noubieau

Welcome to noubie universe.


Pagi hari ini seluruh siswa dan siswi sudah berkumpul di lapangan untuk menunggu Shalgie membuka ujian seleksi tahun ini. Sudah menjadi rutinitas Saint Dawson Academy melakukan ujian seleksi untuk dijadikan anggota Hunter yang baru. Namun kali ini terlalu mendadak bagi para siswa siswi untuk mengikuti ujian tersebut. Karena pada tahun sebelumnya sudah dipastikan ujian seleksi terjadwal rapih.

Shalgie pun keluar dari gedung lalu berjalan menuju altar diikuti dengan para penguji. Suasana seketika menjadi hening ketika Shalgie sudah berada diatas podium. Seluruh siswa dan siswi menatap ke arah Shalgie dan para penguji.

“Selamat pagi semua, mohon maaf atas ketidak nyamanan kalian karena ujian seleksi ini diadakan secara mendadak, karena kami sedang membutuhkan Hunter cadangan segera mungkin,” ucap Shalgie membuat siswa siswi berbisik-bisik menanyakan apa yang terjadi.

“Awalnya kami hanya melakukan ujian seleksi pada beberapa siswa siswi yang siap untuk berperang, namun Eldest meminta seluruh siswa siswi mengikuti ujian ini agar mereka dapat melihat potensi kalian satu persatu,” jelas Shalgie membuat siswa siswi semakin riuh karena mendengar kata ‘perang’.

“SILENT!” teriak Selene membuat siswa siswi terdiam seketika.

Selene pun maju berdiri disebelah Shalgie. Ia menatap seluruh siswa siswi dengan wajah serius membuat situasi semakin menegangkan.

“Tidak perlu basa basi, saya dan Joelle akan memantau kalian selama berjalannya ujian seleksi, ujian dilaksanakan satu per satu dimulai dari rank terbawah yang diuji oleh Yeline Dawson, dari setiap penguji akan dibagi kembali beberapa kelompok, berhubung Yeline menguji tiga puluh lima siswa siswi maka akan dibagi menjadi tiga kelompok, dan sisanya akan dibagi menjadi lima kelompok,” jelas Selene.

Selene memberi isyrat pada salah satu anggota Hunter untuk naik ke altar. Anggota Hunter tersebut sudah lengkap dengan pakaian resmi Hunter berikut dengan senjata asli mereka berupa pistol, pisau, dan samurai.

“New rules! Ujian kali ini kalian akan menggunakan senjata lengkap pistol, pisau, dan samurai,” jelasnya kembali membuat siswa siswi terkejut.

Mendengar pernyataan Selene membuat Shalgie kebingungan, karena peraturan baru ini tidak pernah dibahas olehnya dan tentu Shalgie akan menolaknya. Hendak meinterupsi, Selene mengangkat tangannya memberi tanda agar Shalgie tidak membantah perintahnya.

“Peraturan ini akan berlaku untuk ujian tahun depan dan seterusnya, jadi saya harap kalian dapat semaksimal mungkin dalam ujian kali ini, jangan buat saya malu karena mengulang ujian ini dua kali, kalian paham?!” ucap Selene.

“Paham!!” ucap siswa siswi serempak.

“Kalau begitu kalian berpencar sesuai dengan penguji kalian lalu tentukan leader dan anggota kelompok, good luck!”


Berlin

Malam ini bergelar Fashion Week dari brand Gucci di kota Berlin. Salah satu brand ambasador terbaru mereka merupakan Willma Deveraux. Salah satu model terkenal di Eropa. Acara tersebut begitu meriah dikarenakan banyak fans Willma yang datang. Bahkan banyak artis yang menyukai kehadiran Willma sebagai brand ambasador baru Gucci.

Willma terlihat sangat ramah dan cepat berbaur dengan orang baru yang ia kenal. Salah satunya seperti pria pengusaha kaya dari Belanda. Ia sengaja datang hanya untuk melihat Willma dan ia sangat beruntung karena saat ini ia sedang berbincang dengannya.

