noubieau

Welcome to noubie universe.


“Are you happy today?” bisik Wira pada Kellin yang berada di dalam dekapannya.

Kellin mengangguk pelan dan tersenyum, “So much! Thank you for today baby.” Kellin mendusalkan wajahnya tepat di dada Wira.

“Anything for you babe, let’s get to sleep,” Wira mengusap lembut kepala sang kekasih.

Lambat laun deruan napas Kellin terdengar tenang. Menandakan bahwa ia sudah terlelap tidur dalam pelukan Wira. “Happy birthday for my loving girl, I don’t care about any condition hit us, I’ll still love you,” bisiknya lalu mengecup lama kening Kellin. “Please be happy.” Suaranya bergetar dan hampir tidak terdengar jelas. Wira menangis dalam keheningan.


“Duduk sini,” ucap Kellin.

Wira diam menuruti kekasihnya sembari menatap dengan tatapan polosnya. “Masih marah?”

“Nggak,” jawab Kellin singkat. Ia tengah sibuk melipat sebuah kain menjadi lipatan kecil.

Wira menatapnya bingung. Tak berani mengusik ketenangan kekasihnya yang terlihat sangat tidak bersahabat kali ini. Diam sembari mengayun-ayunkan kaki adalah jalan terbaik untuk tidak menyulut emosi Kellin.

“Buka mulutnya,” ucap Kellin.

“Buat?” tanya Wira dengan bingung.

“Buka aja! Banyak nanya!” bentaknya. Wira ciut seketika kemudian membuka mulutnya agak ragu. Dengan cepat Kellin memasukkan kain yang ia lipat ke dalam mulut Wira.

“Jangan dilepas,” ucap Kellin. Wira mengangguk pasrah.

Kellin mengambil obat merah yang sudah ia beli tadi. Membukanya lalu menuangkan pada selembar kapas. “Bissmillah,” Kellin perlahan mengobati luka pada ujung bibir Wira.

Saat kapas yang berisikan obat merah menempel pada luka. Wira mengerang kesakitan. “RRRGGGGHHHHHHH!!” Untung saja Kellin sudah menyumpal mulut Wira. Kalau tidak ia dapat di grebek warga karena mendengar teriakan Wira.

Karena belum sepenuhnya terkena obat merah Kellin menahan kepala Wira yang bergerak tidak karuan lalu menempelkan kembali obat merah pada lukanya. “RRGGGHHHHHH AKKIITTTT RRRRGHHHHHH!!” Wira memberontak agar Kellin melepaskan kapas pada lukanya. Nihil. Kellin tetap menahannya sembari tersenyum padanya. Alhasil air matanya tak terbendung. Wira menangis. “RRGGHHH MPUUUNNNN!! MMPUUUNNN!!” Kakinya terhentak-hentak pada lantai.

Kellin pun melepaskannya. “Kalo pacarnya kasih tau jangan batu ya sayang,” ia tersenyum menang. Wira mengangguk cepat dengan terisak karena masih merasakan sakit akibat obat merah yang diberikan Kellin.


Sedari tadi Wira tidak melepaskan genggaman tangannya yang menempel pada jemari Kellin. Tak lupa dengan usapan lembut diberikan oleh Wira pada punggung tangan Kellin.

Wira menghela napas, “Maafin aku ya.” Kepalanya tertunduk tidak berani menatap kekasihnya.

“Nggak apa-apa sayang,” Kellin mengusap kepalanya. “Tindakan kamu bener kok, cuma aku agak kaget aja tadi hehe, soalnya belom pernah liat kamu semarah itu.”

“Ma–”

Cup!

Kellin mengecup bibir Wira sekilas. Lalu ia tersenyum menatap wajahnya yang terkejut. “Jangan minta maaf lagi, aku nggak suka!” dan lagi Kellin mengecup bibirnya dengan cepat.

“Ehem! Masih ada gue ya disini tolong,” sahut Jerico yang sedari tadi sibuk menyetir dan harus mendengar perbincangan duo sejoli di kursi belakang.

