noubieau

Welcome to noubie universe.


Percakapan panjang bersama anak-anaknya pun berakhir. Yuri akhirnya dapat menemui Jessica yang masih berada di kamar. Begitu masuk, pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sang istri masih terbaring di ranjang dan seorang gadis muda yang kini menatap canggung ke arahanya.

“Umm, kalau gitu aku keluar dulu ya mom,” katanya sambil beranjak dan tesenyum kaku melewati Yuri.

“Kamu istrinya Selene?” tanya Yuri sebelum Jollie benar-benar keluar dari kamar.

Jollie mengangguk, “Iya, M-ma’am,” katanya tak yakin harus memanggil wanita di hadapannya dengan sebutan apa.

Sebutannya berhasil membuat Yuri terkekeh pelan, “Panggil aku mama,” ucapnya.

Jollie mengangguk mengerti kemudian segera pergi dari sana setelah menyadari tatapan Jessica yang telah menyorot tajam ke arah mereka. “Don’t look at me like that, love,” lirih Yuri dengan senyuman ironi.

“Don’t you fucking dare!” bengis Jessica ketika Yuri mendekat.

Wanita itu bangkit dari posisinya yang tengah berbaring kemudian berdiri dengan limbung dihadapan Yuri, “Who are you?” desisnya seraya secepat mungkin menepis tangan Yuri yang berusaha meraih tubuhnya.

“Ini aku sayang, your wife,” balas Yuri dengan mata yang tak lepas dari sosok istrinya.

Jessica tertawa keras, namun dengan air mata yang tanpa sadar menetes membasahi pipinya, dan itu cukup untuk membuat Yuri merasakan sesak di dadanya.

“Istriku mati dua puluh tahun lalu, dan kamu–” Jessica menunjuk wajah Yuri dengan mata tajamnya yang memerah dipenuhi segala emosi yang bergejolak menyerang bersamaan. “Jangan berani-beraninya menipuku!” wanita itu menyentak.

“Love…,” suara Yuri bergetar. “Aku bisa jelasin semuanya,” lanjutnya.

Jessica menggeleng, mengusap air matanya dengan kasar, “Jelaskan apa? Soal istriku yang ternyata masih hidup dan dengan seenaknya meninggalkan anak dan istrinya menderita disini? Atau tentang istriku yang nggak berusaha menghubungi keluarganya yang selama ini mengira dia telah mati? Yang mana?! Mana yang mau kamu jelaskan?! Karena istriku tidak mungkin melakukan hal itu padaku, bajingan!!!” Teriak Jessica histeris.

Air mata Yuri ikut mengalir. Tangannya berusaha kembali meraih Jessica namun wanita itu bergerak mundur hingga jarak diantara mereka semakin jauh. “There is so many things happened baby, aku berusaha buat kembali, for mongoddes! I’ve tried! B-but it’s not that easy…,” Yuri berusaha berkata sejelas mungkin ditengah rasa mencekik yang seakan menekan kuat lehernya.

“But I’m here now, aku disini buat jelasin dan perbaiki semuanya, tolong kasih aku kesempatan untuk buktikan kalau aku masih Yuri yang sama dahulu, aku yang berdiri dihadapan kamu sekarang adalah orang yang sama yang menikahi kamu tiga puluh satu tahun yang lalu love, please…,” suaranya bergetar hebat diakhir kalimat.

Jessica yang dibutakan amarah kini mengangguk dengan tawa dan air mata yang sama. Tangannya bergerak meraih sebuah gunting yang tergeletak diatas nakas sebelah tempat tidur. Menatapnya sekilas kemudian beralih menatap bengis ke arah Yuri. “Kalau begitu buktikan bersama!” katanya sambil menodongkan benda tajam yang digenggamnya ke arah Yuri.

“Jangan, aku mohon, jangan… Kamu tau itu akan menyakitimu dan aku nggak mau itu terjadi, so please, don’t do that…,” mohon Yuri dengan mata yang bergetar.

Jessica terkekeh meremehkannya, “I can’t feel my wife for years! FOR! YEARS! So nggak akan ada yang terjadi if I even kill you because you’re not my wife!!” teriak Jessica dan dengan gerakan cepat, gunting tersebut telah melesak masuk menusuk perut Yuri yang hanya berdiri beberapa langkah dihadapannya.

“Arrgghh! Fuck! FUCK!”

“Jessica!!”

Pekikan mereka terdengar bersamaan dengan jatuhnya tubuh Jessica. Darah segar mengalir dari perut Jessica seiring dengan gerakan Yuri yang mencabut gunting pada perutnya.

“What are you doing?!” Yuri menggeram marah dengan air mata yang mengalir semakin deras melihat kondisi istrinya.

Ia tak peduli dengan kondisi dirinya sekarang. Ia akan pulih dalam waktu singkat, namun tidak dengan Jessica. Darah semakin banyak keluar dari luka di perutnya. Tanpa berpikir panjang Yuri merobekan kulit pergelangan tangannya untuk memberikan darah miliknya pada Jessica.

“Sayang please minum ini,” Yuri membantu membukakan mulut Jessica agar darah miliknya masuk ke dalamnya. Dengan kesadaran yang masih ada, Jessica menahannya karena ia tidak mau meminum darah musuh keluarganya. Bahkan dari istrinya pun.

“For mongoddes! Jessica please!! I don’t want you die!!! Please baby, I don’t want to lose you again…,” lirihnya sembari berusaha sekuat mungkin untuk memasukkan darah pada mulut Jessica.

