noubieau

Welcome to noubie universe.


Acara reuni dimulai pukul 7 malam dan diadakan di salah satu hotel milik salah satu panitia penyelenggara acara reuni SMA. Masih satu geng dengan Wira dan Jerico pada saat sekolah dulu.

Jerico dan Kellin kini sedang menunggu kedatangan Ginata dan Naomi. “Kamu nggak apa-apa kan kalau nanti ketemu Wira?” tanya Jerico.

“Iya aku nggak apa-apa kok,” jawab Kellin.

“Wey! Cocot!” panggil salah satu cowo yang berada di belakang Jerico.

“Anjir dateng juga lo Gas! Haha! Apa kabar bro?” Jerico segera bangkit lalu memeluk salah satu teman sekelasnya.

“Baik gue, lo gimana? Eh siapa tuh?” tanya Bagas sembari melirik Kellin yang masih duduk dan sibuk memainkan ponselnya.

“Oh kenalin cewe gue, Kellin Setiaatmadja, yang kamu kenal dia nggak? Dulu sekelas sama aku,” ucap Jerico.

Merasa di panggil, Kellin menaruh ponselnya lalu bangkit dari duduk, “Uh? Oh iya sering liat kalo lagi main basket hehe, Kellin,” Kellin mengasongkan tangannya untuk berkenalan dengan Bagas.

“Kellin anak IPS 1? Yang suka duduk di bawah pohon? Gila beda banget ya lo sekarang haha, oh iya gue Bagas, salam kenal ya,” Bagas segera menjabat tangan Kellin.

“Oh ya hehe,” jawab Kellin canggung.

“Oh iya Wira mana? Kaga dateng dia? Eh itu Wira, Woy! Wira sini lo!” panggil Bagas yang membuat Jerico mencari keberadaan Wira.

Tak lama Wira dan Maulia datang menghampiri mereka bertiga, “Wey Bagas anjrit dah lama banget gue nggak ketemu lo haha!” Wira dan Bagas berpelukan layaknya anak kecil.

“Lo yang kemana anjrit! Loss contact si bangsat!” ucap Bagas.

“Biasa lah, sibuk, haha,” Wira sedari tadi tidak ingin melirik ke arah Kellin. Begitu juga dengan Kellin. Ia sibuk memandang ke arah pantai. Namun sesekali ia menatap sinis ke arah Maulia. Maulia pun sama.

“Air panas! Minggir! Minggir! Minggir!”

BUGH!!

“Akhhh!!” Wira meringis kesakitan. Satu pukulan keras mendarat di perutnya. Pelakunya adalah Naomi Hartono. Ya Naomi berhasil melakukan dendamnya pada Wira. Ia pun tersenyum menang.

“Hiiiii guys! Ada yang kangen gue?! Kellin! AAAAA!!” Naomi melewati Wira dan Bagas begitu saja, kemudian ia menyenggol dengan keras bahu Maulia, “Minggir lo! Ngalangin aja!” Naomi menatap Maulia dari bawah hingga atas kemudian ia menghampiri Kellin.


Maulia dan Wira memutuskan untuk menginap di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Karena merasa capek, Maulia memutuskan untuk makan malam di dalam kamar saja.

“Sayang kamu mau makan apa?” tanya Maulia sedang melihat-lihat pada buku menu.

“Apa aja yang penting nasi,” Wira merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya.

“Kalau gituuuu, uummm, ayam goreng mau? Atau mau ikan? Atau daging sapi?” tanya Maulia.

“Ayam aja pake sambel,” jawabnya.

“Minumnya?”

“Es teh manis seliter.”

“Kamu serius?”

“Iya serius, es nya dipisah,” jawab Wira.

Maulia memesankan makanan dan minuman melalui telepon. “Ya itu aja, kirim ke kamar 802 ya, iya terima kasih mbak,” Maul mengkahiri telepon. Lalu ia menghampiri Wira yang masih terpejam di tengah kasur. Ia menindihnya.

“Sayang,” Maulia mencolek-colek pipi Wira sampai ia membuka matanya dan mentap dirinya.

“Hm?”

“Kamu udah tau belom bakal ada reuni sma di Bali?” tanya Maulia. Wira menggelengkan kepalanya.

“Reuninya lusa, kamu mau ikut nggak?” Maulia mengusap pipi Wira sembari merapihkan anak rambutnya yang berantakan.

“Kamu mau ikut?” tanya Wira. Maulia mengangguk.

“Yaudah pesen aja tiketnya,” ucap Wira.

“Serius?!”

“Iya.”

“AAAAA!! akhirnya ke Bali sama kamu,” Maulia mengecupi wajah Wira bertubi-tubi.

“Astaga haha, seneng banget,” ucap Wira.