“I’m very honored to talk with you, you look so gorgeous tonight,” ucap sang pria seraya mengecup punggung tangan Willma. Tak lupa dengan matanya tak ada hentinya menatap wajah cantik Willma.

“Thank you Mr. Dave,” ucap Willma yang tersipu malu.

Tak lama seorang pria bersetelan jas serba hitam datang menghampiri Willma lalu membisikkan sesuatu pada kuping Willma membuat Dave menatap bingung.

“Ma’am it’s time to go,” bisik sang pria merupakan bodyguard Willma. Jason.

Willma pun tersenyum pada Dave setelah Jason sedikit menjauh darinya, “Sepertinya saya harus pergi, senang dapat berkenalan dengan anda Mr. Dave,” ucap Willma.

“Wait! Apa saya bisa mendapatkan nomor mu?” tanya Dave sedikit ragu.

“Oh sure! Just give me your phone,” ucap Willma.

Dengan cepat Dave pun memberikan ponselnya. Willma mengetikan nomornya pada ponsel Dave lalu ia memberikannya kembali pada sang pemilik ponsel. “Sampai bertemu lain waktu Mr. Dave.” Willma mendekat lalu mengecup pipi Dave sekilas sebelum ia pergi bersama Jason menuju mobil.


Setelah pergi dari acara Fashion Week kini Willma sudah berada di kediamannya. Jason memberi tau jika ia kedatangan tamu. Ia pun segera menuju ruang kerja miliknya. Pintu besar pun terbuka. Terlihat didalam sudah ada beberapa bodyguard miliknya dengan salah satu pria muda dengan penampilan lusuhnya.

“Who are you little man?” Willma berjalan melewati pria tersebut lalu menyandarkan bokongnya pada meja kerja. Ia menatap sang pria tanpa eskpresi.

“P-Please ma’am s-saya akan bayar hutang saya! Beri saya waktu sebulan!” pria tersebut memohon sembari bersujud dihadapan Willma.

“Ahh sekarang saya ingat, kamu pria muda yang waktu itu meminjam uang untuk pengobatan ibumu kan? Benar kan?” tanya Willma dijawab oleh anggukan dari sang pria.

Willma tertawa keras, “Astagaaaaa kamu ini, sudah saya kasih bonus dari nominal yang kamu ajukan tapi kamu membiarkan ibu mu mati menderita di panti jompo,” Willma berjongkok lalu menjambak rambut sang pria agar melihat wajahnya dengan jelas.

“Dan uangnya kamu habiskan untuk berjudi, hahahaha, tapi nggak masalah, untung saja kamu berjudi di tempat saya, kalau tidak habis kamu,” lanjut Willma sembari menyeringai.

“B-Beri saya waktu ma’am, saya janji akan melunasinya,” mohon sang pria.

“Kamu mau melunasinya dengan apa sayang? Hm? Pekerjaan saja tidak punya,” Willma mengusap lembut wajah sang pria.

“S-Say–”

“Sssttt,” Willma menutup bibir sang pria agar berhenti berbicara.

“Ginjal kamu masih bagus kan? Bayar saja dengan ginjal mu lalu saya akan lunaskan utang mu, bagaimana?” ucap Willma.

Pria tersebut terdiam lama. Willma pun bangkit lalu memberi isyarat pada bodyguard untuk membawa pergi pria tersebut.

“M-Ma’am?! Mau apakan saya?! Lepasin! Ma’am! Beri saya waktu ma’am!!” pekik sang pria yang dibawa oleh dua bodyguard menuju suatu tempat.

“Bodoh, bisa-bisanya membiarkan ibunya mati sedangkan ia asik berjudi,” gumamnya menahan kesal menatap kosong kearah pintu.

“Jual semua organnya termasuk jantung, siapkan makan malam, saya sangat lapar,” Willma pun keluar ruangan.

“Baik ma’am,” ucap Jason.


Selene dan Joelle kini sudah berada di ruangan Shalgie berada. Di ruang tersebut sudah terdapat Griselda dan Raegan yang menunggu kedatangan sang Eldest.*

“Sorry ya lama, biasa ada yang caper,” ucap Joelle.

“Iya nggak masalah, udah biasa kok, silahkan duduk,” ucap Shalgie.