Jessica menatap kedua mata Yuri yang bergetar dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ya, dia berhasil. Dia berhasil membuktikan kalau wanita yang mendekapnya saat ini adalah istrinya. Yuri Dawson.

Dengan perlahan Jessica membuka bibirnya yang tertutup rapat. Ia mempersilakan Yuri untuk memberikan darahnya untuknya. Melihat sang istri membuka mulutnya, dengan cepat Yuri memasukan darah yang hampir habis menetes akibat luka yang akan segera menutup rapat pada pergelangannya. “Minum lah, tidak akan membuatmu berubah, hanya membantumu untuk pulih dengan cepat,” ucap Yuri.

Jessica pun menurut. Ia menelan darah Yuri yang hanya sedikit didalam mulutnya. Walau sedikit, lukanya saat ini dengan sangat cepat menutup pulih. Yuri pun memeriksa luka di perut Jessica. Hilang. Hanya tertinggal sisa darah yang menempel pada kulit dan baju Jessica.

Dengan gerakan cepat, Jessica kini memeluk erat leher Yuri lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri. “Please don’t do that again!” ucap Yuri dengan nada cemas dicampur kesal.


Setelah menjauh untuk beberapa saat, Shalgie akhirnya mulai tenang dan bersedia untuk duduk bersama yang lain. Walaupun ia sudah bisa mengontrol emosinya sekarang, tapi Kaiden dan Selene masih saja mengawasinya seolah Shalgie dapat kembali menyerang Yuri sewaktu-waktu. Well itu benar, tapi tatapan mereka tetap menyebalkan untuknya.

“Stop liatin gue, lebih baik jelasin!” ucap Shalgie sinis.

Yuri menghela napas panjang kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh Shalgie. Tapi sang anak malah menepis dengan cepat, membuat Yuri harus pasrah dan kembali mengurungkan niatnya.

Yuri menarik napas panjang sebelum memulai kata-katanya. “Kalau kalian berpikir mama sengaja menghilang atau sengaja meninggalkan kalian setelah kejadian itu, kalian salah. Banyak hal yang terjadi selama mama nggak berada disini. Terlalu banyak sampai kalian mungkin ragu dan nggak percaya. Tapi mama bisa pastikan, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala kalian akan terjawab sekarang,” netra Yuri menatap satu persatu sorot tajam yang menatap kearahnya.

“Saat penyerangan terjadi waktu itu,nggak ada yang tersisa, seperti yang kalian tau, orang tua kalian, sahabat kami, gugur dalam peristiwa itu,” Yuri mengepalkan tangannya erat. Menahan gejolak duka yang kembali naik bersama terbukanya luka lama.

“Lalu kenapa mama…,” ucap Waynne menggantung. Tak yakin harus disampaikan atau tidak.

“Kenapa mama bisa selamat?” Yuri tersenyum tipis. “Apakah dengan kondisi mama sekarang kalian pikir mama selamat? Kalau bisa, mama akan lebih memilih untuk pergi dari pada menjadi seperti ini. Namun bukan mama yang punya kendali, mama tidak berdaya saat itu dan dibawa pergi, sangat jauh,” mata Yuri menerawang mengingat kejadian lampau yang membawanya pada kondisi sekarang.

“Who…,” Selene bergumam kecil, namun tentu mereka semua dapat mendengarnya.

“Para Vampire, tentu saja,” Yuri menghela napas.

“Kejadiannya sangat cepat, kondisi mama tidak berdaya saat itu, mereka mengikat mama dengan wolfbane, menyiksa mama berminggu-minggu, dan sampai akhirnya mereka melakukan ritual terlarang mengubah mama menjadi kaum mereka, melepaskan mama di Verkhoyansk tanpa adanya daylight ring,” jelas Yuri dengan mata yang sesekali terpejam mengingat kejadian saat itu.

“Tapi alasan mereka apa? Nggak mungkin mereka tiba-tiba menyerang dan bawa mama begitu saja hanya untuk dijadikan seperti mereka?” Selene menggeleng tak mengerti, membuat Yuri lagi-lagi harus menarik napasnya yang terasa begitu berat.

“Semuanya rumit, Selene. Ini dimulai jauh, jauh sebelum kalian lahir,” Yuri mengarahkan pandangannya sejenak ke arah Shalgie yang masih terdiam sedari tadi.

“Mereka bukanlah komplotan Vampire sembarangan, mereka berjalan disemua sektor gelap yang mungkin nggak bisa kalian pikir sebelumnya. Narkoba, perdagangan manusia, bahkan jauh lebih buruk. Mereka sangat kuat. Mereka berada dimana-mana. Mereka ingin menguasai segala hal. Namun sayangnya mama menghalangi mereka saat itu, mama tidak membiarkan mereka melakukan ekspor narkoba besar-besaran melalui perusahaan dan itu membuat mereka marah,” lanjut Yuri.

“Tapi, Verkhoyansk bukankah salah satu subjek federal terbesar di Russia? Banyak tentara disana, kenapa m-mama nggak mencoba kabur sejak lama?” Shalgie kali ini angkat bicara. Meski agak ragu, perlahan ia mulai dapat menerima kehadiran Yuri di hadapannya dan itu berhasil membuat sang ibu tersenyum.

