noubieau

Welcome to noubie universe.


21 January 2022 – 6 PM

“Bukannya itu Seulgi….”

“Pak stop didepan!” ucap seorang wanita tengah menepuk berkali-kali bahu sang sopir.

“Ada apa nyonya?” ucap sang supir yang sudah memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Saya turun disini aja, bapak pulang aja,” ucap sang wanita tersebut.

“Tapi nyonya cuacanya sudah mendung, sepertinya akan turun hujan,” impal sang supir.

“Nggak apa-apa pak, saya bisa bareng teman saya, nanti saya chat bapak kalau saya udah beres,” wanita tersebut bersikeras agar sang supir menurut dengan perintahnya.

“Baik lah, tunggu sebentar nyonya jalanannya ramai…,” ucap sang supir yang sudah bersiap untuk turun namun menunggu jalur kanan mobil sepi.

“Nggak usah pak, saya bisa turun sendiri, langsung pulang aja.”

“Tapi… payungnya nyonya!”

“Nggak usah berat!” ucap wanita tersebut yang segera turun dari mobil dan sedikit berlari menuju sebuah toko kue yang tdak jauh dari tempat mobil ia berhenti.


“Selamat datang di Kwangya Bakery!” ucap beberapa pegawai yang menyapa pengunjung yang baru saja datang.

Seulgi yang ingin membayar belanjaannya dikejutkan oleh seseorang yang ia kenal tengah melihat-lihat pada etalase kue yang terletak di sebelah kasir, “Joohyun?”

Merasa terpanggil, Joohyun menoleh dan melihat Seulgi yang sedang mengantri pada kasir, “Seulgi? Hi~”

“Mau beli kue?” Seulgi keluar dari antrian lalu menghampiri Joohyun.

“Iya hehe, lagi pengen kue dari kemarin, tapi baru bisa kesini sekarang,” jelas Joohyun.

“Pasti lagi sibuk banget ya baru kesampean sekarang, mau beli kue apa? Sekalian sini saya bayarin,” ucap Seulgi.

“Eh nggak usah saya bisa beli sendiri hehe, oh iya Karina mana?” Joohyun melirik kanan-kiri mencari sosok Karina.

“Karina dirumah, katanya lagi pengen roti coklat, jadi saya langsung ke sini, ayo pilih kuenya, mau kue apa? Red velvet? Tiramisu? Biskuit vanilla? Atau coklat?” tanya Seulgi.

“Sendirian dong Karina, kalau kamu maksa, tiramisu deh hehe,” ucap Joohyun.

“Itu aja? Nggak ada yang lain?”

“Iya itu aja.”

“Tunggu ya, saya bayar dulu,” Seulgi kembali masuk dalam antrian, untung saja antriannya tidak banyak, maka Joohyun tidak butuh waktu lama menunggu Seulgi membayar pesanan.

Setelah lima menit, Seulgi sudah membawa kantung roti dan kue pesanan Karina dan Joohyun. Seulgi menghampiri Joohyun yang tengah duduk di kursi, “Nih kuenya.”

“Loh kenapa belinya yang besar, yang satu slice aja cukup,” protes Joohyun.

“Nggak apa-apa, itung-itung imbalan dari saya karena udah mau jagain Karina kemarin,” jelas Seulgi.

“Astaga, itu nggak seberapa Gi, taapi ini mahal pasti,” ucap Joohyun yang sedikit memanyunkan bibirnya tanda tidak setuju.

'Ya tuhan, kenapa dia mirip sekali seperti Irene'

“Ya itu juga nggak seberapa haha, oh iya kamu naik apa? Saya antar pulang ya?” tanya Seulgi.

“Eh nggak usah, saya bisa naik bus kok,” ucap Joohyun.

“Macet, mending saya antar pulang pakai motor, mau hujan loh,” ucap Seulgi.

“Tapi Gi….”

“Tapi apa?”

“Udah hujan….”

“Hah?!” seketika Seulgi melirik keluar jendela, ternyata sudah turun hujan yang lumayan lebat, “Duh Karina gimana ya…,” gumam Seulgi.

“Kamu bawa jas hujan nggak? Kasian tau Karina, lagian udah tau mendung kenapa bawa motor?” tanya Joohyun.

“Kayanya sih bawa, mobil saya lagi di bengkel, jadi saya pakai motor, tunggu sini ya saya ambil jas hujan dulu di motor,” Seulgi memberikan kantung belanjaan nya pada Joohyun dan berlari menuju motornya yang berada di parkiran untuk mengambil helm dan jas hujan.

Tak lama Seulgi kembali ke dalam dan menghampiri Joohyun, “Saya cuma bawa jas hujan satu, kamu yang pakai,” Seulgi memberikan jas hujan pada Joohyun.

“Loh terus kamu pakai apa?” tanya Joohyun.

“Saya udah pakai jaket, tenang aja, ayo pakai, saya antar kamu pulang,” ucap Seulgi yang membuat panik Joohyun.

'Mampus gue! Pulang kemana gue!'


“Mih!” panggil Seulgi dari ujung lorong rumah sakit.

