noubieau

Welcome to noubie universe.


Few Days Later

“Kenapa makanannya nggak dimakan?” tanya Wira yang baru saja datang sehabis membeli minuman dingin untuk dirinya dan Kellin.

“Nggak napsu,” ucap Kellin.

“Nggak napsu apa nggak enak? Mau aku beliin apa? Ini minum dulu air kelapa, udah di kasih es biar seger,” Wira memberikan kantung pelastik air kelapa pada Kellin.

Kellin menerimanya tanpa menatap wajah Wira. Sebenarnya ia masih marah namun tidak ada orang lain yang bisa menjaga dirinya selain Wira. “Dibilang nggak napsu!” ucapnya ketus lalu ia minum air kelapa pemberian dari Wira.

“Okay, kalau mau makan bilang aku ya,” Wira menghela napas. Ia tidak ingin menganggu Kellin yang masih sensitif padanya dan memilih untuk merebahkan dirinya pada sofa. Seluruh badannya terasa pegal akibat beberapa hari ia tidur di sofa.

“Aku mau nasi padang.”

Baru saja Wira menutup matanya. Kellin mengatakan ia ingin makan nasi pada. Sudah jelas ia harus keluar membelinya. Perlahan ia bangun lalu menatap ke arah bumil.

“Mau apa lauknya?” tanya Wira.

“Rendang dua, nggak pake sayur,” ucap Kellin.

“Yaudah aku beli dulu,” Wira bangkit dari sofa kemudian ia bergegas pergi untuk membeli pesanan Kellin.

Dua puluh menit lamanya Kellin menunggu. Akhirnya Wira datang membawa pesanannya. “Ngapain kesini?!” tanya Kellin ketus.

“Ya kan kamu mesen nasi padang, ini aku udah beliin, ayo makan,” ucap Wira.

“Keluar!” bentak Kellin.

Sontak Wira terkejut dan bingung ada apa dengan Kellin, “Kamu kenapa deh?”

“Aku nggak mau makan kalo kamu nggak pake jaket abang gojek,” ucap Kellin.

“Kellin yang bener aja dong? Masa aku harus pake jaket abang gojek?” protes Wira.

“Yaudah aku nggak akan makan,” Kellin menarik selimut lalu menutupi wajahnya.

“Astaga… yaudah iya aku cari dulu abangnya,” ucap Wira pasrah.

Wira keluar kembali untuk mencari abang gojek yang berada disekitaran rumah sakit. Saat keluar lobby ia melihat abang gojek hendak pergi sehabis menurunkan penumpang. Ia pun berlari menghampirinya.

“BANG! BANG! STOP!”

Sang abang gojek pun berhenti lalu melirik Wira kebingungan, “Iya kenapa neng?”

“Bang boleh minjem dulu gak jaketnya?” tanya Wira.

“Hah? Buat apaan neng?”

“Ada bumil yang nyuruh saya nganterin pesenannya pake jaket gojek bang, please bang belom makan nih bumil satu,” mohon Wira.

“Waduh neng, saya udah dapet orderan lagi ini, nggak bisa neng,” ucap abang gojek.

Segera Wira mengeluarkan dompetnya lalu memberikan selembar uang pecahan seratus ribu pada abang gojek, “Cancel bang, terus saya minjem dulu bang bentaran doang, ya?”

“Waduh banyak banget ini mah neng, yaudah bentar neng,” akhirnya abang gojek melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Wira.

“Nih neng, maap ya neng agak bau, panas soalnya,” ucap abang gojek.

“Iya bang nggak apa-apa, minjem bentaran ya bang, tunggu sini,” tanpa berpikir panjang Wira kembali masuk sembari memakai jaket gojek. Banyak mata yang melihat Wira sepanjang perjalanan. Namun Wira sudah bodo amat. Yang terpenting Kellin mau makan.

Sampai di dalam ruangan. Wira memberikan kantung nasi padang pada Kellin yang tengah asik bermain ponsel. Kellin menatapnya tanpa eskpresi.

“Nggak mau,” ucapnya.

“Aku udah pake jaket gojek loh ini Lin,” ucap Wira frustasi.

“Helmnya nggak ada,” ucap Kellin santai.

Wira menahan emosinya. Ia menghela napas. Ia tidak bisa emosi pada seorang bumil. Ia harus sabar. Akhirnya Wira keluar kembali untuk meminjam helm pada abang gojek.

Tak lama Wira datang kembali dengan pakaian lengkap ala abang gojek, “Ini udah makan ya Kellin cantik,” ucap Wira.

Kellin menggelengkan kepalanya, “Nggak mau, helmnya nggak ada tulisan gojeknya.”