“Verkhoyansk, Republik Sakha itu memang bagian dari Russia, tapi sayangnya semua berpusat disana, Shalgie. Negara itu sudah seperti kerajaan vampire. Setiap sisi, setiap sudut, bahkan mungkin setiap bebatuan kecil yang ada disana adalah kaki tangannya. Sekali kita masuk kedalam cengkeraman mereka, peluang untuk kabur sangatlah minim, mungkin nyaris mustahil. Selama bertahun-tahun mama mencoba untuk kabur namun selalu gagal. Sampai percobaan yang terakhir, keberuntungan akhirnya memihak pada mama. Mama berhasil pulang dan kita dapat mulai kembali,” Yuri tersenyum kearah Kaiden dan Krystal yang sama sekali tak bersuara sedari tadi, dan itu menarik perhatian Shalgie, Selene, dan Waynne.

“Maksudnya?” Waynne mengernyit tak mengerti.

“Kalian ingat saat gue ke Finland beberapa hari yang lalu? Kita bertemu Yuri disana,” jawab Kaiden yang malah membuat ketiga alpha semakin tidak mengerti.

“Russia? Finland? Maksudnya bagaimana?” tanya Selene bingung.

Krystal berdecak, “Kak Yuri berusaha kabur dan berhasil menyebrang ke Finland melalui kapal barang, tapi dia masih dikejar oleh vampire sialan, beruntung kita bertemu dan berhasil pulang setelah mereka kehilangan jejak.”

“Well, setidaknya untuk sekarang,” lanjutnya.

“Wait! Wait! Wait! Kalian terus aja sebut vampire, dia, mereka, tanpa menyebutkan siapa mereka sebenarnya yang kalian maksud?! Kalau kalian saja nggak tau siapa, bagaimana kita bisa tau siapa yang kita hadapi sekarang,” ujar Shalgie yang mendadak kembali emosi setelah mendengar cerita dari sang ibu.

Yuri menyugar rambutnya dengan hembusan napas panjang, “Jujur mama sendiri nggak tau siapa pemimpin mereka yang sebenarnya, karena selama ini yang selalu turun tangan adalah kaki tangan kepercayaannya.”

“Siapa?”

“Bamiereel Calaban.”

“Ah mama baru ingat, ada satu sektor bisnis yang sedang mereka incar belakangan ini, dibidang… fashion? Ya, ya, dibidang fashion,” lanjut jelas Yuri membuat Shalgie, Selene, dan Waynne serempak menatap satu sama lain.


Setelah mendapat pesan dari Krystal, Shalgie segera menghubungi Waynne dan berusaha secepat mungkin untuk mencapai rumah. Mereka sangat khawatir, tentu saja. Apalagi ketika keduanya sampai, hal pertama yang mereka rasakan adalah aroma asing yang begitu kuat menusuk indera penciuman mereka.

“Gue nggak salah kan?” tanya Shalgie sambil menatap ke arah Waynne yang juga mengangguk dengan tatapan tajamnya.

“Vampire,” Waynne mendesis.

“Fuck!”

Shalgie dan Waynne bergerak cepat mengikuti insting mereka. Segala penjuru rumah terlewati begitu saja, hingga akhirnya keduanya ampai di halaman belakang dan menemukan beberapa figur yang sangat mereka kenali. Terlebih satu sosok familiar yang juga terasa asing diwaktu bersamaan.

“Nggak mungkin,” suara Waynne nyaris tak terdengar. Ia mematung dengan tatapan yang menyorot langsung pada sosok asing. Yuri. Tubuhnya seakan beku diselimuti rasa tak percaya.

Tapi lain hal dengan Shalgie. Sang Alpha kini menggeram marah sebelum kemudian bergerak cepat menyerang Yuri yang sejak sedari tadi hanya diam mempoerhatikan kedatangannya dengan Waynne.

“Who the fuck are you?!” geramnya dengan tangan yang telah berada di leher Yuri. Ia jelas tak mempercayai sosok tersebut. Ibunya telah lama pergi dan dia bukan sosok vampire menjijikan seperti orang yang berada di hadapanya sekarang.

“Shalgie, stop!” sekuat tenaga Selene dan Kaiden menarik tubuh Shalgie dari Yuri. Mereka tidak membiarkan Shalgie melukai Yuri sementara Jessica yang kini masih belum sadar pasca kejadian tadi juga akan ikut terkena dampaknya.

“Jangan halangin gue!! Biar gue bunuh penipu ini!!” Shalgie memberontak hingga membuat Kaiden dan Selene nyaris kewalahan.

Mau tidak mau, Selene melayangkan tinjunya tepat pada rahang Shalgie dan membuatnya terdiam menatap marah pada Selene. Satu tarikan cepat pada kerah kemeja Shalgie membuat jarak antara Selene dan Shalgie begitu sangat dekat sampai Selene dapat merasakan deruan napas amarah Shalgie. “Kalau lo bunuh dia, lo bakal bunuh mommy juga!!”


Setelah Kaiden membawa semua koper ke dalam kamar. Kini semua berkumpul di ruang keluarga. “Jadi apa yang mau lo bahas ke gue?” tanya Jessica.

“Gimana ya gue jelasinnya,” ucap Krystal ragu.

“Tentang apa?”

“Tentang Yuri kak,” jawab Kaiden.

“Yuri? Anaknya Shalgie?”

“Yuri istri lo kak,” ucap Krystal, Jessica mendengar nama mendiang istrinya pun terdiam.

Tak lama Jessica mendengar suara mobil datang, “Kita bahas nanti aja, Selene udah pulang,” ucap Jessica.

“Udah pulang?” tanya Jollie.

“Kamu nggak denger mobilnya udah didepan?” tanya Jessica.