“Seneng lah, akhirnya bisa libur sama kamu hehe, makasih ya,” Maulia tersenyum.

“Makasih juga udah nemenin aku hari ini ketemu papi, maaf ya bikin kamu ngeliat kelakuan papi,” perlahan Wira mengusap pipi Maulia. Ia mentap kedua matanya. Lalu tersenyum.

“Iya sama-sama, tapi aku lebih terima kasih sama kamu karena kamu udah bertahan sampai sekarang, walau tidak mudah buat kamu, kalau aku jadi kamu mungkin aku udah bunuh diri, jadi kamu hebat, kamu kuat, jangan sedih ya, ada aku disini, nemenin kamu,” Maulia menangkup wajah Wira. Kemudian ia mencium bibirnya dengan lembut.

Wira membalasnya tak kalah lembut. Keduanya saling menikmati bibir satu sama lain. Lama kelamaan tempo mereka naik. Lidah mereka saling beradu menimbulkan suara decakan halus. Berada di posisi yang panas. Keduanya memutuskan untuk melepas pakaian mereka dan lanjut bercinta sembari menunggu pesanan mereka datang.


Delapan belas jam lamanya Wira dan Maulia berada di pesawat, kini mereka sudah sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Wira terlebih dahulu. Untuk beristirahat sejenak dan mengambil mobil miliknya.

Selama perjalanan Wira banyak terdiam. Ia hanya berbicara untuk menjawab pertanyaan dari Maulia. Maulia pun memahaminya dan membiarkan Wira hanyut dalam pikirannya. Karena ia tidak mau semakin merusak moodnya.

Satu jam setengah kemudian mereka sudah sampai didepan rumah Wira yang begitu sangat besar. Seharusnya ia dapat turun di halaman rumahnya namun ia tidak memberi kabar pada orang rumah jika ia pulang hari ini. Menyadari Wira turun dari mobil, security yang menjaga rumah segera membukakan pintu lalu membantu menurni koper milik Wira dan Maulia. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.

“Istirahat dulu ya, kamu keliatan capek gitu,” ucap Maulia.

“Nggak usah udah siang ini, takut jam besuk habis, kita nggak tidur disini, di hotel aja,” ucap Wira. Maulia hanya mengangguk nurut dengan apa yang dikatakan Wira.

“Non ini mau dibawa ke kamar?” ucap sang security.

“Masukin ke mobil crv pak, saya ambil kuncinya dulu, kamu tunggu disini aja,” ucap Wira lalu segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.


Kini Wira dan Maulia sudah sampai di parkiran rumah sakit. Wira menatap kosong pada orang yang berlalu lalang di depan mobilnya.

“Sayang?”

“Um?” Wira tersadar dari lamunannya.

“Kapan mau turun hm?” Maulia mengusap perlahan lengan Wira seraya untuk menenangkannya.

“Sekarang, jangan terlalu nempel ya, ini Indonesia bukan London, banyak yang kenal aku,” Wira mematikan mesin mobil lalu segera turun. Kemudian disusul dengan Maulia.

Mereka segera menuju ke bangsal VIP berada. Selama di lorong rumah sakit banyak mata yang melirik ke arah mereka. Atau lebih tepatnya ke arah Wira. Sedangkan Maulia hanya mengekori dirinya di belakang.

Akhirnya mereka sampai didepan pintu bangsal VIP. Wira kembali terdiam. Ia melihat dari kaca pintu didalam hanya ada ayahnya yang terbaring lemas. Ia menghela napas. Perlahan tangannya menarik kenop pintu lalu menggesernya. Suara pintu membuat ayahnya membuka mata lalu menatap dirinya yang masih berdiri di ambang pintu. Marcel terdiam. Kemudian ia membuang wajahnya ke arah lain seperti tidak ingin melihat anak bungsunya.

“Masuk dulu, sapa papi kamu,” bisik Maulia dari belakang.

Wira memberanikan diri untuk masuk diikuti dengan Maulia. Belum sampai mendekati sang ayah langkahnya terhenti. “Mau ngapain lu kesini? Tau dari mana?”

“Tante Jessica,” jawab Wira.

“Udah dibilang jangan balik lagi kesini, kenapa ngeyel?!” ucap Marcel.

Wira menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia kira ayahnya akan memaafkan dirinya. Ternyata memang ia sudah tidak di inginkan. Ia menghela napas. “Emang salah anak pulang buat ngejenguk papinya yang sakit?”

“Gua nggak butuh jengukan dari lu, lu bukan anak gua,” Marcel tidak menatap Wira sedari tadi.

“Cepet sembuh, semoga nggak cepet mati,” ucap Wira kemudian ia segera pergi menuju parkiran.


“I’m home,” ucap Wira yang baru saja sampai di kediaman Maulia.