Ingin sekali Wira berteriak tapi ia tidak bisa. Tanpa berkomentar Wira kembali lagi untuk menukar helm penumpang. Ternyata helm tersebut lebih kecil dari milik abang gojek. Dan terlalu sempit dipakai pada kepala Wira.

“Sampe nggak mau makan gue beli juga perusahaan gojek anjing,” dumalnya sebelum ia masuk ke dalam ruangan.

“Done! Ayo makan!” ucap Wira.

Kellin pun tersenyum. Kemudian ia mengambil pesanan miliknya dari tangan Wira. “Makasih Wira sayang.”

Seperti sebuah petir menyambar hatinya. Wira tertegun ketika Kellin memanggil dirinya ‘Sayang’. Akhirnya Kellin makan dengan lahap. “Ngapain kamu diem disitu?”

“Hah?” Wira tersadar dari lamunannya lalu menatapnya bingung.

“Sana balikin punya abang gojek,” ucap Kellin yang terkekeh pelan melihat penampilan Wira begitu aneh.


Dokter menyuruh Kellin untuk bed rest selama beberapa hari dan memindahkannya dari UGD ke kamar inap. Wira minta suster untuk menaikan kelas kamar menjadi VIP. Wira tidak mau Kellin terganggu oleh orang lain.

Tidak lama usai pemindahan kamar. Jerico pun datang dengan wajah panik dan sedikit tersengal napasnya akibat berlari mencari ruang dimana Kellin dirawat.

“Apa kata dokter?” tanya Jerico pada Wira.

“Kellin stress, kandungannya jadi melemah jadi dokter saranin buat bed rest beberapa hari,” jelas Wira.

“Terus bayinya?” tanya Jerico kembali.

“Baik-baik aja, untung gue langsung bawa ke sini,” ucap Wira.

“Pake apa? Kan lo pake motor tadi,” Jerico mengambil kursi lalu ia duduk tepat disebelah ranjang Kellin.

“Ada tetangga lewat pake mobil langsung gue stop, minta anter ke rumah sakit, di bawanya kesini,” Wira menghela napas sembari menatap wajah Kellin. Sesekali ia mengusap tangannya.

“Thank God,” Jerico bernapas lega setelah mendapat jawaban yang selama perjalanan ia di hantui oleh rasa takut jika terjadi hal yang tidak di inginkan pada Kellin, terutama dengan kandungannya.

“Ummmhhh.”

Wira dan Jerico menatap Kellin yang sudah siuman. Keduanya berdiri secara bersamaan lalu menatap Kellin dari dekat. “Kellin?” ucap Wira.

Perlahan mata Kellin terbuka. Ia mencoba untuk mentralkan pandangannya yang sedikit buram. Dua wajah yang ia kenal berada di hadapannya. Ia menatap aneh pada mereka. “Kalian ngapain disini?” tanya Kellin.

“Kamu tadi pingsan Lin, sekarang lagi di rumah sakit,” jelas Jerico.

“Hah?” Kellin menatap keduanya bingung.

“T-Terus bayinya?!” Kellin panik.

Wira menggenggam tangan Kellin untuk menenangkannya, “Bayinya sehat kok, kamu disuruh bed rest sama dokter.”

Kellin menatap Wira agak lama, lalu ia menepiskan tangannya agar terlepas darinya. Ia mengingat kejadian tadi siang ketika ia berdebat dengan Wira.

“Oh iya udah urus administrasinya belom?” tanya Jerico.

“Belom, dari tadi gue nungguin Kellin,” ucap Wira.

“Yaudah biar gue–”

“Gue aja, lo disini temenin dia,” potong Wira. Ia tersenyum simpul lalu pergi untuk mengurus administrasi Kellin.

“Sekarang udah ada orangnya kenapa di ketusin?” tanya Jerico.

“Nggak apa-apa masih sebel aja, aku haus Co, mau minum,” ucapnya.

“Oh iya, bentar,” segera Jerico mengambil gelas minum dan sebuah sedotan. Lalu ia mengarahkan sedotan pada mulut Kellin.

“Nanti orangnya pergi lagi, nangis, nggak mau makan,” ledek Jerico.

Plak!

“Aaahh!”

“BISA DIEM NGGAK?!” Kellin memukul wajah Jerico sedikit keras.

“Wah emang gini kali ya bumil, sensitif banget mana kuat lagi padahal lagi sakit,” gumam Jerico.


Setelah mengetahui semuanya Wira dan Jerico pulang ke Indonesia. Jerico meminjamkan motornya pada Wira selama di Indonesia. Tujuan Wira ke Indonesia adalah untuk menemui Kellin. Ia ingin meluruskan ini semua. Wira tersadar kalau semala ini hanya kesalah pahaman dirinya dengan Kellin.