“Engga,” jawab Jollie dengan tatapan polosnya.

“Astaga mommy lupa kamu manusia kan.”


Mobil Selene kini memasuki halaman rumah keluarga Dawson. Mobil tersebut berhenti tepat didepan pintu rumah. Dion sang asisten pribadinya segera turun lalu membukakan pintu untuk Selene. Baru saja kedua kaki Selene menyentuh tanah. Pandangannya ter alihkan oleh sosok misterius berada di luar halaman rumah yang tentu mengarah pada hutan.

“Ma’am?” ucap Dion.

Selene melepaskan coat lalu memberikan pada Dion. Ia melepaskan kedua kancing lengan kemejanya lalu melipatnya, “Lo bawa pizzanya ke Jollie dan suruh semuanya penjaga siaga,” ucapnya.

“Ma’am anda masuk aja, biar saya yang urus,” ucap Dion.

“Kali ini biar gue yang urus, lo jagain Jollie,” Selene mengambil sebuah pistol dari mobil. Ia memeriksa terlebih dahulu amunisi. Masih Penuh. Secepatnya ia berlari menuju hutan untuk mengejar sosok misterius yang selama ini mengintai nya.

Terpaksa Dion menuruti perintah bossnya. Ia mengerahkan seluruh penjaga untuk bersiaga. Lalu ia segera masuk sembari membawa pesanan Jollie. Ketika ia masuk ke ruang keluarga, semua orang disana menatapnya dengan heran.

“Selamat sore ma’am, ini pesanan anda,” Dion menaruh kantung yang berisikan pizza lima box pada meja.

“Selene mana?” tanya Jollie.

“Umm….”

“Ada masalah apa? Kenapa kamu nyuruh penjaga bersiaga?” Jessica bangkit dari sofa dan menatap Dion tajam.

“Ma’am Selene sedang mengejar sesuatu ke dalam hutan,” ucap Dion

DOR!!

“AAHH!” mendadak Jessica meringis kesakitan. Ia merasakan sakit pada bahunya.

Seluruh orang terkejut melihat Jessica kesakitan, “Shit!” Krystal menghampiri Jessica, lalu memeriksa bahunya. Tidak terdapat luka serius namun terlihat ruam merah.

“Yang kejar Selene!” ucap Krystal.

“Iya sayang,” segera Kaiden mengejar Selene.


Selene sekuat tenaga mengejar sosok misterius yang sudah berani masuk ke wilayahnya. Sosok tersebut mengenakan jubah hitam dan menggunakan buff hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Sama seperti yang ia lihat tempo hari.

Merasa kesal, Selene menembak bahu sosok tersebut. Ia mengira akan menghindar, namun tembakan nya berhasil masuk ke dalam bahu sosok berjubah hitam. Sosok tersebut tersungkur ke tanah menahan rasa sakit pada bahunya yang sudah mengeluarkan darah banyak. Lantas Selene mendekatinya lalu menempelkan pistol pada kepalanya.

“Beraninya lo masuk ke teritorial gue, siapa lo?!” ucap Selene.

“Aahh fuck! Vervain! Haha ternyata kamu sudah besar Selene,” ucap sosok berjubah hitam.

“Jawab atau gue tembak kepala lo?!!”

“Selene!! Dia bukan musuh kita!” ucap Kaiden yang baru saja datang.

“Apa maksud lo?”

“Dia bukan musuh kita Lene.”

Merasa Selene ter alihkan oleh Kaiden. Sosok berjubah hitam perlahan berdiri, lalu membuka tudung kepala dan buffnya, kemudian berbalik menatap Selene. Pistol yang di genggam erat jatuh begitu saja ketika Selene menatap sosok tersebut.

“He’s right, I’m not your enemy.”

Selene tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya sangat lemas. Ia terjatuh. Tatapan nya sangat terkejut. “A-aunty Yuri?”

“Yeah I’m Yuri, your aunty, and now your mother, come on get up, baju dan celana mu akan kotor,” Yuri mengulurkan tangan padanya.

“H-hhhoow?”

“Ceritanya panjang, nanti mama jelaskan,” ucap Yuri.


“KAAAAAAAAAKKKKKKK!!”

“Krystal berisik!” sahut Jessica sembari menuruni anak tangga.

“Hehe, kok sepi sih pada kemana?” Krystal melirik kanan kiri tak melihat satu orang pun kecuali sang kakak. Jessica.

“Pada kerja, Jollie sih ada di kamarnya, tumben banget lo kesini? Ada kerjaan di sini?” Jessica menghampiri Krystal lalu memeluknya.

“Liburan aja gue kesini hehe kangen kakak gue soalnya uuuuuu,” Krystal memeluk erat tubuh sang kakak.

Jessica segera melepaskan pelukan, lalu menatap aneh pada wajah sang adik, “Dih tumben banget lo, oh iya Kaiden mana?”

“Lagi bawain koper ke kamar hehe,” jawab Krystal.

Tak lama Kaiden muncul sembari membawa 2 koper besar. Jessica hanya menggelengkan kepalanya. Sudah tak heran kalau sang adik memang sangat mementingkan style.

“Pasti itu baru punya lo kan?” tanya Jessica.

“Iya lah, sayang di kamar bawah aja, aku males di kamar atas,” ucap Krystal pada Kaiden.

“Siap sayangku! Hi kak! Makin muda aja hehe,” ledek Kaiden sembari melewati Jessica dan Krystal menuju kamar yang diminta sang istri.