Seulgi melihat Tiffany yang menangis di kursi depan ruang ICU, lalu ia berlari menghampiri Tiffany, “Mih Jeongyeon kenapa?” mendengar suara Seulgi, Tiffany langsung memeluk erat Seulgi. Tiffany menjelaskan kronologi yang terjadi pada Jeongyeon. Tiba-tiba Seulgi melepaskan pelukan Tiffany dan menghampiri Winter yang tengah duduk sembari menundukkan kepalanya. Seulgi menarik kerah baju Winter hingga Winter bangkit dari kursi.

“Udah gila lo? HAH?!!” bentak Seulgi.

“Non jangan non,” lerai pak Jono.

“Mau lo apa hm? Gua tanya mau lo apa?! JAWAB BANGSAT!!” Winter sedari tadi hanya bisa diam menunduk tak berani menatap Seulgi.

“SEULGI ENOUGH!!” teriak Tiffany.

“Sampe kenapa-kenapa sama Jeongyeon, abis lo sama gue!” Seulgi mendorong tubuh Winter dengan keras.


“Jeongyeon udah di dalem?” tanya Taeyeon yang baru saja sampai.

“Iya mah, mah suruh mami pulang dulu, kasian Sarang dirumah kayanya bakal nyariin mami,” ucap Seulgi yang sedang duduk didepan kamar inap Jeongyeon.

“Terus Winter kemana?” Taeyeon mengintip kedalam kamar mencari keberadaan Winter.

“Pulang,” jawab Seulgi.

Taeyeon membuka pintu kamar, ia melihat Tiffany sedang memegangi tangan Jeongyeon yang masih belum sadar pasca operasi, “Sayang,” Taeyeon menghampiri Tiffany lalu mengecup kepala Tiffany.

“Apa kata dokter yang?” tanya Tiffany.

“Katanya ada retakan di tulang bahu kiri sama tulang kaki kirinya, Jeongyeon disuruh bed rest sebulan penuh biar cepet pulih,” jelas Tiffany, Taeyeon menghela napas panjang.

“Tapi operasinya lancarkan?” tanya Taeyoen.

“Iya, aku nggak abis pikir sama Winter lagi, sebenci itukah dia sama Sarang…,” Tiffany kembali menangis.

“Sstt udah jangan ngomong gitu sayang, kita omongin ya sama Winter? Kita pulang dulu ya?” Tiffany menggelengkan kepalanya cepat.

“Nggak mau! Mau nunggu Jeongyeon bangun dulu!” ucap Tiffany.

“Sayang kamu lupa kan ada Sarang dirumah, pasti dia nyariin kamu, pulang dulu ya? Kan ada Seulgi disini, nanti kalo udah bangun kita kesini sama Sarang, ya?” Taeyeon menatap Tiffany.

“Tapi…,”

“Sayang, jangan egois gitu ah kasian Sarang yang, mau ya?” bujuk Taeyeon yang menghasilkan anggukan dari Tiffany.

“Seulgi!” panggil Taeyeon.

“Kenapa mah?” Seulgi masuk kedalam kamar.

“Mama sama mami pulang dulu, kamu jagain Jeongyeon ya, kalo dia udah bangun kabarin mama,” ucap Taeyeon.

“Iya mah,” jawab Seulgi.

Taeyeon dan Tiffany keluar dari kamar dan pulang ke rumah. Seulgi menutup pintu kamar lalu ia duduk di kursi sebelah ranjang Jeongyeon. Ia menatapi keadaan adiknya yang penuh dengan perban di bagian kaki dan tangannya. Seulgi menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Udah pada pulang kak?” ucap Jeongyeon yang mengejutkan Seulgi yang hendak mengambil ponselnya.

“Anjir sumpah ya kaget gue!” ucap Seulgi.

Jeongyeon menahan tawanya karena ia masih merasakan sakit pada tubuhnya, “Sorry brother hehe.”

“Lo udah bangun dari tadi?” tanya Seulgi.

“Iya hehe, tapi gue ngantuk jadi tidur lagi hehe,” Jeongyeon hanya menyengir dan mendapatkan hadiah tepukan dari Seulgi pada perutnya.

“AH ANJENG SAKIT BEGO!” Jeongyeon meringis kesakitan.

“Oh bener udah bangun dari tadi, anjir ya lo bikin mami sedih aja,” ucap Seulgi.

“Ya gimana ya, gue nggak mau liat muka sedihnya mami, jangan salahin gue lah salahin tuh si Yudi biadab main nabrak gue!” protes Jeongyeon.

“Gue heran dah sama lo berdua, kok bisa si Yudi sampe nabrak lo sengaja, pasti kesel banget tuh anak sama lo,” ucap Seulgi.

“Gara gara gue penyokin kap mobilnya,” ucap Jeongyeon.

“Yang mana? Civic?”

“Bukan, supra hehe.”

“Goblok sumpah pantes tuh anak kesetanan.”

“Ya abis ngeselin anjeng tuh anak, motor gue kan susah nyala, dia nlaksonin mulu gue suruh minggir, yaudah gue getok tuh kap mobil pake helm, penyok, and then I’m here, anjeng emang si Yudi,” jelas Jeongyeon.

“Nape sih gue punya adek kaga bener kek lo dua, nggak abis pikir, jangan sampe dah Sarang kek lo dua, terus Nayeon udah tau belom lo disini?” tanya Seulgi.

