noubieau

Welcome to noubie universe.


Pukul sudah menunjukan jam 4 sore. Kini Seulgi sudah berada di basement apartemen Jisoo. Dirinya ingin meminta maaf karena sudah membuat Jisoo kesal. Walaupun bukan sepenuhnya salahnya namun Seulgi tak ingin masalah ini berlarut. Dirinya sangat merindukan Jisoo.

Ketika sedang menuju lift, Seulgi melihat sebuah mobil yang ter parkir di dekat lift. Ia sangat mengenali mobil tersebut. 'Mobil si Sehun, ngapain dia disini?' batinnya. Tak ingin ambil pusing Seulgi masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai unit apartemen Jisoo.

Sampai nya di depan unit apartemen Jisoo, Seulgi membuka password pintu unit dan masuk ke dalam. Ia tau jika jam segini seharusnya Jisoo masih di kantornya atau sedang berada di luar. Ketika pintu di tutup, mata Seulgi melihat sepatu pria lalu kuping nya menangkap suara aneh dari dalam apartemen dan terdengar suara tv yang menyala. Perlahan kakinya melangkah menuju sumber suara tersebut yang berasal dari kamar Jisoo. Perlahan Seulgi membuka pintu kamar Jisoo dan menampilkan pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.

“Ahhh sshhh jangan di dalem Sehun!”

Seulgi tak bergeming. Dirinya menatap pacarnya sedang bercinta dengan temannya sendiri. Ketika Jisoo membuka matanya, ia melihat Seulgi sedang menatap dirinya bersama Sehun yang sama sama tak memakai pakaian sehelai pun.

“Seulgi!” ucap Jisoo terkejut lalu mendorong Sehun dan menutupi badannya menggunakan selimut. Begitu juga dengan Sehun.

“Hahahaha” Seulgi tertawa sembari bertepuk tangan seakan akan dirinya sedang menonton sebuah drama komedi.

“S-seulgi aku bisa jelasin” ucap Jisoo terbata bata.

“It's over Jisoo, we done, gua rasa lo lebih nikmat sama Sehun, gua punya sampah tolong buang” Seulgi melemparkan bouquet bunga dan kotak kalung ke atas kasur Jisoo lalu dirinya meninggalkan Jisoo dan Sehun yang masih terpaku di atas kasur. Namun saat melewati ruang tv Seulgi mendengar sesuatu yang tak asing baginya.

”...berita terkini adalah berita duka yang datang dari dunia bisnis, dimana CEO dari perusahaan Kang menghembuskan napas terakhir akibat sebuah kecelakaan tunggal yang terjadi di tol Cipularang...” ucap sang penyiar berita.

“Seulgi?! Aku bisa jelasin...” Jisoo menghampiri Seulgi yang terdiam menatap layar tv dimana menampilkan sebuah kecelakaan mobil dengan headline berita tertulis nama Kang Seungwon.

“Seulgi?” tanya Jisoo.

“It's funny right? Are you happy hm?” Seulgi menatap lekat wajah Jisoo.

“Aku salah gi aku minta maaf, please jangan pergi” Jisoo hendak meraih tangan Seulgi, namun Seulgi menepisnya.

“Be happy with him Jisoo, we're over” Seulgi keluar dari apartemen Jisoo dan menuju parkiran. Hatinya sudah hancur berkeping keping. Ia tidak tau harus bagaimana. Ia sudah tidak mempunyai siapa siapa lagi di dunia ini.


Saat ini Seulgi sudah sampai di Polda Metro Jaya untuk menemui Yunho. Perasaannya tidak enak saat membaca pesan dari Yunho. Apakah ia menemukan bukti? Apa kecelakaan Wendy sepenuhnya kesalahannya? Terlalu banyak pertanyaan dalam otaknya sampai ia melamun di depan lobby saat di periksa oleh polisi yang berjaga di pos.

“Mbak? Mbak? Ini ktpnya” ucap salah satu polisi yang menyadarkan lamunan Seulgi.

“Hah? Oh iya mas” Seulgi mengambil kartu identitas nya dan memasukkan kembali pada dompetnya.

“Ayo ikut saya mbak, pak Yunho sudah menunggu di ruangan nya” Seulgi hanya mengangguk dan mengikuti polisi tersebut untuk menuju ruangan Yunho yang berada di lantai teratas.


Polisi tersebut kini berhenti didepan sebuah pintu besar yang bertuliskan Kapolda, lalu mengetuk pintu sebelum pintu tersebut dibuka olehnya.

“Silahkan masuk mbak” ucap polisi tersebut mempersilakan Seulgi untuk masuk ke dalam ruangan Yunho.

“Terima makasih” Seulgi tersenyum pada polisi tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam sudah ada Yunho yang langsung menyambut kedatangan Seulgi.

“Ayo Seulgi masuk, macet nggak di jalan?” ucap Yunho sembari mempersilakan Seulgi untuk duduk.

“Ya biasa lah jam makan siang, jadi gimana pak ada perlu apa saya di panggil kesini?” tanya Seulgi.