Belum sempat mencari penginapan, ia memilih menitipkan kopernya di rumah Jerico. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Kellin hari ini juga. Lantas Wira bergegas menuju rumah Kellin.

Kellin yang tengah bersantai mendengar suara motor Jerico datang. Ia bingung. Tumben sekali Jerico datang ke rumahnya tanpa memberi tahu. Lantas ia membuka pintu. Ia melihat motor Jerico terparkir didepan rumahnya. Namun ia sadar orang yang berada di atas motor bukan lah Jerico. Ketika helm terlepas matanya membulat.

“W-Wira.”

Wira tersenyum. Ia turun dari motor lalu membuka pagar rumah Kellin. “Hi,” sapa Wira.

“M-Mmau ngapain kesini?” tanya Kellin terbata-bata.

“Bisa ngobrol sebentar? Di dalem?” Wira menarik napas dalam. Ia sangat gugup.

“Mau ngobrol apa? Disini aja,” ucap Kellin.

“Nggak bisa, di dalem, please,” mohon Wira.

Sial. Kenapa dengan situasi seperti ini Kellin masih saja luluh dengan pesonanya Wira. Akhirnya Kellin me-iyakan lalu mempersilahkan Wira untuk masuk.

Ketika sudah di dalam Kellin menatap Wira tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia menunggu penjelasan Wira.

“Bagaimana kabar kamu?” tanya Wira.

“Nggak usah basa-basi, aku lagi capek, mau ngomong apa?” tanya Kellin dengan tegas.

Wira mencoba untuk mengatur napasnya, “Maafin aku.”

“Maafin buat apa?”

“Buat semuanya, aku udah tau semuanya dari Jerico,” jawab Wira.

Kellin terkekeh pelan, “Terus kenapa kalau udah tau semua?”

“Gara-gara aku semuanya jadi begini, seharusnya aku jujur sama kamu waktu aku ninggalin kamu waktu itu–”

“Nggak usah di bahas, aku udah tau,” potong Kellin.

“Maafin aku,” ucap Wira.

“Nggak usah minta maaf, aku tau niat kamu baik ninggalin aku karena papi kamu, aku masih bisa tolerir, tapi aku kira selama dua tahun kamu bakal nunggu aku, tapi nyatanya kamu udah sama yang lain, lucu juga ya aku bisa-bisanya nungguin orang brengsek kaya kamu,” Kellin tertawa.

“Aku nggak pernah pacaran sama Maulia,” ucap Wira.

“Bullshit.”

“Aku mulai dekat semenjak kamu posting foto di Paris, aku mengira kamu udah bertunangan sama Jerico, aku hancur saat itu, aku berpikir kalau aku udah nggak ada kesempatan kembali, jadi aku mencoba untuk melepas kamu, lalu kamu datang tanpa menjelaskan apapun dan pergi begitu aja,” jelas Wira.

“Terus sekarang kamu maunya giamana?”

“Aku mau balik seperti dulu,” ucap Wira.

Kellin tertawa keras, “Hahahaha ya ampun, lucu ya kisah cinta kita, aku datang ke kamu buat mulai kembali, tapi kamu udah sama yang lain, sekarang aku udah hamil anak Jerico, kamu datang untuk kembali seperti dulu, hahaha.”

“Aku ser–”

Plak!

Wira mendapat tamparan keras dari Kellin, “Kamu tau betapa sulitnya aku saat kamu ninggalin aku dua tahun yang lalu? Kamu tau aku setiap malam nangis karena mikir kesalahan apa yang aku buat sampai kamu ninggalin aku? Apa kamu tau aku sampai keluar masuk rumah sakit karena mikirin kamu? APA KAMU TAU SEMUANYA?!!!”

Kellin hendak menampar Wira kembali namun ia mengurung niatnya. Ia meremas baju Wira. Bukan karena marah. Karena ia merasakan sakit pada perutnya. “Aaahhhh,” Kellin memegangi perutnya.

“Kellin? Kamu kenapa?” Wira memegangin tubuh Kellin.

“Perut aku sakit,” tak lama Kellin tidak sadarkan diri.

Dengan sigap Wira memeluk tubuh Kellin agar tidak terjatuh. Ia panik. “Kellin? Bangun Lin,” Wira menepuk-nepuk pipinya namun Kellin tak kunjung sadar.


Ting Tong! Ting Tong!

Ceklek!

“Sorry lama gue tadi lagi di kamar mandi, ayo masuk,” Wira membuka lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan Jerico untuk masuk.

Setelah Jerico sudah masuk Wira menutup pintu lalu berlari kecil menuju dapur, “Lo mau minum apa? Oh iya lo udah makan belom? Gue baru aja beres masak,” tutur Wira sembari mengambil gelas untuk Jerico.