Selene dan Joelle pun duduk di sofa bersebelahan, “Well gimana? Siapa pelakunya?” tanya Selene.

“Lo–”

BRUK!

Shalgie terdiam ketika melihat Selene terbanting ke lantai dengan keras. Sama halnya dengan yang lain, mereka pun terkejut dengan kedatangan Nicole secara tiba-tiba lalu membanting tubuh Selene dengan mudahnya.

“Akhh! My back!” ringis Selene.

“Kalian lihat? Begitu caranya membanting Eldest yang benar!” ucap Nicole pada murid-muridnya yang menyaksikan aksinya dari luar ruangan.

“Wah gila sekali banting dong,” bisik-bisik para murid yang masih terpana dengan aksi Nicole menjatuhkan ibunya. Selene.

Nicole pun berjalan hendak keluar dari ruangan. Tiba-tiba Selene menyerang dirinya dari belakang. Dengan cepat Nicole menghindar lalu memukul keras wajah Selene.

“Akh fuck!” ringis Selene lagi sembari menutupi wajahnya.

“Satu hal yang kalian harus perhatikan! Jangan pernah lengah! Gunakan indera kalian untuk membaca gerakan lawan! Kalian paham?!” ucap Nicole dengan nada kesal.

“Paham!” jawab sang murid dengan kompak.

“Don’t let them ruin your dress and make up! Now go back to your class!” ucap Nicole. Kemudian ia meninggalkan Selene yang masih meringis kesakitan.

“I told you,” gumam Griselda.

“Siapa suruh jailin anak sendiri, pfft,” ledek Joelle.

“Gila kok dia makin kuat,” ucap Selene.


Eldest : pemimpin para vampire yang berhak membuat peraturan untuk menjaga kedamaian antara vampire dengan manusia.


Tidak membutuhkan waktu lama Griselda dan Nicole sampai dikediaman keluarga Dawson. Mereka disambut hangat oleh Arine yang masih terjaga diruang keluarga.

“Mommy!” pekik Nicole yang berlari menghampiri Arine kemudian ia memeluknya.

“Astaga Nicole ngapain kamu malem-malem kesini? Terus itu masker kamu kenapa belum dilepas?” rentetan pertanyaan Arine membuat Nicole tersenyum malu.

“Aku lagi maskeran tadi terus Grisel ngajak meeting sekarang, karena nanggung jadi belom aku bersihin hehe,” jawab Nicole.

“Mom, mama Shalgie kemana?” tanya Griselda.

“Ada diruang kerjanya, samperin aja,” ucap Arine.

“Kalau gitu kita keruangan mama dulu ya mom, ayo yang,” Griselda menarik Nicole agar segera menemui Shalgie.

“Kalian mau makan apa?” tanya Arine pada Griselda dan Nicole.

“Steak medium rare mom!” teriak Nicole.

Arine pun beranjak dari sofa lalu menyiapkan makanan dan minuman untuk anak-anak dan istrinya. Sedangkan Griselda dan Nicole sudah berada didepan pintu ruangan dimana Sahlgie kerja.

“Masuk,” ucap Shalgie terlebih dahulu sebelum Griselda mengetuk pintu.

Griselda mendorong pintu ruangan. Kemudian terlihat didalam Shalgie tengah duduk disinggasananya berikut dengan Kateryn, Yeline, dan Raegan berada disofa. Mereka pun menatap Griselda dan Nicole.

“Muka kamu kenapa itu?” tanya Sahlgie pada Nicole.

“Masker mam hehe, ayo dimulai meetingnya jangan hiraukan wajah saya,” ucap Nicole.

Griselda dan Nicole pun masuk setelah menutup pintu. Kemudian Griselda memberikan sebuah file coklat pada Shalgie. “Itu profil tersangkanya, namanya Willma Deveraux, dia seorang model dari Jerman, semua bukti yang terkumpul, kematian para pengusaha kaya raya dan terkahir salah satu model dari Prancis semua mengarah pada Willma.”

“Tapi bukannya di TKP ketemunya DNA laki-laki bukan perempuan?” tanya Yeline.

