noubieau

Welcome to noubie universe.


“Wake up love.”

Terdengar samar-samar suara seseorang. Perlahan Kateryn membuka kedua matanya. Kepalanya terasa pening. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk menormalkan pandangannya yang sedikit kabur. Ia melihat Willma tersenyum berdiri di hadapannya. Tak hanya Willma, ia pun melihat seorang wanita muda berdiri dibelakang Willma. Ia terdiam mencerna apa yang telah terjadi.

“Are you ready to bring back your memories?” tanya Willma sembari mengusap wajah Kateryn dengan lembut.

Kateryn menatapnya dengan bingung. Hendak menepis tangan Willma, ia terkejut saat mengetahui kedua tangannya di rantai ke dua sisi tembok kanan kiri. Ia pun sadar kalau wanita muda di belakang Willma merupakan seorang penyihir.

“What are you doing?!” Kateryn mencoba untuk menarik kedua rantai yang mengikatnya sekuat tenaga.

“Sshhh relax baby, tidak akan sakit tenang saja,” Willma mengecup pipi Kateryn. Ia memberi tanda pada sang penyihir muda untuk memulai ritualnya.

“Lepasin gue!! Fuck!!” Kateryn masih berusaha untuk melepaskan rantai di kedua tangannya. Namun tenaganya tidak cukup untuk melepas rantai tersebut.

Penyihir muda pun memulai ritualnya. Ia menghampiri Kateryn lalu memegang kepalanya dengan kedua tangannya lalu mengucapkan mantra. “Rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, rompre le charme, pour lui rendre la mémoire.”

“AARGHHHH!!!” Kateryn merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya. Rasanya seperti tertusuk dan terbakar pada kepalanya.

Kedua matanya terpejam kuat. Taring giginya pun keluar. Kateryn meringis kesakitan. “AARRGGHHHH!!!”

“Rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, ROMPRE LE CHARME, POUR LUI RENDRE LA MÉMOIRE!!”

“AARGHHHH FUCK!!!” Kateryn membuka kedua matanya. Terlihat pupilnya berubah warna menjadi biru. Wajahnya terlihat sangat marah. Satu hentakan di kedua tangannya berhasil membuat rantai terputus dengan mudahnya.

Dengan cepat Kateryn mencekik penyihir muda di hadapannya sampai tubuhnya terangkat. Sempat memberontak namun tenaganya sangat lemah dibandingkan oleh tenaga Kateryn. Tubuhnya pun dengan mudah terlempar sampai menghantam keras pada tembok. Kateryn berlari menghampiri sang penyihir lalu mengigit lehernya. Ia pun meminum darah sang penyihir lalu mencabut jantungnya hingga membuat sang penyihir tidak bernyawa. Ia menghancurkan jantung yang berada di tangannya dengan mudah sampai darah menciprat mengenai tubuh dan wajahnya.

“Kateryn?”

Kateryn pun menoleh kebelakang. Ia melihat Willma sedang berdiri menatapnya. Ia terkejut. “W-Willma?”

Willma perlahan menghampiri Kateryn. Lalu ia menatap lekat wajahnya yang dipenuhi oleh cipratan darah. Senyuman lebar tergurat di wajahnya. Matanya berbinar. Kedua tangannya menangkup kedua pipinya. “Hi love.”

“Are you okay? What happened?” tanya Kateryn.

“I’m okay baby, aku hanya rindu dengan dirimu yang lama,” ucap Willma sembari memeluk erat Kateryn dan membenamkan wajahnya pada ceruk lehernya.

Kateryn masih mencerna apa yang terjadi. Mengapa ia berada di tempat asing. Mengapa ia sangat marah pada penyihir muda hingga membunuhnya. Dan juga mengapa ia sangat merindukan wanita di hadapannya seperti ia sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.

“It’s okay baby,” ucap Willma lalu ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kateryn.

“Aku tau kamu butuh waktu untuk mengingat semuanya, yang terpenting kamu sudah kembali menjadi dirimu sayang,” lanjutnya.

“Apa aku baru terbangun? Mengapa pakaian mu sangat berbeda?” tanya Kateryn.

“Tidak, aku baru saja melepaskan mantra hipnotis di kepala mu,” ucap Willma.

“Siapa yang mencoba mehipnotis ku?” tanya Kateryn.

“Kamu akan tau itu saat ingatanmu pulih seutuhnya,” ucap Willma.

“Ayo pulang,” lanjut Willma.

“Pulang?” tanya Kateryn bingung.

“Iya pulang, ke rumah kita,” ucap Willma.


1665

“Maju dua langkah lagi ayo.”

“Kamu mau nunjukin apa sih, aku nggak bisa ngeliat tau.”

“Udah sampai,” ucap Kateryn sembari membuka kain yang menutupi mata Willma.

Segera Willma memfokuskan pandangannya. Di hapannya terdapat sebuah rumah yang begitu besar. Ia kebingungan lalu menoleh ke arah Kateryn seperti butuh penjelasan darinya.

“Rumah siapa ini?” tanya Willma.

Kateryn tersenyum. Ia membelokkan pandangan Willma menuju rumah di hadapannya. Kemudian ia memeluk tubuh mungil Willma dari belakang. “Rumah impian kita,” bisiknya membuat Willma terdiam.

“Kamu serius?!” tanya Willma tidak percaya.

“Yes love, kamu kan selalu memimpikan memiliki rumah, lantas aku segera membangun rumah ini untuk keluarga kecil kita,” jelas Kateryn.

Willma berbalik badan, ia menatap Kateryn bingung, “Maksud kamu apa keluarga kecil?”

“Aku mau kamu menjadi istri ku, menjadi ibu dari anak-anak kita kelak, dan menghabiskan waktu bersama di rumah impian kita selamanya, lantas apakah kamu bersedia menjadi istriku?” Kateryn mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu membukanya. Terlihat sebuah cincin berlian didalamnya.