“Sama percis ya kamu sama papa mu, selalu to the point haha” canda Yunho sembari tangannya mengambil sebuah iPad yang berada di meja kerjanya.

“Bisa aja pak haha jauh lah kalau sama papa” timpal Seulgi.

“Tapi papa sehat Gi? Saya udah lama sekali nggak bertemu papa mu” Yunho kembali duduk di sofa dan menyalakan iPad untuk mencari sesuatu di dalam sana.

“Sehat, ya sama anaknya aja jarang ketemu pak apa lagi sama temennya sendiri” Jujur Seulgi semakin deg degan ketika Yunho mencari sesuatu pada iPadnya.

“Haha dasar Seungwon masih gak berubah dari dulu” Yunho tertawa mendengar pernyataan Seulgi mengenai temannya.

Tak lama Yunho memberikan iPad pada Seulgi yang terlihat sebuah video dari sebuah camera mobil. Seulgi mengenal latar tempat yang ada di dalam video tersebut. Tak lama seseorang yang berpakaian serba hitam dan tertutup menghampiri mobil tersebut dan membuka kap mesin.

“Itu video yang terekam dari camera dashboard punya Wendy, saya sudah perintahkan anak buah saya untuk mencari pelaku tersebut” Seulgi tak bergeming, matanya masih saja terpaku pada video tersebut. Dadanya merasa sesak, kejadian silam ter putar kembali di pikirannya. Tak ingin berlarut dalam masa lalu, Seulgi mematikan video tersebut dan mengembalikan iPad pada Yunho. Seulgi mengatur napasnya.

“Boleh saya minta video tersebut?” ucap Seulgi.

“Nanti saya kirim melalui email, tenang saja Seulgi cepat atau lambat pelakunya akan saya tangkap” Yunho mengetahui kalau Seulgi pasti teringat kejadian kecelakaan temannya, tangannya menepuk-nepuk bahu Seulgi untuk menguatkan Seulgi agar tidak sedih.

“Terima kasih banyak pak, kalau nggak ada bapak pasti saya gak akan tau penyebab kejadian tersebut” Seulgi tersenyum pahit.


Seulgi melirik jam sudah hampir jam makan siang. Dirinya harus segera bertemu pak Yunho. Melihat Irene sudah selesai sarapan dirinya pun pamit pada Irene.

“Kak aku pergi dulu ya” Seulgi beranjak dari sofa dan mengambil tasnya.

“Mau kemana?” Irene menenggakan kepalanya menatap Seulgi.

“Mau main, kalo ada apa apa telp aku ya?” Seulgi mengusap kepala Irene, yang tentu saja membuat pipi Irene merah merona.

“Yeri aku pergi dulu ya, jangan telat makan sama di minum vitaminnya oke?” Seulgi tersenyum pada Yeri.

“Aye aye captain” jawab Yeri yang masih terdengar lemas.

Saat Seulgi membuka pintu ingin keluar, dirinya di kejutkan dengan kedatangan dua orang pria yang tersengal-sengal yang baru saja datang dan berdiri di hadapannya saat ini.

“Nyari siapa?” tanya Seulgi.

“Apa benar ini kamar Bae Yeri?” tanya salah satu pria di hadapannya.

“Iya, siapa kalian?” Seulgi menatap curiga pada kedua pria di hadapannya.

“Oh oke bener Jen, kenalin saya Jaemin dan ini Jeno, kita temen sekelasnya Yeri tante” Jaemin dan Jeno membukuk memberi salam pada Seulgi. Namun Seulgi langsung menarik dua kerah mereka dengan keras membuat Jaemin dan Jeno terkejut bukan main.

“Sekarang gua mau nanya, emang gua keliatan kaya tante tante hm?” Jaemin dan Jeno menggelengkan kepalanya cepat. Yeri dan Irene hanya menonton tingkah 3 orang yang berada di ambang pintu kamar sembari menahan tawa.

“Kalau lo tau kenapa sebut gua tante?!” Seulgi mengencangkan tarikan pada kerah Jaemin dan Jeno.

“M-ma-maaf kak kita gak tau” ucap Jeno.

“I-iya kak maaf kak asli” mohon Jaemin pada Seulgi.

“Dengerin lo berdua, nama gua Kang Seulgi gua kakak iparnya Yeri, jadi yang berhubungan dengan Yeri jadi tanggung jawab gua, sampe lo berdua macem macem sama Yeri abis lo sama gua, paham?” Seulgi menatap lekat wajah Jeno dan Jaemin. Irene yang sedang minum pun tersedak saat mendengar omongan Seulgi.

“I-iya kak” jawab Jeno dan Jaemin kompak sembari mengangguk kepala mereka beberapa kali.

“Good, sekarang minggir lo buang buang waktu gua aja” Seulgi melepaskan kerah Jeno dan Jaemin lalu melangkah menuju parkiran.

Jeno dan Jaemin sempat diam sejenak mengatur detak jantungnya yang habis di sidang oleh Seulgi. Lalu mereka masuk dan menghampiri Yeri yang masih asik tertawa melihat raut wajah kedua temannya yang pucat.

“Tadi kakak ipar lo Yer?” tanya Jaemin.