“Sayang!” Maulia berlari menghampirinya lalu memeluknya dengan erat.

“Ugh! Ada apa?” tanya Wira kebingungan.

“Nggak apa-apa, cuma kangen aja,” Maulia semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Wira.

“Tumben, di kantor juga kan ketemu,” Wira membalas pelukannya tak kalah erat.

“Ehem!”

Wira terkejut melihat kemunculan Jessica dari dapur. “Huh?”

“Kamu udah makan malam belum?” tanya Jessica pada Wira.

“Ih kan tadi aku udah bilang mami,” protes Maulia.

“Belom kok mam hehe, belom kenyang maksudnya,” ucap Wira sembari cengengesan.

“Loh? Tadi katanya kamu abis makan malam sama temen,” Maulia menatapnya heran.

“Porsinya dikit,” bisik Wira.

“Yaudah ayo makan bareng, mami abis angetin rendang, kemarin mami masak rendang banyak,” Jessica kembali menuju dapur dan menyiapkan makanan pada meja makan.

“Iya mam!” sahut Wira.

“Kok kamu nggak bilang mami udah pulang sekarang? Katanya besok?” bisik Wira.

“Ih aku juga nggak tau, tadi pulang juga udah dirumah, ayo makan lagi mami bawain emping tau,” ucap Maulia lalu menarik Wira menuju meja makan.

Sebenarnya Wira memang tidak kenyang namun ia tidak berselera untuk makan banyak. Karena ibu Maulia sudah datang ia harus menghormatinya telah membawakan atau memasak untuk makan malam bersama. Ia merasa tidak enak jika menolaknya. Karena Jessica sudah membantu banyak dirinya selama ia pindah ke London, termasuk menerimanya di perusahaan miliknya. Wira sangat berutang budi pada ibu Maulia. Hitung-hitung ia kembali merasakan kehadiran sosok ibu yang sudah lama hilang semenjak ia masih duduk ke bangku sekolah dasar.

Semuanya sudah berada di meja makan dan memulai menikmati makanan yang dibawa Jessica dari Indonesia. “Um! Aku kangen banget sama rendang!” seru Maulia yang riang ketika merasakan masakan ibunya.

“Enak nggak? Ada yang kurang nggak?” tanya Jessica.

“Masakan mami mana ada yang nggak enak, enak semua hehe,” ucap Wira.

“Syukurlah, soalnya mami bawanya banyak buat stock kalian kalau mau makan tinggal angetin di microwave,” ucap Jessica.

“Paling seminggu juga udah abis sama anak mami,” ledek Wira sembari melirik Maulia.

“Ish!” Maulia mencubit kecil pinggan Wira. “Aku nggak serakus itu ya!”

“Haha padahal yang suka gadoin dirumah juga kamu,” ledek Jessica.

“Nggak ya! Enak aja! Lagian mami kenapa bawain rendang sih, kalo aku gendut salahin mami ya!” protes Maulia.

“Suka-suka mami lah, Wira aja nggak protes,” ucap Jessica.

“Oh iya kamu kapan mau ke Indonesia? Kemarin mami baru aja ngejenguk papi kamu,” ucap Jessica.

“Ngejenguk?”

“Loh kamu nggak tau? Papi kamu masuk rumah sakit kemarin, jantungnya kumat lagi karena ke capek-an,” jelas Jessica.

“Oh gitu, iya nanti aku atur jadwal dulu mam,” Wira tersenyum tipis lalu melanjutkan aktivitas makannya.

“Besok atau lusa kamu berangkat aja, kasian papi kamu,” ucap Jessica.

“Iya mam, tapi di kantor banyak kerjaan, aku selesain dulu, lagian ada kak Sella,” ucap Wira.

“Masalah kantor kamu bawa aja, wfh kan bisa, udah kamu pulang aja dulu, Sella juga pasti sibuk ngurusin kantor juga kan, kamu ajak aja Maul, mami masih lama kok disini,” perintah Jessica.

“Tumben banget nyuruh aku ikut Wira biasanya nggak boleh,” celetuk Maulia.

“Dari pada mami pusing, huhu mami aku kangen Wira, huhu mami aku pengen ketemu Wira, mami kenapa aku nggak boleh ikut Wira, huhu mami, huhu mami,” ledek Jessica.

“Ih! Mana ada ya aku begitu!” protes sang anak.

“Jadi nggak mau ikut? Yaudah.”

“Ih! Mau mami!”


“Jadi lo pacaran sama Maulia?”

“Kata siapa?”

“Gue liat sendiri lo sering jalan berdua sama dia.”

“Gue nggak pacaran, just FWB,” jelas Wira.

“Oh gitu,” ucap Jerico.