Willma menutup mulutnya. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan dilamar oleh Kateryn. Matanya berkaca-kaca. Entah apa yang ia lakukan sebelumnya sampai ia dapat menemukan sosok Kateryn di kehidupannya yang sangat jauh dibilang dari kata malang. Dengan cepat ia memeluk erat tubuh Kateryn lalu ia menangis didalam pelukannya.

“Hey sayang kenapa nangis hm?” bisik Kateryn.

“Aku nangis karena aku senang,” ucap Willma pelan.

“Astaga aku kira kenapa, jadi kamu mau kan?” tanya Kateryn.

Willma hanya mengangguk kecil membuat Kateryn terkekeh pelan melihatnya begitu menggemaskan. Ia pun melepaskan pelukan Willma. Kemudian ia menyematkan cincin berlian pada jari manisnya.

“I love you Willma Deveraux,” Kateryn mengecup kening Willma.

“I love you too Kateryn.”


Toulouse

Setelah mendapatkan lokasi yang dituju, kini Kateryn sudah berada di Toulouse. Kota terbesar keempat di Prancis yang masih memiliki begitu banyak gedung kuno yang sudah berumur ratusan tahun lamanya. Udara pagi hari di sana sangatlah sejuk. Ditambah dengan sinar matahari yang sudah mulai menyinari kota Toulouse membuat suasana menjadi sedikit hangat.

Namun Kateryn tidak dapat merasakan kehangatan itu. Entah bagaimana perasaannya sangat berbeda ketika ia baru menginjak kota tersebut. Rasa amarah dan kesedihan tercampur menjadi satu membuat dadanya terasa sesak. Ia pun menghela napas panjang. Mencoba mengatur detak jantungnya yang berdebar lebih cepat. Apakah ia takut? Tentu saja. Ia sangat takut apabila mimpinya merupakan sebuah putaran memori yang tidak dapat ia ingat. Dengan kata lain mimpi tersebut merupakan kejadian nyata.

Suasana kota tersebut mulai ramai dengan orang-orang yang melakukan aktivitasnya di pagi hari. Kateryn dapat merasakan hampir seluruh orang yang ia lewati merupakan vampire. Tak hanya itu para vampire yang ia temui menatap tajam ke arahnya. Sepertinya kehadirannya membuat penghuni vampire kota Toulouse terusik.

Bagaimana tidak terusik. Kateryn sangat dikenal oleh kalangan vampire seluruh dunia. Si anak sulung dari keluarga Dawson pendiri academy untuk para Hunter. Tentu saja mereka sangat dibenci untuk kalangan vampire liar yang tidak suka dengan aturan baru Eldest, melarang untuk membunuh manusia hanya demi kepuasan semata.

Kateryn tidak menanggapi serius dengan semua vampire disana menatap tidak suka ke arahnya. Ia sedang tidak bertugas. Ia hanya ingin mencari tau siapa dia sebenarnya. Sampai akhirnya ia berhenti pada sebuah gang kecil yang minim dengan cahaya matahari. Aroma dan suasana disana begitu sangat familiar. Seperti ia pernah mendatangi jalan setapak ini. Namun entah kapan ia tidak mengingatnya. Terakhir yang ia ingat, ia kemari ketika mengejar vampire liar yang menjadi target para Hunter dan itu terjadi dua tahun lalu.

“Do you remember this place, love?” ucap seseorang tengah berdiri tak jauh di belakang Kateryn.

“No, but I can sense it,” Kateryn pun memutar tubuhnya. Ia menatap orang tersebut. Willma.

Willma berjalan menghampiri Kateryn. Ia mengalungkan tangannya pada leher Kateryn lalu tersenyum sembari menatap kedua matanya. Perlahan ia mengusap lembut wajah Kateryn. “Of course you can sense it love.”

Kateryn megenggam tangannya, “Just tell me who I am?”

Willma terkekeh kecil, “Oh love, you’re still the same, always impatient.”

Willma tersenyum. Tak lama ia mematahkan leher Kateryn membuatnya tidak sadarkan diri. Dengan cepat ia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke tanah.

“I’m sorry love, soon you will know who you really are,” bisik Willma lalu dengan cepat ia membawa pergi Kateryn pada suatu tempat.


Tok tok tok

“Masuk,” ucap Shalgie.

Tak lama pintu terbuka menampilkan Kateryn tengah menatap Shalgie yang berada dimeja kerjanya, “Manggil?”

“Duduk,” ucap Shalgie menyuruh Kateryn untuk duduk disofa.

Kateryn pun menurut. Setelah menutup pintu ia segera menuju sofa untuk duduk. Shalgie bangkit dan berpindah duduk berhadapan dengan Kateryn. Ia menatap sang anak sulung dengan tatapan serius.

“Kenapa?” tanya Kateryn.

“Semalem kamu abis dari mana?” tanya Shalgie.

“Club,” jawabnya singkat.

“Ketemu siapa kamu disana?” tanya Shalgie kembali.

“Dain, kenapa sih?” Kateryn mulai risih ketika Shalgie meintrogasi dirinya.

“Yakin Dain aja?” Sahlgie menaikan alis kananya.

“Iya,” jawab Kateryn.

“Mama tau kamu ketemu Willma,” ucap Shalgie.

“Yaudah kalau udah tau kenapa nanya?” tanya Kateryn.

“Kenapa kamu nggak bilang ke mama kalau kamu ketemu dia?”

Kateryn menghela napas, “Pertama aku lagi off jadi nggak ada urusan sama dia, kedua aku nggak kenal dia, ketiga mama sendiri yang suruh aku off,” jelas Kateryn dengan malas.

Shalgie diam sejenak. Benar juga perkataan Kateryn. Memang ia yang menyuruhnya untuk cuti menjadi hunter dan seharusnya dia ingat kalau Kateryn dapat bertingkah masa bodo dengan targetnya ketika ia sedang cuti.

“Lalu apa yang dia katakan?” tanya Sahlgie.

“Nothing, dia kabur setelah menyerangku, itu aja nggak ada yang lain,” ucap Kateryn.

“Tapi kamu nggak apa apa kan?” tanya Shalgie.

“Haruskah aku jawab?” Kateryn pun bangkit dari sofa.