“Berarti pacarnya kak Irene dong. Kak tadi pacar kakak?” Jeno menatap Irene yang masih diam di sofa dengan muka yang sudah merah karena malu. Sudah dua kali hari ini Seulgi membuatnya tersipu malu. Karena tidak mau martabatnya turun di hadapan teman-teman Yeri, Irene mencoba menetralkan jantungnya.

“Iya, kenapa emang?” jawab Irene.

“Gila! Galak banget kak asli jauh banget sama kak Irene njir... Lu sih pake segala bilang dia tante bego lu” ucap Jeno sembari memukul kepala Jaemin.

“Ya lu juga iya iya aja tadi bego nyalahin gua” Jaemin membalas dengan tendangan pada kaki Jeno. Yeri hanya bisa memijat keningnya merasa pusing melihat dua tingkah temannya yang tak pernah rukun.

“Makanya kalian jangan macem macem sama Yeri, nanti kalian tinggal nama lagi pulang pulang hahaha” ucap Irene tertawa renyah menggoda Jaemin dan Jeno.

“Berisik banget sih lo dua, ngapain kesini? Tau dari mana gua disini?” tanya Yeri.

“Ya jenguk lo lah make nanya lagi, kalo itu rahasia” jawab Jaemin.

“Iya sih bukannya seneng di jengukin malah di tanya ngipiin kisini? Tii diri mini gii disini...” ledek Jeno.

“Oh gua telp kak Seulgi deh, kayanya masih di parkiran dia” Yeri mengambil ponselnya hendak menghubungi Seulgi namun Jeno merebut ponsel Yeri dengan cepat.

“Hehehe canda sayang jangan marah gitu dong santai” ucap Jeno.

“Belut banget mulu lo anjir” Jaemin menepuk mulut Jeno.


Tahun 1994 : Amsterdam

“Mau kamu kasih mereka nama apa?”

“Kalau gimana Selgie dan Wenzie?”

“Bagus itu aku suka, Selgie Anastasia dan Wenzie Anastasia”

“Kalian akan menjadi anak yang kuat saat besar nanti seperti mami kalian”

“Mama kalian juga kuat kok, bahkan tahan berapa jam ya kemarin”

“Yuri!”

“Hahaha bercanda mama Tiffany sayang”


Tahun 2000 : Amsterdam

“Selgie! Wenzie!”

“Ya mama?”

“Kemari sayang, mama mau kasih kalian vitamin, kalian tiduran di kasur kalian”

“Mama kenapa vitaminnya ada dalam suntikan?”

“Wenzie takut suntikan…”

“Wenzie takut suntikan? Kenapa sayang? Setau mama Wenzie anak yang pemberani”

“Dia takut karena dokter gigi kemarin ma, kata Wenzie dokternya menyeramkan”

“Kalau Selgie takut sama suntikan?”

“Engga”

“Kalau gitu biar Selgie dulu ya yang di kasih vitamin, tahan ya sayang… udah, sakit sayang?”

“Engga, Wenzie tenang aja rasanya kaya di gigit semut”

“Dengar kakak kamu tuh”

“Iya deh Wenzie mau ma”

“Pintarnya anak mama”


Tahun 2004 : Amsterdam

“Dengar semua, ini bukan lagi simulasi, mami minta Wenzie bantu mama prepare, dan Selgie bantu mami prepare, waktu kita hanya ada 2 jam untuk pergi dari sini”

“Wenzie Selgie nunduk!”

“Argh shit!”

“Mama!”

“Babe hold on!”

“I’m fine! Just focus on the street! Hey baby don’t cry okay? Sekarang kamu lempar ini ke mobil belakang itu, mama tau kamu bisa Wenzie”

“Tapi ma…”

“Selgie back up adik mu”

“Baik ma, Wenzie ayo tenang ada aku”


Tahun 2004 : Birmingham

“Mami itu mama mau di bawa kemana?”

“Tenang sayang itu mama mau di obatin”

“Wenzie mau ikut mama”

“Wenzie jangan nak”

“Mama!!”

“Bawa dia”

“Mami bohong! Jangan sentuh adikku!!!”

“Kalian mendidiknya sangat baik, saya sangat suka dengan anak tersebut”

“Siapa yang anda maksud pak?”

“Selgie, setelah ini kamu harus menyerahkan diri pada polisi”

“Tapi pak saya sudah berhasil lolos”

“Ikuti saja perintah saya!”

“Tapi bagaimana dengan istri saya?”

“Itu biar saya yang urus”

“Aw aw”

“Pelan pelan obat biusnya buat leher mu pegal”

“Di mana aku? Wenzie?!”

“Aku disini kak”

“Oh thank God”

“Siapa nama kamu?”

“Aku Selgie dan itu adik ku Wenzie”

“Kenalin aku Irene”

“Aku Joey hihi”

“Kita di mana ini?”