“Belom, tadi gue suruh mami jangan kasih tau dia,” jawab Jeongyeon.

“Kasih tau lah bego, pasti dia nyariin lo,” ucap Seulgi.

“Lo deh yang kasih tau, gue susah megang hp, suruh kesini bawa baju, lo balik aja besok kan lo kerja,” ucap Jeongyeon.

“Ye santai kali, yang punya perusahaan juga mama, pain ribet,” jelas Seulgi.


Pagi ini Jeongyeon terpaksa bangun pagi karena ada seminar di kampus. Walaupun seminar akan di mulai satu jam lagi, tapi Jeongyeon harus menjemput Nayeon di rumahnya. Seperti biasa Tiffany akan memanggil anak-anaknya untuk sarapan terlebih dahulu. Jeongyeon yang sudah siap lalu turun untuk menghampiri Tiffany yang tengah sibuk menyiapkan makanan di meja makan.

“Mih aku nggak sarapan dulu ya,” ucap Jeongyeon.

“Loh tumben mau kemana emang?” tanya Tiffany.

“Aku ada seminar jam 9 mih, mau jemput Nayeon dulu, Sarang mana mih?” Jelas Jeongyeon sembari mencari keberadaan adiknya, “Terus kak Seulgi mana?”

“Oh gitu yaudah, Sarang lagi dimandiin tadi, Seulgi udah berangkat tadi katanya ada meeting di kantor, nah tuh dia udah beres mandi,” baby sitter Sarang baru saja turun sembari menggendong Sarang.

“Wah cantik banget sayangnya Kakje,” Jeongyeon menciumi pipi Sarang berkali-kali membuat sarang tertawa geli.

Winter yang hendak menuju meja makan tidak jadi karena ada Jeongyeon dan Sarang, ia memutuskan untuk tidak sarapan pagi ini, “Winter kamu mau kemana? Nggak sarapan dulu?” tanya Tiffany.

“Gak napsu,” ucap Winter.

“Adek kamu kenapa sih kak, masih marah bukan sama mami?” tanya Tiffany.

“Nggak tau tuh lebay dia, kekanak-kanakan, aku berangkat dulu ya mih, udah bawel nih Nayeon,” Jeongyeon mencium pipi Tiffany dan Sarang, “Kakje berangkat dulu ya cantik nanti kita main lagi.”

“Hati-hati ya Kakje, jangan ngebut!” ucap Tiffany.

“Iya mih!” Jeongyeon segera menuju garasi untuk mengambil motornya.

Winter yang sudah berada di garasi merasa kesal karena mobilnya terhalang oleh motor Jeongyeon yang di kunci stang. Ia sudah mencoba untuk memindahkan motor tersebut namun sangat sulit. Tidak lama kemudian Jeongyeon datang.

“Minggirin dong motor lo! Parkir yang bener! Gue mau keluar!” teriak Winter pada Jeongyeon.

“Sante aja boss masih pagi udah nyolot aja lo!” teriak Jeongyeon yang tak mau kalah.

Akhirnya Winter masuk ke dalam mobil dan menunggu Jeongyeon memindahkan motornya. Ketika Jeongyeon mencoba untuk menyalakan motornya, namun motornya tak kunjung menyala, Winter semakin kesal pada Jeongyeon yang masih saja didepan mobilnya. Ia menekan talksonnya berkali-kali agar Jeongyeon minggir. Jeongyeon menjadi emosi pada Winter, mengapa ia tidak sabar. Terpaksa Jeongyeon melepas helmnya lalu ia memukul kap mobil Winter menggunakan helmnya hingga penyok.

“Sabar anjeng! Motor gue kaga mau nyala!!” bentak Jeongyeon.

Winter terkejut melihat kap mobilnya penyok akibat ulah Jeongyeon, amarahnya semakin memuncak. Tanpa berpikir panjang Winter menyalakan mobilnya lalu ia menginjakkan kakinya pada pedal gas membuat mobilnya melaju cepat menabrak Jeongyeon yang masih berada di motor.

‘BRAK!!!’


“Duh dek mami sakit perut lagi,” ucap Tiffany pada Sarang yang tengah asik mengunyah bubur bayi.

“Bwaaa bwaa bwaaaa,” Sarang mengoceh tidak jelas sembari matanya menatap pada mangkuk bubur miliknya.

Tiffany masih menyuapi Sarang sambil menahan rasa sembelit, Winter turun dari lantai dua menuju dapur untuk mengambil botol minum yang ada di kulkas. “Kak, tolong suapinin adek dulu, mami sakit perut ini,” Tiffany memberikan mangkuk Sarang pada Winter begitu saja dan berlari menuju kamar mandi.

“Ih kok jadi aku sih mih! Mih! Argh!” kesal Winter.

“Maaaa maaaaam!” Sarang menatap Winter sembari menepuk-nepuk meja baby chair.

“Apa lo liat-liat?!” Winter melototi Sarang dengan tujuan agar Sarang takut padanya, namun Sarang ketawa melihat raut wajah kakaknya yang menurut Winter itu seram.

“Dih malah ketawa lo, mau ini? Diet lo makan mulu,” dengan sengaja Winter memakan bubur bayi milik Sarang hingga kandas.