“Astaga pusing deh gue kalo ada lo sama dia,” Jessica memijat pelan kening nya.

“Sebenernya sih ada yang mau gue omongin sama lo tentang–”

“Eh Jollie sini turun, kenalin ini adik mommy, Krystal,” ucap Jessica.

Jollie pun menurut lalu ia menuruni anak tangga dan menghampiri Jessica dan Krystal, “Mommy kok nggak bilang kalau kak Krystal adik mommy.”

“Loh kalian udah kenal?” Jollie dan Krystal mengangguk bersama.

“Kita pernah ketemu di studio New York,” ucap Jollie

“Maaf ya kemarin nggak bisa datang ke pernikahan lo, soalnya jadwal pemotretan padet banget hehe,” ucap Krystal.

“Haha iya nggak apa-apa kak, berarti aku panggilnya apa?” tanya Jollie.

“Please jangan AUNTY! I hate that! Nama atau kakak aja kaya biasa karena gue seumuran sama istri lo, dan beda setahun sama lo, anak lo aja yang panggil gue aunty,” ucap Krystal.

“Sok muda padahal sejajaran sama gue,” celetuk Jessica.


“Sayang aku mau nanya.”

“Tanya aja,” Selene memeluk erat tubuh Jollie dari belakang.

“Kenapa mommy sama daddy kamu perginya barengan sama orang tua Waynne dan mamanya Shalgie?” tanya Jollie sembari mengusap lengan Selene.

“Awalnya kita berbeda pack–”

“Pack itu apa?” potong nya.

“Pack itu sama seperti layaknya kelompok atau group, dalam pack itu ada seorang pemimpin disebut alpha dan luna adalah pasangan dari sang alpha, paham kan sampai sini?” tanya Selene yang di jawab anggukan oleh Jollie.

“Di bawah alpha itu ada beta, beta itu sama seperti wakil ketua di dalam organisasi, seperti aku di kantor,” lanjut Selene.

“Jadi kamu beta?” tanya Jollie.

“Ya enggak dong, aku alpha, tapi untuk di kantor memang iya seperti beta haha, uncle John itu beta terpecayanya daddy dulu, balik lagi ke awal aku, Shalgie, dan Waynne itu dari berbeda pack.”

“Terus-terus?”

“Aku dari pack Saint Clair, Shalgie dari pack Dawson, dan Waynne dari pack Greyson. Daddy, uncle Juan, dan mama Yuri itu bersahabat, dan mereka membuat perusahaan yang sekarang Shalgie dan aku pegang. Awal perusahaan dibikin itu jasa import eksport barang, saat itu aku masih umur 5 tahun. Karena ada oknum yang mencoba menyelundupkan narkoba dan di tolak sama mama Yuri, mereka secara brutal nyerang kantor,” jelas Selene.

“Ya Tuhan! Tapi mommy dirumah kan saat itu?” Jollie berbalik badan lalu menatap Selene.

“Memang, aku lagi main sama mommy di halaman belakang, entah bagaimana kejadian saat itu di kantor, tiba-tiba mommy jatuh dan merintih kesakitan, darah keluar dari tubuh mommy begitu aja, aku ketakutan, dan berfikir itu karena perbuatan ku, Waynne pun sama, ternyata sekarang aku paham apa yang di maksud mommy Jessica kemarin, itu karena binding, di tambah mommy adalah manusia, sama sepertimu,” kini mata Selene berkaca-kaca. Jollie mengusap lembut pipinya membuat air matanya sukses jatuh.

“Kamu takut?”

“Yeah, I’m sorry,” tangis Selene pecah. Ia sudah tidak dapat menahannya. Kerinduan dan ketakutan bercampur aduk. Jollie segera menarik tubuh Selene lalu memeluknya dengan erat.

“Aku percaya kamu bisa ngelindungin aku dan baby, aku tau kamu kuat kok sayang, jangan takut ya, dan kejadian dulu bukan salah mu, mungkin udah jalannya Tuhan seperti itu, membuat kamu, Shalgie, dan Waynne semakin kuat, aku sama sekali merasa tidak menyesal jadi apa itu namanya.”

“Mate.”

“Nah iya ituuu, aku nggak pernah ada rasa menyesal jadi mate kamu, malah aku bersyukur punya pasangan seperti kamu, tenang aja aku kuat kok, buktinya kemarin aku cepetkan sembuhnya, padahal rasanya sakit banget tau tonjokan Shalgie,” lanjut Jollie.

“Emang anjing itu anak, aku masih kesel sama dia, tapi kamu beneran udah nggak sakit?” tanya Selene dengan wajah khawatir sembari mengelap ingus nya yang meler.

“Beneran sayang aku udah nggak ngerasa sakit, aku juga nggak tau bisa gitu,” jelas Jollie.

“Aneh banget, apa mungkin karena baby? Nggak mungkin sih, dulu seingatku kalau mommy luka akibat ulah daddy pasti sembuhnya itu lama.”

“Mungkin aku wonder woman hoho.”

“Iya wonder woman, sexy kaya Gal Gadot.”

“Ngomong sekali lagi aku gigit kamu.”

“Sexy kaya Gal Gadot~”

Jollie menggigit kuat bahu Selene hingga merintih kesakitan. Bukan hanya Selene namun Jollie juga.

“Awwwwww~” ringis Jollie sembari memegangi bahunya.

“Don’t do that again! Please!!”