“Kita lagi ada di Red Room”

Sudah beberapa tempat Rose dan Irene datangi untuk sekedar mencicipi jajanan sepanjang jalanan Puncak. Waktu sudah hampir tengah malam, Rose dan Irene sedang berada di suatu warung yang cukup sepi pengunjung. Rose memang sengaja memilih yang sepi agar dapat berbincang dengan Irene tanpa harus terganggu dengan banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Saat ini mereka menikmati segelas teh hangat sembari menatap pemandangan kebun teh yang tentu tidak terlihat karena tidak ada penerangan lampu di sana.

“Rene...” panggil Rose dengan tatapan mengarah ke depan tak berani menatap Irene yang berada di sebelahnya.

“Hm? Kenapa Je?” Irene menoleh ke arah Rose dan menatap Rose penasaran.

“Gue mau ngomong sesuatu sama lo” kini Rose memberanikan diri untuk menatap Irene.

“Duh apa nih? Jangan serius serius gitu dong Je merinding gue haha” Irene mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, asalkan tidak menatap Rose.

“Haha maaf ya, tapi gue harus bilang ke lo tentang perasaan gue ke lo” Rose menarik napas panjang.

“Perasaan lo? Bukannya lo udah tau jawabannya Je?” Irene menatap Rose dengan lekat.

“Iya gue tau”

“Terus?”

“Gue mundur Rene” Irene terkejut dengan ucapan Rose. Irene tak bisa berkata apa pun hanya dapat menatap Rose tak percaya.

“Sekarang gue mau ubah cara pandang gue ke lo itu sebagai teman, bukan lagi sebagai crush” Rose menatap wajah Irene, terlihat raut wajah Irene berubah seketika.

“Oh? Teman? Ya, bagus, gue dukung keputusan lo, ayo pulang Je gue udah ngantuk” Irene bangkit dari kursi, lalu meninggalkan Rose menuju parkiran.

“Rene? Tunggu Rene!” Rose mengejar Irene, tak lupa ia membayar minuman yang di pesan. Sampai nya di parkiran, terlihat Irene sudah menunggu di sebelah mobil Rose dengan badan yang menggigil kedinginan. Begitu mobil terbuka, Irene langsung saja masuk ke dalam mobil, lalu di ikuti Rose.

“Lo kenapa?” tanya Rose.

“Gak apa apa, ayo pulang gue udah capek banget, besok gue masuk pagi” ucap Irene dengan nada ketus.

“Gue tanya lo kenapa? Kenapa lo marah dengan keputusan gue tadi?” Rose masih saja menatap Irene yang tengah sibuk dengan ponselnya.

“Gue gak marah”

Merasa ada yang tak beres, Rose mengambil ponsel Irene secara paksa dan memasukannya pada saku celana. “Gue disini bukan di ponsel lo, udah jelas jelas lo marah” Irene menghela napas panjang.

“Gue gak marah, gue cuma sedikit kecewa, udah kan? Puas lo?”

“Kecewa kenapa?”

“Ya gue udah ngerasa lo berubah dan ternyata emang benerkan lo berubah, ya udah jelas sekarang kan? Udah deh Rose cepet pulang gue capek”

“Apa sih lo gak jelas gitu jawabannya, gue berubah dimananya? dan lo kenapa kecewa dengan pernyataan gue tadi? harusnya lo seneng”

“Ya karena... temen deket gue berubah...” air mata Irene kini lolos begitu saja membasahi pipinya. Rose merasa bersalah. Seharusnya dirinya tidak mengatakan yang sebenarnya. Rose menangkup kedua pipi Irene dan menatapnya lebih dekat.

“Hey... hey... listen to me, gak ada yang berubah Rene, gue cuma mengubah tujuan gue, cara pandang gue, selebihnya masih sama dan akan tetap sama. Lebih baik menjadi teman dari pada menjadi orang yang pernah lo sayang dan akan berakhir menjadi orang yang lo benci... Gue gak mau kaya gitu Rene... Gue gak mau kehilangan lo, biarkan gue jadi teman lo, ya? hm?” Jemari tangan Rose kini menghapus air mata Irene dengan lembut. Melihat Irene menangis membuat hatinya terasa sakit. Seharusnya dia yang sedih, seharusnya dia yang menangis, bukan Irene.

“Gue belom bisa jadi teman yang baik Je...”

“It's okay, gue juga belom tentu jadi teman yang baik buat lo, udah ya jangan nangis, gue masih disini, masih di tempat yang sama, masih bisa lo temui gue semau lo, gua akan selalu ada buat lo Rene, gue harap lo bisa mengerti keputusan gue saat ini” tiba tiba saja Irene memeluk erat Rose.

“Maafin gue...” ucap Irene dengan lirih.

“Don't be sorry Rene, lo gak salah, maafin gue bikin lo kecewa...” Rose mengecup kepala Irene dengan lembut dan berhasil membuat air matanya jatuh yang sedari tadi ia tahan.


Setelah mengantarkan Yeri ke sekolah, kini Seulgi dan Irene sedang menuju ke arah Hannam-Dong. Selama di perjalanan, tidak ada percakapan yang keluar dari mulut Irene maupun Seulgi. Irene tengah sibuk menikmati pemandangan jalanan kota Seoul yang begitu ramai dengan orang-orang yang ingin berangkat kerja. Sampai lamunan Irene terusik pada suasana jalanan yang menurutnya bukan lah arah menuju kantor. Mau kemana Seulgi? Perasaannya mulai tidak enak.