“Enak juga njir…,” Sarang yang melihat buburnya di makan oleh Winter langsung menangis.

“Dih gitu aja nangis, cengeng lo,” ucap Winter yang tidak peduli Sarang masih menangis.

Jeongyeon yang baru pulang, melihat Sarang menangis langsung berlari menghampirinya, “Kok nangis cantiknya Kakje,” Jeongyeon menggendong Sarang untuk menenangkan adiknya.

“Lebay banget dah,” ucap Winter.

“Lo apain Sarang?!” Jeongyeon mendorong badan Winter sedikit keras.

“Biasa aja dong anjeng! Adek lo tuh lebay buburnya abis aja nangis, cengeng!” protes Winter.

“Lo yang abisin? Maksudnya apa? Ngajak berantem?” Jeongyeon yang tersulut emosi mendekati Winter sembari menggendong Sarang yang semakin menangis keras karena melihat kakak-kakanya adu mulut.

“Nggak takut gue sama lo, siapa lo emang?” ucap Winter yang menantang Jeongyeon untuk berkelahi.

“Anjing emang kelakuan!”

“JEONGYEON!!” Jeongyeon yang ingin memukul Winter tidak jadi karena teriakan Tiffany.

“Apa-apaan sih kalian?!!” bentak Tiffany lalu mengambil alih Sarang dari gendongan Jeongyeon.

“Minggir lo,” Winter pergi begitu saja melewati Jeongyeon dan Tiffany.

“Kenapa sih kalian?!”

“Nggak apa-apa mih, maaf ya Sarang Kakje khilaf,” Jeongyeon mengecup pipi Sarang dan Tiffany, “Aku ke kamar dulu ya mih, dadah Sarang.”


“MAMI!” teriak Winter memanggil Tiffany yang berada di kamar.

“Ya sayang?” Tiffany menatap Winter.

“Mami nggak hamil kan? Mami bercanda kan?” Tiffany menghela nafas panjang.

“Beneran Winter, mami hamil adek kamu,” jelas Tiffany.

“Mami kok tega sih sama Winter! Winter kan nggak mau punya adek!” protes Winter.

“Maafin mami ya sayang, mami juga nggak sengaja sayang,” ucap Tiffany.

“EMANG MAMI NGGAK SAYANG WINTER!! WINTER PERGI AJA DARI RUMAH INI!!” Winter keluar dari kamar Tiffany, lalu menuju kamarnya untuk merapihkan baju-bajunya ke dalam koper.

“Winter mau kemana kamu?!” hendak mengejar Winter namun di tahan oleh Taeyeon.

“Biar aku aja,” Taeyeon menghampiri Winter yang tengah sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper.

“Mau kemana kamu?” tanya Taeyeon pada Winter.

“Mau pergi! Mami sama Mama nggak sayang Winter!” ketus Winter.

“Oh gitu, yaudah siniin kunci mobil, motor, kartu kredit” Taeyeon menadahkan tangannya pada Winter.

“TUH AMBIL! EMANG NGGAK BERPERIKEANAKAN!!” Winter menaruh kunci mobil, motor, dan kartu kredit pada meja belajarnya, lalu ia segera menutup koper dan pergi dari rumah begitu saja tanpa ada yang menahannya.

“YANG KAMU KOK BIARIN DIA PERGI SIH?!!” protes Tiffany.

“Udah kamu nggak usah pikirin dia, nanti juga balik lagi, mana tahan dia jalan kaki,” jelas Taeyeon.

“Tapi kan….”

“Si Yudi mana mah?” tanya Jeongyeon yang baru keluar dari kamar Seulgi.

“Keluar bawa koper,” jawab Taeyeon.

“Kabur? Pfftt!! Hahahaha” Jeongyeon tertawa keras namun terhenti akibat Tiffany mencubit perut Jeongyeon.

“Aaaahhh mih sakit mih!” ringis Jeongyeon.

“Seneng banget ya kamu liat adek kamu begitu,” ucap Tiffany.

“Paling nanti juga balik lagi mih, jamin deh,” ujar Seulgi.


15 menit kemudia

“Eh ada mantan bungsu pulang, gimana enak liburannya?” tanya Jeongyeon pada Winter yang baru saja masuk ke dalam rumah.

“Bacot!” jawab Winter.

“Kok balik lagi kamu?” tanya Taeyeon yang baru saja keluar dari kamar.

“Nggak ada uang!!” Winter masuk ke dalam kamar lalu ia membanting dengan keras pintu kamarnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHA” Jeongyeon dan Seulgi tertawa keras melihat tingkah Winter.

“Winter pulang yang?” tanya Tiffany dijawab dengan anggukan Taeyeon.

“Apa aku bilang, mana tahan dia jalan kaki, dah ayo ke rumah sakit,” Taeyeon menggenggam tangan Tiffany.

“Tapi yang itu Winter kasian,” ucap Tiffany.

“Udah gede bisa manage diri sendiri.”


“Sayang,” Tiffany mengintip dari pintu ruang kerja Taeyeon untuk melihat sang istri sedang sibuk kerja.

“Ya sayang?” Taeyeon menenggakan kepalanya menatap Tiffany yang masih mengintip di sela pintu, “Ngapain kamu disitu, sini masuk yang.”