“Hehehe sorry coco,” ucap Kellin sembari memeluk lengan Wira dan menyandarkan kepala dengan manja pada bahunya.

“Co kita ke taman safari aja, gue mau liat monyet,” ucap Wira.

“Anying tiba-tiba,” Jerico melirik Wira dari kaca spion.

“Iya gue mau nyerahin lo ke habitat asli lo,” ucap Wira memecahkan suasana sendu melanda sedari tadi.

“Ada anjing anjingnya ya lo bangsat,” ucap Jerico dengan kesal.


Keesokan harinya. Seperti di jam yang sama Wira, Jerico, dan Kellin datang bersamaan ke dalam kelas. Terlihat di dalam kelas susunan duduknya sudah berubah menjadi per kelompok. Tentunya Wira mengambil tempat duduk di paling belakang. Jerico dan Kellin mengikutinya. Wira melirik kanan kiri mencari sisa anggota kelompoknya. Ternyata belum datang.

Wira mengeluarkan laptop miliknya kemudian dinyalakan. Dalih dalih agar tidak ribet ketika di panggil dosen untuk maju persentasi. Karena mereka kelompok pertama. Kalau sesuai dengan urutan sudah pasti mereka yang pertama maju.

5 menit sebelum jam kuliah dimulai dosen sudah masuk terlebih dahulu. Kemudian menyuruh Wira mempersiapkan kelompoknya untuk persentasi. “Maaf pak tapi yang lain ada yang belum datang,” ucap Wira.

“Maju aja dulu, lo test laptop lo bisa ke connect gak sambil nunggu temen lo,” ucap sang dosen.

Wira hanya melirik Kellin dan Jerico. Mereka hanya bisa pasrah. Kemudian bertiga maju ke depan lalu mempersiapkan layar proyektor. Berselang 7 menit Cecil, Hellen, dan Ajeng baru saja datang berikut dengan mahasiswa lainnya. Mereka minta maaf pada dosen karena mereka telat 2 menit. Namun sang dosen menyuruh mereka untuk segera duduk. Dengan cepat Cecil dan yang lain menaruh tasnya di kursi lalu berlari menghampiri Wira yang sudah berdiri didepan.

“Power pointnya kirim ke email gue,” ucap Wira dengan wajah terfokus pada layar laptop.

“Ih!” reaksi Cecil membuat Wira berpaling ke arahnya lalu menatap penuh tanda tanya.

“Sumpah gue lupa bikin Wir, semalem gue ketiduran,” ucap Cecil.

Mendengar penjelasan Cecil membuat Wira, Kellin, dan Jerico terdiam. Terutama dengan Wira. Perlahan ia maju menghampiri Cecil agar menatapnya dari dekat. “Jadi lo nggak bikin sama sekali? Lo dan lo juga nggak ada yang bikin?” tanya Wira sembari menunjuk Cecil, Hellen dan Ajeng bergantian. Mereka hanya mengangguk pelan sembari menunduk malu melihat Wira.

Wira menghela napas panjang. “Keluar lo bertiga dari kelompok gue,” ucapnya.

“Tapi Wir sumpah gue lupa, kita suruh kelompok lain aja buat maju ya, kita bikin cepet deh,” mohon Hellen dan Ajeng pada Wira.

“Ya gak–”

“Siapa suruh juga si Kellin kirimnya malem,” dumalan Cecil memotong pembicaraan Wira. Ia menatap tajam ke arah Cecil. Dengan cepat ia melepaskan kabel HDMI yang tercolok pada laptopnya kemudian ia melemparkan ke arah tembok di dekat pintu masuk dengan keras. Menyebabkan seluruh kelas hening seketika termasuk sang dosen.

“Beraninya lo nyalahin Kellin? Hah!!” teriak Wira menggema sampai terdengar keluar kelas.