Tak lama mobil Seulgi berhenti di depan gerbang rumah yang berukuran besar. Seulgi membunyikan klakson mobilnya. Seorang pria yang di duga adalah security berlari menuju gerbang dan membukakan gerbang tersebut. Setelah terbuka, Seulgi melajukan mobilnya ke dalam halaman rumah tersebut. Irene termenung kagum akan besarnya rumah ini, tidak ini bukan rumah, tapi sebuah istana yang berada di tengah kota, menurutnya.

Setelah memarkiran mobil di depan rumah, Seulgi langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri pintu penumpang depan. Tangan Seulgi membukakan pintu penumpang tersebut dan membantu Irene untuk turun dari mobil.

“Ini rumah siapa?” tanya Irene.

“Rumah kamu, ayo masuk,” Irene mematung saat mendengar jawaban Seulgi. Tidak mungkin, pasti Seulgi hanya bercanda.

“Irene? Kenapa diem aja? Ayo sini,” Seulgi mengulurkan tangannya untuk membantu Irene menaiki anak tangga depan rumah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Irene langsung meraih tangan Seulgi dan berjalan menaiki tangga menuju pintu utama rumah tersebut yang berukuran sangat besar. Dengan sedikit dorongan Seulgi, pintu besar tersebut berhasil terbuka lebar dan menampilkan isi rumah yang bernuansa eropa bak istana kerajaan. Sudah jelas kalau Seulgi hanya bercanda, tidak mungkin rumah sebesar ini akan menjadi milik seorang Bae Irene, lulusan sarjana manajemen bisnis dengan ipk 3,31 yang sudah menganggur selama satu tahun lebihnya dan hanya memiliki pengalaman berkerja part time sebagai barista kopi di Coffee Shop milik sahabatnya, Kim Jennie.

“You like it?” tanya Seulgi yang berhasil memecahkan lamunan Irene.

“Hah?”

“Ini rumah milik kamu, saya sudah janji jika kamu bekerja dengan saya, saya akan mencukupi kehidupan mu berikut dengan adikmu,” jelas Seulgi.

“Tapi ini terlalu berlebihan Seulgi.”

“Berlebihan bagaimana?”

“Ya ini menurutku sangat berlebihan, bagaimana bisa saya menerima semua fasilitas yang kamu berikan tapi saya pun belum sama sekali melakukan tugas saya,”

“Hahaha Irene Irene kenapa kamu begitu sangat polos.”

“Kok malah ketawa?” Irene memanyunkan bibirnya membuat Seulgi ingin sekali menciumnya. Namun ia tahan, jangan sampai Irene membenci nya karena hal bodoh.

“Abisnya kamu itu lucu, saya pun memberikan semua ini bukan semata mata hanya memberi tapi saya juga ingin melindungi mu dari seluruh musuh saya,” Seulgi melangkah menuju lemari yang berisikan botol-botol minuman beralkohol tinggi. Tangannya mengambil sebotol whiskey dan sebuah gelas kosong, lalu ia menuangkan whiskey ke dalam gelas.

“Musuh?”

“Ya,” Seulgi meneguk whiskey dan menatap Irene dengan intens ”Banyak yang ingin menjatuhkan saya, maka dari itu saya ingin melindungi mu dan juga adik mu”

“Tapi….”

“Nanti sore kamu jemput adikmu dan kemasi baju kalian, saya mau malam ini kamu sudah pindah ke sini,” tentu saja Irene sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain pindah ke istana ini.

“Ikut saya…,” kini Seulgi melangkah menuju lantai dua di ikuti Irene di belakangnya. Di atas terdapat banyak sekali pintu dan terdapat sebuah pintu besar yang berbeda terletak di ujung lorong. Seulgi masuk ke dalam ruangan tersebut. Lagi-lagi Irene terlihat takjub dengan keindahan design interior ruangan ini.

“Ini ruang kerja kamu nanti, saya sudah belikan perangkat untuk kamu bekerja,” Irene masih terdiam mencerna setiap kata Seulgi yang masuk ke otaknya.

“Satu lagi,” Seulgi mengambil sebuah kotak kecil yang berada di atas meja kerja, membukanya, lalu memperlihatkan sebuah kalung. Seulgi melangkah mendekati Irene dan berdiri di belakangnya. Kemudian Seulgi memakaikan kalung tersebut di lehernya, Irene dapat merasakan napas Seulgi pada lehernya yang membuat dirinya merinding geli.

“Jangan di lepas,” bisik Seulgi seraya tangannya merapihkan rambut Irene. Seketika pipi Irene terasa panas, ada apa dengannya?

“T-terima kasih Seulgi...,” ucap Irene terbata-bata karena salah tingkah. Segera Seulgi menjauh, dirinya sudah merasa pusing akibat aroma vanilla yang kuat berasal dari tubuh Irene.

“It's my pleasure my lady.”