“Jadi lo mau ketemu gue cuma mau nanyain itu?” tanya Wira.

“Nggak juga sih, udah lama juga gue nggak nongkrong sama lo,” ngeles Jerico.

“Dua tahun ya? Lama juga ya, kaya baru kemarin gue ninggalin lo haha,” ucap Wira.

“Oh iya lo kok nggak ngundang gue ke acara tunangan lo?” tanya Wira.

“Tunangan?”

“Kan kemarin lo tunangan kan sama Kellin?” tanya Wira kembali.

“Oh, oh iya, sorry gue lupa, lagian juga acaranya cuma keluarga inti doang,” jelas Jerico.

“Gila gue dilupain gitu aja, jahat banget lo anjing,” Wira menendang kaki Jerico hingga meringis kesakitan.

“Akh anjing sakit! Maaf elah! Ngedadak juga itu, ide nyokap,” jawab Jerico.


“Kamu beneran mau pulang? Kalo masih berat jangan dulu juga nggak apa-apa,” Maulia mengusap perlahan kepala Wira yang terbenam di dalam pelukannya. Mereka sudah berada di ranjang.

“Aku nggak apa-apa,” jawab Wira.

“Mau aku pesenin tiket kapan? Lusa ya? Mau?” tanya Maulia kembali.

“Terserah kamu,” Wira semakin mengeratkan pelukannya dan mendusalkan wajahnya pada dada Maulia.

“Okay besok aku pesenin, good night sayangku,” Maulia mengecup pucuk kepala Wira. Tak ada balasan, sepertinya Wira sudah tertidur lelap.

Maulia mengusap lembut punggung wanita kesayangannya. Ia belum mengantuk. Lebih tepatnya ia tidak dapat tidur. Banyak hal yang memenuhi pikirannya. Termasuk Wira.


Few Months Ago

“Wira kayanya ketiduran deh,” Maulia melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya menunjukan pukul 5 sore.

Ia sedang berada di lobby apartemen Wira. Maulia memiliki janji dengannya akan makan malam di restaurant terkenal. Sebenarnya mereka sudah memesan meja untuk hari ini dari beberapa bulan lalu, dikarenakan sangat ramainya pengunjung yang datang kesana.

Sudah dua puluh menit lamanya ia menunggu akhirnya ia memutuskan untuk menuju lantai apartemennya. Setelah sampai, ia menekan tombol bel. Dua kali ia menekan namun tak ada jawaban. Sebenarnya ia sudah tahu password pintu apartemen Wira. Hanya saja ia ingin menjadi tamu biasa. Yang menunggu sang pemilik membukakan pintu untuknya.

Prank!! Haarghhhh!!

Terdengar jelas suara pecahan kaca dan teriakan seseorang berasal dari dalam apartemen Wira. Dengan panik Maulia membuka pintu tersebut lalu mencari keberadaan Wira. Terlihat di dalam begitu berantakan dengan barang-barang yang pecah berserakan dilantai.

“W-Wwira?”

Saat ia sudah berada di ruang tengah, ia melihat Wira tengah meninju tembok berkali-kali hingga mengeluarkan bercak darah begitu banyak di tangan maupun tembok. Sempat termenung. Kemudian ia segera sadar dan berlari menghampirinya.

“WIRA! KAMU KENAPA?” Maulia menahan aksinya agar tidak meninju tembok kembali.

Wira menghiraukannya. Namun Maulia tetap menahan dirinya. Ia menangkup kedua wajah Wira. “Hey! Hey! Look at me! What happened?”

Wira akhirnya berhenti lalu menatap wajah Maulia. Ia menunduk. Ia sudah tidak kuat. Ia menangis. Maulia segera menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat. Matanya teralihkan pada ponsel Wira yang tergeletak di lantai. Layarnya menampilkan sebuah postingan sosial media. Disana terdapat foto seorang wanita mengenakan dress hitam. Terlihat cantik. Dan ia melihat captionnya hanya sebuah emoticon cicin. Ia mengerti. Lalu ia segera menenangkan Wira yang masih saja terisak.

“It’s okay! You did well, it’s okay, I’m here for you.”


Udara malam hari di kota London cukup dingin bagi seorang berkebangsaan Asia. Wira Muljadi. Terlihat dari mulutnya menciptakan asap tipis ketika ia menghembuskan napas. Ia tengah menatap kosong orang-orang dan kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalanan dari balkon apartemen. Helaan napas terdengar begitu berat. Tentunya ia sedang memikirkan mantan kekasihnya. Kellin.

“What’s wrong hum?” Maulia memeluk tubuhnya dari belakang secara tiba-tiba. Lalu menyandarkan dagunya tepat pada bahu Wira.

“Nothing,” jawab Wira.