“Lo bertiga nggak ngerjain tugas lo dengan benar, udah di kasih yang gampang masih aja lo alesan ini itu dan nyalahin Kellin?! Tolol apa goblok lo bertiga?!! Jawab anjing!!!” teriaknya kembali. Kellin mencoba untuk menahan Wira. Namun di tepis karena Wira sudah tidak tahan.

“Lo bertiga kalo nggak mau kuliah mending lo keluar aja bangsat!! Manusia kek lo bertiga cuma bisa nyusahin orang!! Kalo aja lo cowo udah gue hajar abis sekarang juga!!” napas Wira tersengal-sengal. Perlahan ia mencoba untuk menenangkan diri. Kemudian ia menghampiri dosen kelas yang duduk di kursi mahasiswa paling belakang.

“Kelompok saya siap kena sanksi, bapak bisa kasih tugas lebih ke kita buat persentasi ulang di ruangan bapak, tapi tidak untuk hari ini karena laptop saya rusak, mohon pengertiannya,” ucap Wira kemudian ia mengambil tas dan berlalu keluar kelas tak lupa ia mengambil laptop miliknya yang tergeletak di lantai lalu membuangnya ke tong sampah. Terlihat mahasiswa diluar kelas mengintip ke dalam kelas untuk melihat apa yang terjadi. Kellin dan Jerico panik melihat Wira begitu sangat emosi. Mereka izin untuk tidak masuk lalu mengejar kemana Wira pergi.


Kini Wira dan Kellin sudah berada di kampus. Tidak ada pembicaraan yang muncul selama perjalanan. Kellin merasa kesal dengan keras kepalanya Wira. Bagaimana tidak kesal, Wira memaksa Kellin untuk pergi bersama menggunakan mobilnya. Kellin sempat menolak karena takut tanggapan orang lain melihat dirinya turun dari mobil Wira. Namun Wira tetap bersikukuh agar Kellin tidak menggunakan motornya. Mereka pun berdebat sengit sampai akhirnya Kellin menyerah karena kepalanya sudah terasa pening.

Benar saja dugaan Kellin. Ketika mereka turun dari mobil, orang-orang yang berada di sekitar menatap ke arah mereka, terutama pada Kellin. Ia pun berjalan cepat meninggalkan Wira yang berjalan santai di belakangnya. Keduanya menuju kelas mereka. Tanpa disadari mereka masuk dalam kelas yang sama. Sontak Kellin dan Wira salin menatap satu sama lain dengan penuh tanda tanya.

‘Apaan nih? Kok gue sekelas sama Wira?’

‘Gue nggak salah kelas kan? Kok bisa gue sekelas sama Kellin? Bodo amat ah yang penting bisa liat ayang dikelas hehe.’

Begitulah kira-kira isi dalam kepala mereka. Kellin dan Wira memutuskan untuk duduk berjauhan. Ya bukan tidak mau. Tapi seluruh mahasiswa di kelas menatap mereka bingung. Demi keselamatan bersama.

“Ayang!” pekikan seorang pria membuat semua orang menatap ke arahnya. Jerico dengan wajah cerianya baru saja masuk ke dalam kelas. Ia memilih kursi tepat disebelah Wira.

“Ayang kok cakep banget hari ini? Ganti perfume juga nih mau ketemu siapa sih?” ledek Jerico.

“Apaan sih orang pengen aja ganti perfume,” ucap Wira ketus.

Jerico memicingkan matanya memandang Wira dengan jail. Namun ia menemukan sosok yang menarik perhatiannya. “Loh ayang ku yang satunya kok ada disini? Sini ayang sini duduk sebelah aku,” ucap Jerico dengan semangat.

Merasa terpanggil oleh Jerico, Kellin menoleh ke arahnya. Ia hanya diam. Kemudian mengacuhkannya. Ia memilih untuk mendengarkan lagu menggunakan earphone.

“Wah ayang kedua marah, aku ke ayang kedua dulu ya ayang pertama,” Jerico bangkit dari kursi namun Wira menarik kerah bajunya membuat Jerico kembali duduk.

