Taste Series : The Truth Three
Percakapan panjang bersama anak-anaknya pun berakhir. Yuri akhirnya dapat menemui Jessica yang masih berada di kamar. Begitu masuk, pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sang istri masih terbaring di ranjang dan seorang gadis muda yang kini menatap canggung ke arahanya.
“Umm, kalau gitu aku keluar dulu ya mom,” katanya sambil beranjak dan tesenyum kaku melewati Yuri.
“Kamu istrinya Selene?” tanya Yuri sebelum Jollie benar-benar keluar dari kamar.
Jollie mengangguk, “Iya, M-ma’am,” katanya tak yakin harus memanggil wanita di hadapannya dengan sebutan apa.
Sebutannya berhasil membuat Yuri terkekeh pelan, “Panggil aku mama,” ucapnya.
Jollie mengangguk mengerti kemudian segera pergi dari sana setelah menyadari tatapan Jessica yang telah menyorot tajam ke arah mereka. “Don’t look at me like that, love,” lirih Yuri dengan senyuman ironi.
“Don’t you fucking dare!” bengis Jessica ketika Yuri mendekat.
Wanita itu bangkit dari posisinya yang tengah berbaring kemudian berdiri dengan limbung dihadapan Yuri, “Who are you?” desisnya seraya secepat mungkin menepis tangan Yuri yang berusaha meraih tubuhnya.
“Ini aku sayang, your wife,” balas Yuri dengan mata yang tak lepas dari sosok istrinya.
Jessica tertawa keras, namun dengan air mata yang tanpa sadar menetes membasahi pipinya, dan itu cukup untuk membuat Yuri merasakan sesak di dadanya.
“Istriku mati dua puluh tahun lalu, dan kamu–” Jessica menunjuk wajah Yuri dengan mata tajamnya yang memerah dipenuhi segala emosi yang bergejolak menyerang bersamaan. “Jangan berani-beraninya menipuku!” wanita itu menyentak.
“Love…,” suara Yuri bergetar. “Aku bisa jelasin semuanya,” lanjutnya.
Jessica menggeleng, mengusap air matanya dengan kasar, “Jelaskan apa? Soal istriku yang ternyata masih hidup dan dengan seenaknya meninggalkan anak dan istrinya menderita disini? Atau tentang istriku yang nggak berusaha menghubungi keluarganya yang selama ini mengira dia telah mati? Yang mana?! Mana yang mau kamu jelaskan?! Karena istriku tidak mungkin melakukan hal itu padaku, bajingan!!!” Teriak Jessica histeris.
Air mata Yuri ikut mengalir. Tangannya berusaha kembali meraih Jessica namun wanita itu bergerak mundur hingga jarak diantara mereka semakin jauh. “There is so many things happened baby, aku berusaha buat kembali, for mongoddes! I’ve tried! B-but it’s not that easy…,” Yuri berusaha berkata sejelas mungkin ditengah rasa mencekik yang seakan menekan kuat lehernya.
“But I’m here now, aku disini buat jelasin dan perbaiki semuanya, tolong kasih aku kesempatan untuk buktikan kalau aku masih Yuri yang sama dahulu, aku yang berdiri dihadapan kamu sekarang adalah orang yang sama yang menikahi kamu tiga puluh satu tahun yang lalu love, please…,” suaranya bergetar hebat diakhir kalimat.
Jessica yang dibutakan amarah kini mengangguk dengan tawa dan air mata yang sama. Tangannya bergerak meraih sebuah gunting yang tergeletak diatas nakas sebelah tempat tidur. Menatapnya sekilas kemudian beralih menatap bengis ke arah Yuri. “Kalau begitu buktikan bersama!” katanya sambil menodongkan benda tajam yang digenggamnya ke arah Yuri.
“Jangan, aku mohon, jangan… Kamu tau itu akan menyakitimu dan aku nggak mau itu terjadi, so please, don’t do that…,” mohon Yuri dengan mata yang bergetar.
Jessica terkekeh meremehkannya, “I can’t feel my wife for years! FOR! YEARS! So nggak akan ada yang terjadi if I even kill you because you’re not my wife!!” teriak Jessica dan dengan gerakan cepat, gunting tersebut telah melesak masuk menusuk perut Yuri yang hanya berdiri beberapa langkah dihadapannya.
“Arrgghh! Fuck! FUCK!”
“Jessica!!”
Pekikan mereka terdengar bersamaan dengan jatuhnya tubuh Jessica. Darah segar mengalir dari perut Jessica seiring dengan gerakan Yuri yang mencabut gunting pada perutnya.
“What are you doing?!” Yuri menggeram marah dengan air mata yang mengalir semakin deras melihat kondisi istrinya.
Ia tak peduli dengan kondisi dirinya sekarang. Ia akan pulih dalam waktu singkat, namun tidak dengan Jessica. Darah semakin banyak keluar dari luka di perutnya. Tanpa berpikir panjang Yuri merobekan kulit pergelangan tangannya untuk memberikan darah miliknya pada Jessica.
“Sayang please minum ini,” Yuri membantu membukakan mulut Jessica agar darah miliknya masuk ke dalamnya. Dengan kesadaran yang masih ada, Jessica menahannya karena ia tidak mau meminum darah musuh keluarganya. Bahkan dari istrinya pun.
“For mongoddes! Jessica please!! I don’t want you die!!! Please baby, I don’t want to lose you again…,” lirihnya sembari berusaha sekuat mungkin untuk memasukkan darah pada mulut Jessica.
Jessica menatap kedua mata Yuri yang bergetar dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ya, dia berhasil. Dia berhasil membuktikan kalau wanita yang mendekapnya saat ini adalah istrinya. Yuri Dawson.
Dengan perlahan Jessica membuka bibirnya yang tertutup rapat. Ia mempersilakan Yuri untuk memberikan darahnya untuknya. Melihat sang istri membuka mulutnya, dengan cepat Yuri memasukan darah yang hampir habis menetes akibat luka yang akan segera menutup rapat pada pergelangannya. “Minum lah, tidak akan membuatmu berubah, hanya membantumu untuk pulih dengan cepat,” ucap Yuri.
Jessica pun menurut. Ia menelan darah Yuri yang hanya sedikit didalam mulutnya. Walau sedikit, lukanya saat ini dengan sangat cepat menutup pulih. Yuri pun memeriksa luka di perut Jessica. Hilang. Hanya tertinggal sisa darah yang menempel pada kulit dan baju Jessica.
Dengan gerakan cepat, Jessica kini memeluk erat leher Yuri lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri. “Please don’t do that again!” ucap Yuri dengan nada cemas dicampur kesal.