“Dia mantan kamu ya?” tanya Maulia kembali sembari melirik wajahnya.

“Hmm,” Wira mengangguk pelan.

“Mau ngapain dia kesini? Bukannya kamu sama dia udah selesai? Dia kan udah punya tunangan bukan?”

“Aku juga nggak tau,” jawab Wira singkat.

Maulia melepaskan pelukannya, kemudian ia membalikan tubuh Wira perlahan. Ia mengalungkan tanganya pada leher Wira lalu mengusapnya perlahan. “Aku tau kamu pasti sedih, waktu tetap berjalan, kamu nggak bisa membeli waktu dua tahun lalu hanya untuk mengubah keadaan sekarang, dia udah bahagia dengan yang lain sayang, udah saatnya juga kamu melepaskan dia dan membuka hati untuk orang lain,” tangan kirinya mengusap lembut pipi Wira.

“I’ll try,” ucap Wira.

“Don’t worry, I’ll help you to forget her,” Maulia mengecup sekilas bibir Wira kemudian ia menatap kedua matanya begitu dekat. “I’m ready to be your doll tonight,” bisiknya sembari mengusap seduktif bibir Wira.


Two Years Ago

“Is this seat empty?”

Wira menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita tengah menatap dirinya. Ternyata sedang bertanya padanya. Wira mengangguk lalu melanjutkan aktivitasnya menikmati segelas Gordon’s Gin. Ralat. Terlihat dari isi botol yang dipesannya sudah setengah. Berarti ia sudah meneguk beberapa gelas sebelumnya.

“Manhattan please, thank you,” wanita tersebut tersenyum pada barista kemudian ia duduk tepat disebelah Wira.

“You seem new here, right?” tanya sang wanita pada Wira.

Wira kembali mengangguk kemudian menatap orang yang mengajaknya berbicara. Matanya memindai sang wanita dari bawah hingga atas. “And you look like been here for a while, right?”

Wanita tersebut terkekeh pelan, “Do I?”

Tak lama sang barista menaruh sebuah minuman cocktail dan sepiring tepat dihadapan sang wanita, “Your Manhattan and this your free snack, Chips with Caviar Layer, our new menu, enjoy.”

“Aw really? Thank you Dane! I’ll try… ummm! It’s very good, you want some?” tawarnya pada Wira.

“No, thank you,” tolak Wira.

“Huh padahal enak banget ini, gratis pula,” gumam sang wanita.

“Orang Indonesia ternyata,” ucap Wira.

“Ih kamu orang Indo? Kenapa nggak bilang! Oh iya lupa aku Maulia Kielan, asli Jakarta,” Maulia mengasongkan tangannya.

“Kenapa juga harus bilang, Wira Muljadi,” Wira menjabat tangan Maulia tak lama.

“Seriously?! Wira Muljadi anaknya om Marcel Muljadi?!” tanya Maulia sedikit histeris.

“Tau dari mana nama bokap?” Wira menaikan alis kanannya sembari menatap heran pada Maulia.

“Oh my God, ternyata bener, gila cakepnya kaya om Marcel,” Maulia masih terpana setelah mengetahui wanita yang ia ajak bicara adalah anak dari salah satu orang terkaya di Indonesia. Tanah kelahirannya.

“Heh! Malah bengong! Tau dari mana nama bokap?” Wira menjentikan jarinya didepan wajah Maulia.

“Eh? Tau lah om Marcel temennya mama hehe,” jawab Maulia.

“Siapa nama nyokap lo?” tanya Wira penasaran.

“Jessica Kielan,” jawab Maulia.

“Oh, oh ya gue turut berduka ya buat bokap,” ucap Wira.

“Haha, iya nggak apa-apa, btw kamu kesini ngapain? Bukannya kamu kuliah di Jakarta?” tanya Maulia.

“Ya ada lah problem kecil terus disuruh bokap pindah kesini, lo sendiri disini kuliah?” Wira menatap wajah Maulia.

“Hum,” Maulia mengangguk.


Seorang wanita tengah menatap sebuah pintu apartement bernomor 202. Sudah lima belas menit ia hanya diam dan ragu untuk menekan tombol bel. Sesekali ia memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Sekuat tenaga ia kumpulkan untuk menekan tombol bel.

Ting! Ting! Ting!

Tidak ada jawaban. Wanita tersebut bernapas lega. “Mungkin lagi pergi,” gumamnya.

“Besok aja kali ya,” wanita tersebut berbalik badan untuk segera pergi. Namun rasa penasarannya kembali naik. Alhasil ia mengurungkan niat untuk pergi lalu kembali menekan tombol bel unit 202. Tetap tidak ada jawaban. Dengan rasa penasaran yang semakin meningkat. Wanita tersebut mencoba menekan password pintu dengan asal.