“Aku sibuk, kalau mau nanya nanya lagi nanti aja,” Kateryn melangkah menuju pintu. Ia segera memutar kenop dan membuka pintu.

“Malam ini semua bergerak mencari dia, kamu mau ikut atau tidak?” tanya Shalgie membuat langkah Kateryn terhenti.

Kateryn diam sejenak untuk berpikir, “Males.”


“Aaahh ma’am.”

“You’re mine, don’t call me ma’am again.”

“Mmhh yes babe,” Dain tersipu malu ketika Kateryn menatapnya begitu dekat.

“Good girl,” Kateryn kembali pada aktivitasnya. Ia sibuk mencium dan menjilati leher Dain dengan penuh nafsu. Lalu ia turun untuk menjilati dadanya yang sudah terekspos.

“Oh fuck~” Dain yang berada diatas pangkuan Kateryn pun mendesah nikmat sembari ia menjambak rambut sang pelaku yang membuatnya mabuk kepayang.

“Bloody hell! Are you serious?!” teriak seseorang membuat Kateryn dan Dain terekjut. Mereka menatap orang tersebut tengah berdiri di ambang pintu.

“Ma’am Nicole…,” dengan cepat Dain menutup kemejanya dan segera turun dari paha Kateryn.

“Bisa nggak lo ketok pintu dulu?!” kesal Kateryn.

“Bisa nggak lo nggak ngewe di sekolah?! Semua vampire disini bisa denger desahan dia!!” ucap Nicole tak kalah kesal.

“Bacot banget, mau ngapain lo kesini?!” tanya Kateryn.

“Nyokap lo manggil disuruh keruangannya,” jawab Nicole.

“Mau ngapain?” Kateryn menaikan alis kanannya.

“Nggak tau,” Nicole mengangkat bahunya.

“Yaudah nanti gue kesana,” ucap Kateryn.

“SEKARANG!” ucap Nicole.

“Ganggu aja bangsat,” dumal Kateryn kemudian ia bangkit dari kursi.

“Kamu tunggu sini, aku nggak lama,” bisik Kateryn pada Dain. Lalu ia mengecup bibirnya sebelum ia keluar ruangan.

Dain hanya diam menatap kepergian Kateryn. Ia merasa sangat malu karena terpergok aksi panasnya dengan Kateryn oleh Nicole.

“Congrats ya Dain,” ucap Nicole memecahkan keheningan diruang kerja Kateryn.

“Oh iya ma’am terima kasih hehe,” ucap Dain kaku.

“Kalau gitu saya pergi dulu,” Nicole membalikan badan hendak keluar ruangan. Namun ia menoleh ke arah Dain membuat si hunter baru menatap heran.

“By the way, I like your boobs, very big, like Griselda’s boobs,” ucap Nicole membuat Dain terkejut sekaligus malu.

“Okay bye sweetie,” Nicole pun keluar dari ruangan beigut saja.


Cahaya matahari pagi telah mengusik tidur nyenyaknya seseorang. Dain. Perlahan ia membuka matanya lalu mencari ponsel miliknya disebelah bantal. Nihil. Ia pun terpaksa bangun untuk mencari keberadaan ponselnya. Tetap ia tidak menemukannya. Merasa frustasi ia pun segera turun dari kasur lalu berjalan keluar menuju dapur. Matanya masih terasa sangat berat. Ia hanya membuka sedikit matanya untuk melihat jalan. Beberapa kali tubuhnya terpentok sudut tembok. Ia pun bingung. Mengapa dapur di asramanya cukup jauh. Lalu megapa banyak sekali benda-benda antik nan mewah di sepanjang ia jalan.

Ia pun tidak memperdulikannya. Tenggorakannya terasa sangat kering. Ia butuh air segera. Sampainya di dapur, ia mengambil gelas dan botol air dingin dari dalam kulkas. Ia menuangkan air segera ke dalam gelas lalu meneguknya hingga kandas.

“Good morning sweetheart,” ucap seseorang dari belakangnya membuat ia terkejut.

Dain memutar badannya lalu menatap orang yang sudah menyapanya. Arine. Ia kebingungan. Mengapa Arine berada di asrama. Kemudian Shalgie pun muncul menatap dirinya dengan aneh.

“Masih belom siap? Satu jam lagi pelantikan dimulai,” Shalgie pun duduk dimeja makan.

Dain semakin bingung, “Kalian ngapain disini?” tanya Dain dengan wajah polosnya.

“Good morning mom, mah,” ucap Kateryn yang baru saja muncul entah dari mana. Kemudian ia mendekat kearahnya dan mengecup keningnya.

“Bajunya udah aku siapin dikasur,” bisik Kateryn.

Dain mencoba mencerna apa yang terjadi. Tak lama ia pun segera sadar. Matanya membulat dengan mulut menganga lebar. Ia ingat kalau semalam Kateryn membawanya pulang kerumahnya. Satu hal lagi. Ia melirik baju yang ia kenakan ternyata bukanlah baju miliknya. Melainkan kaos hitam dengan ukuran sedikit lebih besar milik Kateryn.

“Oh shit,” Dain pun segera berlari menuju kamar untuk membersihkan diri.

“Kok bisa sih kamu sama dia?” tanya Arine.

Kateryn mengangkat bahunya lalu tersenyum. Ia pun duduk dikursi makan dan menunggu Dain selesai membersihkan diri. “Kamu mau ikut acara pelantikan?” tanya Shalgie.

“Iya, sekalian nganterin Dain,” jawab Kateryn.


Ducati Panigale V4 berwarna hitam berhenti tepat didepan sebuah club yang baru saja buka hari ini. Kedatangan motor tersebut membuat seluruh mata tertuju padanya. Sang pemilik motor pun turun lalu melepaskan helmnya. Ia menatap kearah pintu masuk club tersebut. Terlihat begitu ramai dan antriannya pun cukup panjang.