“Nggak usah macem-macem!” ucap Wira penuh penekanan. Alhasil Jerico hanya mengangguk patuh mengurungkan niatnya untuk pindah di sebelah Kellin.


Semakin malam. Deru ombak saling bersahutan. Hembusan angin yang kuat. Menerpa kulit Kellin yang duduk berdiam diri di tengah pantai memandang kosong laut lepas. Bergetar badannya menahan rasa dingin. Seketika sebuah jaket memeluk tubuhnya memecahkan lamunannya disusul dengan kemunculan seorang wanita yang sudah mendaratkan bokongnya tepat disebelahnya. Ia pun menatap wanita tersebut dengan heran.

“Nanti masuk angin,” ucap seorang wanita yaitu Wira.

“Tinggal minum tolak angin,” sahut Kellin yang kembali menatap laut.

“Ngeyel banget,” ucap Wira.

“Masalah?” terlihat wajah Kellin begitu menahan kesal.

“Marah kah?” tanya Wira yang mengalihkan topik.

“Kenapa harus? Bukan siapa-siapa kok,” Kellin terkekeh pelan namun terdengar menyindir.

Wira sadar jika Kellin sedang dilanda cemburu akibat postingannya di twitter. Perlahan ia menarik tangan Kellin lalu menggenggamnya dengan erat. Tangan Kellin terasa sangat dingin. Ia gosokan perlahan tangannya agar tidak kedinginan terus menerus. Sang pemilik tangan hanya tertegun menatap aksi yang dilakukan Wira. Seketika pipinya terasa panas. Mungkin sudah terlihat merah. Badannya pun merinding. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ketika Wira beralih menatapnya. Tidak ingin tertangkap basah namun sudah terlihat jelas oleh Wira.

“Maaf ya,” ucap Wira.

“B-buat apa?” ucap Kellin terbata-bata.

“Udah bikin cemburu,” jawab Wira.

“Apaan sih,” Kellin mencoba menarik tangannya namun sangat sulit karena Wira menggenggamnya dengan erat. “Di bilang gue bukan siapa-siapa lo ngapain cemburu!”

“Kalo nggak cemburu, coba sini liat gue,” ledek Wira.

“Ogah!” Kellin masih saja tidak mau menatap Wira.

“Okay,” Kellin bernapas lega ketika Wira melepaskan tangannya.

Sempat hening beberapa detik. Mendadak pandangannya tergeser membuatnya menatap wajah Wira begitu sangat dekat. Wira menangkup kedua pipinya. Menguncinya agar Kellin tak mudah terlepas.

“M-mmau ngapain lo?” Kellin panik.

Wira menatap kedua matanya sembari mengusap lembut pipinya, “Mau memastikan kalau orang yang ada di hadapan gue ini adalah milik gue, dan gue bakal pastiin gue juga milik orang tersebut, gue dan Jerico bener-bener nggak ada rasa, semuanya hanya sandiwara yang gue buat untuk menutupi siapa gue sebenarnya dari orang-orang termasuk keluarga, gue mengatakan ini buat ngeyakinin lo kalau gue sungguh-sungguh, sungguh-sungguh ingin jadiin lo milik gue sepenuhnya.”

Kellin terdiam. Ia tidak dapat berkata-kata. Begitu banyak pertanyaan bertebaran di kepalanya. Sampai ia bingung harus menanggapi perkataan Wira.

“Tapi,” ucap Kellin terputus. Ia menjauhkan kedua tangan Wira dari wajahnya.

“Kenapa harus gue? Kenapa lo bisa suka gue? Gue bukan levelan lo, Jerico, Ginata, bahkan Naomi, gue yatim piatu yang hidup dari tunjangan bokap yang dikasih dari perusahaan bokap lo, gue bukan siapa-siapa, gue cuma si kutu buku yang nggak terkenal kaya lo dan yang lain, bahkan motor gue aja beat lama, apa yang lo harapkan dari gue? Gue memang suka sama lo, siapa sih yang nggak suka sama lo secara fans lo banyak, bahkan banyak yang lebih cakep dan tajir, dari sekian banyaknya orang yang suka sama lo kenapa harus gue? Udah bener lo sama Jerico, yang bakal didukung dari berbagai pihak termasuk keluarga lo, gue nggak mau ngerusak citra lo sebagai anak komisaris perusahaan gede, lo gerak dikit aja bakalan jadi sorotan publik, apa kata orang kalo mereka tau lo lesbi dan pacaran sama gue? Gue nggak punya power dan udah pasti gue bakal kalah telak,” lanjutnya.