Ceklek!

Matanya membelalak terkejut. Pintu berhasil terbuka. Panik melanda, sang wanita segera masuk ke dalam apartemen kemudian menutup rapat pintu. “Gila, kok bisa?!”

Beberapa detik kemudian ia baru tersadar kalau ia sudah masuk ke dalam apartemen. Ia terdiam. Matanya menelusuri setiap benda yang berada di dalam. Tanpa sadar kakinya melangkah semakin dalam sampai ia berhenti tepat di ruang tengah apartemen tersebut. Tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Sedang. Cukup untuk di tinggali satu atau dua orang.

“Seleranya masih sama kaya dulu,” wanita tersebut tersenyum.

Tet-tet-tet-tet

Ceklek!

Pintu apartemen terbuka. Sang pemilik telah pulang. Mereka terkejut ketika mata mereka bertemu. Hening. Keduanya terdiam lama.

“K-Kellin.”

“Wira.”

Entah yang dirasakan oleh Kellin saat melihat Wira untuk pertama kalinya setelah kepergiannya dua tahun lalu. Senang, sedih, marah, tercampur aduk. Mereka masih diam saling menatap satu sama lain. Yang Wira rasakan tentunya terkejut dan senang karena Kellin mewujudkan permintaanya pada dua tahun lalu.

“Wiraaa kayanya ponsel aku ketinggalan di mobil deh,” ucap seorang wanita yang muncul dari belakang Wira. Wanita tersebut sama terkejutnya ketika melihat Kellin berada di dalam apartemen.

“Eh? Who are you?” tanya wanita tersebut. Sesekali melirik Wira yang masih saja diam.

“I-I’m sorry, I seem to have entered the wrong apartment, I’m sorry,” Kellin bergegas keluar dari apartemen Wira. Tentunya ia harus melewati sang pemilik apartemen dan wanitanya.

“Ih aneh banget, jangan-jangan maling ya,” ucap wanita disebelah Wira.

Wira menghela napas panjang. Mengapa melihat Kellin pergi begitu saja membuat hatinya terasa sesak. Dua tahun lamanya ia menunggu dan pada saatnya ia datang dengan waktu yang tidak tepat. Apakah ini hukuman dari tuhan? Karena ia telah melukai hati Kellin pada saat itu.

“Wira? Wira? Hey!” wanita tersebut menepuk pelan pipinya membuat kesadaran Wira kembali.

“Oh? Ya kenapa Maul?” tanya Wira.

“Kamu kenapa? Siapa dia? Kok dia bisa masuk?” tanya Maulia.

“Aku nggak apa-apa kok, nggak tau juga, mungkin emang salah masuk, oh ya katanya ponsel kamu ketinggalan di mobil, aku ambilin dulu ya, kamu langsung masak aja,” jelas Wira yang segera meninggalkan Maulia di ambang pintu.

Maulia menatap kepergian Wira dengan curiga, “Tapi kaya nggak asing muka cewenya, siapa ya, kok bisa masuk sih, berarti tau password pintunya dong? Apa jangan-jangan emang maling?! Ish bahaya banget, gue ganti baru deh nanti.”


Few Days Later

Seorang wanita tengah menatap sebuah pintu apartement bernomor 202. Sudah lima belas menit hanya diam. Ia sangat ragu untuk menekan tombol bel. Sesekali ia memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Sekuat tenaga ia kumpulkan untuk menekan tombol bel.

Ting! Tong! Ting! Tong!

Tidak ada jawaban. Wanita tersebut bernapas lega. “Mungkin lagi pergi,” gumamnya.

“Besok aja kali ya,” wanita tersebut berbalik badan untuk seger pergi. Namun rasa penasarannya kembali naik. Alhasil ia mengurungkan niat untuk pergi lalu kembali menekan tombol bel unit 202. Tetap tidak ada jawaban. Dengan rasa penasaran yang semakin meningkat. Wanita tersebut mencoba menekan password pintu dengan asal.

Ceklek!

Matanya membelalak terkejut. Pintu berhasil terbuka. Panik melanda, sang wanita segera masuk ke dalam apartemen kemudian menutup rapat pintu. “Gila, kok bisa?!”

Beberapa detik kemudian ia baru tersadar kalau ia sudah masuk ke dalam apartemen. Ia terdiam. Matanya menelusuri setiap benda yang berada di dalam. Tanpa sadar kakinya melangkah semakin dalam sampai ia berhenti tepat di ruang tengah apartemen tersebut. Tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Sedang. Cukup untuk di tinggali satu atau dua orang.

“Seleranya masih sama kaya dulu,” wanita tersebut tersenyum.

Tet-tet-tet-tet

Ceklek!