Dari kejauhan terdapat seseorang berjubah hitam berdiri di tengah hutan sedang memantau Selene dan Jollie yang masih berada di makam orang tua Selene.

“I got you~” orang misterius tersebut menyeringai.

Seperti ada yang mengawasi, Selene menoleh ke arah hutan. Matanya mencari sesuatu. Merasa ada yang aneh dengan Selene, Jollie menarik dagu Selene hingga pandangannya teralihkan.

“Kamu ngeliatin apa?” tanya Jollie.

“Nggak ada apa-apa, kedalem yuk uncle John udah nungguin,” Selene bangkit, lalu membantu Jollie untuk berdiri.


“Hi mom!” sapa Waynne yang baru saja pulang. Ia mendekati Jessica yang tengah membaca majalah bersama Jozzy dan Arine, kemudian ia mengecup pipi Jessica.

“Hi sayang, kamu udah makan?” Jessica mengusap kepala Waynne.

“Belom dooong, kan aku mau makan masakan mommy, eh ada istri aku yang paling cantik,” Waynne menghampiri Jozzy dan duduk disebelah nya. Ia mengecupi wajah Jozzy.

“Astaga! Waynne! Kamu bau ih!!” Jozzy mendorong wajahnya agar menjauh darinya.

“Bau apanya? Wangi gini juga,” Waynne kebingungan.

“Kamu abis operasi cewekan?” tanya Jozzy.

“Kok tau?”

“Baunya nempel ish dibadan kamu! Nggak suka aku! Sana mandi!” Jozzy mendorong tubuh Waynne.

“Hey kalian mau sampai kapan nunda punya anak?” pertanyaan Jessica membuat Waynne dan Jozzy terdiam.

“Aku sih gimana Jozzy mom,” ucap Waynne.

“Hehe sabar ya mom bulan depan aku beres kok syutingnya, abis itu lepas KB,” ucap Jozzy.

“Jangan lama-lama dong, masa kalah sama Selene,” ucap Jessica.

“Yuri mana Rine?” tanya Waynne pada Arine.

“Lagi main sama Shalgie dibelakang,” jawab Arine.


“Mama!”

“Apa?”

“Sini deh! Liat aku nemu apa!”

Shalgie bangkit dari kursi taman. Ia menghampiri Yuri yang cukup jauh dari tempat ia duduk. Ia melihat Yuri tengah berjongkok di dekat pohon besar. Entah apa yang ditemukan oleh Yuri, ‘Paling juga batu atau nggak ranting pohon’ batinnya.

“Nemu apa kamu?” kini Shalgie berdiri tepat di belakang Yuri.

“Mama! Liat aku nemu hamster!” Yuri berdiri lalu menunjukan hawan yang ia genggam pada Shalgie. Melihat hewan tersebut bukanlah hamster, Shalgie melompat mundur lalu menggeram.

“Itu bukan hamster Yuri! Itu tikus!! Lepasin!!” ucap Shalgie.

“Bukan? Kok mirip? Tapi ini lucuuuuu, aku pelihara boleh?” tanya Yuri.

“GAK! BUANG!”

“Kenapa sih?!” Yuri memanyunkan bibirnya.

“Itu kotor sayang, udah buang! Nanti mama beliin hamster beneran!”

“Nggak mau!! Maunya ini!!” Yuri mendekat ke arah Shalgie, namun lagi-lagi Shalgie menjauh dari Yuri.

“Moon Goddes!! Lepasin Yuri!!”

Mengerti mengapa ia tidak memperbolehkan oleh Shalgie. Yuri menyeringai menatap Shalgie. “Hehe mama takut ya sama tikus?”

“Enggak! Kata siapa?” elaknya.

“Ayo pegang kalo gitu,” Yuri kembali mendekati Shalgie.

“ASTAGA YURI STOP!”

“Hahahaha~ Hayoooooooo~” kini Yuri mengejar Shalgie yang lari menuju dalam rumah.

“MOM!! MOM!! MOM!!” Shalgie menghampiri Jessica. Ia melompat ke atas sofa dimana Jessica duduk lalu memeluk erat Jessica.

“Hahahaha! Mama takut sama tikus!” ledek Yuri.

“Astaga ini apaan sih! SHALGIE!!” teriak Jessica.

“Mom ih itu Yuri megang tikus!” Shalgie menunjuk ke ara Yuri.

“Itu cuma tikus Shalgie!”

“Tapi kan jorok mom astagaaaa.” Shalgie membenamkan wajahnya pada punggung Jessica.

Arine yang sedari tadi melihat kelakuan istri dan anaknya hanya menghela napas, “Kamu nemu dimana itu tikusnya?” tanya Arine pada Yuri.

“Aku nemu di pohon situ mommy! Bolehkan aku pelihara mom?” Yuri menghampiri Arine dan menunjukan tikus yang sedari tadi ia genggam.

“Kenapa mau pelihara tikus hm?” Arine mengusap lembut kepala Yuri.

“Soalnya lucu mommy tuh liat kakinya kicik sekali~ hih gemes!” Yuri memainkan kaki tikus.

“Nggak boleh sayang, tikus itu kotor, bener kata mama, tikus itu membawa penyakit, nanti Yuri kalo sakit gimana? Nanti mommy sama mama sedih,” ucap Arine.

“Gitu kah? Yaudah deh aku lepasin, mommy ayo temenin aku ke pohon belakang,” ajak Yuri.

“Sama aunty Waynne aja tuh, perut mommy lagi nggak enak sayang,” ucap Arine.

