1666
“Sayang.”
“Hum?”
Willma menghampiri Kateryn tengah sibuk mengganti media tanam bunga di halaman belakang. Kemudian ia memeluknya dari belakang. “Aku lapar,” bisiknya pada Kateryn.
“Stok darah kan masih banyak,” ucap Kateryn.
“Aku bosan minum darah hewan,” keluh Willma.
“Terus kamu mau minum apa?” tanya Kateryn.
“Darah manusia,” ucap Willma membuat Kateryn menoleh menatapnya.
“Kok natapnya gitu? Nggak boleh ya?” ucap Willma.
“Boleh sayang.”
“Serius?!” seketika raut wajah Wilmma berubah menjadi riang.
“Iya, lagi pula kamu belum pernah berburu manusia kan? Nanti malam kita berburu,” ucap Kateryn.
“Yeay! Makasih sayang!!” Willma memberikan kecupan berkali-kali pada wajah Kateryn.
“Tapi ingat, kita hanya berburu manusia jahat saja, okay?”
“Okay!”
Sesuai dengan janjinya, malam ini Kateryn dan Willma pergi menuju kota. Suasana kota Toulouse ditengah malam begitu sepi. Dapat terhitung oleh jari manusia yang berlalu lalang disana. Baru saja mereka ingin mencari manusia yang akan dijadikan santapan makan malam, terdengar dengan jelas jeritan seorang wanita meminta tolong. Keduanya saling menatap. Kali ini Kateryn menyuruh Willma untuk bersembunyi terlebih dahulu kemudian ia berjalan dengan santai menuju pada gang sempit nan gelap.
Tak jauh dari Kateryn berdiri, terlihat dua orang pria bertubuh besar hendak memperkosa seorang wanita muda, “Apa kalian akan puas hanya menikmati satu tubuh saja?” ucap Kateryn membuat kedua pria tersebut menatap ke arahnya.
“Apa ini? Apakah dia temanmu? Haha ayo kemari sayang, mari kita saling memuaskan nafsu bersama,” ucap salah satu pria yang berjalan mendekati Kateryn.
Kateryn tekekeh sembari menyeringai, “Baik lah kalau itu mau mu.”
Tangan sang pria hendak menyentuh tubuh Kateryn namun tertahan oleh genggaman kuat dari seseorang yang secara tiba-tiba hadir disebelah Kateryn. Si pria terkejut dengan kemunculan Willma, “How dare you to touch my wife!” Willma meremas kuat tangan si pria hingga terdengar suara remukkan tulang begitu renyah membuatnya berteriak kesakitan.
Kateryn tersenyum bangga melihat tatapan amarah Willma. Baginya itu terlihat sangat seksi. Ia membiarkan Willma menghabisi nyawa si pria dengan menghisap darahnya dan memakan jantungnya hingga kandas. Pandangannya kini teralihkan oleh pria satunya yang hendak berlari kabur karena ketakutan. Ia pun bergerak cepat mengejar si pria hingga berdiri di hadapannya membuat si pria kedua jatuh terkejut melihat kehadiran Kateryn secara mendadak.
“Mau kemana sayang? Urusan kita belum selesai,” Kateryn menyeringai.
Tangannya menjambak rambut sang pria kemudian ia menariknya hingga tubuhnya terseret menuju Willma, “Kamu tidak boleh kabur, kamu harus memuaskan nafsu istri saya,” Kateryn mendorong tubuh pria tersebut sedikit keras pada tembok, membuat si pria terkulai lemas.
Terlihat Willma sudah selesai memakan pria pertama, kini ia menatap tajam ke arah pria kedua, tatapannya begitu lapar membuat si pria memohon ampun. “To-ttolong jangan bunuh saya, sa-saya minta maaf!”
“You late,” Willma menyeringai.
“To-tolong… AAAKKKHHHH!!!!” Willma menggigit leher pria tersebut. ia meneguk darah begitu banyak hingga sang pria tewas. Tidak lupa ia mencabut jantungnya kemudian ia makan dengan lahap.