Kateryn pun menghela napas. Sebelumnya ia sengaja datang agak malam agar menghindar dari acara grand opening club tersebut. Apakah ia harus berpindah tempat? Namun ia sangat bosan dengan suasana club lama dimana ia sering melepaskan penat. Tak lama seorang wanita keluar dari club dan berbincang pada security yang menjaga. Wanita tersebut melihat kehadiran Kateryn.

“Kateryn!” panggil wanita tersebut.

Kateryn pun menoleh lalu melihat wanita yang memanggil namanya. Ia pun tersenyum. Ia mengenalnya. “Yuri!”

Yuri pun menghampiri Kateryn, “Lo baru dateng?” tanya Yuri.

“Baru banget, lo ngapain disini? Bukannya lo di Berlin?” tanya Kateryn.

“Gue kesini buat grand opening club gue, ini punya gue hehe, ayo masuk! Nanti lo duduk di meja gue, emang udah full sih didalem,” Yuri mengajak Kateryn untuk segera masuk.

“Wah pas banget gue dateng haha,” Kateryn pun mengikuti Yuri, tak lupa ia memberikan kunci motornya pada petugas vallet.

Keduanya pun sudah berada didalam club. Kateryn melihat lautan manusia sedang berpesta pada dance floor. Tak hanya manusia saja, ia dapat mencium beberapa vampire. Salah satunya adalah Yuri. Mereka berjalan ke meja dimana Yuri duduk. Meja itu kosong namun sudah ada beberapa botol dan gelas dimeja.

“Lo sendiri?” Kateryn menjatuhkan bokongnya pada sofa dihadapan Yuri.

“Harusnya ada temen gue disini, tapi nggak tau kemana, eh lo mau minum apa? Gue yang traktir,” tanya Yuri sembari menuangkan vodka pada gelasnya.

“Gue mau cognac terbaik yang lo punya,” ucap Kateryn.

“Pas banget! Gue baru restock cognac Frapin XO, lo mau?” tanya Yuri.

“Boleh, dua ya,” Kateryn menyandarkan tubuhnya. Pandangannya menyebar sekeliling. Walaupun sangat ramai namun ia terhibur dengan banyaknya wanita cantik menari di dekat meja yang ia tempati.

Yuri memanggil salah satu waiter. Ia menyuruh waiter untuk membawakan pesanan Kateryn segera. Sang waiter pun mengangguk dan berlalu pergi. Mata Kateryn mengekori kemana waiter itu pergi. Sampai tidak terlihat kembali ia menatap Yuri penuh tanda tanya.

“Kenapa?” tanya Yuri.

“Sejak kapan lo jadi vampire?” tanya Kateryn penasaran.

“Kapan ya,” Yuri menyandarkan badannya dan menyilangkan kakinya sembari berpikir.

“Umm, nggak lama sih setelah gue pensiun jadi Hunter, tahun berapa tuh? Dua puluh tahun yang lalu kali,” lanjut Yuri.

“Gila udah lama juga ya, siapa master lo?” tanya Kateryn.

Hendak menjawab pertanyaannya, Yuri terhenti ketika waiter datang membawa pesanan Kateryn lalu menaruhnya dimeja. Kateryn mengeluarkan dompet lalu memberikan dua lembar uang 200 GEL pada sang wiater.

“Thank you ma’am,” ucap sang waiter setelah menerima uang dari Kateryn.

*“Ada yang dibutuhkan lagi ma’am?” *tanya sang waiter.

“Tidak ada, kamu boleh pergi,” ucap Yuri.

“Baik ma’am,” waiter pun pergi.

Drrttt! Drrttt! Drrttt!

Ponsel Yuri bergetar menampilkan panggilan masuk dengan nama ‘Mommy’. Yuri pun segera mengambil ponselnya. “Ryn gue tinggal bentar ya, lo kalau mau mesen lagi tinggal panggil waiter aja okay,” ucap Yuri segera bangkit lalu pergi meninggalkan Kateryn.

Kateryn mengangguk. Ia membuka botol cognac lalu menuangkannya pada gelas. Ia meneguk cognac tersebut dikit demi sedikit sembari menikmati alunan lagu yang dibawakan salah satu DJ terkenal di Georgia.

Tiba-tiba saja datang wanita asing dengan pakaian seksi duduk disebelah Kateryn, “Ma’am ngapain disini?”

Kateryn terkejut melihat wanita asing tersebut merupakan Dain, “Kamu ngapain disini?”

“Nyari hiburan, bosen di asrama terus,” jawab Dain.

“Kamu mau?” tawar Kateryn.

“Apa itu?” Dain memajukan tubuhnya untuk melihat botol cognac yang dimaksud Kateryn.

“Cognac, suka nggak? Kalau nggak suka pesen yang lain aja,” ucap Kateryn.

“Boleh deh nyobain hehe,” Dain menyengir.

Kateryn mengambil gelas bersih lalu menuangkan sedikit cognac ke dalam gelas. Kemudian memberikannya pada Dain. “Cobain dulu,” ucap Kateryn.

“Terima kasih ma’am,” Dain menerima gelas pemberian Kateryn lalu ia mencobanya sedikit.

Kateryn sedari tadi menatap Dain tanpa berkedip menunggu reaksi Dain ketika mencoba minumannya, “Gimana?”

“Hmm enak juga ada pedas-pedasnya sedikit hehe,” ucap Dain.

“Haha dasar,” Kateryn menuangkan setengah gelas cognac pada gelas Dain.

“Kamu sendirian kesini?” tanya Kateryn.

Dain pun mengangguk, “Abis aku ajak yang lain nggak mau, yaudah sendiri aja kesini, soalnya aku udah booking dari bulan lalu hehe,” jelas Dain.

Kateryn pun mengangguk. Ia meneguk habis minumannya. DJ pun mengganti lagu yang cukup terkenal. Die for You, The Weeknd. Temponya sedikit lambat membuat orang-orang yang berada di dance floor menari berpasangan. Dain dengan semangat bangkit lalu menarik tangan Kateryn membuatnya terkejut.

“Ayo ma’am!” Dain menariknya.