“Hehe takut ganggu kamu kerja yang,” jelas Tiffany yang kini sudah masuk dan menghampiri Taeyeon.

“Engga kok yang, udah mau beres lagian, kenapa hm?” Taeyeon menarik tubuh istrinya untuk duduk di atas pangkuannya.

Tiffany tersenyum seraya melingkarkan tangannya pada leher Taeyeon, “Capek nggak? Mau aku pijitin?”

“It’s okay honey, capek aku ilang kalo liat kamu manja gini,” Taeyeon mengecup sekilas bibir Tiffany.

“Gombal ih,” Tiffany memukul pelan bahu Taeyeon.

“Beneran loh, masa gombal,” jelas Taeyeon.

“Iya deh iya~ ada yang mau aku omongin yang?” seketika raut wajah Tiffany berubah menjadi serius.

“Hm? Apa?” tanya Taeyeon yang penasaran.

“Kamu liat aja deh sendiri,” Tiffany mengeluakan sebuah bungkusan plastik hitam dari kantung celananya dan memberikannya pada Taeyeon.

Taeyeon yang penasaran langsung membuka plastik tersebut dan terdapat banyak testpack di dalam kantung tersebut. Taeyeon mengambil salah satu dan melihat hasilnya. “Aku udah cobain berkali-kali hasilnya tetep sama,” jelas Tiffany.

“Bentar,” Taeyeon mengambil satu persatu testpack yang berada di dalam kantung plastik dan melihat semua hasil menunjukan tanda positive.

“Berarti… sekarang… kamu… lagi hamil?” tanya Taeyeon yang dijawab Tiffany hanya dengan anggukkan kepala.

“Hamil… anak ke empat?” Tiffany kembali mengangguk.

“But how?! Terakhir kita IVF dua tahun lalu dan gagal, terus kamu pasang KB lagi,” Taeyeon semakin bingung.

“Kemarin aku iseng lepas KB terus coba IVF lagi yang, aku pikir bakal gagal lagi, tapi ternyata jadi…” jelas Tiffany.

“Without my permission?!” Taeyeon terkejut bukan main.

“Maafin aku ayang… jangan maraaaaah~” tangis Tiffany pecah begitu saja.

Taeyeon menghela nafas panjang, “Apa-apa tuh ngomong sama aku loh yang, kalo ada apa-apa sama kamu gimana?”

“Tapi kan… kamu… pengen punya anak… lagi dari kemarin…” jelas Tiffany dengan sesegukan.

“Ya I know, aku emang pengen punya anak lagi, tapi ya kasih tau aku kalo kamu lepas KB dan IVF, kalo terjadi sesuatu sama kamu gimana? Sedangkan aku nggak tau apa-apa, mending aku lagi ada dirumah atau kantor, kalo aku lagi di luar kota gimana?” jelas Taeyeon.

“Maafin aku~” Tiffany membenamkan wajahnya pada leher Taeyeon.

“Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang, aku jadi kepikiran omongan Sunmi kalo hamil di usia segini itu rentan sayang, aku nggak marah kamu hamil lagi, aku seneng malah, tapi aku marah kamu ngelakuinnya tanpa sepengetahuan aku, aku istri kamu, aku berhak tau, paham maksud aku hm?” Taeyeon mengusap lembut punggung Tiffany.

“Paham~” lirih Tiffany.

“Abis ini kita ke rumah sakit, coba chat Sunmi dia ada jadwal nggak hari ini,” ucap Taeyeon.

“Ada yang… Eh tapi!” tiba-tiba Tiffany menegakkan tubuhnya dan menatap Taeyeon serius.

“Tapi apa?” Taeyeon menaikan satu alis kanannya.

“Winter kan nggak mau aku atau kamu hamil lagi yang…” ucap Tiffany.

“Udah biarin aja, kamu fokus sama kandungan kamu, urusan Winter biar aku yang urus” ucap Taeyeon.


“Udah kan nggak ada lagi yang mau dibeli?” tanya Taeyeon.

“Hm… Udah kayanya,” jawab Tiffany.

“Yaudah aku ke kantor lagi ya?” tanya Taeyeon.

Tiffany langung menarik ujung baju Taeyeon dan menatapnya dengan tatapan sedih, “Ih mau ngapain?”

“Banyak kerjaan loh aku di kantor yang,” jelas Taeyeon.

“Kerja dirumah ajaaaaa~” Tiffany merengek sembari menarik-narik ujung baju milik Taeyeon.

Taeyeon melepaskan tangan Tiffany dari bajunya, lalu ia mendudukan istrinya pada kitchen set, “Kok istri aku jadi manja gini, kenapa hm?”

“Pokoknya nggak boleh pergi!” Tiffany memanyunkan bibirnya yang membuatnya terlihat menggemaskan.

“Terus kalo aku kerja dirumah kenapa emang?” Taeyeon menatap wajah Tiffany.

“Biar bisa pelukin kamu,” Tiffany melingkari tangannya pada leher Taeyeon dengan manja.

“Astaga masih siang udah manjanya kaya gini kamu, gemesin banget sih istri aku,” Taeyeon mengecup pipi dan bahu Tiffany berkali-kali.

“Emangnya nggak boleh aku manja siang-siang?” kesal Tiffany.