“Itu–”

“Kaki tangannya,” potong Raegan.

“Maksudnya?” tanya Yeline masih tidak mengerti.

“Willma dalang dari semua kasus ini, dia nggak bekerja sendiri, ada kaki tangannya yang membantunya menghabisi para korban,” jelas Raegan.

“Dengan cara mencabut paksa jantung para korban dan DNA disetiap TKP berbeda-beda, sudah jelas Willma memiliki banyak budak vampire, sangat menarik,” jelas Shalgie.

“Serius mam?! Berarti ada seratus lebih budaknya dong?! Kok serem sih,” celetuk Nicole.

“Seratus dua puluh delapan yang terdeteksi, kita nggak akan tau berapa banyak budak yang dia punya,” jelas Shalgie.

“Oh ya informasi ini belum terdengar oleh polisi kan?” tanya Shalgie.

“Belum mam,” jawab Griselda.

“Good, kita usahakan jangan sampai bocor, biar kita yang urus, kita butuh pasukan cadangan, Raegan, Yeline, besok kalian list ada berapa banyak murid Hunter yang sudah siap untuk perang, Kateryn, Griselda, kalian pantau terus pergerakan Willma sampai kita siap untuk menangkap Willma,” jelas Shalgie lalu nama yang di sebutkan olehnya mengangguk terkecuali Kateryn.

Sedari tadi Kateryn hanya diam dengan mata terpejam, “Kateryn Dawson!” bentak Shalgie.

“I heard it,” ucapnya dengan malas.

Tak lama Kateryn membuka matanya, kemudian ia bangkit dari sofa, “Udah kan? Aku capek mam, good night,” ucap Kateryn berlalu meninggalkan ruang kerja Shalgie.

“Astaga itu anak!” dumal Shalgie.

“Ih terus aku ngapain?” tanya Nicole.

“Kamu maskeran aja,” jawab Shalgie.

“Mama! Ish! Nyebelin banget! Tau gitu aku nggak ikut!” dumal Nicole.


2023

“Malam mom,” ucap Kateryn yang baru saja pulang. Ia menghampiri sang ibu yang tengah duduk manis diruang keluarga. Tak lupa ia mencium pipi ibunya.

“Hi sayang, kok pulangnya malem banget?” tanya sang ibu. Arine Dawson.

“Biasa mom, mama ngasih kerjaan nggak kira-kira,” ucap Kateryn.

“Terus mama kamu mana? Kok nggak bareng?” tanya Arine.

“Nggak tau, aku mandi dulu ya mom,” Kateryn pun pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

Tak lama yang dicari Arine pun datang, “Sayang,” ucap Shalgie Dawson dengan wajah kusamnya.

“Hi sayang, kok lesu gitu?” tanya Arine.

Shalgie tidak menjawab. Ia menghampiri sang istri untuk memeluknya. Namun Arine mencegahnya. “Sana mandi dulu baru boleh peluk.”

“Kok gitu?!”

“Kamu bau cewe lain, nggak suka aku,” ucap Arine.

“Ish padahal bau mayat tau ini, yaudah aku mandi dulu,” Shalgie pun pasrah lalu pergi menuju kamarnya.


1658

“Ayah aku lapar,” ucap seorang anak perempuan bernama Willma pada ayahnya yang tengah mengacak-ngacak tempat sampah terletak disebelah gedung restaurant.

“Sabar ya nak ibu dan ayah belum menemukan makanan sisa yang layak,” ucap sang ibu mencoba menenangkan Willma.

Seketika sang ayah muncul sebuah ide. Ia menyuruh putrinya untuk tetap diam didekat tempat sampah kemudian ia menarik sang istri untuk pergi menuju toko buah yang tidak jauh dari restaurant. Willma hanya dapat diam melihat gerak-gerik orang tuanya dari kejauhan. Badannya sudah lemas tidak bertenaga.

Dor! Dor!

Suara tembakan timbul seperkian detik menimbulkan semua orang terdiam lalu melihat ke arah sumber suara. Dua orang tumbang tepat didepan toko buah. Sang putri terkejut ketika melihat ayah dan ibunya tertembak.