Kateryn hanya bisa pasrah mengikuti Dain menuju dance floor. Ketika sudah berada ditengah kerumunan orang, Dain mulai menari sensual didepanya. Kateryn hanya diam menatap Dain yang asik menari menikmati alunan lagu. Kateryn dapat melihat senyum manis yang tergurat diwajah Dain. Sangat cantik. Terlihat berbeda ketika berada diruangannya tadi pagi. Perlahan Kateryn menarik pinggang Dian agar mendekat. Dain pun terkejut. Kedua tangannya diarahkan pada bahu Kateryn. Dain mengerjapkan matanya menatap Kateryn dari dekat.

Kedua mata mereka saling bertemu. Perlahan Kateryn memajukan kepala untuk mendekatkan bibirnya pada bibir Dain. Satu kecupan diberikan oleh Kateryn membuat Dain membulatkan matanya. Tidak ada protes yang dilontarkan. Kateryn pun melumat lembut bibir bawah Dain.

Sempat terdiam lama akhirnya Dain membalas lumatan Kateryn. Tangannya mengusap lembut tengku Kateryn. Ciuman mereka semakin dalam. Kateryn melumat bibir bawah Dain penuh gairah lalu mengigitnya perlahan lalu melepaskan tautan bibir mereka. Kateryn berpindah mencium leher jenjangnya yang mulus lalu meninggalkan beberapa jejak merah.

“Aahh,” Dain mendesah pelan dan menjambak rambut Kateryn.

Hendak melanjutkan aksinya, lagu pun berhenti. Sang DJ melanjutkan lagu dengan beat cepat membuat orang-orang di sekitarnya sedikit ricuh. Kateryn dan Dain mengatur napas mereka sembari menatap satu sama lain. Kateryn mengecup pipi Dain sebelum ia menariknya untuk kembali menuju meja. Dain tersenyum malu. Sampai di meja mereka, Dain pun duduk terlebih dahulu. Kateryn melepaskan jaket kulit miliknya lalu memakaikannya pada Dain.

“Aku ke toilet sebentar, kamu tunggu sini,” ucap Kateryn.

Dain pun mengangguk. Kateryn pun meninggalkannya. Tiba-tiba saja suhu di ruangan tersebut terasa panas. Ia mengipasi wajahnya dengan ponsel miliknya.

“Shit gerah banget,” gumamnya. Ia pun meneguk cognac miliknya hingga kandas.

Sampai di toilet Kateryn mencuci wajahnya berkali-kali. Ia pun merasa gerah akibat ciumannya dengan Dain. Ia menghela napas lalu menatap dirinya pada cermin. Ia terkejut ketika melihat seseorang berdiri di dekat pintu masuk tengah menatapnya tajam. Ia terdiam.

“Gimana rasanya ciuman sama manusia?” orang tersebut menyeringai.

“What do you want Willma?” Kateryn membalikan badannya lalu menatap Willma tanpa ekspresi.

Willma mengunci pintu masuk toilet lalu berjalan mendekati Kateryn. Ia menangkup wajah Kateryn. “Kamu datang kesini untuk mencariku atau untuk bersenang-senang hm?” tanya Willma sembari mengusap lembut pipinya.

“Aku sedang tidak bertugas, kalau kamu merasa terancam silahkan pergi, aku sedang tidak mood mengejarmu,” jelas Kateryn.

Willma pun tertawa keras, “Lagi pula kamu tidak akan bisa mengejarku sayang,” ucap Willma membuat Kateryn bingung.

Kateryn menghela napas, sebenarnya ia sedang tidak ingin bertikai dengan siapa pun dan juga ia sedang tidak bertugas malam ini. “Terserah, tunggu saja waktu pengejaran mu dengan yang lain,” ucap Kateryn melepaskan kedua tangan Willma dan berjalan menuju pintu.

Sebelum Kateryn menggapai kenop pintu. Willma dengan cepat menarik baju Kateryn lalu menghempaskan tubuhnya pada cermin dengan keras. Suara pecahan cermin pun terdengar nyaring. Dengan cepat Kateryn bangkit lalu mendorong tubuh Willma pada tembok lalu mencekiknya dengan kuat.

“I SAID I’M NOT IN THE MOOD!!” Kateryn menggeram membuat Willma terdiam. Kedua pupil matanya berubah menjadi biru.

Willma tersenyum, “Oh love, I missed your anger like that.”

Kateryn pun melepaskan cekikannya. Willma batuk-batuk akibat tersedak. Kemudian ia menarik wajah Kateryn lalu melumat bibirnya. Kateryn terkejut lalu mencoba untuk mendorong tubuh Willma. Namun seketika pandangannya buram.

Pandangannya pun kembali normal. Ada yang asing. Ia tidak berada di toilet. Kini ia berada di suatu kota yang sama seperti mimpi buruknya kemarin. Namun agak berbeda. Situasi kota tersebut sangatlah sepi. Tak ada seorangpun disana hanya ia seorang diri.

Tidak lama ia mendengar jeritan orang-orang yang berasal dari belakang gedung-gedung pertokoan. Kemudian muncul orang-orang yang berlari keluar dari sebuah gang antar gedung menuju kearahnya. Kateryn pun terkejut. Tak hanya itu. Ia melihat sosok yang menyeramkan tengah mengigit para warga hingga nyawanya hilang. Ia mengenali sosok tersebut.

“That’s the real you are love, full of anger and hatred, I love this monster a lot,” bisik Willma.

“If you want to know who you are, hunt me down alone, see you another time my love,” lanjut Willma.

Pandangan Kateryn pun kembali normal. Ia terdiam menatap tembok toilet. Willma sudah pergi. Ia berhasil membuat Kateryn kebingungan. Bagaimana Willma dapat memutar mimpi buruknya yang berbeda dari sebelumnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Sepertinya ia harus segera pulang.


Kateryn berhasil kabur dari pengawasan Arine. Ia sengaja datang ke Saint Dawson Academy tidak menggunakan kendaraan. Hanya berselang lima menit kini ia sudah berada di gerbang Saint Dawson Academy. Ia berjalan tanpa menghiraukan para murid yang menatap ke arahnya. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian. Saat ujian seleksi kemarin hanya Kateryn yang tidak sadarkan diri di lawan oleh calon hunter.