Pintu apartemen terbuka. Sang pemilik telah pulang. Mereka terkejut ketika mata mereka bertemu. Hening. Keduanya terdiam lama.

“K-Kellin.”

“Wira.”


Last Night

“Naomi sama Gina mana Co?” tanya Wira yang baru saja keluar dari kamar Kellin. Ia melihat Jerico tengah asik menonton bola di televisi.

“Udah tepar dikamarnya,” jawab Jerico.

Wira menghampiri Jerico lalu duduk disebelahnya, “Co.”

“Hm?” Jerico menatap Wira.

“Lo masih suka kan sama Kellin?” pertanya Wira membuat Jerico terkejut.

“Kenapa emang?” tanya Jerico heran.

“Kalo lo masih suka sama dia tolong jagain dia ya,” ucap Wira sembari tersenyum.

“Apaan sih anjing, kenapa jadi gue yang jagain dia, lo mau kemana emang?”

“Gue mau pergi dan nggak akan balik lagi Co,” jawabnya.

“Jangan bercanda coba, serius anjing mau kemana? Ngapain?” tanya Jerico lagi untuk memastikan apakah Wira bercanda atau tidak.

“Gue serius, tolong jagain Kellin, at least sampe dia nemu yang baru, ya kalo bisa sih itu lo Co, ya?” Wira tersenyum.


Few Days Ago

Knock! Knock!

Tak ada jawaban. Terpaksa ia masuk ke dalam ruangan dimana ayahnya bekerja. Marcel Muljadi. “Pih?” Wira melihat ke arah meja kerja sang ayah. Kosong. Mungkin sedang ke toilet atau ada urusan di lantai berapa entah lah itu. Ia memutuskan untuk menunggu di sofa sembari memainkan ponselnya.

Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Muncul sosok yang ia cari. Namun sepertinya sedang tidak bersahabat suasananya. “Wira Muljadi! Bangun!” ucap Marcel. Sontak Wira bangkit dengan wajah terkejut. Marcel menghampiri anak bungsunya.

PLAK!

Marcel menampar keras pipi Wira. “Anak setan!!” bentaknya. Wira terkejut bukan main. Ia menahan rasa sakit tamparan dari ayahnya lalu menatap wajahnya penuh dengan tanda tanya. Marcel kembali menampar wajah Wira hingga meninggalkan luka kecil di ujung bibirnya.

“Lu jelasin sama gua ini apa?!” Marcel melemparkan setumpuk foto tepat pada wajah Wira.

Wira menunduk. Ia melihat begitu banyak foto dirinya berasama Kellin. Ternyata ia tertangkap basah oleh ayahnya. Wira tak bisa mengelak karena ia melihat juga foto dimana ia mencium Kellin pada saat merayakan hari jadi bulan pertama. Di mobilnya.

“Gua kasih lo kebebasan lo malah kelewatan! Udah gila lo hah?!” bentak Marcel. Wira masih saja diam. ia tidak tahu harus mengatakan apa. Karena memang ini salah. Tidak seharusnya terjadi.

“Lo urusin hubungan tolol lo sama dia, gua bakalan stop tunjangan bokapnya!” Wira menatap Marcel terkejut.

Dengan cepat ia bersujud di kaki ayahnya, “Pih please jangan cabut tunjangan dia pih! Ini salah Wira! Wira yang suka sama dia, Wira yang maksa dia buat pacaran! Dia nggak salah pih! Gimana pun itu udah hak dia pih! Please jangan cabut tunjangannya, W-Wira bakal nurutuin kemauan papi, asal papi jangan hukum Kellin, aku mohon pih…,” Wira menangis semabri memeluk kaki Marcel memohon agar Kellin tidak di hukum.

Marcel mengusap wajahnya kasar. Wira benar. Bagaimana pun itu sudah hak yang di terima Kellin sebagai rasa terima kasih dari perusahaan atas kinerja mendiang ayahnya.

“Gua kasih waktu lo seminggu buat ngurusin dia sama perpindahan kampus, lo bakal pindah ke London,” ucap Marcel. Wira menenggakan kepalanya menatap Marcel dengan mata sembabnya, “Y-yaa yaa, W-Wira bakal pindah, asal Kellin jangan di hukum.”

“Satu lagi,” Marcel menatap lekat wajah Wira.

“Lo jangan balik lagi ke Indonesia.”


“Lo gila! Tega banget lo ninggalin gue sama yang lain, terutama Kellin!” ucap Jerico.

“Semuanya demi Kellin, lagi pula kan lo sama yang lain bisa ke tempat gue kapan pun,” jelas Wira.

“Bener sih,” gumam Jerico.

Wira memberikan surat pada Jerico, “Tolong kasih ke Kellin kalau dia udah bangun besok.”