“Aunty Waynne ayo temenin aku lepasin tikusnya~”

“Let’s go!” Waynne menggendong Yuri lalu mendudukinya pada bahunya.

“Hihihi tinggi! Go! Go! Go!”

Melihat Waynne dan Yuri menghilang dari ruang keluarga. Arine bangkit dari sofa perlahan. Ia menghampiri Shalgie yang masih saja memeluki Jessica. Kemudian ia menarik kuping Shalgie. “Pijitin aku di kamar, pinggul aku pegel banget.”

“Aw! Aw! Aw! Iya iya sayang aku pijitin tapi lepasin dulu kuping aku!”

“Nggak mau!” Arine menarik kuping Shalgie hingga menuju kamar mereka.


“Kita mau kemana sih?”

“Kayanya kamu penasaran banget deh.”

“Emang nggak boleh aku kepo?”

“Boleh dong hehe, marah-marah mulu nih bumil satu,” Selene mengusap perut Jollie semabari fokus menyetir.

“Lagian kamunya juga nyebelin,” Jollie menepuk tangan Selene agar menjauh dari perutnya.

“Maaf ya sayang,” Selene menarik lengan Jollie lalu mengecup punggung tangannya.

“Hmm,” deham nya.

Kini mobil yang dikendarai oleh Selene memasuki jalan kecil menuju ke dalam hutan. Sangat sepi. Hanya ada mobil Selene. Jollie menarik ujung baju Selene lalu meremas nya. Ia merasa ketakutan.

“Kita mau kemana sih Lene? Kamu nggak bakal buang aku disini kan?!” tanya Jollie dengan panik.

“Pfftt!! Ya Tuhaaaaan~ mana ada sih diotak aku buat buang kamu, jangankan buang kamu, aku ditinggal kamu ke kamar mandi aja galaunya setengah mati!” Selene menarik tangan Jollie lalu ia menggenggam nya dengan erat.

“Kan siapa tau aja! Kamu kan jail!” Jollie memanyunkan bibirnya.

“Engga dong sayang, nih dah sampe kok,” Selene membelokkan mobilnya pada sebuah halaman rumah yang terlihat cukup tua namun memiliki halaman yang sangat luas.

Selene memarkirkan mobilnya didepan rumah tersebut. Kemudian ia turun dari mobil lalu membukakan pintu Jollie. Tak lupa ia membantu sang pujaan hatinya turun dari mobil.

“Sayang ini rumah siapa?” Jollie menatap rumah tua tersebut.

“Ini bukan rumah untuk tempat tinggal, tapi ini rumah duka milik keluarga Dawson, ayo masuk nanti aku jelasin,” Selene merangkul pinggang Jollie lalu berjalan masuk ke dalam rumah tersebut tak lupa ia membawa boquet bunga yang sudah ia beli tadi.

“Selene!”

Sang pemilik nama dan juga Jollie menoleh ke asal sumber suara. Terlihat seorang pria tua dengan badan tegap menghampiri mereka berdua.

“Uncle John!” Selene mendadak memeluk erat pria tersebut membuat Jollie sedikit terkejut.

“Haha udah besar aja ya kamu sekarang!” John menggusak kasar kepala Selene membuat rambutnya berantakan.

“Iya lah masa mau kecil terus! Oh iya uncle kenalin ini Jollie Eve, sayang kenalin ini uncle John!” Selene memperkenalkan Jollie dengan John.

“Wow cantiknya mate mu Lene~ Perkenalkan saya John, unclenya Selene,” John mengulurkan tangannya lalu di terima oleh Jollie.

“Hi, Jollie Eve,” Jollie tersenyum malu.

“Udaaaahh jangan lama-lama,” Selene melepaskan jabatan tangan mereka.

“She’s like your mom,” ucap John.

“Yeah I know, uncle aku kebelakang sebentar ya, nanti kita ngobrol lagi,” ucap Selene sembari menarik lengan Jollie.

“Ya! Ya! Ya! Uncle buatkan kalian teh hangat nanti,” ucap John.

“Okay~” Selene dan Jollie berjalan menuju halaman belakang.

Terlihat banyak sekali batu nisan yang tergeletak rapi di atas tanah. Begitu banyak. Jollie terdiam. Bunga yang ia kira untuknya ternyata untuk seseorang yang sudah tidak ada. Tapi ia belum tahu jelas siapa yang akan Selene temui.

“Kok diem?” Selene melirik sekilas wajah Jollie lalu kembali melihat ke arah setiap batu nisan yang mereka lewati.

“Kamu mau ketemu siapa?” tanya Jollie.

Langkah Selene terhenti lalu menunjuk ke arah batu nisan yang terukir nama Dean Saint Clair & Evelyn Saint Clair, “Hi dad, Hi mom, maaf aku baru bisa kesini lagi,” Selene menaruh boquet bunga tepat disebelah batu nisan kedua orang tuanya.

Selene mengajak Jollie untuk duduk di hadapan batu nisan tersebut. Jollie menurut dan duduk tepat disebelah nya. Selene menatap Jollie dan tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Jollie.

“Dad, Mom, kenalin ini Jollie Eve calon istri aku, cantik kan? Kaya mommy hehe,” Selene terkekeh pelan.

“Halo calon mertuanya aku, makasih ya udah lahirin sosok Selene, dia sangat romantis, baik, pintar, walau jail juga, tapi aku sayang banget sama Selene,” Jollie memeluk erat tubuh Selene dan menyandarkan kepala pada bahunya.