“A-Ayah… I-Ibu…,” lirihnya sebelum ia berlari menghampiri jasad kedua orang tuanya.

“Manusia miskin sialan! Berani-beraninya mencuri buah milik saya!” ucap pria tua sang pemilik toko buah.

“Ayah! Ibu!” Willma pun tiba lalu mencoba membangunkan kedua orang tuanya yang sudah tiada dengan luka tembak terdapat di kedua kepala mereka.

“Oh jadi kamu anaknya?! Sini kamu!!” si pria tua menarik rambut perempuan muda tersebut lalu menyeretnya menuju gang sempit yang gelap.

“Berani-beraninya orang tua mu mencuri buah saya! Kamu harus mengganti rugi!” bentaknya seraya mendorong tubuh Willma pada sudut tembok.

Willma sudah ketakutan. Ia bersujud pada pria tua dihadapannya. “M-Maafkan saya, orang tua saya hanya meminta satu apel saja karena kami belum makan, maafkan saya.”

“Enak saja kamu! Tidak ada yang gratis didunia ini! Sebagai gantinya kamu harus memuaskan nafsu saya!” ucap sang pria tua lalu ia menarik dagu Willma dan menatapnya.

“Dilihat wajahmu lumayan untuk ku jadikan istri, haha ayo ikut saya!” sang pria mencoba untuk menarik paksa Willma untuk masuk ke dalam tokonya melalui pintu belakang.

“Ampuni saya pak!” Willma memberontak.

Entah apa yang terjadi suasana menjadi hening. Willma tidak merasakan paksaan dari sang pria tua. Ia terdiam seperkian detik untuk mencerna apa yang terjadi dan ia tidak melihat sosok pria tua itu dihadapannya.

Bruk!

Suatu benda terjatuh lalu menggelinding ke arah kakinya. Willma melihat benda tersebut berhenti di depan kakinya. Ia sempat kebingungan karena ia tidak tau benda apa yang didekat kakinya. Bentuk dan warnanya sudah seperti buah apel yang di ambil oleh ayahnya sebelumnya. Pikirnya pun begitu.

Tak lama ia membalikan badannya. Ia sangat terkejut. Ternyata benda yang ada di kakinya itu adalah jantung dari pria tua pemilik toko buah. Bukan hanya itu. Ia semakin ketakutan melihat seorang wanita terlihat seumuran dengannya maju perlahan untuk mendekat ke arahnya. Terlihat tangannya dipenuhi oleh darah segar.

Willma berjalan mundur perlahan, “M-Maafkan saya, saya janji tidak akan mencuri lagi, t-tolong jangan bunuh saya….”

Semua itu sia-sia saja. Wanita di hadapannya dengan cepat menggigit leher Willma kemudian memutar kepalanya untuk mematahkan lehernya. Ia pun terkapar mati. Melihat luka gigit pada leher Willma menutup sang wanita pun menyeringai.

“Good luck love,” wanita itu pun pergi begitu saja.

Berselang sepuluh menit Willma terbangun dengan rasa panik dan takut menjadi satu. Napasnya tersengal. Ia mengingat jika tadi ia di gigit oleh seorang wanita. Ia pun meraba lehernya. Tidak ada rasa sakit akibat gigitan. Apakah ini hanya halusinasi ia saja karena rasa lapar? Tapi sepertinya tidak, ia melihat jasad pria tua masih tergeletak di depannya.

Melihat darah tergenang didepannya membuat rasa lapar semakin kuat. Perlahan ia mencolek darah tersebut lalu mengemutnya. Entah apa yang salah dengan dirinya namun darah tersebut begitu sangat nikmat. Instingnya pun menggerakan tubuhnya untuk menjilati genangan darah dengan lahap. Lalu ia mengambil jantung sang pria tua dan memakannya hingga kandas.


Malam sudah tiba. Acara pun telah selesai sejam yang lalu. Kini Wira dan Kellin sudah berada di kamar mereka. Kellin tengah bercermin menatap wajahnya cukup lama.

“Sayang aku gendutan nggak sih?” tanya Kellin.

“Enggak ah,” jawab Wira.