Saat ingin masuk ke dalam gedung, Shalgie melihatnya membuatnya bingung. Seharusnya Kateryn istirahat dirumah. Hendak menghampiri Kateryn, Shalgie tertahan oleh kemunculan Selene yang mendadak di hadapannya.

“Mau kemana?” tanya Selene.

“Huh?”

“Ayo keruangan lo, kita ngeteh,” ucap Selene seraya mendorong tubuh Shalgie menuju ruangannya yang berbeda gedung.


Setelah berjalan cukup jauh dari pintu masuk kini Kateryn sudah berada didepan ruang kantornya. Disana sudah ada Dain berdiri menunggu dirinya. Kateryn melirik jam tangan yang ia kenakan lalu menyeringai ke arah Dain. Jujur saja tatapan Kateryn membuat Dain semakin ketakutan.

Kateryn membuka pintu lalu menatap Dain yang menunduk, “Ayo masuk.”

Dain pun mengangkat kepalanya dan mengangguk, “Baik ma’am,” perlahan ia masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Kateryn.

Pintu pun di tutup membuat Dain bergetar gugup. Kateryn menyandarkan bokongnya pada pinggir meja lalu menyilangkan tangannya di dada sembari menatap Dain dari bawah hingga atas.

“Gimana rasanya mengalahkan saya?” tanya Kateryn.

Dain seketika berlutut, “Saya minta maaf ma’am! S-saya tidak bermaksud bikin ma’am tidak sadarkan diri! Mohon jangan bunuh saya!!” Dain pun menangis.

Kateryn mensejajarkan tubuhnya dengan berjongkok dihadapan Dain. Ia mengangkat dagu Dain perlahan lalu menatapnya. “Siapa yang mau bunuh kamu hm?” tanya Kateryn.

“Ma’am Kateryn,” ucap Dain sesegukan.

“Kalau saya tidak membunuh mu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kateryn.

“S-saya akan lakukan apa pun yang ma’am minta!!” ucap Dain.

“Apapun?” Kateryn menaikan alis kanannya. Dain pun mengangguk dengan cepat.

Kateryn diam sejenak. Ia pun berdiri. Lalu berjalan mengitari meja. Tangannya menarik laci meja lalu mengambil suatu benda dari dalam sana. Ia kembali berdiri dihadapan Dain dan menyodorkan benda tersebut padanya.

Dain terkejut ketika Kateryn memberikan sebuah pisau yang digunakan oleh para Hunter. Ia kebingungan dan menatap wajah Kateryn penuh tanda tanya.

“Take it,” ucap Kateryn.

Dain pun mengambil pisau tersebut lalu berdiri, “Ini buat apa ma’am?”

“Stab me like you did yesterday,” ucap Kateryn.

Dain membulatkan matanya terkejut, “I-I can’t….”

“You can.”

“I can’t ma’am! Nanti ma’am tidak sadarkan lagi!”

Kateryn terkekeh. Perlahan ia maju mendekat pada Dain. Ia menatapnya tajam membuat Dain melangkah mundur. “Why you so weak huh?”

“M-ma’am….”

“Kalau tidak bisa menusuk saya lebih baik kamu keluar dari Academy, jadi manusia yang lemah yang siap menjadi santapan para vampire liar!”

“…ma’am….”

“Steb me now.”

“I-I can’t….”

“STEB ME!!!”

Dain berhasil terpojok oleh Kateryn. Ia pun terpaksa menusukan pisau yang dipegang tepat didada Kateryn. Ia menangis. Kateryn terdiam. Ia mengeraskan rahangnya.

“Why it’s not working!” dengan cepat ia mencabut pisau tersebut lalu melemparnya hingga tertancap pada dinding.

“Y-you’re bleeding,” Dain menutup luka Kateryn dengan tangannya.

“It will be healed,” ucap Kateryn.

“Your wound it’s not heal stupid!” lontar Dain kemudian ia berlari mengambil pisau yang di lempar oleh Kateryn. Lalu ia menyayat pergelangan tangannya. Darah segar pun keluar. Ia mendekati Kateryn lalu menyodorkan pergelangan tangannya padanya.

“Minum biar vervainnya hilang,” ucap Dain.*

Kateryn menurut. Ia menjilati darah yang mengalir di tangan Dain. Sudah sangat lama ia tidak meminum darah manusia. Rasanya begitu nikmat. Namun ia harus menahan nafsunya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Lukanya pun berangsur menutup lalu ia melepaskan tangan Dain. Luka dipergelangan tangannya pun menutup. Tentunya berkat cincin yang ia pakai. Cincin tersebut berguna untuk melindungi para hunter manusia. Mereka tidak akan mati selama cincin tersebut masih melingkar di jari mereka.

“Thanks and sorry for the last one,” ucap Kateryn.

“It’s okay ma’am,” ucap Dain.

“Kalau gitu kamu boleh pergi,” ucap Kateryn.

“Kalau gitu saya pamit ma’am,” Dain pun keluar dari ruangan. Kateryn menghela napas panjang. Kenapa rencana dia tidak berhasil.

“Bagaimana caranya gue bisa kembali ke mimpi itu,” gumamnya.


Vervain : sebuah cairan racun yang digunakan untuk melemahkan vampire. Efeknya akan membuat luka bakar pada permukaan kulit, memperlambat vampire untuk menyembuhkan luka-lukanya, dan membuat manusia tidak akan terkena hipnotis para vampire apabila memasukan vervain kedalam darah mereka melalui jarum suntik.


Tok tok tok

Pintu kamar terbuka. Membuat sang pemilik kamar menoleh ke arah pintu. Terlihat Arine berjalan masuk menghampiri si pemilik kamar yang masih terbaring di atas kasur.

“Good morning love,” ucap Arine yang kini sudah duduk di pinggir kasur sembari mengusap lembut kepala si anak sulung.

“Good morning mom,” Kateryn pun tersenyum.