“Nggak usah gue cuma bentar aja disini,” ucap Jerico yang tengah menatap Wira yang membelakangi dirinya dari kejauhan.

Wira menoleh sebentar padanya lalu kembali menyiapkan minuman hangat, “Sibuk banget emang lo? Mau ngomong–”

“Kellin hamil.”

Hening. Wira terdiam. Senyumnya seketika pudar. Rasanya seperti tertusuk pisau tepat di hatinya. Begitu sakit. “Lo jauh-jauh kesini buat ngasih tau itu doang?” Ia masih membelakangi Jerico. Ia belum siap menatap wajah Jerico. Rasanya harapan ia sirna untuk selamanya. Sudah tidak ada kesempatan baginya untuk kembali pada Kellin.

“Maafin gue Wir, gue gagal ngejaga dia,” Jerico sudah tidak kuat. Kakinya lemas. Ia berlutut. Tidak hanya Wira yang merasakan rasa sakit itu. Jerico pun. Bagaimana pun ia tetap menyukai Wira dibandingkan Kellin. Bahkan ia sangat mencintainya.

Wira menarik napas sangat dalam, “Lo ngapain minta maaf segala, kan Kellin tunangan lo, gue udah bukan siapa-siapanya Co, dan sekarang lo bakal jadi calon bapak dari anak dia.”

“Gue nggak pernah tunangan sama dia, semua itu cuma sandiwara, yang lo maksud tunangan itu Ginata sama Naomi, bukan gue sama Kellin,” jelas Jerico.

Sontak Wira berbalik badan lalu menatap Jerico penuh tanda tanya, “Maksud lo apa?”

“Kellin waktu itu datang ke sini buat ngobrol sama lo, selama ini dia masih cinta sama lo, dia nungguin lo, tapi dia liat lo udah sama yang lain, Maulia,” jelas Jerico.

“Jangan bercanda Co,” ucap Wira.

“Gue serius, dia masih sayang sama lo sampai saat ini, dan sekarang–”

Wira menghampiri Jerico. Ia menarik kerah bajunya lalu meninju berkali-kali wajah Jerico sampai ujung bibirnya terluka. “KENAPA LO BARU KASIH TAU GUE SEKARANG?!!” teriak Wira.

“Maafin gue Wir,” matanya kini sudah dipenuhi air mata, begitu juga dengan Wira. Wira sudah tidak dapat menahan emosinya. Air matanya mengalir begitu saja. Dadanya terasa sesak.

“Gue datang kesini untuk meluruskan semuanya, gue udah nggak sanggup bersandiwara lagi, Kellin nggak mau gue nikahin, dia memilih buat lahirin anak gue sendiri,” jelas Jerico.

“Dia tau kalau gue nggak suka sama dia, dia tau gue suka sama lo,” lanjutnya membuat Wira semakin terkejut. Ia tidak dapat berkomentar.

“M-Maksud lo apa?” Wira menatap wajah Jerico.

“Gue suka sama lo, gue suka sama lo dari SMA, selama gue jadi pacar kontrak lo itu gue ngejalaninnya tulus dari hati gue tanpa adanya sandiwara, gue tau resiko gue suka sama lo, dengan kepergian lo saat itu hati gue hancur Wir, lo nyuruh gue cari yang lain, tapi nggak bisa, cuma lo yang gue suka, cuma lo yang gue sayang, gue nggak bisa nahan lo saat itu, karena gue tau itu yang terbaik buat lo dan Kellin juga, dan saat itu gue bertekad buat ngejagain Kellin demi lo, gue berpikir semua ini akan berakhir kalau lo saat itu nggak sama Maulia, mungkin saat ini Kellin baik-baik aja, Kellin bisa jadi milik lo lagi, tapi lo ngacauin semuanya dan juga pacar lo yang sekarang udah bikin Kellin hamil,” jelas Jerico.

“Maulia naro obat ke minuman gue sama Kellin waktu reuni di Bali dan lo bisa bayangin setelah gue dan Kellin balik ke kamar, kalo lo nggak percaya gue punya buktinya dari CCTV,” lanjutnya.


Setelah perjuangan membeli makanan dan obat di tempat yang berbeda, kini Jerico sudah sampai di rumah Kellin. Ia memarkirkan motornya di garasi rumah Kellin. Tak lama sang pemilik rumah membuka pintu lalu melemparkan senyuman pada Jerico yang baru saja melepas helm.

“Fffuuuhhh panas, nih makan dulu abis itu minum obatnya,” Jerico memberikan pelastik kantung berisikan makanan dan obat pada Kellin.

“Hehe makasih Coco,” Kellin tersenyum lebar lalu ia melihat bungkus makanan hanya terdapat satu porsi. “Loh kamu nggak beli?”