“Ah kamu mah bohong, udah tau aku gendut gini, tuh liat pipi aku makin chubby gini,” ucap Kellin sembari menekan-nekan kedua pipinya.

Wira menghampiri Kellin, “Wajar nggak sih kalo lagi hamil itu berat badan naik, itu menandakan kalau kamu sehat sayang,” lalu ia memeluk tubuhnya dari belakang. Ia mengecup pipinya sekilas.

“Aku nggak peduli kamu jadi gemuk, kamu tetep cantik dimata aku, iya kan ges? Mami kalian cantikan? Tuh denger! Mereka bilang mami tuh cantiknya gak ketolong,” ucap Wira. Kellin tersipu malu.

“Ish apa sih, gombal banget, dah ah aku capek mau tidur,” Kellin melepaskan tangan Wira dan hendak menuju kasur. Namun Wira menahannya. Kellin menatapnya bingung.

Wira mendadak berlutut dihadapan Kellin. Lalu ia mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Ia membukanya. “Sayang, karena sebentar lagi baby lahir, aku mau kamu jadi istri aku sebelum mereka lahir, so marry me Kellin Setiaatmdja,” ucap Wira.

Kellin menutup mulutnya menahan untuk tidak berteriak. Matanya berbinar dan dipenuhi air mata kebahagiaan. Ini lah momen yang ia tunggu selama ini. Wira melamarnya untuk menjadikannya istri. Perlahan ia mengulurkan tangan kirinya memberikan kode pada Wira untuk dipakaikan cincin pada jari manisnya.

Wira tersenyum. Segera ia memakaikan cincin berlian pada jari manis Kellin. Kemudian ia berdiri lalu menangkup kedua pipi Kellin. “I love you Kellin Muljadi.”

“I love you more Wira Muljadi,” Kellin tersenyum. Bibir mereka kini saling bertautan. Kellin menaruh kedua tangannya pada leher Wira. Mereka saling melumat bibir dengan lembut.


“Huh aku deg-degan banget!” ucap Kellin yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di hadapan Wira.

Wira memegangi kedua lengan Kellin lalu menatapnya, “Hey sayang, relax, it’s just a gender reveal, you don’t need to worry, dokter bilang kan bayinya sehat.”

Kellin menggigiti kukunya menatap Wira cemas, “Tapi kan tetep aja aku gugup banget Wir.”

Wira menarik tangan Kellin agar berhenti menggigiti kukunya lalu ia mengecup sekilas bibirnya, “Dah ah yuk, udah pada nungguin diluar.”

Kellin terdiam. Wira menarik Kellin untuk ke halaman belakang rumah. Disana sudah terdapat beberapa teman kerja baru Wira, Jerico, Ginata, dan juga sahabat Kellin satu-satunya. Naomi.

“Ngewe dulu ya lo berdua? Lama banget anjir panas nih,” protes Naomi.

“Hehe sorry gue tadi gugup Mi,” ucap Kellin.

“Nih lo pegang masing-masing, nanti lo pecahin balonnya barengan ya,” jelas Ginata sembari memberikan masing-masing satu balon pada Wira dan Kellin. Tak lupa juga dengan jarum untuk memecahkan balonnya.

“Dah kan? Gue mulai nih videonya,” ucap Jerico.

“Ayo mulai aja,” ucap Ginata.

Kellin dan Wira saling menatap. Terlihat Kellin sangat gugup karena ia akan tau jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Orang-orang sudah menghintung mundur. Sampai akhirnya.

DOR!

Balon dipecahkan bersamaan oleh Wira dan Kellin. Bukannya senang keduanya kebingungan ketika melihat warna yang keluar saat balon dipecahkan. Biru dan pink. Kellin dan Wira menatap kearah Naomi butuh penjelasan.

“Congratulation! Anak lo kembar cewe cowo!” ucap Naomi sembari memperlihatkan foto usg terkahir.

Wira, Kellin, dan Jerico tertegun. Mereka saling menatap. “Anak gue kembar? Yes!” seru Jerico.

“Gila jackpot dong…,” komentar Wira.

“Pantesan aja berat banget dan aktifnya luar biasa taunya kembar,” Kellin pun menangis.