“Masih ada yang sakit? Atau kamu mimpi buruk lagi?” Arine mengusap lembut pipi Kateryn.

Mendengar kata ‘mimpi’ membuatnya teringat kejadian kemarin. Kateryn pun menjawab dengan gelengan kepala. Lalu ia memegang tangan Arine.

“Mom,” ia sangat ragu untuk melontarkan pertanyaan yang ada didalam kepalanya sekarang.

“Hm? Kenapa?” tanya Arine.

“Apa aku pernah membunuh satu kota?” tanya Kateryn membuat Arine sedikit terkejut.

“Kenapa kamu nanya seperti itu? Kamu mimpi itu lagi hum?” tanya Arine.

“Just asking mom,” ucap Kateryn.

“No baby, kamu anak yang baik, kamu nggak pernah membunuh seperti didalam mimpi mu, kamu hanya kelelahan aja, ya sometimes kamu membunuh orang-orang jahat, tapi tidak sebanyak itu,” jelas Arine.

“Tapi–”

“Udah kamu istirahat ya, mama bilang kamu untuk sementara waktu off dulu di sekolah, sampai kamu siap mengajar lagi,” Arine membenarkan selimut Kateryn.

“Mama udah berangkat?” tanya Kateryn.

“Baru aja berangkat, kenapa?”

Kateryn pun menggelengkan kepala kemudian Airne mengecup keningnya, “Istirahat ya, mommy mau tempatin sarapan buat kamu, mommy udah masak steak kesukaan kamu,” Arine pun bangkit lalu pergi keluar untuk mengambil sarapan Kateryn.

Kateryn hanya diam menatap kepergian Arine. Kenapa ia sangat tidak puas dengan jawaban ibunya. Ia merasa ada yang ditutupi oleh Arine. Tak lama Arine kembali membawa meja lipat berisikan sarapan untuk anak sulungnya. Kateryn pun perlahan duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur. Arine menaruh meja tersebut di atas pangkuan Kateryn.

“Abisin ya, mommy mau beresin dapur dulu, kalau ada apa-apa panggil mommy,” ucap Arine.

“Makasih mom,” ucap Kateryn mengangguk tersenyum.

Arine pun pergi dan tak lupa menutup pintu kamar. Kateryn menghela napas kemudian ia menatap ke arah daging steak. Ia pun mengambil pisau dan garpu lalu memotong perlahan daging tersebut. Seketika ia teringat kejadian ujian kemarin.

“Yang nusuk gue siapa ya?” gumamnya sembari mengingat wajah siswi yang sudah berhasil membuatnya tumbang.


Georgia

Ujian seleksi hari ini berjalan sengit. Sudah ada beberapa siswa siswi yang tumbang ketika melawan Yeline, Reagan, dan Griselda. Namun sejauh ini jumlah yang lolos cukup banyak dibandingnya yang tumbang.

Matahari sudah berada di atas kepala, menandakan waktu siang sudah tiba. Giliran Griselda sudah selesai dan kini giliran Kateryn. Siswa siswi yang di uji oleh Kateryn sudah terbagi menjadi lima kelompok. Untuk kelompok mana yang akan maju di tentukan oleh Kateryn sendiri.

“Semangat sayang,” ucap Arine pada Kateryn yang tengah bersiap maju ke tengah lapangan. Kateryn hanya menjawab dengan senyuman manis pada sang ibu.

Ketika sudah siap ia pun berjalan maju ke tengah lapangan. Semua mata tertuju padanya. Termasuk para Eldest. Selene dan Joelle. Ia merenggangkan otot-ototnya untuk memanaskan tubuhnya.

“Kelompok tiga maju!” ucap Kateryn.

Perlahan kelompok tiga pun maju di hadapannya. Kemudian mereka mengatur posisi untuk siap menyerang sang penguji. Kateryn sudah dikepung oleh sepuluh calon hunter yang sudah siap membunuh dirinya. Semuanya sudah siap sampai Shalgie melepaskan tembakan ke udara menandakan waktu sudah dimulai.

Dengan gerakan cepat, hunter vampire menyerang kateryn terlebih dahulu. Namun dengan mudahnya Kateryn menghindar dari serangan tiga hunter vampire. Salah satu hunter vampire merupakan seorang wanita. Dengan sengaja Kateryn menarik tubuh wanita tersebut lalu mencium pipinya membuat wanita tersebut terkejut dan lengah. Saat itu lah kesempatan Kateryn untuk melumpuhkannya. Ia mematahkan lehernya dengan cepat lalu kembali menghindar dari serangan hunter lainnya.

“So weak!” ucap Kateryn.


Pertarungan Kateryn dengan empat kelompok begitu sangat sengit. Sejauh ini baru dua kelompok yang lolos karena telah mengalahkan Kateryn. Pakaian Kateryn sudah dipenuhi darah dan sobekan akibat terkena senjata para hunter.

Saat ini kelompok satu yang akan maju. Kelompok terakhir yang akan melawan Kateryn. Ia ingin segera mengakhiri sesi ini. Sudah satu jam lebih ia melawan empat puluh hunter.

DOR!

Tembakan pun berbunyi. Pertarungan kembali dimulai. Kali ini Kateryn akan mengeluarkan seluruh tenaganya. Dengan gerakan cepat ia mencakar tubuh setiap hunter. Cipratan darah pun berceceran hingga mengenai wajah dan tubuhnya. Hendak melumpuhkan satu wanita hunter ia melirik sekilas tangannya yang dipenuhi oleh darah segar. Saat itu pun pandangannya buram.

Ia terjatuh. Matanya terpejam sesaat. Samar-samar ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Saat ia membuka matanya, di hadapannya sudah terdapat begitu banyak tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Tak hanya itu tubuhnya kini berada di genangan darah yang berwarna merah pekat. Ia pun segera bangkit. Entah mengapa kini ia berada di tengah kota yang terlihat seperti empat abad yang lalu.

“Kateryn!” suara tersebut kembali terdengar namun kali ini semakin jelas. Ia pun mengenali suara tersebut.

“M-Mmom?” matanya mencari keberadaan ibunya.