“Udah? Udah insecurenya?” Wira menaikkan alis kanannya. Kellin hanya diam tak menjawabnya.

Wira menghela napas panjang, “Semuanya bener, nggak ada yang salah, yang salah memang perasaan gue ke lo, memang seharusnya gue sama Jerico atau laki-laki lain, tapi apa lo bakal nyaman kalau hati lo aja nggak sepenuhnya buat mereka? Apa hidup lo bakal tentram? Apa lo bakal senang dengan segala atas pujian dari berbagai pihak kalau hati lo bukan disana? Gue nggak peduli apa kata orang, mereka nggak akan tau apa yang membuat gue nyaman, membuat gue sepenuhnya hidup, apa lo pikir selama gue pacaran sama Jerico gue nyaman? Sama sekali nggak, Jerico pun tau, bahkan gue jadi kasian sama dia karena udah berkorban demi menutupi siapa gue sebenarnya, gue pengen jalanin hidup sebagai Wira yang asli, bukan Wira dengan penuh sandiwara, gue rasa lo pun sama, lo pengen menjadi Kellin yang asli bukan Kellin yang lo bentuk untuk nyenengin orang sekitar, apa salahnya buat nggak munafik sama diri sendiri, orang lain nggak akan peduli saat lo sedih, terpuruk, mereka hanya peduli disaat mereka butuh,” jelas Wira.

“Gue juga nggak peduli harta lo, gue nggak peduli lo yatim piatu, gue nggak mandang itu, gue suka lo karena pribadi lo, otak lo, senyum lo, dan bahkan gue aja nggak tau kenapa bisa suka sama lo, emang ada aturannya kalo suka sama orang harus ada alasannya? Kalo ada berarti yang main bukan hati tapi logika dan akan hilang begitu aja kalo alasannya udah nggak ada di orang itu,” lanjutnya.

Kellin menunduk menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca. Wira menarik tubuhnya lalu mendekapnya dalam pelukan erat. Tangisnya pun pecah. Wira mengusap perlahan kepala Kellin untuk menenangkannya.

“Stop insecure, gue mau lo jadi manusia egois tanpa memikirkan orang lain, nggak usah mikirin kedepannya bagaimana, cukup pikirin bagaimana lo jalanin hidup senyaman-nyamannya hari ini, ayo kenal satu sama lain lebih jauh, lo mau kan?” tanya Wira. Kellin pun mengangguk kecil kemudian memeluk tubuh Wira dengan erat.


Semenjak kejadian dua hari yang lalu. Kellin menjadi lebih diam dari sebelumnya. Entah apa yang ia rasakan atau ia pikirkan tentu membuat Wira semakin merasa bersalah. Sore ini villa sangat sepi, karena Naomi, Ginata dan Jerico sedang berbelanja cemilan di mini market sekitar. Hanya ada Wira dan Kellin yang tengah sibuk menyiapkan makan malam. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hening.

“Kellin,” kini Wira tengah berdiri dibelakang Kellin. Tak ada jawaban. Kellin menghiraukannya.

“Gue tau lo masih marah sama gue, gue bener-bener minta maaf sama lo karena udah lancang waktu itu, apa yang gue bilang saat itu bukan karangan semata, semuanya fakta, guenya aja yang pengecut nggak berani deketin lo karena gue takut lo itu straight, makanya gue nawarin Jerico buat jadi pacar kontrak gue, awalnya buat membiasakan memiliki hubungan dengan laki-laki, tapi gue gagal, akhirnya Jerico cuma jadi tameng gue buat hadepin bokap,” jelas Wira.