Seorang pria yang mengenakan kemeja biru sedang berada di rooftop sebuah rumah. Berdiri di pinggir rooftop untuk menikmati hembusan angin di pagi hari seraya menatap keindahan kota Seoul. Terdengar suara langkah kaki yang mendekati sang pria.

“Udah gua cek, ternyata bener itu ulah vampire,” ucap seseorang yang baru saja datang.

“Mulai berani ngusik wilayah gua ternyata.”

“Tapi kayanya yang sekarang beda sama yang gua kejar kemarin.”

“Mau beda atau enggak, lo perketat lagi, gua nggak mau ada lagi korban yang jadi santapan para iblis brengsek!” terdengar geraman yang kuat dari sang pria berkemeja biru.

“Siap, nanti gua minta bantuan yang di Busan, tambahan orang buat patroli nanti malam.”

“Atur aja sama lo, asal aman dari para iblis,” sang pria berkemeja biru tersebut melangkah pergi meninggalkan temannya.


Akibat terlelap semalam, membuat Irene kesiangan karena harus menyelesaikan terlebih dahulu buku yang di berikan oleh Seulgi. Jam sudah menunjukan pukul 06.30, Irene bergegas merapihkan bekal Yeri untuk makan siang di sekolah. Namun Yeri masih saja belum keluar dari kamarnya.

“YERI! CEPET!”

“Iya ih sabar kenapa,” sahut Yeri yang keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju meja makan.

“Kebiasaan banget sih kamu apa apa tuh lama! Udah tau kakak hari ini pertama kali masuk kerja,” Irene memasukkan bekal Yeri ke dalam tasnya adiknya.

“Bawel banget ih… masih pagi juga,” Yeri cemberut sambil memakan roti selai coklat buatan kakaknya.

“Udah jam berapa ini? Macet nanti, cepet abisin makanan kamu, kakak duluan,” Irene segera menuju pintu dan meninggalkan Yeri yang masih berada di meja makan.

“Ih kak! Kak! Bareeeeeeng.. tunggu ih!” Yeri langsung memakan roti sekali lahap dan meneguk segelas susu hingga kandas. Merasa mulutnya sudah kosong, lalu ia bergegas keluar dan mengejar Irene yang sudah jauh.

“Astaga! Cepet banget sih jalannya! Hah!” kini Yeri sudah berada di sebelah Irene dengan napas tersengal-sengal akibat berlari mengejar Irene.

“Tumben banget mau bareng, biasanya ogah,” tanya Irene.

“Enggak mau sendirian lagi, takut,” Yeri menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menggandeng tangan Irene dengan erat

“Takut apanya sih? Masih pagi juga, kebanyakan nonton film horror sih kamu,” mata Irene kini tertuju pada ponselnya, jarinya sibuk membalas pesan singkat yang belum sempat ia balas semalam seraya berjalan perlahan mengikuti irama langkah Yeri.

“Ih emang kakak nggak tau? Semalem kan... kak… kak… itu siapa sih? Kok ngeliatin kita terus,” Yeri berbisik pada Irene.

“Hhmm apa?”

“Ih itu di depan ada orang ngeliatin kita terus!”

“Good morning, miss Bae,” ucap seseorang seraya menyunggingkan senyuman pada Irene. Langkah Irene terhenti setelah mendengar suara yang tidak asing baginya. Terkejut bukan main ketika Irene mendongakan kepalanya dan menangkap sosok yang ia kenal, ternyata bossnya, Seulgi.

“Eh? Kok ibu, maaf Seulgi ada disini?” tanya Irene heran.

“Sengaja saya kesini buat jemput kamu, itu adik kamu? Siapa namanya?” Seulgi melirik Yeri yang masih diam sembari memeluk erat lengan Irene.

“Hah? Oh… iya dia adik saya, Yeri namanya haha,” kekeh Irene. “Ayo ucapin salam, dia boss kakak,” bisik Irene pada Yeri.

“Oh… Halo nama saya Bae Yerim, adiknya kak Irene,” Yeri memberi salam dengan membungkuk kan badannya pada Seulgi.

“Saya Seulgi, boss kakak kamu, ayo saya antar kamu ke sekolah,” Seulgi membukakan pintu penumpang belakang untuk Yeri.

“Enggak usah Seulgi, dia bisa naik bis sendiri, nanti ngerepotin haha iya kan Yer,” Irene menyenggol lengan Yeri memberi kode untuk menolak ajakan Seulgi. Namun Yeri menghiraukan nya.

“Boleh memang nya bu? Nanti ibu telat kalau antar aku ke sekolah dulu,” Seulgi terkekeh pelan mendengar jawaban polos dari Yeri.

“Jangan panggil saya ibu, panggil aja kakak, udah masuk aja, saya bossnya mau telat atau enggak itu urusan saya.”

“Yaudah aku mau, kan bisa irit ongkos,” ucap Yeri yang sudah masuk ke dalam mobil Seulgi.

“Ya! Bae Yerim!” Irene menatap Yeri tak percaya.

“Cepat kamu masuk,” kini Seulgi sudah membukakan pintu penumpang depan untuk Irene.

“Tapikan….”