“Aku bawa bekel di tas,” Jerico telah selesai melepaskan jaket dan sepatu. Lalu menaruhnya pada kursi teras.

“Ayo masuk,” Kellin mengajak masuk Jerico ke dalam rumah dan membiarkan pintu rumah terbuka. Ya kalian tahu bagaimana sensitifnya kuping-kuping para tetangga di Indonesia seperti apa.

“Aku ke kamar mandi dulu ya,” ucap Jerico.

“Iya,” Kellin yang berada di meja makan tengah sibuk memindahkan makanan pada mangkuk. Kemudian ia menyiapkan makanan dan minuman pada meja ruang tamu.

Melihat bakso di mangkuk membuat perutnya berbunyi. Sedari pagi perutnya belum di masukan makanan satupun. Bukannya tidak lapar. Melainkan ia tidak sanggup untuk mengolah makanan terlebih dahulu dikarenakan ia sibuk mondar-mandir ke kamar mandi.

Ketika sedang mencicipi kuah bakso Jerico keluar dari kamar mandi lalu menghampiri dirinya. “Ini punya kamu?” tanya Jerico sembari memegang sebuah benda kecil berbentuk seperti spidol. Test pack.

Kellin mendengakkan kepalanya lalu melihat apa yang Jerico pegang, kemudian ia mengangguk dengan santainya. “Kenapa emang?” Kellin melanjutkan menyuap bakso dengan lahap.

“K-Kamu hamil? Hamil anak aku?” tanya Jerico.

Kellin kembali mengangguk, “Siapa lagi kalau bukan kamu.”

Melihat Kellin dengan santainya menjawab membuat Jerico panik bukan main. Ia menatap Kellin dengan heran yang tengah asik dengan makanannya.

“Kamu kok nggak kasih tau aku? Terus kenapa kamu santai banget begitu?” tanya Jerico.

“Buktinya kamu udah tau kan, ngapain juga panik, lagian aku begini juga karena ulah aku juga kan,” jawab Kellin.

Jerico semakin tidak abis pikir. Ia mengacak-ngacak rambutnya. Napasnya sedikit tersengal. Rasanya ia ingin marah. Namun pada siapa.

“Sini duduk dulu, ayo,” ucap Kellin sembari menarik tangan Jerico.

Jerico menurut lalu ia duduk tepat di sebelahnya. Kellin mencoba untuk menenangkan Jerico. “Ayo makan dulu kamu belom makan siang kan,” ucap Kellin.

“Aku bakal tanggung jawab, aku bakal bilang sama orang tua aku buat nikahin kamu,” ucap Jerico.

Kellin menggelengkan kepalanya, “It’s okay, aku percaya kamu bakal tanggung jawab makanya aku tenang aja, tapi aku nggak mau menghalangi kebahagian kamu,” Kellin mengusap lembut pipi Jerico lalu ia tersenyum.

“I know you don’t love me, you loved Wira, kamu terlalu baik untuk aku sampai berkorban nemenin aku sampai sekarang, aku nggak mau memaksa kamu untuk menikahi aku karena aku hamil, aku bisa mengurusnya sendiri, kalau kamu mau nemenin aku ngurus anak kita aku masih memperbolehkan, ya karena emang udah seharusnya sih nanti anak kita kamu nafkahin hehe,” lanjut jelasnya kemudian mengecup pipi Jerico.

Jerico sudah tidak tahan. Ia menitihkan air mata. Ia sangat marah pada dirinya sendiri. Ia sudah gagal untuk menjaga Kellin. Perlahan ia turun dari sofa dan berlutut di hadapan. “M-Maafin aku, maafin aku karena gagal jagain kamu, gara-gara aku kamu jadi begini, seharusnya aku bisa tahan waktu itu, maafin aku,” kepalanya tertunduk tidak berani menatap wajah Kellin.

“Hey look at me,” Kellin mengangkat dagu Jerico agar ia menatap dirinya.

“Jangan salahin diri kamu, ini kesalahan kita berdua, aku juga tidak terpaksa kan waktu itu, stop salahin diri kamu ya, aku nggak suka, maaf kalau selama ini bikin kamu terbebani, dan makasih udah jagain aku selama ini juga, kalau nggak ada kamu mungkin aku nggak akan bertahan sampai saat ini, you’re a good man,” Kellin menghapus air mata Jerico di pipinya.

“Aku bakal perbaiki ini semua, aku janji,” ucap Jerico membuat Kellin kebingungan.


Six Years Ago

Sudah seperti biasa ketika jam istirahat berbunyi Kellin memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di tempat favoritnya. Di bawah pohon rindang tepat disebelah lapangan basket. Menghabiskan bekal lalu kembali belajar itu lah hal yang di lakukannya. Tentunya sembari menanggapi kejailan anak laki-laki yang sedang bermain basket.