“Kata siapa nggak boleh? Boleh lah, tapi nggak kaya biasanya aja sayang,” Taeyeon mengusap lembut pipi sang istri.

“Yaudah jangan ke kantor~” ucap Tiffany dengan nada manja.

“Tapi kayanya nggak bisa deh,” ucap Taeyeon.

“IH AYANG MAAAAH~ KERJA DIRUMAH AJAAAA~” rengek Tiffany.

“Hahaha iya iya kerja dirumah sayang, duh gemes amat sih,” Taeyeon mencubit pelan pipi Tiffany.

“Huh iseng banget sih!” Tiffany mencubit kecil pinggang Taeyeon.

“Ah sakit yang!” Taeyeon meringis kesakitan.

“Sukurin,” ledek Tiffany.

“Mih~ aku pergi dulu ya” ucap Winter yang tengah turun dari lantai dua.

“Aku juga mih,” ujar Jeongyeon dan Seulgi bersamaan.

“Mau kemna kalian?!” tanya Tiffany dari dapur.

“Mau main mih,” jawab Jeongyeon.

“Nggak ada main main hari ini, dari kemarin kalian main lupa waktu!” ucap Tiffany.

“Ih kok gitu mih? Aku kan mau jemput Karina” ujar Winter.

“MULAI NGEBANTAH MAMI SEKARANG?!!” teriak Tiffany yang membuat semua orang terkejut.

“Iya mih nggak main~” ucap Seulgi, Jeongyeon, dan Winter bersamaan.

Taeyeon yang sedari tadi memeluk Tiffany hanya bisa diam dan menatap heran sang istri, “Chill honey, nggak biasanya kamu semarah kaya tadi loh.”

“Biarin aja mereka kali-kali harus di kerasin,” ucap Tiffany.

“Ke kamar deh kayanya kamu harus istirahat,” Taeyeon menggendong Tiffany lalu pergi menuju kamar mereka.

“Pijitin aku yang~”

“Apa yang dipijitin?”

“Kakinya~ Pegel ayang~”

“Iya dipijitin sayang.”

“Hehehe makasih ayang”


Mobil Seulgi masuk ke pekarangan rumah keluarga Kim. Mobilnya berhenti didepan rumah. Seulgi keluar dengan tergesa-gesa. Pekerja yang berada disana menyapanya dan salah satu supir mengambil kunci mobil miliknya untuk di masukan ke dalam garasi. Sempat berhenti lama di depan pintu, Seulgi mencoba untuk menenangkan jantung yang begitu berdebar sebelum ia bertemu dengan Tiffany.

“Aku pulang…,” ucap Seulgi lirih sembari mencari keberadaan Tiffany.

Saat Seulgi memasuki ruang tamu, ia dikejutkan dengan dua oang yang tengah duduk di sofa sembari menatapnya dengan tatapan mengerikan. Seketika bulu halus Seulgi meremang.

“Posisi,” ucapan Tiffany pelan namun membuat Seulgi menelan ludah.

Seulgi hanya bisa menuruti perkataan maminya, ia berjongkok di hadapan Tiffany dengan kedua tangannya di atas, “Gimana kamu mau nikahin Irene kalau kamu aja nggak bisa hargain dia, dari mana kamu tadi?!”

“Ta-tadi aku ke toko buku mih…,” ucap Seulgi yang menunduk tak berani menatap Tiffany.

“Sama siapa?!” tanya Tiffany.

“Sama temen mih,”

“Ya siapa?!!”

“Krystal mih….”

“Haha sumpah chat aku nggak dibales taunya kamu jalan sama dia, bagus banget nggak sekalian aja kalian balikan!” ucap Irene.

Mendengar ucap Irene, Seulgi dengan cepat menenggakan kepalanya dan menatap Irene, “Sumpah yang nggak gitu, aku sama dia sekelompok, aku cuma nyari buku buat tugas pak Agung, kan kamu tau sendiri pak Agung kaya gimana kalo ngasih tugas….”

“Alesan banget!” ketus Irene.

“Ben….”

“Terus kenapa kamu bohong sama mami mau jemput Irene tapi kamu malah jalan sama mantan kamu?!” tanya Tiffany yang tak kalah ketus.

“Ya emang bener mih aku abis itu mau jemput Irene, HP aku low, terus kesiangan tadi buru-buru nyari buku tugas, abis itu jemput Irene mih…,” jelas Seulgi.

“Kebiasaan begadang terus! Mana kunci mobil kamu yang baru?!” tanya Tiffany.

“Ih mau ngapain mih?” seketika muka Seulgi pucat.

“Mami sita, cepet mana?!”

“Jangan dong mih~ Please~”

“Oh mau mami sita semua fasilitas kamu?!”

“Jangan mih! Jangan!”

“Yaudah mana?!”

“Ada di pak Jono mih….”

“Mbak! Mbak!”

“Iya nyonya ada apa?”

“Tolong kamu ambilin kunci mobil barunya Seulgi di pak Jono,” ucap Tiffany pada mbak Iyem yang bekerja sebagai ART.

“Iya nyonya,” mbak Iyem pergi menemui pak Jono untuk mengambil kunci mobil Seulgi.

“Mih jangan dong, aku baru pake sekali mih~” ucap Seulgi memohon.