“Mau jadi pengangguran lagi?”

“I-iya enggak,” Irene masuk kedalam mobil Seulgi dengan pasrah. Seulgi hanya tersenyum melihat tingkah Irene yang menggemaskan menurutnya. Tak lupa ia menutup pintu Irene, bergegas masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya menuju sekolah Yeri yang berada di Cheongdam-Dong.

Sesuai dengan janjinya, Seulgi mengantarkan Irene pulang. Bukan hanya sekedar mengantar nya pulang, namun Seulgi ingin tahu di mana Irene tinggal. Suasana di mobil terasa canggung, bagaimana tidak, baru saja di terima kerja sekarang sudah di antarkan pulang oleh atasannya, lebih tepatnya pemilik perusahaan ia bekerja. Namun Irene tidak diam saja, ia mengarahkan jalan menuju rumahnya pada Seulgi.

“Di depan kanan atau kiri?”

“Ke kiri”

“Okay…” Seulgi mengikuti arahan dari Irene.

”Nanti berhenti di belakang mobil putih itu aja” Seulgi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sesuai yang di minta Irene.

”Sampai, di mana rumahmu?” Seulgi menatap Irene.

”Rumah saya masuk ke dalam gang itu, mobil nggak bisa masuk bu, gi, aish… maksud saya Seulgi…”

”Hahaha santai aja Irene, di panggil apapun saya tidak masalah, asal jangan ibu, saya memang tua tapi saya tidak suka”

”Baik… Seulgi… hehe, kalau gitu saya duluan, terima kasih atas tumpangan nya” Irene menundukkan kepalanya lalu segera keluar dari mobil. Seulgi segera mengambil paper bag di jok belakang dan turun untuk mengejar Irene.

”Saya antar sampai depan rumah mu”

Irene membalikkan badannya melihat Seulgi yang mengikuti dirinya. ”Eh jangan, nanti kamu kelelahan, karena jalanan nya nanjak”

”I’m fine, don’t worry. Sekalian saya ingin tahu di mana rumah mu” Seulgi membalikkan badan Irene agar segera jalan, Irene pasrah hanya menuruti keinginan atasannya. Kini Seulgi mengikuti langkah Irene seraya pandangannya menelusuri lingkungan tempat tinggal Irene.

”Ibu, maaf Seulgi apa tidak sibuk sampai mengantarkan saya pulang?” Irene melirik Seulgi yang berada di sebelah nya.

”Saya ownernya, mengapa harus sibuk, sudah ada kamu, boneka saya” mendengar kata boneka dari mulut Seulgi membuat Irene merinding ngeri.

”Haha tenang aja selagi kamu tidak macam-macam saya tidak akan melukai mu, saya janji” Irene harus extra berhati-hati, bisa-bisa salah sedikit dirinya akan tamat.

Setelah berjalan cukup jauh, Irene menghentikan langkahnya, di ikuti dengan Seulgi. Seulgi menatap Irene heran. ”Sudah sampai, ini rumah saya” mata Seulgi langsung tertuju pada rumah Irene yang terbilang sangat kecil.

”Kecil tapi rasanya sangat nyaman”

”Ini satu-satunya rumah peninggalan orang tua saya, walau kecil tapi nyaman”

”Apa kamu pelihara hewan? Anjing misalnya?”

”Dulu memang saya pelihara anjing, tapi sudah lama mati”

”Ah seperti itu, baik, sepertinya saya harus segera pergi, ini buat kamu” Seulgi memberikan paper bag pada Irene.

”Apa ini?” Irene mengambil paper bag pemberian Seulgi.

”Itu buku tentang bagaimana menjadi seorang CEO. Saya mau kamu harus sudah baca sampai tuntas malam ini” Irene mengambil buku yang di maksud Seulgi, matanya membulat terkejut saat melihat tebalnya buku itu mengalahkan tebal kamus bahasa inggris.

”Tapi…”

”Jangan menolak, ini tugas pertama kamu” Irene menghela napas panjang, bagaimana ia dapat menyelesaikan buku ini dalam waktu semalam. Karena ini adalah tugas pertamanya, mau tak mau ia harus menerimanya.

”Baik saya akan baca sampai tuntas malam ini”

”Good, sekarang kamu masuk”

”Iya, terima kasih sudah mau mengantarkan saya dan memberikan buku ini” Irene membukukan badannya. ”Saya masuk dulu” segera Irene masuk ke dalam rumahnya.

Seulgi masih berdiri di depan rumah Irene, memastikan kalau Irene sudah masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu Seulgi berjalan memutar untuk menelusuri lingkungan sekitar rumah Irene. Sangat sepi. Bahaya sekali jika Irene berjalan seorang diri di malam hari. Bisa saja ada yang ingin berniat jahat padanya. Langkah kakinya kini membawa Seulgi pada gang yang lebih sempit dan sangat gelap.

Seulgi terus berjalan, namun dirinya merasakan ada yang mengikutinya di belakang. Seulgi mempercepat langkahnya, dan segera bersembunyi. Benar saja seorang laki-laki mengikuti dirinya dan mencari keberadaanya. ‘Wolf…’ batinnya. Tak mau mencari masalah, Seulgi segera menuju mobilnya dan meninggalkan daerah tersebut.