Sebenarnya tempat tersebut bukanlah tempat yang aman untuk belajar. Pertama sangat berisik dengan suara anak laki-laki dan kedua ia selalu di jaili oleh anak laki-laki. Namun dari semua itu ia tetap bertahan dikarenakan ia ingin melihat seseorang yang ia sukai. Wira Muljadi.

Wira selalu bermain basket di saat waktu istirahat. Ya ia menyukai Wira ketika pertama kali ia masuk di SMA Kwangya. SMA Elite yang dipenuhi oleh anak-anak pejabat dan pengusaha kaya raya. Termasuk Wira dan Jerico.

Namun ada hal ia sadari ketika berada di bawah pohon untuk memperhatikan Wira. Yaitu Jerico. Ia telihat sangat sabar jika menghadapi kelakuan Wira yang selalu menganiaya dirinya. Sampai waktu Wira terjatuh akibat ulahnya memanjat tiang basket. Jerico sangat sigap membantu Wira sedangkan teman-temannya yang lain sibuk menertawakan Wira. Saat itu ia tersadar jika Jerico menyukai Wira. Tidak hanya SMA saja, sampai mereka masuk jenjang kuliah pun Kellin dapat merasakan kalau Jerico sangat tulus mencintai Wira sampai ia merelakan waktunya hanya demi sandiwara yang Wira ciptakan.


Setelah selesai sarapan, Wira dan Maulia kembali ke kamar mereka. Wira langsung membuka laptopnya untuk mengerjakan kerjaanya yang sempat tertunda. Namun tiba-tiba Maulia menghampiri dirinya lalu ia duduk tepat di atas pahanya. Wira menatapnya heran.

“Kenapa?”

“Ini hari minggu loh! Kenapa buka kerjaan sih!” protes Maulia.

“Kerjaan aku banyak Maul, deadlinenya nanti malam,” ucap Wira.

“Aku kan pengen jalan jalan,” rengek Maulia sembari memanyunkan bibirnya.

“Jalan jalan dulu gih sama temen kamu,” Wira kembali menatap laptopnya lalu mengerjakan kerjaannya.

“Temen aku pulang hari ini tau, pasti dia udah sibuk packing!” Maulia menyandarkan kepalanya pada kepala Wira.

“Yaudah tungguin aku beresin dulu ini ya nanti kita jalan jalan,” ucap Wira.

“Beneran?”

“Iyaaa,” jawab Wira.

“Hehehe semangat sayang,” Maulia mengecup pipi Wira. Bukannya beranjak bangun. Ia memilih untuk menempel pada Wira. Ia memeluk tubuh Wira dengan erat.


“Take off jam berapa lo?” tanya Bagas.

“Jam tiga,” jawab Jerico.

“Lah balik anjrit,” celetuk Ginata.

“Besok ada kerjaan gue nggak bisa wfh,” ucap Jerico.

“Yaudah nih, gue langsung minta sehari full terus langsung copas,” Bagas memberikan sebuah Flashdrive pada Jerico.

“Thanks banget bro,” Jerico sedikit bernapas lega karena Bagar memberikan rekaman CCTV padanya dengan percuma.

“Ih apaan tuh, bokep yak?” tanya Ginata penasaran.

“Bokep 24 jam non stop haha,” ucap Bagas.

“Haha, haha, ha, bener,” Jerico tertawa kaku saat mendengar kata ‘Bokep’.

“By the way, leher lo kenapa tuh?” tanya Bagas.

Sontak mata Ginata langsung tertuju pada leher Jerico, “Wah di cupang siapa lo? Kellin yak? Hahaha.”

Jerico segera mengambil ponselnya untuk bercermin melihat kondisi lehernya. Benar, begitu banyak ruam merah pada lehernya. Kenapa ia tidak menyadarinya. “Anjing.”


“Gina kemana Mi?” tanya Kellin yang baru saja datang. Ia memilih untuk duduk di hadapan Naomi.

“Katanya sih mau ngobrol sama Bagas sama Coco juga,” ucap Naomi dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Auh! Kunyah dulu kenapa,” protes Kellin.

“Lo nggak makan?” tanya Naomi.

“Hummm,” Kellin melirik ke arah buffet makanan, “Makan apa ya, bingung gue.”

Ketika Kellin sedang fokus melihat ke arah Buffet, Naomi menangkap sesuatu yang membuatnya terkejut. Ia bangkit lalu menggeserkan rambut Kellin untuk melihat pada lehernya lebih jelas.

“Oh my God!” Naomi tercengang ketika melihat leher Kellin penuh dengan titik ruam merah. Kemudian ia kembali duduk sembari menatap Kellin tidak percaya.

“Apaan sih?” tanya Kellin kebingungan.