Wira mengecup sekilas pipi Jerico. “Jaga diri lo baik-baik ya, lo sahabat terbaik gue, dan tolong jagain Kellin buat gue.” Tak lupa ia mengusap kasar kepala sahabatnya sebelum ia bangkit dan pergi.

“Ah satu lagi,” Wira berbalik menatap Jerico yang masih diam menatap dirinya sedih.

“Udah saatnya lo bahagia dengan orang yang lo sayang, see you Cocot,” kali ini Wira benar-benar pergi.

‘Gimana gue bisa bahagia, kalo lo adalah tempat gue bahagia Wir, demi lo gue bakal jaga Kellin,’ batin Jerico.


“Kellin,” panggil seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar. Jerico.

Kellin yang asik dengan ponselnya terpaksa menoleh ke arah Jerico. Lalu menyapanya. “Oh hi Coco, good morning!” ia tersenyum. Jerico hanya membalas senyuman tipis. Perlahan ia menghampiri Kellin lalu duduk tepat disebelah Kellin.

“Rumah gue sempit ya hehe, sorry ya,” ucap Kellin.

“Enggak kok, gue nyaman, adem,” ucap Jerico.

“Oh iya lo liat Wira nggak? Dia pulang jam berapa?” tanya Kellin. Jerico menarik napas panjang. Kemudian ia mengeluarkan sebuah surat putih dan memberikannya pada Kellin. “Dari Wira semoga lo ngerti.”

Kellin mengernyitkan dahinya. Perasaannya tidak enak. Perlahan ia mengambilnya lalu menatap kosong pada surat tersebut. Kenapa Wira memberikan surat padanya? Cukup di chat kan bisa. Pikirnya. Dengan ragu-ragu ia perlahan membuka surat tersebut. Mengeluarkan secarik kertas putih dengan penuh tulisan tangan dari Wira.

Dear Kellin Setiaatmadja,

Selamat ulang tahun wanita kesayanganku, semoga doa yang kamu ucapkan pada tahun ini terkabul, maaf kalau aku hanya bisa ngasih sedikit ke kamu, tapi setelah aku melihat reaksi kamu begitu sangat senang aku sangat bersyukur bisa memberikan senyuman kebahagian pada hari penting mu.

Kellin, maafkan aku jika hari ini adalah hari terakhir kita bertemu, kamu bisa mengatakan aku bajingan, brengsek, atau apa pun itu aku bisa menerimanya, malam ini aku harus pergi cukup jauh dan mungkin tidak akan kembali ke Indonesia. Aku pergi demi kebaikan mu, demi masa depan mu. Aku tidak mau masa depan mu hancur hanya karena aku. Maafkan aku harus pergi.

Sebenarnya ini bukanlah mau ku, tapi aku terpaksa. Semoga kamu mengerti. Temui seseorang yang lebih dariku, yang dapat bersama dengan mu setiap saat. Aku berharap kamu dapat bahagia dengan orang tersebut. Ketika kamu sudah lulus nanti dan sudah menemukan orang yang tepat. Temui aku, katakan kamu sudah bahagia dengan orang lain, agar aku dapat berhenti menunggu mu disini. Jika tidak, temui aku, dan kita memulainya kembali dari awal.

Aku akan menunggu mu disini. Sampai jumpa di lain waktu Kellin Setiaatmadja. Aku mencintai mu. Sangat.

Sincerely, Wira Muljadi.

Kellin terkekeh ketika selesai membaca surat dari Wira. “Pasti lo bercanda kan Co, iya kan? Hm?” Kellin menatap Jerico dengan penuh harapan kalau ini hanya lelucon.

“Maafin gue Lin,” jawab Jerico membuat hatinya sangat hancur.

Kellin segera beranjak. Jerico menahannya. “Lo mau kemana?”

“Gue mau ke bandara!” Kellin menepis tangan Jerico. Namun Jerico tetap menahannya.

“Lepasin gue!” berontak Kellin.

“Percuma Lin,” ucap Jerico.

“Lo jangan halangin gue! Gue mau ketemu Wira!” bentak Kellin.

“Wira udah pergi dari semalem!! Pesawatnya take off semalem!!” dengan terpaksa Jerico meningkatkan intonasinya agar Kellin berhenti untuk mengejar Wira.

Kellin terjatuh lemas. Dadanya begitu sesak. Entah salah apa yang ia lakukan sampai Wira tega meninggalkan dirinya hanya dengan penjelasan yang sangat minim di secarik kertas. Pandangannya buram. Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Sudah tak terbendung. Tangisnya pun pecah.

Jerico yang melihat Kellin menangis ikut merasakan rasa pilu yang dalam. Tak hanya Kellin yang kehilangan seorang Wira, ia pun kehilangan sosok sahabat yang selama ini menemaninya kemana pun dan kapan pun.