“Eh kok kamu nangis?” tanya Wira.

“Aku… hiks! Nangis… hiks! Seneeeeennggg! Huuuuuaaaaaa,” tangis Kellin semakin pecah.

“Astaga aku kira kenapa,” Wira segera mendekap Kellin.


“Kellin?”

“Hum?”

“Maafin aku ya,” ucap Wira.

“Buat?” Kellin menatapnya bingung.

“Semuanya,” ucap Wira.

Kellin pun mengusap perlahan pipinya lalu tersenyum, “Mungkin udah jalannya seperti ini, jadi nggak perlu minta maaf lagi, udah aku maafin kok.”

“Tapi–” Kellin mencubit bibir Wira agar berhenti berbicara.

“Berisik, sini bobo sebelah aku, kasian kamu dari kemarin tidur di sofa,” ucap Kellin sembari menggeser tubuhnya.

“Boleh?” tanya Wira dengan ragu.

“Nggak mau?”

“Mau!” Wira segera pindah untuk rebahan di sebelah Kellin.

Perlahan ia menarik tubuh Kellin mendekat padanya agar tidak terjatuh. Wajah mereka bertatapan sangat dekat sampai keduanya dapat mendengar deruan napas mereka sedikit tersengal akibat rasa deg-degan. Kellin mengusap lembut wajah Wira mulai dari dahi, mata, hidung, lalu berakhir pada bibir. Semua yang ia sentuh sangat ia rindukan. Begitu pun dengan Wira. Ia juga merindukan senyuman indah yang tergurat di wajah Kellin berserta lesung pipi yang membuatnya terlihat sangat manis.

“I miss you,” ucap Kellin sedikit berbisik.

“I miss you too…,” ucapnya Wira.

“…Babe,” lanjutnya.

“Please kali ini jangan pergi lagi,” lirih Kellin.

“Nggak akan, aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi,” Wira mengusap kepala Kellin penuh kasih sayang.

Keduanya tersenyum lalu saling menatap satu sama lain cukup lama. Sudah tidak tahan, Kellin memajukan wajahnya untuk mencium bibir Wira. Keduanya terpejam. Wira membalas ciumannya dengan lembut. Kellin mengemut bibir bawah Wira lalu mengigitnya perlahan. Kemudian Kellin melepaskan tautan bibirnya.

“Umm, kamu abis makan bakso ya tadi?” tanya Kellin.

“Kenapa? Kecium ya? Haha,” Wira terkekeh.

“Iyaaa, ih makan bakso nggak ngajak aku,” Kellin memanyunkan bibirnya.

“Besok kan udah pulang, besok kita makan bakso,” ucap Wira.

“Serius?!”

“Iya sayang,” Wira mencolek hidung Kellin gemas.

“Tapi aku maunya bakso bening yang di SMA hehe, boleh kan?” tanya Kellin.

“Iya boleh sayang,” Wira mengangguk.

“Asik!” Kellin memeluk erat tubuh Wira lalu mendusalkan wajah pada dadanya.

“Kellin,” panggil Wira.

Kellin pun mendengakan kepalanya menata Wira, “Hum?”

“Kita pindah yuk?”

“Pindah?”

“Pindah negara, kita besarin anak kamu, di luar negri, kamu mau?”

“Aku sih mau, tapi kan harus butuh uang banyak, aku belom siap untuk itu,” ucap Kellin.

“Kamu nggak usah pikirin itu, aku ada kok cukup sampe anak kamu sekolah nanti, enaknya kita tinggal dimana?” Wira mengusap wajah Kellin.

“Kamu beneran?” tanya Kellin memastikan dan dijawab anggukan oleh Wira.

“Paris boleh?” tanya Kellin dengan mata berbinar.

“Kenapa milih Paris?” tanya Wira.

“Karena bagus aja bangunan-bangunan disana aku suka, terus kan emang Gina sama Naomi juga bakal netap disana katanya, dan juga disana banyak kelas model ternama siapa tau anak aku nanti jadi model hehehe,” jelas Kellin sembari mengusap perutnya yang masih rata.