Naomi mencondongkan badannya ke depan, “Lo abis ngewe sama Coco?” tanyanya sedikit berbisik.

“H-Hah?”

“Itu leher lo!” Naomi menujuk ke arah lehernya.

Segera Kellin mengambil ponselnya untuk melihat kondisi lehernya melalui kamera ponsel. Matanya membulat terkejut. Ia menutup mulutnya untuk menahannya teriak.

“Waaahhh keren Kellin Setiaatmdja udah gede sekarang,” ucap Naomi sembari bertepuk tangan.

“M-Mana ada ya! Ini, ini gue alergi!” segera Kellin memakai kupluk sweater lalu menarik talinya agar lehernya tertutup tidak dapat dilihat oleh orang-orang. Kemudian ia seger bangkit dan bergegas menuju buffet untuk mengambil makanan.

“Cih alergi apanya, alergi Wira sih iya,” Naomi melirik ke arah meja dimana Wira berada. Mata mereka bertemu. Naomi mengetahui jika Wira sedari tadi memperhatikan mereka.

Naomi mengacungkan jari tengah pada Wira, “Fuck you bitch,” ia mengatakan pada Wira tanpa bersuara hanya terlihat dari gerakan bibir.

Wira yang sudah tertangkap basah oleh Naomi hanya menghela napas. Kemudian ia melanjutkan aktivitasnya kembali. “Kenapa hm?” tanya Maulia yang berada di hadapannya.

“Nggak apa-apa.”


Sinar matahari di pagi hari masuk ke dalam kamar Kellin melalui sela-sela gorden kamar yang sedikit terbuka. Tentunya mengusik tidur nyenyak. Kellin terbangun dengan nyeri kepala luar biasa dan badannya terasa sangat pegal.

Tangannya mencari benda pipih miliknya yang entah ia lupa menaruhnya. Terpaksa ia membuka kedua matanya. Ia melihat lampu kamar masih menyala. Apakah ia lupa mematikannya?

Saat meregangkan badannya, ia melihat seseorang laki-laki terbaring disebelahnya dengan keadaan tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Sontak ia berteriak lalu menendang laki-laki tersebut hingga terjatuh dari ranjang.

“Siapa lo?!!” teriaknya.

Laki-laki tersebut meringis kesakitan. Kemudian bangkit lalu duduk di lantai. Laki-laki tersebut masih menormalkan panadangannya sembari menatap ke arah Keliin.

“Coco!”

“Huh?” Jerico masih belum tersadar penuh, kepalanya terasa sangat nyeri, “Kenapa hm?” tanya Jerico.

“LO NGAPAIN NGGAK PAKE BAJU?!” tanya Kellin.

“Hah?” Jerico kebingungan. Kemudian ia menunduk. Tak lama ia sadar kalau dirinya bertelanjang bulat.

“KELLIN LO APAIN GUE?!!” dengan cepat Jerico bersembunyi di sebelah ranjang lalu menatap Kellin. Namun ia segera menutup matanya. “BAJU LO KEMANA ANJIR!!”

Kellin pun bingung. Lalu ia melihat tubuhnya pun sama seperti Jerico. Telanjang bulat. “YAAAAAAAKKKK!!” Kellin berteriak lalu menutupi tubuhnya menggunakan selimut.

Mendengar teriakan Kellin, Jerico segera sesuatu untuk menutupi tubuhnya. Untung saja baju milik dirinya yang semalam tergeletak di lantai tak jauh darinya saat ini. Secepatnya ia memakai pakaiannya.

“Lo semalem apain gue?!”

“Yang ada gue yang nanya, kenapa gue sama lo bisa telanjang!” setelah selesai Jerico segera berdiri.

Keduanya sangat kebingungan dan mencoba mengingat kejadian semalam. Mata Jerico menangkap sesuatu yang berada di seprai ranjang. Sebuah bercak darah yang sudah berwarna coklat. Jerico terdiam. Kellin pun mengikuti arah kemana mata Jerico melihat. Matanya membulat terkejut. Ia tidak dapat berkata apapun.


“Co aku gerah banget, ke kamar yuk,” ucap Kellin sembari mengipasi wajahnya mengunakan tangan.

“Sama aku juga, ayo, eh kita pamit ke kamar ya,” Jerico dan Kellin segera pamit pada Bagas, Wira, dan Maulia. Sebelum itu mereka menghabiskan minuman mereka karena merasa sangat haus.

Ketika sudah didalam kamar keduanya secara bersamaan melepas atasan mereka. Entah apa yang sudah merasuki mereka. Kellin mendorong tubuh Jerico pada tembok lalu mencubu bibirnya begitu liar. Jerico pun sudah tidak dapat menahan nafsunya. Ia membalasnya tak kalah liar sehingga decakan dari bibir mereka terdengar nyaring.