“Diem kamu!” Tiffany menunggu mbak Iyem mengambil kunci mobil.

Tak lama mbak Iyem datang dan memberikan kunci mobil milik Seulgi pada Tiffany, “Ini nyonya.”

“Makasih mbak, siapin bahan-bahan makanan, saya sama Irene aja yang masak buat makan siang,” ucap Tiffany.

“Baik nyonya,” ucap mbak Iyem.

“Ayo ke dapur, enaknya masak apa ya?” Tiffany bangkit dari kursi dan mengajak Irene menuju dapur.

“Apa aja deh, aku kan masih belajar dari tante hehe,” jelas Irene yang mengikuti Tiffany.

“Mih sampe kapan aku gini?!” teriak Seulgi.

“Sampe jam makan siang! JANGAN TURUN TANGANNYA! TEGAK!!” teriak Tiffany dari dapur.

“Anjir pegel bat…,” keluh Seulgi yang masih dalam posisi hukuman.

“JANGAN NGELUH!! GITU AJA NGELUH!!!” teriak Tiffany yang membuat jantung Seulgi berdebar semakin cepat.


“Sayang aku pulang~” ucap Taeyeon yang baru sampai dan terkejut melihat Seulgi dalam posisi hukuman. Terlihat mukanya yang begitu pucat dan badan yang sedikit gemetar.

“Cuci tangan dulu, terus langsung makan, ada Irene di dapur lagi siapin makanan,” ucap Tiffany yang mengambil tas Taeyeon dan menaruhnya pada sofa.

“Kamu abis beli patung baru yang? Made in mana ini?” ledek Taeyeon pada Seulgi.

“Nggak tau, patung nggak jelas!” ucap Tiffany.

“Sini kamu,” Taeyeon menarik tubuh Tiffany dan memeluk pinggangnya engan erat, “Istri aku kenapa marah-marah hm?” Taeyeon mengecup bibir Tiffany.

“Jangan depan anak dong ah!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon.

“Jawab dulu baru aku lepas,” ucap Taeyeon jail.

“Aku nggak apa-apa, sana cuci tangan ish!” karena Tiffany terus saja mendorong tubuh Taeyeon, akhirnya Taeyeon melepaskannya.

“Iya sayang ku… Cie lagi workout siang-siang hahaha,” ledek Taeyeon.

“Turunin! Cuci tangan sana! Terus makan!” ucap Tiffany pada Seulgi.


Deruan ombak yang tenang di pagi hari mampu membuat siapapun tidak ingin bangkit dari tidurnya, termasuk Rose. Ia sangat menikmati tidurnya kali ini, karena biasanya ia harus bangun dan pergi ke kantor. Ia semakin erat memeluk Jennie yang sedari tadi sudah bangun menatapnya dan menikmati sentuhan lembut dari sang istri pada pipinya.

“Sayang,” ucap Jennie.

“Hm?” Rose masih memejamkan matanya.

“Ayo bangun kita sarapan,” Jennie mencoba untuk membangunkan Rose dengan mencubit-cubit pelan pipinya.

“Hmmm,” Rose mendusalkan wajahnya pada dada Jennie dan kembali tidur.

“Kamu mau makan apa? Aku masakin,” Jennie memeluk kepala Rose lalu mengecupi kepalanya dengan gemas.

“Makan kamu,” ucap Rose.

“Yang bener sayang, aku laper banget ini, aku lagi pengen dada ayam, ada nggak ya di kulkas,” ucap Jennie seraya berpikir menu sarapan yang enak.

“Kamu tinggal minta aja ke chef di sini, nanti di masakin,” jelas Rose.

“Gimana aku mau panggil chef kalo kamu masih manja begini,” Jennie melirik Rose.

“5 menit okay?” Rose semakin mendusalkan wajahnya gemas pada dada Jennie.

“Haha geli yang, remote TV mana sih?” Jennie mencoba untuk mencari remote TV, seingatnya ia taruh di bawah bantal semalam.

“Ish susah banget! Nah!” setelah mendapat remote TV, Jennie langsung menyalakan TV kamar.

Jennie mencari-cari channel yang seru untuk di tonton pagi hari, sampai ia berhenti pada channel gosip. Bukan ia ingin menonton gosip, namun ia melihat foto Rose yang berada di berita gosip tersebut.

“Yang! Yang bangun!” Jennie membangunkan Rose yang tengah asik tidur dalam pelukannya.

“Hm apa?” Rose dengan terpaksa membuka matanya dan menatap Jennie yang tengah membesarkan suara TV.

“Itu beneran?!” tanya Jennie.

“Apa sih?” Rose yang penasaran melihat ke arah TV yang tengah menampilkan wajahnya.

“Di kabarkan nih kalau CEO muda yang bernama Rose membeli sebuah pulau dan membangun rumah untuk istri dan anaknya.” “Betul sekali! Kabarnya rumah tersebut sudah jadi dan sudah mulai di tempati oleh Rose dan Jennie tadi malam loh.” “Waaah beruntung sekali ya Jennie, memiliki istri seperti Rose….”

Jennie mematikan TV dan menatap Rose dengan wajah butuh penjelasan, “Bener kok, itu hadiah nya buat kamu hehe,” jelas Rose.