Kellin berbalik badan menatap Wira kali ini. “Gue minta–” tamparan keras mendarat di pipi Wira.

Wira terkejut. Ia menghela napas. “Ayo lagi gue tau lo masih marah.”

Lagi Kellin menampar pipi Wira hingga meninggalkan jejak merah di pipinya. Untuk ketiga kalinya Kellin melayangkan tangannya untuk kembali menampar Wira, namun ia urungkan niatnya. Ia menakup kedua pipi Wira lalu mencium bibirnya dengan lembut.

Wira hanya diam mencerna yang terjadi. Sedangkan Kellin tengah sibuk mencumbu bibir Wira. Seperti meinginkan balasan, akhirnya Wira membalasnya tak kalah lembut. Tangan Wira dengan cepat menduduki Kellin pada kitchen set. Mereka saling bercumbu semakin bergairah.

“WHAT THE FUCK ARE YOU DOING?!!” teriak Naomi terkejut melihat Wira dan Kellin saling bercumbu.

Sontak keduanya mengakhiri aksinya. Kemudian mereka menatap ke arah Naomi. Mereka mengiranya hanya Naomi yang melihat, namun terdapat dua orang di belakangnya tertegun dengan mulut terbuka lebar.


Sepanjang jalan suasana di dalam mobil sangatlah hening hanya ada suara dari luar dan alunan musik. Merasa bosan dan sedikit mengantuk, Kellin menghela napas panjang sembari sedikit mengubah posisi duduknya agar kembali nyaman.

“Ngantuk?” tanya Wira yang memecah keheningan yang hampir berangsur satu jam lamanya.

“Hm?” Kellin menoleh menatap Wira seperti tidak mendengar pertanyaannya namun sebenarnya ia dengar. Hanya memastikan saja.

“Kalau ngantuk tidur aja,” Wira melirik sebentar sebelum ia kembali fokus melihat jalanan.

“Dikit, nggak apa-apa kok takutnya lo ngantuk jadi gue temenin,” senyuman tipis tergurat di wajahnya meskipun gelap namun Wira dapat melihatnya dari ujung mata.

“Kalau gitu nyanyi,” ucapan Wira membuat Kellin menatapnya penuh tanda tanya.

“Nyanyi?”

Wira tak kuasa menahan tawanya melihat wajah panik Kellin, “Haha bercanda.”

“Ih apaan sih gak jelas,” Kellin memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah Wira. Bukannya malu namun ia sangat gugup melihat Wira tersenyum.

“Jadi lo suka sama Jerico?” tanya Wira tiba-tiba.

Kellin terkejut lalu segera menatap Wira sembari membenarkan posisi duduknya, “Enggak kok, kapan gue suka sama Jerico, nggak pernah, jangan salah paham ya Wira, gue, gue cuma di ajak main doang sama Naomi.”

Sempat terdiam. Wira melirik wajah Kellin. Terlihat dari raut wajahnya jika Kellin mengatakan sebenarnya. Wira pun tersenyum. “Thanks.”

“Huh? Thanks for what?” Kellin menaikan alis kanannya.

“Thanks for not falling in love with him,” ucap Wira.

“Nggak perlu terima kasih nggak sih, emang udah sewajarnya, kan lo pacarnya, gue bukan siapa-siapa,” jelas Kellin.

“Kalau bukan Jerico yang lo suka, berarti lo suka sama gue?” tanya Wira.

Kellin pun tersedak oleh liurnya sendiri. Panik menyerbu. Ia segera mengambil botol minum miliknya. Meneguknya hingga kandas. Wira tersenyum. Perlahan ia menepikan mobilnya tepat di bahu jalan. Kemudian menyalakan lampu hazard.

Kini Wira dapat menatap Kellin dengan lama, “Jadi bener lo suka sama gue? Sejak kapan?” tanyanya kembali.

“Nggak kok, yang bener aja, gue bukan lesbi,” ucap Kellin.

