpin okay? Kamu disini aja,” Shalgie memegang lengan Arine. Ia pun mendapat tatapan tajam dari sang istri.

“Aku nggak mau anak aku kembali seperti dulu! Aku sudah susah payah melatih dia! Jadi jangan halangi aku untuk membawa anak aku kembali!” Arine menepis tangan Shalgie.

“I know babe, but just let me–”

“YOU’LL NEVER KNOW!!!” bentak Arine membuat Shalgie dan seluruh Hunter terdiam. Terlihat Arine begitu sangat marah ketika Shalgie menahannya untuk menjemput Kateryn. Pupil matanya pun berubah menjadi biru.

“You’ll never understand how it feels to see your daughter turn into a monster!” ucap Arine penuh dengan penekanan pada Shalgie.


1670

Dengan sekuat tenaga Arine berlari menuju kota Toulouse. Kota dimana putrinya Kateryn menjalani hidupnya disana. Mereka sempat berpisah beberapa tahun. Bukan karena kemauan Arine. Melainkan Kateryn yang meminta sang ibunda untuk menetap di kota tersebut.

Kateryn mengatakan padanya jika ia sedang menyukai seseorang yang berada di kota Toulouse. Ia ingin memulai kehidupan barunya bersama orang yang ia sukai. Arine sempat ragu untuk mewujudkan permintaan sang anak. Namun umur mereka sudah dikatakan cukup untuk hidup mandiri. Akhirnya Arine pun menyetujui usul Kateryn. Ia pun pindah seorang diri menuju kota Georgia. Sebelumnya Arine dan Kateryn sudah terbiasa berpindah-pindah kota dan negara untuk menghindari kecurigaan orang-orang mengenai tentang mereka yang tidak akan pernah menua dan akan tetap hidup abadi.

Berkat kekuatan yang dimiliki oleh vampire itu sangat memudahkan mereka untuk berpindah tempat yang cukup jauh dengan waktu yang cepat dibandingkan menggunakan kendaraan. Hanya butuh waktu sejam Arine sampai di kota Toulouse yang jaraknya empat ribu kilometer lebih dari kota Georgia.

Sampainya di kota Toulouse. Suasana disana begitu sangat sepi. Tak hanya itu, banyak tubuh manusia yang berserakan di jalan membuat Arine merinding. Jujur saja ia baru melihat begitu banyak manusia yang tewas. Perlahan ia berjalan mengitari seluruh kota. Ia benar-benar tidak menemukan seorang pun disana. Sampai akhirnya ia berhenti di salah satu taman kota. Ia melihat sosok mengerikan tengah membunuh beberapa manusia dengan membabi buta. Ia pun segera mengambil batang kayu dengan ujungnya yang runcing di desain untuk sebagai senjata. Sepertinya penduduk seluruh kota ingin membunuh monster tersebut.

Perlahan Arine mendekat ke arah sosok mengerikan tersebut sembari matanya mengitari mencari keberadaan anaknya. Namun pergerakannya diketahui oleh monster tersebut. Mata mereka bertemu. Arine terkejut.

“K-Kateryn…,” ucap Arine.

Mendengar namanya disebut, Kateryn pun tersadar. Ia terkejut ketika melihat banyak tubuh manusia yang mati akibat ulahnya. Ditambah ia semakin ketakutan melihat tubuh dan tangannya dipenuhi oleh noda darah.

“M-mmom… mom… I didn’t do it! I-I swear mom!” ucap Kateryn yang panik.

Segera Arine menghampiri Kateryn. Bukannya mencoba untuk menenangkan sang anak melainkan Arine menusuk batang kayu tepat di dada Kateryn. Sontak sang anak terkejut.

“It’s time for us to left the city, baby,” bisik Arine seraya memeluk tubuh Kateryn yang lambat laun berubah warna menjadi abu-abu.

Ketika Kateryn sudah mati, Arine menatap seorang wanita muda di kejauhan tengah menatapnya sedih. Ia tidak tahu siapa wanita tersebut. Namun ia pastikan wanita muda itu merupakan vampire.