“Dari kapan kamu beli dan bangun rumah ini?” tanya Jennie.

“Dari 4 bulan yang lalu kalau nggak salah, emang cita-cita aku mau beli pulau dan bangun rumah buat kamu, jadi kalau kita mau liburan tinggal kesini aja dan baru tercapai hari ini, kamu suka nggak?” Rose menatap Jennie yang tersenyum lebar.

“Orang gila yang nggak suka di kasih hadiah ini dari kamu, makasih sayaaaaang,” Jennie mengecup bibir Rose berkali-kali.

“Sama-sama sayangku.”


Hanya membutuhkan 10 menit kini helikopter sudah mendarat di sebuah halaman rumah yang begitu besar. Jennie merasa asing dengan tempat ini. Sang pilot kini membukakan pintu penumpang dan membantu Rose dan Jennie turun dari helikopter.

“Ngapain kita kesini?” tanya Jennie heran.

“Nanti juga kamu tau, ayo,” Rose menarik perlahan tangan Jennie untuk masuk kedalam rumah.

Jennie menikmati pemandangan indah dari interior rumah tersebut. Dapat dibilang rumah tersebut sangat sesuai dengan selera nya. Tapi rumah ini milik siapa? Batinnya. Saking asyiknya menikmati interior rumah, Rose membuka pintu belakang rumah tersebut dan menampilkan pemandangan pantai yang indah di malam hari. Tak jauh dari pintu, terdapat meja makan yang sudah di atur sedemikian rupa agar terlihat indah dan romantis.

“Kamu nyiapin ini semua?” tanya Jennie yang menatap Rose.

“You like it? Come on~” Rose mengajak Jennie untuk mendekat ke arah meja makan.

Rose menarik kursi untuk Jennie duduk dan membantu Jennie duduk dengan nyaman. Jennie menatap Rose dengan tatapan tidak mengerti. Jujur saja ia memang merindukan sosok Rose yang dulu. Penuh dengan perhatian. Apapun yang diinginkannya pasti akan dikabulkan dengan cepat. Tapi itu sudah lama sekali hilang, Rose selalu sibuk dengan urusan kantornya.

“Tumben banget kamu siapin ini?” tanya Jennie.

“Loh emangnya nggak boleh?” tanya Rose balik.

“Boleh aja, tapi agak aneh aja seorang Rose yang workaholic sempet-sempetnya nyiapin hal yang receh kaya begini,” sindir Jennie.

“Astaga, aku kerja juga kan buat kamu sayang, buat masa depan anak kita nanti,” jelas Rose.

“Alesan klasik, basi,” Jennie menatap ke arah laut.

Ia sedang malas berdebat dengan Rose. Ia sudah tau hasil perdebatan ini akan merembet ke semua hal. Lebih baik ia diam. Tak lama seorang maid yang membawa boquet bunga datang menghampiri Jennie dan Rose. Rose mengambil bunga tersebut dan menghampiri Jennie yang masih menatap ke arah laut. Rose berlutut di hadapannya dan memberikan boquet bunga yang sudah ia siapkan pada Jennie.

“Sayang, aku tau kamu masih marah sama aku, aku sadar selama ini aku hanya bisa bikin kamu marah dan nangis, maaf bagi kamu emang nggak cukup, tapi biarkan aku memperbaikinya, selama ini aku kerja keras untuk ngebahagiain kamu, tapi ternyata aku salah, yang kamu butuhin itu hanya waktu untuk berdua sama aku, aku mau jadi istri yang baik untuk kamu dan orang tua yang baik untuk anak kita, kamu mau kan maafin aku?” jelas Rose yang membuat mata Jennie berkaca-kaca.

Jennie tidak tau harus menjawab apa, tangannya sudah ingin menampar pipi Rose, namun satu sisi ia senang mendengar Rose akan berubah dan di sisi lain ia ragu apakah Rose akan benar-benar berubah. Ia mengurung kan niatnya untuk menampar Rose dan berkahir mengusap lembut pipi Rose.

“Kalau kamu ingin berubah, kamu cukup luangin waktu untuk aku dan baby, itu aja udah cukup buat aku,” air mata Jennie jatuh sudah tak tertahan.

“Iya sayang akan aku coba, untuk sekarang dan kedepannya kamu dan baby bakal jadi nomer satu, maafin aku ya sayang, aku sayang kamu,” Rose menaruh bunga di atas meja dan berdiri untuk mengecup bibir Jennie.

Jennie membalas kecupan Rose dan mendorong perlahan badan Rose, “Aku juga sayang kamu,” ucap Jennie lirih sembari menatap kedua mata Rose.

“Happy anniverasry wedding yang ke 5 sayang, maafin aku kalau hampir telat ucapinnya, karena sengaja hehe,” Rose mengecup kening Jennie.

“Emang kamu kan pelupa,” Jennie memutar kedua matanya.

“Hehe maaf sayang,” Rose cengengesan.

“Terus hadiah buat aku mana?” tanya Jennie.

“Hadiahnya baru ada besok sabar ya,” Rose kembali mengecup kening Jennie.

“Ih kok besok sih?! Pasti belom beli!” protes Jennie.

“Udah loh sayang, lagi dalam perjalanan, baru adanya besok, sabar ya sayangku,” jelas Rose.