“Jailnya nurun dari daddy tau,” ucap Selene.

“Oh ya? Berarti dulu mommy kamu pusing ya ngadepin kamu sama daddy kamu,” ucap Jollie.

“Kok kamu tau sih?”

“Sudah terbayang di otak aku tau, wlee,” Jollie menjulurkan lidah pada Selene.

“Awas loh nanti di datengin daddy,” ucap Selene.

“IIIHHH!!” Jollie memukul keras bahu Selene, “JANGAN SUKA GITU KENAPA SIH?!!”

“Aw! Hahahahaha~ bercanda sayang.”


“Kenapa? Pasti Selene ya?” ucap Jessica.

“Iya tau tuh lebay banget,” jawab Jollie sembari cemberut.

“Mereka emang begitu, super lebay jadi biasakan diri aja,” Jessica terkekeh.

Jollie menghela napas, ia melanjutkan tugasnya memotong sayuran untuk sajian makan siang nanti. Sudah jadi tradisi keluarga Dawson jika berada di satu kota yang sama, diwajibkan untuk makan siang dan malam bersama.

“Mom.”

Jessica dan Jollie menoleh ke asal sumber suara, ternyata Selene sudah sampai terlebih dahulu, “Halo~” Selene menghampiri Jessica lalu mengecup pipi sang ibu. Namun matanya terus terkunci pada sosok wanita yang mengenakan hoodie biru muda. Jollie.

“Tumben jam segini udah pulang, Shalgie sama Waynne kemana?” tanya Jessica.

“Shalgie nganterin Arine beli perlengkapan baby, kalo Waynne katanya nggak bisa kesini mom, dia ada jadwal operasi paling Jozzy yang pulang katanya,” jawab Selene sembari berjalan menuju Jollie.

“Apa sih ngeliatinnya begitu?” tanya Jollie yang merasa risih ditatap oleh Selene sedari tadi.

“Kan tadi aku suruh istirahat dikamar,” ucap Selene.

“Bosen tau di kamar terus!”

“Yaudah kamu istirahat aja Jollie, serahin pisaunya ke Selene, kamu bantu mommy masak cepet!” celetuk Jessica.

Selene mengangguk patuh. Ia menggulung kemeja lengannya lalu mencuci kedua tangannya hingga bersih. “Ayo sini kamu cuci tangan,” ucap Selene menunggu Jollie di depan wastafel.

Jollie menghela napas panjang. Ia mengikuti perintah Selene kemudian berdiri di depannya. Selene dengan sigap mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jollie. Lalu membantu Jollie membersihkan tangannya dengan lembut. “Aku bisa sendiri loh~”

“I know, tapi apa salahnya aku manjain bumil,” Selene mengecup pipinya.

“Selene ih! Ada mommy!” seketika pipi Jollie merah merona.

Selene hanya terkekeh pelan. Ia mematikan keran lalu mengeringkan kedua tangan Jollie menggunakan tissue. “Dah duduk sana, biar aku yang masak,” Selene meremas pelan bokong Jollie. Sontak Jollie berbalik badan lalu menendang kakinya dengan keras.

“AKH!!” Selene merintih kesakitan sembari memegangi kakinya.

“Okay sayang aku bakal duduk hehe,” Jollie tersenyum menang kemudian menuju meja makan.

“Anjrit sakit banget~” Selene mengusap-usap kakinya yang masih terasa nyeri.

“Makanya jangan suka jail sama bumil, kena kan,” celetuk Jessica.


“Sayang gimana masih sakit?” Selene menatap Jollie dengan khawatir sembari mengusap lembut kepalanya.

Jollie tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, “Udah nggak terlalu, kata dokter apa? Babynya nggak kenapa-kenapa kan?”

“Baby baik-baik aja sayang, maafin aku ya sayang,” tanpa sadar air mata Selene jatuh. Ia menangis.

“Eh kok nangis?” Jollie menangkup wajahnya, lalu mengusap pipinya perlahan, “Sini bobo.”

Selene menuruti perkataan Jollie. Ia merebahkan tubuhnya disebelah Jollie dan memeluk erat tubuhnya. Jollie pun membalas pelukan nya.

“Udah ya jangan nangis sayang, aku nggak apa-apa kok, baby juga kan,” ucap Jollie. Selene membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jollie.


“Grandma!” teriak Yuri sambil berlari menuju Jessica.

“Hi sayang!” Jessica langsung menggendong Yuri yang masih berumur tujuh tahun.

“Grandma kok baru kesini sih?” ucap Yuri.

“Maaf ya sayang, grandma kan kerja di New York, jadi baru bisa kesini sekarang,” Jessica mengusap kepala Yuri.

“Hi mom,” sapa Arine yang baru saja masuk lalu memeluk Jessica.

“Hi Arine, gimana ini si kecil sehat?” Jessica mengusap perut Arine yang sudah menginjak 28 minggu.

“Sehat mom hehe, oh iya Shalgie dimana mom? Kok sepi?” tanya Arine.

“Lagi mommy hukum di halaman belakang,” jawab Jessica.

“Mama lagi dihukum grandma? Pasti mama tadi nakal ya grandma?” tanya Yuri.

“Kok kamu pinter sih? Pasti pinternya turun dari mommy kamu, mama sama aunty Waynne lagi grandma hukum potong rumput halaman belakang pake gunting,” ucap Jessica.

“Pfftt! Serius mom?” Arine menahan tawa.

“Liat aja gih.”

“Aku mau liat! Aku mau liat mama!”