Sementara itu Kateryn tengah menolong wanita muda yang menjadi korban pelecehan dari kedua pria bejat tersebut. Ia mencoba untuk menenangkan si korban yang sudah sangat ketakutan.
“Hey love, look at me, aku tidak akan membunuh mu,” ucap Kateryn membuat si korban memberanikan diri untuk menatapnya.
Ketika kedua mata mereka bertemu, “Kamu akan melupakan apa yang terjadi malam ini, kamu akan pulang dengan perasaan tenang, sekarang kamu segera pulang dan jangan untuk menengok kebelakang, kunci rapat pintu rumah mu, lalu kamu akan bermimpi indah malam ini,” Kateryn berhasil menghipnotis wanita tersebut.
“Sekarang pulang lah,” ucap Kateryn kembali. Si wanita muda mengangguk patuh kemudian segera pergi meninggalkan Kateryn dan Willma.
“Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Willma.
“Nanti aku ajari caranya,” Kateryn menoleh ke arah Willma lalu terkekeh pelan.
“Kok ketawa?!”
“Kamu menggemaskan, bagaimana kamu akan menjadi ibu dari anak-anak kita, kalau kamu saja masih seperti anak kecil,” Kateryn mencubit pelan pipi Willma.
“Ish ngeselin!” Willma memukul dada Kateryn cukup keras.
“Ah! Haha,” Kateryn menarik tangan Willma agar ia mendekat, “Sini aku bersihin dulu,” Kateryn menangkup kedua pipi Willma kemudian ia menjilati darah yang berada di wajah dan lehernya.
Willma memejamkan matanya sembari menikmati sentuhan lidah Kateryn yang begitu menggelitik, “Aahhhh.”
BRUK!!
Willma membuka kedua matanya. Ia terkejut melihat kehadiran seseorang di hadapannya. Kateryn. Wanita yang ia cintai selama berabad-abad tengah menatapnya yang sulit diartikan. Namun ia tersadar bahwa Kateryn telah membuka paksa pintu jeruji besi yang menahan dirinya selama berjam-jam. Ya benar, akibat mimpi indahnya ia sampai lupa kalau ia telah menjadi tahanan para Hunter.
“Kateryn?”
“Ayo pergi dari sini,” Kateryn segera membuka borgol pada kedua tangan Willma.
“Tapi….”
“Kamu mau ikut aku atau dia?!!” bentak Kateryn membuat Willma terdiam.
Tidak ingin ia tertangkap oleh vampire liar atau pun Hunter, Kateryn segera menggendong tubuh Willma lalu membawanya pergi pada suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh para vampire liar dan Hunter.
Sampai akhirnya Kateryn sampai di suatu tempat terpencil ditengah hutan. Terlihat tempat tersebut seperti gua kecil yang berada di bawah tanah. Entah dimana Willma merasa asing dengan tempat ini.
“Ini dimana?” tanya Willma setelah Kateryn menurunkannya.
“Tempat yang aman untuk bersembunyi,” ucap Kateryn.
Tanpa sadar Kateryn memborgol kembali tangan kekasihnya, “What are you doing?!” Willma mencoba untuk melepaskan borgor tersebut namun tidak bisa.
“Agar tidak kabur, tunggu sebentar disini, aku akan selesaikan semuanya, aku janji akan kembali dan kita akan memulai kehidupan yang baru,” Kateryn mengecup kening Willma sedikit lama.
“Jangan! Jangan tinggali aku lagi! Please! Aku nggak mau kehilangan kamu lagi!” Willma memohon sembari menarik baju Kateryn untuk menahannya.
“Sebentar saja, aku janji akan kembali, tenang lah aku tidak akan meninggalkan mu,” ucap Kateryn.
“Tapi….”
“Aku pergi dulu,” Kateryn segera meninggalkan Willma sendirian di tempat yang gelap dan lembab, hanya menyisakan cahaya dari obor menerangi ruang tersebut.