Matahari kini sudah bersembunyi, kegelapan datang menyelimuti Seoul. Kota yang tak pernah mati, akan selalu ramai dengan manusia dan kendaraan yang berlalu lalang. Rasanya ingin sekali Seulgi pindah ke pulau Jeju, pulau di mana ia di besarkan oleh seseorang yang sangat berjasa bagi hidupnya begitu pula dengan adiknya, Kang Hojung. Keasrian pulau Jeju masih bertahan dari dulu hingga sekarang. Sungguh ia ingin sekali kembali tinggal di sana.

Seulgi yang sedang menikmati segelas whiskey sembari menatap ke arah pemandangan kota Seoul mendengar teriakan dari dua orang yang ia sangat kenal. Sudah pasti itu suara dari Sohee dan Yoonjung. Mereka sama sekali tidak pernah berubah dari ia mengenal mereka pertama kali.

“Aaaaa Soheeeeee.”

“Yoonjuuuuuung.”

“Seulgi mana?”

“Di ruangan nya.”

“Wah gila udah lama banget lo nggak ke sini.”

Begitulah kira-kira suara yang di tangkap oleh kuping Seulgi. Sekedap apapun ruang kerjanya, tetap saja ia dapat mendengar suara sekitarnya dari jarak yang cukup jauh. Tidak normal? Ya memang ia tidak normal. Tak lama pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok adiknya, Kang Hojung.

“Di mana cewe si CEO baru?”

“Di rumahnya,” Kini Seulgi membalikkan badannya mengarah pada Hojung yang sudah duduk di sofa dengan kakinya di atas meja. Seulgi menawarkan whiskey pada Hojung.

“Nah! Gelasnya aja sini,” tak butuh waktu lama, Seulgi melempar gelas kosong ke arah Hojung. Gelas tersebut mendarat dengan sempurna di tangan Hojung.

“Gimana di sana? Aman?” tanya Seulgi yang sudah duduk di hadapan Hojung seraya meneguk whiskey.

“Sedikit mebosankan,” Hojung mengeluarkan sebuah kantung darah dari jaket nya, lalu menuangkannya ke dalam gelas. ”Mau?”

Dengan cepat Seulgi menggelengkan kepalanya “No thanks, whiskey is better.”

Sebenarnya Hojung sudah tau kalau Seulgi akan menolak tawarannya. Ia akan berusaha untuk tidak meminum darah manusia lagi, walau ia harus menusukan kayu pada jantungnya agar dapat menahan nafsunya. Bukan ia tidak suka, dahulu ia sangat tergila-gila terhadap darah manusia. Ada satu hal yang membuatnya berhenti, ketika orang yang ia sayangi mati karena ulahnya sendiri.

“Apa lo nggak mau cobain dia?” tanya Hojung yang menyeringai ke arah Seulgi.

“Tidak akan pernah.”

“Biar gue yang cobain dia, kebetulan stock gue habis,” Seulgi langsung melompat ke arah Hojung dan mendorongnya ke lemari buku hanya menggunakan satu tangan. Lemari buku seketika hancur karena hantaman keras dari tubuh Hojung. Tak hanya itu, kini Seulgi mencekik leher Hojung dan mengangkat tubuhnya membuat Hojung sulit bernapas.

“Don’t you dare to touch her!!” selaput mata Seulgi kini berubah warna menjadi hitam pekat. Menandakan monster pada dirinya sedang mengambil alih tubuhnya.

“Haha... why?” Hojung menatap mata Seulgi seraya tangannya memegangi lengan Seulgi. Sudah sangat jelas jika Seulgi seperti ini, maka wanita tersebut sangat special baginya.

“SHE’S MINE!!!” Seulgi semakin memperkuat cengkraman tangannya pada leher Hojung, membuat adiknya semakin sulit untuk bernapas.

“Owh... kay… okay… you won… lepasin… oksigen…,” Hojung menyerah sembari menepuk-nepuk lengan Seulgi, ia tak mungkin dapat mengalahkan kekuatan kakaknya.

Setelah mendengar permohonan Hojung, Seulgi melepaskan cengkraman tangannya, membuat Hojung terjatuh lemas di lantai. “Uhuk! Uhuk! Uhuk!” tak tega melihat adiknya tersungkur lemas, Seulgi membantu adiknya untuk berdiri. Hojung menarik napas dalam sambil memegangi lehernya yang merah akibat cekikan Seulgi.

“Wuuuuuuhuuuu! Damn girl! So hurt…,” Hojung menggelengkan kepalanya untuk menormalkan rasa nyeri pada lehernya.

“Rapihin lagi buku bukunya,” Seulgi meninggalkan ruang kerja lalu menuju kamarnya. Hojung baru menyadari lemari buku milik kakaknya sudah hancur, menyebabkan banyak buku-buku yang berserakan di lantai.

“Oh... shit… banyak banget bukunya… Aw… Aw… Aw... Massage enak kayanya... Aw....”