“Nggak usah bohong sama gue Lin, gue tanya lagi sejak kapan lo suka sama gue?”

Kellin terkekeh pelan kemudian memberanikan diri untuk menatap wajah Wira, “Kalau gue bohong atau jujur apa untungnya buat lo?”

“Penting buat gue,” ujar Wira.

“Kalau gue suka lo dari SMA, lo bakal ngapain?” tanya Kellin membuat Wira terdiam.

“Lo yakin?” Wira menatap lekat kedua mata Kellin.

“Terserah lo deh yang penting gue nggak akan rebut Jerico dari lo, iya gue lesbi, suka sama cewe, puas lo?!”

Sekejap Wira menarik kedua pipi Kellin. Ia mencium bibirnya tanpa aba-aba. Kellin tertegun. Dengan cepat kesadaran Kellin muncul, ia mendorong tubuh Wira lalu menampar keras pipinya.

“Udah gila lo?!” teriak Kellin.


2018

“Wira!” panggil Jerico yang tengah berlari menghampirinya. Terlihat Wira sedang bermalas-malasan di atas mejanya.

“Hm?” sahut Wira dengan malas.

“Ayo main basket!” ajak Jerico.

“Ogah panas,” Wira menutupi wajahnya dengan buku pelajaran.

“Ada si itu,” bisik Jerico.

Sekejap Wira menegakan tubuhnya membuat mulut Jerico terhantam bahunya dengan keras, “Bangsat!” Jerico menutupi mulutnya menahan rasa sakit.

“Ngapain lo?” tanya Wira dengan heran melihat Jerico kesakitan.

“Mulut gue kena bahu lo njing, berdarah nih,” Jerico memperlihatkan bibirnya yang berdarah akibat benturan tadi.

“Mana sini liat?” Wira bangkit dari kursi lalu melihat dengan dekat mulut Jerico. Satu pukulan sedikit keras mendarat di bibirnya. “Bedarah dikit doang, ayo!” Wira segera keluar kelas.

Ketika menuruni anak tangga, ia dapat melihat sosok perempuan tengah membaca buku di bawah pohon rimbun yang tak jauh dari lapangan olahraga dimana teman-teman Wira sedang bermain basket. Perempuan tersebut merupakan Kellin. Sudah menjadi rutinitas Wira bermain basket atau futsal jika Kellin berada di tempat favoritnya. Apabila Kellin tidak terlihat maka Wira memilih untuk tidur dikelas sehabis makan siang. Seperti pepatah mengatakan, menyelam sembari minum air. Sama seperti Wira lakukan, bermain basket dan futsal sembari memperhatikan Kellin dari kejauhan. Namun sayangnya Wira hanya dapat mengagumi Kellin secara diam sampai mereka lulus SMA.


Wira menghela napas, “Sorry, gue udah gila karena lo, kali ini gue nggak mau diam aja, izinin gue buat kenal lo lebih dari sekedar nama dan jurusan kuliah.”

“Lo mabok? Lo udah punya Jerico jangan mainin perasaan orang, Jerico juga punya hati!” ucap Kellin.

“Jerico hanya sekedar pacar kontrak, nothing special,” jelas Wira.


Sekiranya setengah perjalanan, Ginata memutuskan untuk istirahat sejenak di Rest Area jalan tol. Tentu saja Ginata sudah memberi tahu Jerico untuk berbelok ke Rest Area. Mobil Ginata dan Jerico terparkir berdampingan tepat di depan restaurant cepat saji. Untung saja 24 jam. Karena Ginata, Kellin dan Jerico sangat kelaparan dan butuh asupan kafein.

“Gue ke toilet dulu ya Lin,” ucap Ginata.

“Oh iya Gin,” ucap Kellin sebelum Ginata pergi meninggalkannya berdua dengan Naomi di dalam mobil.

“Mi! Bangun!”

“Hm? Udah sampe?” untung saja Naomi dengan cepat tersadar dari tidurnya. Ia menatap sekeliling bingung. “Gina mana?” tanyanya dengan suara serak.