“Gimana kerjaan lo di London? Lancar?” tanya Ginata yang memulai pembicaraan.

“Lancar, lo gimana?” tanya Wira.

“Lancar juga,” jawab Ginata.

“Jadi lo berdua pacaran?” tanya Naomi dengan wajah tidak suka terutama pada Maulia.

Sempat diam sejenak. Wira merangkul bahu Maulia, kemudian ia mengangguk sembari matanya melirik ke arah Kellin. “Ya, dia yang bantu gue selama di London, jadi kita pacaran sekarang.”

Mendengar jawaban dari Wira membuat hati Kellin tersayat. Ia menghela napas. Ia sudah mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Jerico menyadari jika Kellin sudah tidak nyaman.

“Are you okay?” bisik Jerico sembari memeriksa keadaan Kellin dengan menatap wajahnya dari dekat.

“I’m fine, don’t worry,” Kellin tersenyum lalu mengusap pipi Jerico.

Tentu saja Wira sedari tadi memperhatikan mereka dan berhasil membuat Wira cemburu. Hatinya terasa sangat panas. Ingin sekali ia menghajar Jerico namun ia sudah bukan siapa-siapa.

“Sayang kamu gerah?” tanya Maulia.

“Sedikit,” jawabnya.

Ketika Maulia ingin mengambil tisu yang berada di tengah meja, dengan sengaja ia menyenggol gelas hingga tumpah mengenai pakaian Naomi. Sontak Naomi berdiri dan melihat pakaiannya basah karena ulah Maulia.

“GILA YA LO! SENGAJA BANGET LO!” teraik Naomi.

“Ups sorry gue nggak sengaja, nih tissue buat ngelap,” Maulia menyodorkan tissue yang berada di tangannya pada Naomi. Namun tangannya di tepis dengan keras oleh Naomi.

“Ayo ke toilet bersihin dulu terus ganti,” ucap Kellin yang mengajak Naomi untuk pergi ke toilet.

Sementara Ginata, Jerico, dan Wira hanya diam menyaksikan pertikaian kecil anatara Maulia dan Naomi. “Gue ke kamar dulu deh, kayanya harus ganti si Naomi,” Ginata segera menyusul Naomi dan Kellin.

“Eh lo pada laper nggak? Gue mau mesen makanan,” ucap Jerico.

“Gue apa aja deh yang enak, kamu mau apa yang?” tanya Wira pada Maulia.

“Umm,” mata Maulia melirik ke meja sekitar lalu ia melihat makanan yang menurutnya menarik, “Gue mau yang itu deh boleh kan?” tanya Maul pada Jerico.

“Ya boleh lah asal lo bayar haha, yaudah gue pesenin dulu ya sekalian minta rapihin meja,” Jerico bangkit dari kursi lalu masuk ke dalam restaurant hotel.

“Kamu sengaja bukan numpahin minuman ke Naomi?” Wira menatap Maulia.

“Hum,” Maulia mengangguk.

“Abis ngeselin banget tiba-tiba mukul kamu terus nabrak aku gitu aja!” lanjutnya dengan wajah bete.

Wira tersenyum, “Haha maafin ya kalau temen-temen aku bikin kamu bete.” Wira mengusap kepala Maulia. Kemudian Maulia menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Wir!” sapa seseorang dari belakang Wira dan Maulia.

Wira pun menoleh, “Eh Gas kenapa?”

“Biasa ngobrol bentar masalah bisnis,” ucap Bagas yang duduk disebelah Wira.

“Apa tuh?” Wira membenarkan posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Bagas.

“Rencan nih, rencana ya, gue mau buka cabang hotel di Jakarta atau Bogor deh, kira-kira nih lo mau join kaga?” tanya Bagas.

Sebelum menjawab pertanyaan Bagas. Jerico muncul langsung menepuk keras kepala Bagas. “Wah bangsat gue nggak di ajak!”

“Anjing lo, lo aja baru muncul,” protes Bagas.

Jerico kembali duduk di tempat semula, kemudian ia mengambil gelas minuman miliknya lalu meneguknya, “Gue join! Gue join! Awas ye lo berdua bisnis nggak ngajakin gue! Gue somasi lo berdua!”

“Nah si Cocot join, lo join, makin bagus dah, bakal jadi cepet ini mah, dananya ngalirnya cepet juga haha,” ucap Bagas.

“Berapa dulu nih investnya?” tanya Wira.

“Gimana lo 45, Cocot 45, sisanya gue, gimana?” jelas Bagas.

“Ye bangsat itu mah lo minjem duit!” Wira menjitak keras kepala Bagas.

“Ya namanya juga usaha ya bang,” ucap Bagas sembari meringis kesakitan.