“Umm, yaudah kita menetap di Paris,” ucap Wira.

“Kamu serius?!” mendadak Kellin bangun lalu menatap Wira tak percaya. Segampang itu kah. Pikirnya.

“Serius sayang,” ucap Wira.


Karena pesannya tidak dibalas oleh Wira. Maulia nekat untuk terbang ke Indonesia menghampiri Wira. Tentunya ia sembari mencari info keberadaannya. Sampai ia menyewa orang untuk mencari keberadaan Wira. Tak butuh waktu lama ia mendapatkan informasi jika Wira sedang berada di rumah sakit. Ia marah. Karena Wira sedang menjaga Kellin.

“Bisa-bisanya balik lagi mereka!” dumalnya sembari berjalan menuju ruangan dimana Kellin di rawat.

Brak!

“Oh bagus ya, pesan aku gak dibales taunya balikan sama mantan!” ucap Maulia dengan nada tinggi.

Sontak Wira dan Kellin terkejut dengan kemunculan Maulia secara tiba-tiba, “Mau ngapain kamu kesini?” tanya Wira.

“Jemput pacar aku buat pulang,” ucap Maulia. Wira terkekeh geli.

“Pacar?” Wira bangkit dari kursi lalu menghampiri Maulia dengan tatapan tidak suka.

“Sejak kapan kita pacaran? hm? If you remember, we’re just FWB,” ucap Wira.

PLAK!

“Terus yang di Bali itu apa?!” tanya Maulia.

“Cuma sandiwara buat Kellin panas,” Wira menyeringai.

“Brengsek!!” Maulia kembali melayangkan tangannya untuk menampar Wira.

Namun Wira menahan tangannya dengan kuat, “Lo nggak pantes nampar gue, seharusnya gue yang nampar lo, gara-gara lo Kellin jadi hamil!”

“Maksudnya apa?” sedari tadi Kellin sedang mencerna pembicaraan antara Wira dan Maulia.

Wira terdiam ketika Kellin sudah berada disebelahnya. Ia tidak berani mengatakan sebenarnya. “Oh jadi jablay ini hamil? Hahaha congrats ya! Berkat gue lo jadi hamil, Jerico tanggung jawabkan? Haha manjur juga obat gue, undang gue ya kalo lo nikah sama calon bapak anak lo itu,” ucap Maul.

Emosi Kellin memuncak. Tanpa rasa sakit Kellin mencabut jarum infus yang menancap di punggung tangannya. Kemudian ia menjabak rambut Maulia lalu menampar wajahnya berkali-kali hingga babak belur. Kellin murka.

Kellin menarik kepala Maulia agar mendekat lalu ia menatapnya tajam, “Denger ya wahai jablay kampung, terima kasih atas effort lo bikin gue hamil, mungkin kalo lo nggak naro obat di minuman gue dan Jerico mungkin Wira nggak akan bisa balik ke tangan gue, jadi gue sangat berterima kasih sama lo karena sekarang Wira jadi milik gue lagi, sampai lo ganggu hubungan gue sama Wira lo abis di tangan gue, paham?!”

Entah kekuatan dari mana sampai Maulia mengangguk ketakutan pada Kellin, “Good girl, dah sana pulang hush hush.” Kellin melepaskan rambut Maulia dan membiarkan ia pergi begitu saja tanpa berkomentar apapun.

“Ugh ewh!” Kellin mengibaskan tangannya yang penuh dengan sisa rambut Maulia.

Wira sedari tadi diam terpana dengan aksi Kellin. Baru pertama kali ia melihat Kellin semurka itu pada seseorang. Walau sekujur tubuh sudah meremang. Dimata Wira Kellin terlihat ‘sexy’ ketika sedang marah seperti tadi.

“Waw….”

“Apa kamu waw wow waw wow?! Panggil suster cepet! Tangan aku perih ini!” ucap Kellin sembari memegangi tangannya yang beradarah akibat cabut paksa jarum infus.

“Iya iya tunggu sebentar,” Wira segera berlari mencari perawat diluar.

“Auh! Gerah banget gue! Segala pake dateng tuh nenek lampir! Bikin bete aja!” dumal Kellin.