“Ke toilet dia, ayo turun makan dulu, Gina katanya ngantuk,” Kellin pun keluar dari mobil. Ia merenggangkan ototnya karena hampir seluruh badan terasa sangat kaku. Rasanya ingin rebahan di kasur yang empuk.

“Naomi mana?” seseorang berhasil membuat Kellin terkejut. Ia menoleh ke belakang dan melihat Wira tengah berdiri menatapnya.

“Eh, m-masih di dalem, baru bangun dia,” jawabnya.

“Lo laper nggak? Mau makan MCD? Atau KFC?” tanya Wira kembali.

“Umm, gue ngikut yang lain aja, tadi sih Gina bilang dia laper juga,” Kellin kebingungan seraya menggaruk tengkuknya yang tentu saja tidak gatal. Hanya bingung harus menjawab apa.

“Oh gitu, ke MCD aja ayo,” Wira menarik tangan Kellin begitu saja tanpa ada aba-aba sedikit pun. Sang pemilik tangan tentu terkejut bukan main.

“Eh! T-tapi itu, itu Naomi–”

“Biarin aja paling juga bakal diseret Gina, kebluk kan dia,” jawab Wira dengan santai tanpa berhenti sedikit pun sampai mereka benar-benar masuk ke dalam restaurant cepat saji dan segera mengantari memesan makanan.


Dengan penuh keyakinan, Kellin akhirnya sampai di parkiran motor depan café dimana tempat ia dengan sahabatnya sering bergosip ria sembari mengerjakan tugas kuliah mereka. Ya walau lebih banyak bergosipnya.

Kellin hendak melepaskan helm yang ia kenakan, sang sahabat sudah melihat dirinya dari dalam café. Naomi melambaikan tangan padanya. Segera ia membalas lambaian Naomi. Ketika benda yang menempel di kepalanya terlepas, dari ujung matanya ia menangkap sebuah mobil sport terparkir tak jauh dari posisi motornya. Ia menoleh untuk melihat mobil tersebut. Kellin memincingkan matanya sembari berfikir kalau mobil yang ia lihat tidak asing di matanya. Kaca mobil sangat gelap membuat ia kesulitan untuk melihat orang didalam mobil tersebut.

Tak lama pintu kemudi terbuka dan si pengendara mobil pun turun. Matanya membulat terkejut. ‘Coco!’ batinnya. Ia pun ditambah terkejut saat Jerico membuka pintu penumpang dan muncul sosok wanita yang ternyata Wira. Pacarnya Jerico. Kellin pun kelabakan. Ia bergegas memakai helm lalu segera mengeluarkan motornya dari parkiran.

“Anjir anjir anjir!”

Setelah itu ia menyalakan motornya dan menancapkan gasnya kabur agar Wira dan Jerico tidak melihat dirinya. “Woy! Woy! Bayar!” teriak tukang parkir.

“Kenapa bang?” tanya Jerico pada tukang parkir.

“Itu tadi ada cewe parkir bukannya bayar malah maen kabur aje!” jelas tukang parkir.

“Kebelet berak kali bang haha, tar gue bayar, masuk dulu ye,” ucap Jerico seraya masuk ke dalam café bersama Wira.

“Eh itu tadi si Kellin kenapa pergi lagi deh?” tanya Naomi heran.

“Kellin?” Wira mengambil tempat duduk tepat dihadapan Naomi.

“Kellin temen gue anak Business Management,” jelas Naomi.

“Oh jadi yang kabur tadi temen lo? Parah banget nggak bayar parkir haha,” ledek Jerico.

“Ada yang ketinggalan kali,” ucap Wira sembari pandangannya menuju tempat parkir motor berada.

“Ada acara? Rapih banget,” ledek Naomi pada Wira.

“Biasa bokap, eh boti pesenin gue ice lemon tea dong haus banget,” ucap Wira.

“Kalau bukan sugar mommy gue, udah gue pites lo,” ucap Jerico lalu ia pergi untuk memesan minuman.