“Kateryn!” seseorang menarik tubuhnya dari belakang membuat tubuhnya berbalik. Ia terkejut melihat Arine dan sekaligus senang karena ibunya masih hidup.

“M-Mmom, what happen?” tanyanya dengan suara bergetar.

“You killed the whole city,” ucap Arine membuat Kateryn terkejut tidak percaya.

“No way! I didn’t do it mom, I-I swear,” ucap Kateryn panik.

“Look your hands love,” Kateryn pun menunduk lalu melihat tangannya dipenuhi oleh darah segar.

“I-It’s not me mom–”

Kateryn terdiam ketika sadar Arine sudah tidak ada dihadapannya. Ia pun semakin panik lalu mencari keberadaan Arine.

“M-Mom?”

“M-Mom?!!”

“MOM!!!”


“MOM!!!” Kateryn membuka matanya.

“Kateryn!!” Arine yang sedari tadi berada disebelahnya langsung memeluk tubuh Kateryn dengan erat. Badannya bergetar dan dipenuhi oleh keringat. Arine mencoba untuk menenangkan Kateryn yang masih terlihat panik.

“It’s okay baby, mommy’s here,” ucap Arine. Mendengar suara Arine membuat Kateryn sedikit tenang. Ia memeluk Arine tak kalah erat. Lalu membenamkan wajahnya pada bahu sang ibu.


Berlin

Kini Willma sudah sampai di club milik Yuri. Sebenarnya club tersebut miliknya, namun ia menyerahkannya pada Yuri karena jadwalnya yang sangat padat tak sempat mengurus club miliknya.

Terlihat club sangat ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka merupakan vampire. Tentu saja Willma mengenal mereka semua. Indera penglihatannya menyebar mencari keberadaan Yuri. Selangkah demi selangkah ia lewati kerumunan vampire yang sedang berpesta malam ini.

Mendadak tubuhnya tertarik. Lalu ia menatap tajam pada pelaku yang berani menariknya begitu saja. Matanya yang berubah warna menjadi biru akhirnya meredup ketika sang pelaku merupakan orang yang dia cari. Yuri.

“Easy love,” ucap Yuri menyeringai lalu mengecup lembut pipi Willma. Tak lupa tangannya melingkar pada pinggang Willma dengan erat.

“You scared me!” protes Willma. Lalu ia meletakan kedua tangannya pada bahu Yuri.

“What are you thinking huh? Sampai sulit mencari keberadaan ku,” Yuri mengusap lembut wajah Willma lalu menatapnya.

“So many things, sorry,” Willma tersenyum.

“Kalau gitu kamu harus relax malam ini,” Yuri menarik dagu Willma. Ia mengecup bibirnya dengan lembut.

Willma terpejam dan membalas ciumannya tak kalah lembut. Tangannya meraba pada tengku Yuri dengan seduktif. Ciuman mereka semakin bergairah. Yuri dengan sengaja menggigit bibir bawahnya. Willma pun mengerti perlahan ia membuka mulutnya membiarkan lidah Yuri masuk kedalam dan menjilati lidahnya penuh nafsu. Tangannya pun tak hanya diam. Yuri meraba-raba tubuh Willma hingga kedua tangannya berada pada dua payudaranya. Ia pun meremas kedua payudaranya membuat Willma semakin terangsang.

“Mmmhhh,” Willma mendesah lalu melepaskan tautan bibir mereka. Ia pun menatap Yuri penuh gairah sembari menggigit bibir bawahnya.

Yuri terkekeh pelan saat melihat pupil mata Willma berubah menjadi biru, “Easy love,” ia menyeringai. Kemudian ia menjentikan jari memberi isyarat pada seseorang yang sedari tadi berdiri di dekat bar.

Willma pun melihat seorang wanita muda menghampiri mereka dengan tatapan kosong. Seorang manusia yang sudah dihipnotis oleh Yuri agar tidak merasakan rasa sakit ketika menjadi santapan hangat para vampire.

“Aku baru lihat dia,” ucap Willma.

“She’s new, come on I know you hungry love,” ucap Yuri sembari menyibak rambut wanita muda untuk mempermudah Willma mengigit lehernya.

Willma menurut. Perlahan ia mendekati leher sang wanita muda lalu ia mengeluarkan taringnya dan menancapkannya pada kulit leher menyebabkan darah segar keluar dengan deras ke dalam mulutnya. Setelah darah masuk ke dalam tenggorokannya, rasa laparnya pun menguasai pikirannya. Ia semakin nafsu menyedot luka gigitan agar semakin banyak darah yang masuk ke dalam mulutnya. Tangan kanannya meraba dada sang wanita muda. Hendak menusukan tangannya di dada wanita tersebut, dengan cepat Yuri menahan aksinya.

“Not her heart, I still want her stay alive,” bisik Yuri membuat Willma melepaskan taringnya dari leher wanita muda. Ia menatap kesal pada Yuri. Dengan cepat tangannya mencekik leher Yuri dengan kuat sampai tubuhnya terangkat dengan mudah.

“This is my place! She’s mine! I’m your master! You cannot to stop me!!” geram Willma membuat Yuri terdiam.

“Okay! Okay! She’s your! But not here,” Yuri pun mengalah.

Willma pun menurunkannya membuat Yuri bernapas lega. Satu detik kemudian Willma menusukan tangannya tepat di dada sang wanita muda lalu mengambil jantungnya membuat sang wanita mati seketika. Ia menyeringai menatap Yuri kemudian ia memakan jantung yang berada di tangannya dengan lahap.

“Jason, burn her body and get a new one,” ucap Willma pada Jason yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Willma.

“Yes ma’am,” ucap Jason lalu membawa jasad wanita muda untuk dibakar di ruangan khusus yang sudah disediakan oleh Willma untuk menghilangkan jejak agar tidak tercium oleh polisi.

Yuri hanya dapat menghela napas. Baru saja ia mendapatkan karyawan untuk dijadikan santapan para vampire di clubnya. Namun lagi dan lagi Willma selalu membunuh mereka karena ingin memakan jantung mereka.